Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 161 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia duduk di kursi tepat di sebelah suaminya. Ia mulai mengambilkan nasi dan lauknya.


Pria itu menatap sang istri dan tatapan matanya itu ternyata mengusik Zinnia yang tengah melayani suaminya di meja makan. "Ada apa?" tanya Zinnia dengan nada lembut sangat berbeda 180 derajat dengan nada ketusnya yang beberapa menit lalu ia dengar.


"Tidak apa-apa! aku hanya ingin memandangmu," sahut William yang mulai menggerakkan sendoknya untuk memulai ritual makannya.


Zinnia hanya melihat suaminya yang sangat lahap memakan ikan kesukaannya.


Pria itu menghentikan kegiatan makanya. Ia menatap ke arah sang istri yang masih tetap tak berpaling menatap ke arahnya.


"Kau tak makan?" tanya William dan Zinnia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya William lagi.


"Aku hanya ingin melihatmu saja," sahut Zinnia yang mulai melancarkan aksinya agar misinya bisa ia menangkan.


"Kau akan sakit jika tak makan, Zi!"


Zinnia tersenyum menatap mata William. "Kau ingin aku makan?" tanya Zinnia.


"Tentu saja! karena aku tak ingin kau sakit."


"Kalau begitu, suapi aku," pinta Zinnia yang langsung mendapat tatapan tajam dari William.


Zinnia hanya membalas tatapan mata tajam itu dengan senyuman terlumernya.


"Kau bukan anak kecil, Zi!"


"Tapi aku ingin kau menyuapiku," rengek Zinnia tak mau kalah dari sikap dingin suaminya.


William menghela napas. Ia mulai menyendok nasi dan ikan, kemudian mulai menyuapi Istrinya.


Zinnia dengan senang hati menerima kebaikan hati William. Gadis itu mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Jangan dikira aku akan memberikan kelonggaran padamu, Pria mesum! aku akan terus menggencatmu dengan rayuanku agar aku bisa menang."


Asih yang berada tak jauh dari meja makan ikut bahagia melihat William kini sudah memiliki Istri yang cantik dan sangat menyayanginya.


Setelah keduanya selesai makan, Zinnia hendak membawa semua piring bekas makan dan minumnya ke arah dapur, namun Asih tak memperbolehkan Nyonya mudanya untuk melakukan itu semua.


"Biar para pelayan saja, Nyonya!"


William menarik tangan Istrinya ke arah lantai atas. "Kita ke kamar sekarang!"


Zinnia mengikuti suaminya ke arah lantai atas. Keduanya kini sudah berada di kamar mereka.


William langsung berjalan menuju ke arah laptopnya, semantara Zinnia lupa jika ia belum mengecek email dari Sandra sang Asisten.


Ia segera berlari ke arah koper yang tak ia buka sedari tadi. Koper itu berisi peralatan untuk menggambar desainnya. Koper yang satunya lagi berisi baju dan alat makeup nya.


Zinnia berjalan ke arah sofa panjang dimana suaminya tengah duduk.

__ADS_1


Gadis itu sengaja duduk berdempetan dengan William agar misinya bisa kelar dalam waktu kurang dari dua Minggu.


William menoleh ke arah Zinnia saat bagian tubuhnya terasa bersentuhan dengan bagian tubuh istrinya.


"Jangan dekat-dekat! kau bisa duduk di kasur kan!" William nampak risih dengan tingkah Zinnia.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapi celotehan suami mesumnya itu.


Zinnia sedikit melirik ke arah laptop yang sedang bertengger di kedua pada William. dia melihat ada sebuah file dengan tulisan "Laporan pasien".


Zinnia nampak masih mencari tahu apa pekerjaan suaminya itu, karena kedua orangtuanya juga tak memberitahu pekerjaan William.


Zinnia tiba-tiba menutup mulutnya dengan wajah terbelalak. Ia menoleh ke arah William dengan gerakan kepala slow motion.


Zinnia melihat penampilan suaminya dari atas sampai bawah. Tatapan itu seperti sedang mencari sesuatu tentang kebenaran apa yang tengah ia pikirkan saat ini.


William yang masih menatap ke arah Zinnia di buat kebingungan. "Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?" tanya William kesal.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Zinnia sambil terus memperhatikan suaminya.


"Kau tak tahu apa pekerjaanku?" tanya balik William dan Zinnia hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tak tahu.


William memijat pelipisnya yang tak terasa nyeri. Ia sungguh bertemu dengan gadis yang sangat primitif.


"Kenapa aku bisa mempunyai istri sepertinya? apa dia tak punya akun media sosial atau tak pernah menonton acara televisi?"


William kembali menatap ke arah sang istri. "Kau sungguh tak tahu pekerjaanku?" tanya William lagi dan lagi-lagi Zinnia menggeleng tanda tak tahu.


Zinnia menggeleng ngeri. "Jadi kau benar seorang paranormal?" tanya Zinnia yang sedari tadi pertanyaan tersebut sudah berputar-putar di dalam otaknya.


William menganga mendengan ucapan Zinnia yang mengatakan jika dirinya seorang paranormal.


"Apa kau bilang? aku seorang apa?" tanya William mendekatkan telinganya pada wajah Zinnia.


"Kau seorang paranormal!"


William menatap wajah istrinya kemudian ia menjitak Zinnia.


"Awwww! sakit," rintih Zinnia mengelus jidatnya yang terkena jitakan dari suaminya.


"Salah siapa kau berani merendahkan pekerjaanku," ujar William tersenyum senang karena telah berhasil memberi pelajaran pada Zinnia.


"Kau sendiri yang mengatakan jika kau bekerja menolong orang dan lagi file dalam laptopmu juga ada tulisan data pasien, ya aku mengira jika kau seorang paranormal," jelas Zinnia pada suaminya.


Belum juga rasa sakit pada dahinya hilang, William kembali menjitak kening Zinnia untuk yang kedua kalinya.


Gadis itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Suara isak tangis terdengar oleh telinga William, namun pria itu tak melakukan respon apapun karena ia berpikir Zinnia hanya bercanda.


"Kau tak perlu bersandiwara di hadapanku! sandiwaramu sudah ba ...."

__ADS_1


Ucapan terhenti saat ia melihat setetes air mata mengenai keyboard pada laptop milik istrinya.


William memindahkan laptopnya dan laptop Zinnia ke meja.


Ia mendekat ke arah Zinnia untuk melihat apa gadis itu benar-benar menangis atau hanya bercanda.


William berusaha membuka kedua tangan yang menutupi wajah istrinya, namun Zinnia tetap menahan tangannya itu.


"Zi! buka tanganmu! aku ingin melihat wajahmu sebentar saja," bujuk William dengan suara lembutnya.


William mulai membuka kedua tangan Zinnia. Saat wajah gadis itu sudah terlihat jelas di hadapannya, ternyata Zinnia benar-benar menangis.


Wajah cantik itu sudah basah dengan air matanya. Hidung Zinnia juga sudah memerah.


William merasa sangat bersalah karena ia sudah menjitak istrinya.


"Maafkan aku," tutur William pada Istrinya.


"Kau jahat padaku, Pria mesum!"


William mengusap air mata Zinnia yang masih menetes. Tatapan mata gadis itu menatap ke arah bawah.


"Maafkan aku, Zi! aku tahu tadi aku sudah keterlaluan padamu," sesal William pada Istrinya.


Perlahan mata indah itu mulai menatap sang suami. Mata yang terlihat bengkak karena menangis.


Tatapan mata mereka mulai bertemu. Saling menelusuri tiap inci wajah lawan masing-masing.


"Maafkan aku," tutur William tulus.


Kedua tangan William masih berada pada tiap sisi pipi Istrinya.


Tangan kanan Zinnia menyentuh pipi kiri suaminya. Ia mengusap lembut pipi dengan pahatan sempurna itu. "Jangan mengulanginya lagi, dahiku sakit," tutur Zinnia pada suaminya.


Deg deg deg


Wajah dengan ekspresi polos itu membuat jantung William bergemuruh bagai petir yang hendak menyambar apapun.


Pria itu tersenyum manis pada Zinnia diiringi anggukan kepalanya.


Zinnia membalas senyuman manis suaminya. "Aku ingin di peluk," pinta Zinnia dengan nada manja.


William dengan senang hati merentangkan kedua tangannya agar sang istri masuk dalam pelukannya.


Zinnia langsung berhamburan memeluk tubuh William.


William memeluk erat tubuh Zinnia. Ia ingin gadis itu tahu jika dirinya sungguh menyesal.


"Pelukan ternyaman setelah pelukan Bunda padaku."


Zinnia tersenyum dengan kepala menempel pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Langkah pertama untuk membuat pria mesum ini bertekuk lutut padaku! tapi kenapa aku merasa nyaman berada dalam pelukannya?"


__ADS_2