Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 96


__ADS_3

BRUAKKKK


Suara pintu di dobrak dari luar mengagetkan Erick. Pria itu menoleh ke arah pintu kamarnya, sedangkan Melati masih menggeliat menahan rasa panas pada tubuhnya yang semakin lama semakin menjadi.


Erick mengeraskan rahangnya saat ia melihat ke arah pintu yang sudah rusak.


Pria jangkung dengan tubuh tegap penuh kilatan emosi yang siap menyambar siapapun sampai hangus kini masuk ke dalam kamar hotel yang di pesan oleh Erick.


Pria itu adalah Arnon suami dari gadis yang saat ini sedang dalam keadaan tersiksa menahan gairah panas dalam tubuhnya yang minta di salurkan.


Arnon berjalan mendekati Erick yang masih duduk di samping istrinya.


Arnon berhenti tepat di hadapan Erick dengan tatapan dingin. Pria itu tak banyak bicara. Hantaman keras mengenai wajah mulus Erick sampai pria itu terjungkal ke belakang.


BUGHHHH


Erick merintih kesakitan dengan sudut bibir mengeluarkan darah karena Arnon mengumpulkan semua tenaganya pada telapak tangan yang siap menghantam pria di hadapannya.


Arnon menarik kerah baju Erick. Membawa pria itu menjauh dari samping Melati.


Aktor tampan itu mendorong tubuh Erick dengan keras ke sudut tembok dan menghajarnya dengan serangan yang bertubi-tubi sampai pria itu tak bisa melawan sedikitpun.


Belum juga puas dengan wajahnya, Arnon kembali mendaratkan kepalan tangan manjanya ke arah perut Erick dengan sekali hentakan yang begitu keras sampai pria itu luruh ke lantai


"Kau sungguh pria tak tahu diri! aku sudah berbaik hati selama ini membiarkanmu! apa kau itu tak punya otak atau kau memang bodoh, hah! berani sekali kau menganggu istriku, bahkan kau ingin bercinta dengannya ... kau sungguh pria gila, Erick! hukuman ini masih belum setimpal untukmu, aku akan membuat hidupmu merasa tak berarti di dunia ini, Erick!"


"Pram! cepat bawa pria sinting dan tak tahu diri ini ke luar! aku tak ingin melihatnya lagi berkeliaran! jangan lupa jebloskan dia ke dalam penjara ... cari tahu siapa saja yang bekerjasama dengannya," titah Arnon pada Asistennya.


Pram memerintahkan anak buahnya membawa Erick yang sudah babak belur di hajar habis-habisan oleh Arnon.


Semua anak buah Arnon keluar dari kamar itu.


Aktor tampan tersebut melangkah mendekati istrinya yang sudah dalam keadaan kacau.


Arnon menyentuh pipi Melati. Membelainya lembut dan sangat hati-hati.


Gadis itu mendapat sentuhan Arnon bagai menerima siraman air satu tandon penuh.


Dingin, itu yang Melati rasakan saat kulit tangan Arnon menyentuh pipinya.


Melati menyentuh tangan suaminya, menatap wajah Arnon, namun tatapan matanya masih agak kabur.


Melati berusaha memastikan orang yang ada di hadapannya adalah sang suami.


Nampak samar-samar wajah Arnon terlihat dan senyum Melati seketika tertarik indah.


Melati menyentuh pipi suaminya. Gadis itu merasa semua apa yang ada di tubuh Arnon saat di sentuh terasa dingin dan gadis itu ingin lebih jauh lagi menyentuh setiap jengkal tubuh lelakinya.


"Sayang!" Melati memanggil Arnon dengan suara serak basah.


"Iya, Sayang! aku ada di sini, kau tak perlu khawatir," ujar Arnon mengusap keringat pada wajah Melati yang masih terus keluar tanpa henti.


"Aku mencintaimu!"


Arnon tersenyum mendengar penuturan manis dari mulut istrinya.


"Aku tahu kau sangat mencintaiku, Sayang! karena aku juga sangat mencintaimu," tutur Arnon sembari mengangkat tubuh Melati ke kamar lain, namun masih dalam hotel yang sama.

__ADS_1


Arnon akhirnya sampai di depan pintu kamar 3333. Pria itu membuka pintu kamarnya membaringkan Melati pada kasur empuk di kamar tersebut.


Arnon mengambil benda pipih yang berada pada saku celananya. Ia mencoba menghubungi seseorang.


Mata Arnon melihat Melati yang masih bergerak-gerak tak nyaman di atas kasur.


Tak lama kemudian, suara seseorang di balik benda pipih itu terdengar.


"Halo!"


"Kau ada dimana?" tanya Arnon.


"Aku ada di rumah sakit, kenapa?"


"Cepat ke kamar hotel 3333, aku akan mengirimkan lokasinya padamu," ujar Arnon.


"Untuk apa aku kesana? kau pasti hanya ingin bersenang-senang dengan istrimu dan membiarkan aku menjadi penonton."


"Melati sakit, cepat kemari!"


"Baiklah! kau tunggu saja di situ."


Arnon meletakkan kembali ponselnya setelah ia selesai mengirimkan lokasinya pada Edward, kemudian berjalan ke arah sang istri.


Arnon duduk di samping Melati. Pria itu menggenggam tangan istrinya erat.


"Sayang! tahan sebentar ya? Edward akan datang kemari."


Tangan Melati menjalar ke arah dada Arnon. Gadis itu menyentuh dada suaminya yang sungguh sangat menawan.


Kedua tangan Melati mulai membuka satu persatu kancing kemeja Arnon.


Melati terus membuka kancing kemeja suaminya satu persatu.


"Apa kau telah di beri obat pera .... ah, tidak kusangka Erick sampai sejauh itu ingin memiliki, Istriku!"


Tak lama kemudian Edward datang dan masuk ke dalam kamar Arnon.


"Melati sakit apa?" tanya Erick pada Arnon.


"Kau lihat saja sendiri," sahut Arnon pada sahabat dokternya itu.


"Halah! pasti hanya dema ...."


Ucapan Edward terhenti saat ia melihat Melati sudah berantakan dengan keringat bercucuran. Wajah gadis itu juga memerah. Di tambah lagi tangan Melati tak enak diam terus menggerayangi tubuh Arnon tanpa henti.


Edward perlahan mendekat ke arah Melati mengambil stetoskopnya dan mengarahkannya pada dada gadis itu.


Arnon langsung kebakaran jenggot seketika menyingkirkan tangan Edward dari dada istrinya.


"Mau apa kau, hah!" Arnon mulai berulah.


"Hei, kau ini apa-apaan, Arnon! aku ingin memeriksa dan mengetahui kondisi, Istrimu?"


"Bisa tidak, jika tak perlu menyentuh dada, Melati!"


"Ya ampun! semua dokter jika memeriksa pasiennya pasti menyentuh bagian dadanya, Arnon!"

__ADS_1


"Kenapa tak di bagian lainnya saja! seperti perut tangan atau kening saja," ujar Arnon yang nampaknya mulai kehilanganmu akal sehat karena rasa cemburu yang lebih besar pada sahabatnya sendiri.


"Kau kira letak jantung dan paru-paru ada pada kepala? jika memang ada, kemari! aku akan memeriksamu, siapa tahu organ tadi yang aku sebutkan ada pada kepalamu," ujar Edward yang mulai geram dengan tingkah kekanakan Arnon.


"Tidak-tidak! kau periksa saja, Melati! tapi awas ya? jika kau berani meraba-raba ... habis kau," ancam Arnon dengan tatapan membunuh.


Edward tak menghiraukan ancaman Arnon. Pria itu lebih memilih memeriksa keadaan Melati daripada menanggapi ancaman yang tak penting baginya.


Edward memeriksa detak jantung dan pernapasan Melati, kemudian ia mengecek nadi gadis itu.


"Bagaimana?" tanya Arnon cemas.


"Obatnya hanya satu," ujar Edward santai.


"Apa?"


"Kau harus melayani gairah, Istrimu! sampai ia merasa terpuaskan," jelas Edward pada Arnon.


"Apa? jadi benar Melati meminum obat ...."


"Ya! dan kau harus menjadi obatnya."


"Apa tidak ada penawarnya yang bisa menyembuhkan, Istriku?" tanya Arnon.


"Tak ada, Arnon! obat yang Melati minum sangat besar dosisnya dan kini obat itu sudah mulai bereaksi secara sempurna pada tubuh, Istrimu! lihat saja dia sampai tak enak diam begitu," jelas Edward.


Arnon masih diam tanpa berkata apapun pada Edward.


"Kenapa kau diam? apa kau tak sanggup melayani Melati? jika kau tak sanggup, aku sanggup satu malam suntuk menjadi obat baginya," ledek Edward yang mendapat bogeman mentah dari Arnon pada lengannya.


"Enak saja kau! aku masih kuat melayani Istriku! Pak dokter!"


"Baiklah! aku pergi dulu dan jangan lupa, persiapkan semua otot-ototmu agar bisa bertempur sampai pagi, karena aku yakin Melati akan terus memintanya berkali-kali padamu tanpa henti."


"Sehebat itukah efek obatnya?" tanya Arnon memastikan.


"Tentu saja! apa kau ingin aku beri obat kuat agar kau ...."


"Tidak perlu! aku ini pria perkasa jadi pasti aku akan melawan istriku sampai kami sama-sama lelah!"


"Baguslah! aku pergi dulu." Menepuk kecil pundak Arnon.


Edward keluar dari kamar Arnon. Pria itu tertawa terbahak-bahak saat sudah berada di luar kamar sahabatnya.


"Hahahaha!"


"Rasakan kau, Arnon! sebenarnya aku punya penawar dari obat perangsang dengan level apapun, tapi karena aku ingin segera menjadi, Paman! kau harus bekerja ekstra keras dengan Melati agar keponakanku cepat tumbuh dalam rahim, Istrimu!"


Edward mulai melangkahkan kakinya berjalan keluar dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya kala ia membayangkan nasib Arnon yang akan menjadi kuda, sedangkan Melati yang akan menjadi penunggangnya.


Arnon mengunci pintu kamarnya. Ia berjalan ke arah ranjang dimana Melati sudah menarik-narik bajunya karena panas yang ia rasakan sudah tak tertahankan lagi.


Melati membuka gaunnya. Menarik gaun itu sembarangan karena panas tubuhnya yang tak kunjung turun.


Gaun Melati sudah lepas dari badan si penggunaannya. Beruntung gadis itu memakai tanktop crop dan celana tipis di atas lutut berwarna senada dengan gaunnya.


Melati melempar gaunnya ke sembarang tempat. Ia mencoba berdiri dengan susah payah berjalan ke arah Arnon yang masih menatapnya sambil menelan ludahnya.

__ADS_1


Arnon juga melangkahkan kakinya mendekati Melati yang juga mendekat ke arahnya. Keduanya bagai magnet yang terus mendekat mencari pasangannya masing-masing.


__ADS_2