Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 186 ( Season 2 )


__ADS_3

Semua orang sudah duduk di kursi meja makan yang sudah di dekorasi se cantik mungkin oleh Zinnia.


Mereka berenam juga sudah memakan makanan yang di buat oleh Zinnia.


"Masakannya enak sekali! kau yang memasak, Zi?" tanya Salma sambil melihat ke arah Zinnia.


"Iya, Bunda!"


"Wah, William pasti senang ya? punya istri pintar masak," puji Salma pada menantunya.


"Bunda jangan berlebihan! Zi tidak pintar masak, Bunda! hanya sekedar bisa saja," elak Zinnia merendah.


"Tak perlu kau katakan kami semua juga tau, Zi! jika bakatmu itu turun dari Melati," celetuk Edward.


"Dan bakat mendekorasimu itu turun dari Daddy-mu, Sayang!" Melati juga ikut menimpali Zinnia dengan pujiannya.


"Kau benar, Sayang! apa kau masih ingat bagaimana saat aku membuat surprise untuk malam pertama kita," goda Arnon pada istrinya.


Melati memukul lengan suaminya cukup kencang. "Kau ini! ingat usia, Sayang! apa kau tak malu pada besan dan menantumu," tutur Melati menatap suaminya tajam.


Arnon hanya tersenyum sambil mengusap punggung istrinya. "Maaf, Mom! jangan buat aku tidur di luar ya," ledek Arnon lagi yang membuat gelak tawa semua orang pecah termasuk Melati yang tadi terlihat kesal dengan suaminya.


"Aku tidak akan membuatmu tidur di luar, Sayang! karena aku mencintaimu," tutur Melati menatap suaminya penuh cinta.


Arnon juga menatap istrinya. "Aku juga mencintaimu, Istriku!"


Edward tersenyum menatap Salma.


Zinnia hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan keromantisan kedua orangtuanya yang memang sudah di beri julukan pasangan couple romantis.


Arnon melihat ke arah putrinya yang masih menikmati makanannya. Ia juga melihat ke arah menantunya yang juga masih menikmati makanannya.


"Bagaimana rumah tangga kalian berdua selama beberapa hari ini?" tanya Arnon yang membuat kegiatan makan William dan Zinnia terhenti.


Keduanya menatap ke arah Arnon yang juga menatap ke arah mereka berdua secara bergantia.


"Daddy bertanya pada kami?" tanya Zinnia pada ayahnya.


"Tentu saja, Baby! yang baru menikah hanya kalian berdua."

__ADS_1


Zinnia melihat ke arah suaminya. Gadis itu tersenyum manis pada William.


"Kami berdua baik-baik saja, Dad! iya kan, Sayang?" tanya Zinnia pada William.


"Iya, Dad! apa yang di katakan Zinnia benar! kami berdua baik-baik saja." William tersenyum pada ayah mertuanya.


Arnon mengangguk tanda iya percaya pada anak dan menantunya. Berbeda dengan Edward yang tersenyum-senyum sendiri karena ia tahu jika Arnon sedang memancing kedua bocah yang baru saja menikah beberapa hari yang lalu ini.


"Apa kalian sudah berusaha membuatkan kami cucu?" tanya Arnon yang membuat William terbatuk-batuk karena tersedak.


Zinnia langsung mengambilkan air dan memeberikan pada suaminya.


William meneguk habis air dalam gelas yang di berikan oleh istrinya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zinnia sedikit cemas.


"Aku baik-baik saja," sahut William.


William melihat ke arah Arnon dan pria paruh baya itu juga melihat ke arah menantunya.


"Maaf, Dad! tadi aku tersedak," tutur William pada ayah mertuanya.


"Kami saat ini masih belum memikirkan tentang itu dulu, Dad! karena aku masih ingin merasakan masa pacaran sebelum kami benar-benar siap menjadi orangtua bagi cucu, Daddy!" Zinnia menatap suaminya. "Apa kau setuju dengan pendapatku, Sayang?" tanya Zinnia pada William.


Hot Dokter itu tersenyum pada istrinya. Pria tampan dengan wajah seksi tersebut menggenggam tangan Zinnia. "Aku akan setuju dengan semua rencanamu, karena aku juga masih ingin merasakan indahnya berpacaran dengan orang yang akan menjadi ibu dari anak-anakku," tutur William tanpa ragu mengatakan itu semua.


Zinnia memberikan senyuman terbaiknya. "Terimakasih, Sayang! ... aku mencintaimu," tutur Zinnia dengan wajah yang nampak sedikit ragu saat ia ingin melanjutkan ucapannya itu, karena ia pikir kalimat itu hanya demi untuk menutupi hubungannya dengan William.


Detak jantung Zinnia dan William mulai terpacu sangat cepat melebihi debaran biasanya.


"Ini sandiwara atau kau sungguh mengatakan hal itu dengan hatimu, Zi?"


William menyentuh pipi Zinnia lembut. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"


Mata keduanya saling tatap mencari kebohongan yang mungkin terselip, namun tak ada yang menemukan berbohong itu di mata pasangan masing-masing.


Kedua orangtua mereka saling tatap satu sama lain. Mereka senang karena William dan Zinnia sudah mulai membuka hati mereka meskipun ini hanya awal belum mencapai tahap yang sebenarnya.


Suara alunan musik romantis terdengar di telinga mereka berenam.

__ADS_1


William tahu ini pasti bagian dari rencana Zinnia. William meminum air putih terlebih dulu, kemudian Dokter tampan tersebut bangun dari kursinya sembari mengulurkan tangannya mengajak Zinnia berdansa.


Zinnia menerima ajakan suaminya. Keduanya berjalan ke tempat yang sudah memang di siapkan oleh Zinnia untuk berdansa.


Tangan William sudah berada pada pinggang istrinya. Tangan Zinnia juga sudah berada di pundak suaminya.


Keduanya mulai berdansa mengikuti alunan musik yang membuat suasana semakin menjadi lebih romantis lagi.


Pandangan mata mereka berdua masih tak lepas. Zinnia melingkarkan kedua tangannya pada leher William.


Dokter tampan itu juga tak sungkan mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang sang istri.


"Akting apa lagi yang akan kau lakukan di depan kedua orangtua kita, Istriku?" tanya William menatap wajah Zinnia.


Gadis itu hanya tersenyum membalas tatapan mata suaminya. "Aku akan mencium bibirmu saat ini juga bila perlu! tapi karena tak di perlukan, jadi aku tak akan melakukannya," tutur Zinnia dengan suara pelan.


Sebenarnya suara mereka juga tak akan terdengar karena alunan musik romantis yang lebih mendominasi.


"Aku harap ini bukan hanya sandiwara mereka, Arnon!" Edward terus menatap William dan Zinnia yang nampak menikmati dansa romantis mereka.


"Tapi aku bisa melihat jika mereka hanya bersandiwara, Ed!"


"Apa kita perlu turun tangan sendiri?" tanya Edward.


"Belum saatnya, Ed! jika memang di butuhkan, kita yang akan langsung turun tangan membuat kedua bocah itu benar-benar menjadi sepasang suami istri sesungguhnya."


Edward menatap Arnon penuh curiga. "Jangan bilang kau akan memberikan mereka berdua obat perangsang," tebak Edward yang tahu sekali watak Arnon seperti apa.


"Hahaha! kau tahu saja isi kepalaku ini," sahut Arnon tanpa rasa bersalah.


"Aku tidak setuju! aku ingin mereka berdua melakukan hal itu saat sama-sama sadar, aku kasihan dengan menantuku yang melum di gol oleh siapapun! bisa-bisa dia tak di buat tidur semalaman oleh, William!"


Wajah Arnon seketika tegang. "Astaga! kenapa aku bisa lupa akan hal itu! seharusnya aku ingat bagaimana Melati saat dulu dia diberi obat oleh seniornya," ujar Arnon.


"Nah, itu kau ingat kan? jadi jangan biarkan putrimu sampai tak bisa berjalan selama seminggu," goda Edward yang membuat Arnon menegang.


"Aku tak akan menggunakan cara itu, Ed! biarkan mereka menikmati prosesnya dulu," tutur Arnon pada Edward.


Arnon dan Edward saling mengumbar senyum sebelum akhirnya William dan Zinnia mengentikan dansa mereka berdua dan giliran dua pasangan paruh baya itu yang berganti berdansa memamerkan keromantisan mereka yang tak pernah pudar.

__ADS_1


jangan lupa like, vote, dan komentar ya kakak readers, karena author rencananya mau up lebih satu bab hari ini😍


__ADS_2