
Arnon dan Melati sudah berada di lantai bawah.
Gadis itu berhenti tepat saat kakinya menapak pada lantai dasar.
Melati mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang ayah,namun tak ada seorangpun di sana.
"Apa papa sudah berangkat ya?" Melati melihat jam tangannya.
Arnon melirik ke arah sang istri yang masih terfokus melihat ke segala sudut ruangan di rumah barunya itu.
"Ini sudah siang,papa pasti sudah berangkat bekerja," ucap Arnon menarik tangan Melati berjalan menuju ke arah mobil.
Melati dan Arnon sudah berada di kursi kemudi dengan tangan yang masih terus menyatu.
"Kenapa dia tak melepaskan genggaman tangannya?" tanya Melati dalam pikirannya sendiri.
Arnon masih tetap fokus menatap kearah depan.Entah ia sadar atau tidak dengan kelakuan tangannya yang masih terus menempel pada tangan Melati.
Karena asik dengan pikirannya sendiri, Melati tak sadar jika mobil yang ia naiki sudah sampai di depan restoran tempat dirinya bekerja.
Arnon menoleh ke arah istrinya yang masih tetap terdiam tak ada niat ingin turun dari mobil.
Arnon memakai masker dan kacamata hitam agar ia terlindungi dari para pengagumnya yang mayoritas kaum hawa.
Pria itu memanggil istrinya dengan tangan yang tak ingin lepas dari tangan lembut Melati.
"Hei," panggil Arnon membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
Wajah Melati terkejut bukan kepalang,gadis itu sampai memundurkan badannya karena rasa syok yang teramat sangat.
Arnon menurunkan sedikit kacamata hitamnya sampai batas hidung.
Pria itu menatap Melati dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Kenapa kau sampai bereaksi seperti itu? apa aku sangat tampan?" tanya Arnon dengan senyum penuh percaya diri.
Melati menundukkan kepala dengan tangan menyentuh keningnya yang mulai terasa sakit karena sifat percaya diri yang di miliki oleh sang suami.
Gadis itu menegakkan badannya menghadap ke arah Arnon.
"Kau dengarkan baik-baik ya,Arnon Marvion Gafin! aku tadi bereaksi seperti itu karena aku mengira kau ...."
"Tampan kan?" Arnon memotong perkataan istrinya.
"Ihhhhhh! bukan tampan,tapi aku mengira kau itu robot jadi-jadian," ungkap Melati dengan wajah kesal karena Arnon dengan begitu percaya diri mengatakan jika ia tampan meskipun pada kenyataannya memang benar,tapi Melati sedikit jengkel dengan Arnon.
Seketika hanya suara jangkrik yang terdengar oleh Arnon.Pria itu menyandarkan bahunya di sandaran kursi penumpang.
__ADS_1
Jika saja masker dan kacamata hitam itu ia buka,sudah bisa di pastikan raut wajah kecewa yang teramat sangat bisa terpancar begitu jelas.
"Orang setampan diriku ia kira robot jadi-jadian? dosa apa yang sudah aku perbuat sampai aku memiliki istri konyol seperti dia."
Supir yang berada di sisi kemudi mencoba menahan tawanya karena ucapan Melati tadi.
"Baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis yang tak ada rasa minat sekali pada Tuan muda,biasanya mereka berlomba-lomba ingin mendapatkan hati Tuan muda," pikir supir tersebut sambil terus mengeratkan bibirnya agar tetap mengatup dengan rapat.
Arnon masih dalam mode syok yang benar-benar membuat harga dirinya terjatuh dari ketinggian beratus-ratus kaki sampai hancur berkeping-keping di atas tanah.
Melati masih menatap ke arah suaminya dengan wajah kebingungan.
Arnon menoleh ke arah Melati kemudian pria itu membuka pintu mobil hendak keluar namun tangannya terasa tertahan.
"Lepaskan dulu tanganku baru kau bisa turun," tutur Melati pada Arnon.
Arnon melirik ke arah tangannya,ia melihat jika tangan tersebut tengah menggenggam erat tangan sang istri tanpa terlepas sedari tadi.
"Jadi ... kenapa tanganku ini sangat nakal, bisa-bisanya memegang erat tangan Melati begitu lama," gerutu Arnon yang langsung melepaskan genggaman tangannya keluar dari dalam mobil.
Melati membuka pintu mobil,keluar sambil mengibaskan tangannya yang terasa pegal karena kelakuan Arnon.
Gadis itu menghampiri suaminya yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
"Ayo kita masuk," ajak Melati.
Melati masih tetap menatap Arnon penuh tanda tanya.
"Kenapa dia tak bergerak sama sekali? apa aku salah bicara ya?" menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jika kau tak ingin ...."
Perkataan gadis itu terhenti,ia berpikir mungkin Arnon ingin bergandengan tangan seperti tadi.
Melati langsung menyambar tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Ayo masuk," ajak gadis itu dengan penuh semangat.
Namun lagi-lagi Arnon tak bergerak bagai patung.
"Kau kenapa?" tanya Melati dengan wajah yang sudah sendu karena Arnon masih tetap tak ingin beranjak dari tempat ia berdiri.
"Apa kau mau berjalan dengan seorang robot jadi-jadian sepertiku?" Arnon bertanya balik pada Melati.
"Apa dia marah padaku?" pikir gadis itu.
"Maaf!" satu kata itu yang mampu Melati lontarkan pada Arnon dengan wajahnya yang menunduk kebawah penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Arnon melirik kearah Melati dengan senyum yang melengkung indah di bibirnya meskipun tak ada seorangpun yang tahu karena pria itu tengah menggunakan masker.
"Aissshhhhhh! aku benar-benar lemah jika gadis ini sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya seperti ini." Menyentuh kedua pundak sang istri.
Melati melihat ke arah Arnon dengan tatapan bersalah karena ucapannya yang mungkin menyakiti hati suaminya.
Arnon membuka kacamata dan masker yang ia pakai.
Wajah pria itu di buat sedatar mungkin.
"Ayo kita masuk," pinta Arnon.
"Tapi masker dan kaca ...."
"Tak perlu banyak bicara." Arnon langsung menarik tangan istrinya berjalan masuk restoran.
"Tapi bagaimana jika orang ...."
"Kau diam saja! ini urusanku." Sambil terus berjalan menggenggam erat tangan Melati.
"Tapi ...." Lagi-lagi perkataan terpotong oleh Arnon.
Pria itu menghentikan langkahnya berbalik menatap sang istri.
"Seharusnya aku tak perlu memakai masker atau kacamata hitam itu,seharusnya aku menjadi orang biasa saat bersama istriku," jelas Arnon yang berbalik melanjutkan perjalanannya menuju arah pintu restoran dengan senyum mengembang di bibirnya tanpa sepengetahuan Melati karena Arnon tengah menghap ke depan.
Melati masih terdiam dengan kaki yang masih terus berjalan mengikuti langkah Arnon.
"Apa yang dia katakan tadi? istriku? Astaga! perasaan apa ini,kenapa aku sangat bahagia mendengar ucapannya." Dengan kedua sudut bibir yang juga tertarik indah.
Melati dan Arnon terus berjalan masuk restoran sampai mereka berdua berada di dalam.
Arnon melepaskan genggaman tangannya.
"kau temui Bosmu sana," pinta Arnon.
Melati berjalan ke arah ruangan atasannya namun saat sudah berada di depan pintu suara cempreng mengejutkannya.
"Mbak Melati ya?" tanya gadis yang berusia lebih muda darinya yang tak lain adalah Rina juniornya di restoran ini.
Saat Melati menoleh ke arah suara cempreng tersebut,tanpa aba-aba Rina langsung memeluk seniornya yang terkenal sangat baik itu.
"Aku rindu sekali dengan Mbak Melati." Memeluk erat tubuh Melati.
"Rina! lepaskan pelukanmu,dadaku terasa sesak," pinta Melati pada juniornya.
secara spontan Rina melepaskan pelukannya dan ekor matanya tak sengaja menatap bayangan seorang pria tampan dan menurutnya pria itu adalah idaman semua kaum wanita di dunia khususnya dirinya.
__ADS_1
Mulut Rina menganga sempurna sambil terus menatap ke arah Arnon sang idola.