
Melati bangun dari tidurnya. Hari ternyata sudah sore, sementara Agnez masih belum bangun dari tidurnya.
Melati menyentuh kening Agnez. Panas Kakak tirinya itu ternyata sudah turun.
Melati beranjak dari kursinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas untuk bersiap-siap.
Saat gadis itu keluar dari kamar Agnez, ia tak sengaja berpapasan dengan Anggi.
"Kamu siap-siap saja dulu, Mel! nanti jam setengah 7 kita berangkat."
"Memangnya kita akan makan malam dimana, Ma?" tanya Melati kebingungan karena gadis itu mengira mereka berdua akan makan malam di rumah saja.
"Kamu tak perlu banyak tanya, Mel! nanti ikut Mama saja."
Anggi berlalu menuju ke arah kamarnya dengan senyum mengembang sempurna.
Melati berlalu menuju ke lantai atas untuk bersiap.
Waktu telah menunjukkan jam 6 malam. Gadis itu sudah selesai merias dirinya. gaun malam berwarna hitam dengan sentuhan motif abstrak menambah keindahan pada tubuh Melati.
Melati menuruni tiap anak tangga menuju lantai dasar. Saat berada di pertengahan tangga, ia melihat Anggi tengah menunggunya di ruang tamu.
"Kau sudah siap?" tanya Anggi dengan raut wajah bahagia.
"Iya, Ma!"
"Ayo kita berangkat sekarang!"
Anggi melangkah terlebih dulu menuju taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya.
Melati dan Agnez sudah berada di sebuah restoran bintang lima.
Anggi melihat ke segala arah, sampai pada akhirnya ia melihat sosok pria yang tengah menunggunya dan Melati.
Anggi berjalan ke arah meja pria itu diikuti juga oleh Melati dari belakang.
Melati masih tak sadar jika ada Erick di restoran itu. Ia masih berjalan normal seperti biasanya.
Saat sudah berada tepat di depan meja dimana Erick telah menunggunya, Melati terkejut bukan main.
"Kak Erick?"
"Iya, Mel! ini aku," sahut Erick santai.
"Duduklah, Mel!" Anggi memberi komando pada Melati.
Gadis itu masih terkejut bukan main.
"Untuk apa pria ini ada di sini juga?"
Melati perlahan mulai mendaratkan bokongnya pada kursi tempat duduk.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Erick.
Anggi mulai memilih makanan yang akan ia pesan. Wanita itu menunjuk beberapa makanan mahal restoran bintang lima tersebut pada pelayan.
Melati masih melihat daftar menu. Gadis itu bingung apa yang harus di makan.
"Astaga! makanan apa ini? aku tak suka makanan ala-ala barat begini? aku lebih suka sayur kacang panjang kuah bening," batin Melati.
Melati cap cip cup memilih makanan yang akan ia makan. Ternyata makanan yang ia tunjuk jatuh pada steak daging sapi.
"Terserahlah! yang penting bisa di makan." Melati sudah pasrah pada pilihannya.
Erick juga sudah memilih menu yang akan ia makan.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Melati yang masih bingung dengan situasi saat ini.
"Boleh," sahut Anggi dan Erick bersamaan. Keduanya saling melempar tatapan satu sama lain.
"Kenapa, Kak Erick bisa ada di sini?" tanya Melati menatap ke arah Erick.
"Aku di undang oleh, Tante Anggi sebagai tanda permintaan maaf gara-gara masalah kemarin," jelas Erick yang berbohong pada Melati.
"Betul sekali! Mama tak enak hati pada, Erick."
Melati masih menatap kedua orang yang berada di samping kanan kirinya dengan tatapan curiga.
"Aku tak yakin jika mereka berdua tak merencanakan sesuatu karena pertemuan ini pasti sudah di rencanakan oleh mereka! Mama Anggi tak pernah akrab dengan seseorang hanya dengan satu kali bertemu saja."
Batin Melati mulai mendesakkan beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.
__ADS_1
Ketiganya menunggu pesanan mereka datang. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan mereka datang juga.
Semua makanan dan minuman sudah tersaji.
Mulai dari makanan pembuka dan penutup semuanya sudah terpampang siap memanjakan lidah si penikmat makanan tersebut.
Mereka mulai memakan makanannya. Seperti biasa, kelemahan Melati adalah saat memotong steak.
Gadis itu kesusahan menggunakan pisau dan garpu. Sampai pada saat ia mencoba memotong steak itu. Sebagian sausnya menciprati gaun yang ia kenakan.
Anggi dan Erick melihat ke arah Melati secara bersamaan.
"Kau kenapa, Mel?" tanya Erick.
"Tidak apa-apa, Kak! hanya sedikit kotor saja, aku ke toilet sebentar ya?"
Melati bangun beranjak menuju arah toilet. Setelah gadis itu sudah menjauh dari hadapan keduanya.
Senyum Anggi dan Erick terpancar penuh kemenangan.
"Tuhan memang berpihak pada kita, Erick! tak perlu susah-susah membuat dia menjauh dari meja ini, dia sendiri yang pergi tanpa kita suruh, hahahaha!"
"Tante benar sekali!"
Anggi celingak-celinguk melihat situasi, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Anggi memasukkan sesuatu pada orange jus milik Melati.
Anggi mengambil gelas minuman Melati. Ia melihat warna pada gelas tersebut, kemudian mencium aromanya.
"Sungguh sempurna! tak merubah warna dan tak berbau, huh, sungguh obat kelas atas," ujar Anggi tersenyum simpul pada Erick.
"Tentu saja, Tante! ini obat yang sangat mahal! aku jamin satu malam suntuk Melati tak akan lelah sedikitpun dan kami akan bercinta sepuasnya," cetus Erick dengan senyum bangganya.
"Hahahaha! kau memang licik, Erick!"
Melati sudah keluar dari toilet berjalan ke arah mejanya. Gadis itu sungguh sangat menawan.
Tatapan Erick masih tertuju pada lekuk tubuh indah istri Arnon itu.
Gaun malam berwarna hitam dengan corak abstrak sangat pas di tubuhnya. Rambut di cepol anggun tak lupa hells dengan warna senada.
"Tubuh itu akan aku tindih sampai puas bahkan kau akan terus menjerit memintanya kembali dan terus meminta lebih padaku, Melati!"
Erick mulai membayangkan malam panasnya bersama Melati yang pasti akan menjadi malam yang sangat panjang dan panas tentunya.
Gadis itu sudah sampai di mejanya dan duduk kembali pada tempatnya.
"Maaf! aku terlalu lama," sesal Melati yang ternyata mereka masih menunggunya.
"Tak apa, Mel!" Erick tersenyum simpul pada juniornya itu.
Mereka semua melanjutkan makannya. Selang beberapa menit, makanan yang ada di piring Melati sudah habis.
Gadis itu mengambil gelas orange jusnya. Saat hendak meminum jus itu, Melati tak sengaja melihat ke arah Erick dan Anggi yang menatap ke arahnya.
"Ada apa? kalian mau jus ini?" tanya Melati pada keduanya.
"Tidak, Mel! kau minum saja, kami juga sudah ada minuman sendiri," tolak Erick ramah.
Tanpa ragu Melati meneguk habis minumannya tanpa sisa setetespun.
Erick bahagia bukan main karena jika separuh gelas saja Melati meminumnya, efek obatnya sudah dahsyat. Apalagi jika satu gelas di habiskan, pasti efeknya dua kali lipat lebih dahsyat.
"Kita akan mengarungi lautan bunga bersama-sama malam ini, Mel! kau pasti akan terus menggeliat dalam kungkunganku, Sayang! jika perlu kita tak akan beristirahat sampai pagi."
Seringai licik keluar dari bibir Erick tanpa Melati ketahui.
Beberapa menit kemudian setelah meminum jusnya, kepala Melati terasa pusing.
Gadis itu menyentuh kepala yang terasa sakit dan sedikit berputar.
"Mel! kau kenapa?" tanya Erick pura-pura tak tahu.
"Tidak tahu, Kak! kepalaku tiba-tiba pusing," sahut Melati dengan suara sedikit menahan sakit pada kepalanya.
Erick dan Anggi saling bertukar tatapan. Anggi memberi kode agar Erick membawanya pergi dari restoran itu.
"Aku akan mengantarmu pulang, Mel!"
"Tidak perlu, Kak! aku bisa pulang dengan, Mama Anggi!"
__ADS_1
Dengan sekejap Anggi bersembunyi di kolong meja agar Melati mengira ia sudah pergi. Anggi tahu penglihatan Melati pasti sudah tak normal seperti biasanya.
Erick mengerti maksud Anggi yang tiba-tiba bersembunyi di bawah kolong meja.
"Tante Anggi sudah pulang terlebih dulu, Mel! kau akan aku antar pulang! ayo aku bantu kau berdiri."
Erick memapah Melati keluar dari restoran menuju ke arah mobilnya.
Melati masih terus memegang kepalanya yang semakin lama semakin sakit. Tubuhnya mulai terasa panas. Keringat mulai bercucuran. Nafas gadis itu mulai tak stabil.
"Kak ... kita mau ... kemana?" tanya Melati yang masih dalam perjalanan menuju arah mobil Erick dan gadis itu masih di papah oleh seniornya.
"Kita akan pulang, Mel!"
"Badanku panas, Kak! aku ingin membuka bajuku, aku sudah tak tahan."
Melati mulai merasakan panas yang semakin bertambah pada tubuhnya.
"Sabar, Mel! sungguh aku ingin kau membuka bajumu sekarang, tapi ini bukan tempat yang tepat untuk kita bersenang-senang malam ini."
"Tunggu kita sampai jika kau ingin membuka bajumu," ujar Erick sambil membuka pintu mobilnya membantu Melati masuk.
Erick berjalan masuk ke arah kursi kemudi. Pria itu mulai melajukan mobilnya menunju ke suatu tempat.
Di perjalanan menuju tempat yang di tuju Erick, Melati tak enak diam. Gadis itu terus berusaha menahan rasa panas yang semakin mendera seluruh tubuhnya.
"Kak ... bisa kita lebih ... cepat lagi? aku ... sudah kepanasan," tutur Melati terbata-bata menahan rasa panas dan gelenyar aneh yang perlahan timbul dalam dirinya.
Erick menyentuh tangan Melati. " Tahan sebentar, Mel! kita akan segera sampai."
Sentuhan Erick bagai air dingin yang menyiram tanah tandus berhari-hari tak pernah tersentuh oleh tetesan air sedikitpun.
"Dingin, Kak!"
"Dingin?" tanya Erick yang tak mengerti maksud Melati.
"Iya .. tangan kakak ... dingin sekali."
Erick tersenyum menatap wajah cantik Melati yang sudah memerah menahan gairahnya yang perlahan mulai muncul.
"Aku akan segera mendinginkan tubuhmu saat kita sudah sampai," ujar Erick semakin menancapkan pedal gasnya.
Beberapa menit kemudian, Erick dan Melati sudah berada di sebuah hotel termahal di ibukota.
Melati sudah tak sanggup lagi berjalan. Gadis itu berkeringat hebat dengan rasa panas dan gairah yang sudah tak tertahankan lagi.
Erick menggendong Melati ala bridal style menuju hotel tersebut.
Saat sudah sampai di meja resepsionis, Erick meminta kunci kamarnya.
"Saya minta kunci kamar 2020," ujar Erick sambil menggendong Melati.
Resepsionis itu memberikan kuncinya pada Erick dan pria itu langsung berjalan masuk lift menuju kamarnya.
Ting
Pintu lift terbuka dan berjalan ke arah nomor kamarnya.
Erick membuka kunci kamar itu dengan susah payah karena Melati masih menggeliat tak enak diam.
Untung saja pintu kamar hotel itu bisa terbuka dan Erick langsung membawa gadis itu kedalam membaringkan tubuh indah Melati di atas ranjang yang akan menjadi saksi penyaluran cintanya pada gadis yang selama ini ia dambakan.
Erick berjalan ke arah pintu kemudian mengunci pintu tersebut.
Erick mendekati Melati. Gadis itu masih tak enak diam menahan rasa panas yang semakin terasa luar biasa menjalari tiap jengkal tubuhnya.
Erick menyentuh pipi Melati lembut. Melati menatap ke arah seniornya dengan pandangan yang sudah kabur.
"Arnon!" Melati memanggil nama suaminya karena saat ia melihat ke arah Erick, wajah yang ada dalam matanya adalah wajah suaminya.
Erick sempat mengeraskan rahangnya, namun sedetik kemudian ia tersenyum simpul.
"Ini aku, Sayang! suamimu, Arnon!" mengusap lembut pipi Melati.
"Aku mencintaimu, Sayang!" Melati mulai meracau.
"Aku juga mencintaimu, Melati! kita akan melewati malam yang panjang malam ini."
Erick perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Melati. Wajah pria itu semakin dekat tinggal jarak satu senti saja, namun ....
BRUAKKKK
__ADS_1