
Huek huek huek
Suara Zinnia memuntahkan makanan dalam mulutnya terdengar dari meja makan sampai William sudah berada di samping istrinya. "Sayang! kau kenapa?" tanya William cemas karena Zinnia tak pernah muntah-muntah seperti ini sebelumnya.
"Aku tak ...."
Huek huek huek
Lagi-lagi Zinnia memuntahkan isi perutnya. William mengusap punggung istrinya dan Sandra ikut mengejar bosnya ke arah dapur.
"Ini ada aroma terapi yang sangat enak untuk meredakan mual Nona Zinnia untuk sementara," ujar Sandra memberikan satu botol kecil aroma terapi pada William dan Dokter tampan itu membukanya, kemudian mendekatkan aroma terapi tersebut pada hidung Zinnia. Mual yanh Zinnia rasakan berkurang.
"Bagaimana? apa berfungsi?" tanya William penuh harap.
"Cukup berfungsi," sahut ibu hamil itu.
Tubuh Zinnia napak lemas. Dengan cepat William mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar,l namun, saat melewati meja makan, Zinnia melihat ada buah pisang di atas meja itu. "Aku mau makan pisang itu," tutur Zinnia menunjuk ke arah pisang yang berada dekat dengan Marquez.
Marquez meletakkan sendok dan garpunya, kemudian mengambil satu sisir pisang penuh dan membawanya ke arah Zinnia. "Kau makan satu sisir ini, kau pasti akan kenyang, Zi!" Marquez meledek Zinnia.
Bukannya marah, Zinnia justru tersenyum manis pada Marquez. "Terimakasih ya!"
William hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan istrinya sungguh berbeda 180 derajat dari biasanya.
William mendudukkan istrinya di atas ranjang. Zinnia mulai mengupas satu buah kulit pisang Ambon yang sangat menggugah selera.
Dengan liur yang sudah meleleh dalam tenggorokannya membuat ibu hamil itu langsung melahap buah tersebut.
William masih diam memperhatikan istrinya. Ia takut jika Zinnia tiba-tiba memuntahkan makanannya.
Menunggu beberapa menit sampai Zinnia menghabiskan tiga buah pisang Ambon itu, akhirnya William yang duduk di samping istrinya bisa bernapas lega karena Zinnia bisa makan dengan lahap.
"Aku akan hubungi, Bunda!"
William mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
"Halo, bunda! apa bunda bisa kemari setelah bunda selesai bekerja?"
"Memangnya ada apa, Will?"
"Istriku tiba-tiba mual dan muntah."
__ADS_1
"Baiklah! bunda akan ke rumahmu nanti bersama, Daddy! mertuamu masih belum pulang?"
William menoleh ke arah Zinnia. "Sayang! mommy sudah pulang atau belum?" tanya William pada istrinya yang sedang asyik memakan pisang Ambonnya.
"Sudah sebelum kau datang karena tadi ada Sandra dan Marquez," jelas Zinnia melanjutkan kembali memakan pisangnya.
"Sudah pulang, bun!"
"Oke! nanti bunda kesana setelah pulang bekerja ya!"
"Iya, bunda!"
William memasukkan kembali ponselnya. Pria itu membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah sang istri. "Apa masih mual?" tanya William dan Zinnia menggelengkan kepalanya sembari memakan pisang yang sudah tinggal beberapa buah itu.
William mengambil sisa pisang yang masih ada di pangkuan istrinya. "Makan pisangnya cukup dulu ya, Sayang! kau bisa sakit perut jika berlebihan," jelas William dan bibir wanitanya sudah maju ke depan.
William tersenyum. Ia sadar jika itu bukan kemauan Zinnia tapi itu kemauan kedua janinnya yang masih bersemayam dalam rahim Zinnia.
William merundukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya pada perut Zinnia.
William mengusap lembut perut itu sembari berkata, "Anak Daddy tak boleh membuat Mommy kalian sampai kesakitan seperti tadi ya, Sayang! apa kalian tahu? mommy harus makan makanan yang sehat demi pertumbuhan kalian berdua, jadi jangan membuat Mommy mual lagi ya, Sayang!" William mengusap perut Zinnia kembali.
William menganggukkan kepalanya namun, tatapan pria itu tak menatap istrinya. William tersenyum sembari mengusap perut Zinnia yang masih datar.
"Aku juga senang memiliki anak kembar karena kita tak perlu membuatnya lagi," tutur Zinnia dan arah pandang William tersorot pada wajah istrinya.
"Tapi aku ingin memiliki anak 20, Sayang!" William menggoda istrinya.
Zinnia memutar bola matanya malas. "Dua sudah mual begini, apalagi 20, bisa-bisa aku kurus tinggal tulang, Sayang!"
William tertawa kecil saat Zinnia menanggapinya dengan serius. "Jika kembar, kau hanya perlu hamil 10 kali saja, Sayang!" William menggoda istrinya kembali.
"Kita berdua bergantian saja hamilnya! aku cukup dua ini dan sisanya kau, Sayang!" goda Zinnia balik.
"Hahaha! aku suka mendengarkan ocehanmu yang sangat merdu di telinga ini," goda William lagi.
Zinnia tiba-tiba mendorong tubuh suaminya sampai William kini sudah berada di bawah kungkungan Zinnia.
William tersentak karena gerakan tiba-tiba yang Zinnia lakukan padanya.
"Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya William.
__ADS_1
Zinnia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. "Kau pikir saja sendiri apa yang akan kita lakukan, Sayang!"
Zinnia hendak mencium bibir William namun, pria itu menahannya. "Jangan! aku takut tak bisa menahannya," tolak William yang tak ingin bermain solo.
"Aku memang sengaja, Sayang!"
Zinnia mengecup bibir suaminya berkali-kali sampai tengkuk Zinnia di tahan oleh William dan ciuman mereka samakin menuntut namun, Zinnia melepaskan ciuman itu. "Aku akan turun ke bawah, kasihan Sandra dan Marquez di bawah sedang menunggu," tutur Zinnia melenggang pergi dari kamar itu dan raut wajah William sudah kesal namun, Dokter tampan itu mencoba menahannya.
"Huh, tahan! untung saja masih setengah on fire! jika sudah full, aku pastikan malam ini akan berendam air dingin dan itu sangat menyakitkan," gumam William.
Zinnia sudah sampai di lantai dasar dan ia berjalan menuju meja makan. "Kalian akan langsung pulang?" tanya Zinnia sambil mendaratkan bokongnya pada kursi.
"Tentu saja, Zi! kami juga ingin berkencan layaknya pasangan pada umumnya, iya kan, Sayang?" tanya Marquez pada Sandra.
Asisten Zinnia itu hanya tersenyum manis tapi palsu. "Tentu saja, kami ingin berkencan," sahut Sandra dengan gerakan cepat memakan makanannya.
"Kalian berdua kapan menikah?" tanya Zinnia membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah Zinnia. "Kau bertanya pada kami?" tanya Marquez.
"Tentu saja! kau kira aku berbicara pada siapa? dasar pria aneh! kenapa Sandra mau padamu sih?" Zinnia memijat pelipisnya yang tak sakit.
"Karena cinta itu buta, Sayang!" William menimpalinya.
"Nah! betul sekali!" Marquez merasa tertolong oleh hadirnya William.
"Siapa juga yang jatuh cinta padanya! pria aneh ini mana mau dengan wanita macam diriku."
Sandra fokus memakan makanannya namun, hatinya berceloteh ria.
William duduk di tempat semula memakan makanannya yang tadi sempat ia tinggal. Untung saja nasi William belum di campur kuah jadi masih bisa di makan.
"Kalian langsung pulang! jangan kemana-mana! ini sudah hampir malam," tutur Zinnia pada Sandra dan Marquez.
"Baik, Nona!"
"Baik, Ibu ratu!" Marquez kembali menggoda Zinnia.
Zinnia mengusap lembut perutnya. "Amit-amit, jangan sampai anak-anakku mirip denganmu, Marquez Copaldi!"
Perkataan Zinnia membuat tawa di meja makan itu menggema.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.
__ADS_1