Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 194 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia melepas pelukannya pada tubuh William. Gadis itu menatap kedua manik mata suaminya. "Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Zinnia yang sudah merasa malu harus menjadi bahan tontonan dan pastinya berita utama kali ini.


Kepala Will menggeleng tak mengindahkan keinginan Zinnia yang ingin segera keluar dari ruangan itu.


"Kejutan untukmu masih belum selesai, Sayang! masih ada satu lagi," tutur William sambil tersenyum pada istrinya.


Seorang model yang mengenakan baju karya Zinnia berjalan dengan anggun menghampiri kedua pasangan suami-istri tersebut.


Model wanita itu memeberikan sebuket bunga mawar segar dengan ukuran besar pada William.


Pria itu menerima buket bunga tersebut. Model wanita itu kembali ke tempatnya, sedangkan William mencium buket wangi bunga mawar merah yang saat ini berada di tangannya.


Pria itu memejamkan mata sembari tersenyum menikmati wangi bunga mawar merah di tangannya.


William mulai membuka matanya secara perlahan dan menatap ke arah Zinnia.


Pria itu memberikan buket bunga mawar tersebut pada Zinnia. "Selamat untuk perjuanganmu hari ini!"


Zinnia melihat ke arah buket bunga yang di berikan oleh William. Gadis itu masih belum menerima buket bunga dari suaminya.


"Ini untukku?" tanya Zinnia pada suaminya dan William menggelengkan kepala dengan gerakan cepat.


Kening Zinnia mengkerut sempurna saat William menggelengkan kepalanya.


"Jika bukan untukku? kenapa kau memberikan buket bunga itu padaku, Pria mesum!"


"Ini bukan untukmu, tapi ini untuk, Istriku!"


Senyum William kembali mengembang saat melihat raut wajah Zinnia yang masih kebingungan.


Zinnia masih diam tak menerima bunga dari suaminya.


"Kenapa kau diam saja? apa kau tak ingin menerima bunga ini?" tanya William.


"Tapi ...."


"Bunga ini untuk siapa?" tanya William yang dapat membaca raut wajah Zinnia sat itu.


"Untuk istrimu!"


"Kau ini siapaku?" tanya William lagi.


"Aku ... Istrimu!"


William kembali tersenyum manis pada Zinnia. "Jadi, ambillah bunga ini, Sayang!"


Tangan Zinnia mulai terangkat ke atas untuk mengambil buket bunga dari suaminya.


Gadis itu terlihat sangat senang saat wangi bunga yang ada di tangannya menyeruakkan wangi khasnya. Zinnia mengendus wangi bunga mawar tersebut.


Setelah selesai dengan wangi bunga mawar yang ia pegang, Zinnia menatap ke arah suaminya. "Terimakasih!"


Lagi-lagi pria itu tersenyum pada Zinnia. Jantung Zinnia mulai terpompa semakin cepat.


Deg deg deg

__ADS_1


"Kenapa pria ini selalu tersenyum manis seperti itu? jika terus seperti ini aku bisa benar-benar akan mati karena terkena penyakit diabetes."


William kembali menyentuh wajah istrinya. "Kau tak perlu berterimakasih padaku, karena ini masih tahap awal proses mengejar cintamu dan masih banyak lagi kejutan yang akan kau dapatkan, Sayang!"


William mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Bibir pria itu membidik kening Zinnia untuk menjadi tempat mendaratnya benda kenyal miliknya.


Cup


Kecupan tulus, lembut, dan sedikit lama kembali menjadi tontonan para orang yang hadir.


Kedua mata mereka terpejam menikmati suasana romantis yang di buat oleh William.


Para wanita dan model yang ada di ruangan itu di buat iri oleh Zinnia karena desainer cantik itu mendapatkan suami yang sangat mencintainya sampai pergelaran besar saja di buat tempat untuk mengungkapkan rasa cintanya.


Kecupan William pada kening istrinya perlahan terlepas.


Pria itu menatap wajah sang istri. "Sekarang waktunya kita kembali ke hotel," tutur William.


Tanpa meminta persetujuan Zinnia, pria itu mengangkat tubuh istrinya ala bridal style di depan semua orang.


Semua momen Zinnia dan William tak luput dari kamera yang ada di ruangan itu.


Awalnya Zinnia terkejut karena ia takut William menjatuhkan tubuhnya namun, gadis itu tersenyum dan melingkarkan tangannya pada leher William. "Apa ini bagian dari caramu untuk membuatku mencintaimu?" tanya Zinnia.


William menatap Zinnia sambil berjalan keluar dari ruangan itu. "Tentu saja! aku ingin kau tahu seberapa besar dan seriusnya cinta ini untukmu," jelas William.


"Aku masih tak yakin! ini masih belum dua Minggu, Pria mesum! kau sudah klepek-klepek begini padaku," tutur Zinnia sambil terus melihat setiap guratan pada wajah suaminya.


"Karena permohonanmu terkabul saat ada bintang jatuh," ujar William pada istrinya.


"Jika mitos, kenapa kau mengucapkan permohonanmu waktu itu?" tanya William yang masih tetap menggendong Zinnia.


"Karena aku pikir mungkin saja Tuhan akan mendengar do'aku," sahut Zinnia dengan nada santai.


"Dan sekarang Tuhan sudah mengabulkan permintaanmu, Istriku!"


Wajah Zinnia memerah saat William memanggilnya dengan sebutan istriku.


"Kau tak perlu memanggilku dengan sebutan itu, cukup panggil aku ...."


"Tidak mau! kau itu istriku dan aku akan memanggilmu dengan panggilan itu atau Sayang!"


"Tapi ...."


"Tapi kenapa, Sayang?" tanya William yang menggoda Zinnia sampai wajah gadis itu semakin bertambah memerah.


Zinnia menatap wajah suaminya yang masih tersenyum manis padanya. Gadis itu langsung menempelkan kepalanya pada dada bidang William agar pria itu tak tahu jika dirinya saat ini tengah sangat malu.


William tahu apa yang terjadi dengan Zinnia sampai gadis itu menyembunyikan wajahnya. "Apa kau malu, Sayang?" tanya William terus menggoda sang istri.


"Diam!"


"Sayang!"


"Diam, Will!"

__ADS_1


"Sayang!"


Zinnia langsung mengangkat wajahnya menatap ke arah William yang sudah tersenyum manis padanya. "Diam!" Zinnia memberikan perintah agar William diam tak memanggilnya dengan sebutan Sayang lagi.


William hanya menganggukkan kepalanya namun, dua detik kemudian, pria itu mengecup bibir istrinya.


Cup


Mata Zinnia melebar karena ulah jahil suaminya. "Apa yang kau ...."


"Aku mencium istriku," sambung William sekenanya.


"Aku tadi sudah mengatakan diam! kenapa kau ...."


"Kau tadi hanya mengatakan diam jangan memanggilmu sayang kan? bukan melarangku untuk mengecup bibir berry-mu itu," sambung William lagi.


"Bibir berry? bibir apalagi itu? aku tak pernah mendengar istilah macam itu?"


Zinnia memejamkan matanya karena pria ini sungguh pintar mencari alasan.


"Sabar, Zi! anggap saja dia pria gila."


William sudah hampir sampai di depan mobil yang bertugas mengantarkannya.


"Apa kau tak lelah menggendongku dari dalam sampai kemari?" tanya Zinnia masih tetap berada dalam gendongan William.


"Tidak! karena aku suka mengendong, Istriku!"


Zinnia menatap William tajam. Gadis itu tak ingin William memanggilnya dengan sebutan seperti itu.


William yang sadar akan maksud tatapan Zinnia langsung tersenyum kikuk. "Maaf, aku tak akan memanggilmu seperti itu lagi, Sayang!"


Zinnia langsung memukul bahu suaminya tanpa henti. "Rasakan itu, Pria mesum!"


Cup


William kembali mengecup bibir Zinnia untuk menenangkan istrinya dengan senjata andalan yang ia miliki.


Zinnia spontan menghentikan gerakan tangannya yang memukul kecil bahu suaminya.


"Kenapa kau selalu menciumku, Pria mesum!"


"Karena aku suka dengan rasa bibirmu," sahut William blak-blakkan.


"Astaga! apa pria ini tak bisa sedikit saja beralasan saat aku bertanya padanya?"


Zinnia hanya diam tak menanggapi ucapan suaminya.


"Mesum pada istri sendiri masih sah kan? jadi aku akan mesum padamu setiap hari, jam, menit, bahkan detik karena aku mencintaimu, Zinnia!" William berbisik tepat di telinga istrinya.


Karena sudah berada di depan mobil yang akan membawa keduanya ke hotel, William menurunkan istrinya tepat di kursi penumpang. "Aku mencintaimu, Sayang!"


Zinnia tak menanggapi ucapan suaminya lagi namun, hati gadis itu bagai di serang beribu kupu-kupu yang mulai berterbangan di dalam rongga dadanya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2