
Arnon membawa istrinya ke halaman belakang. Ia tak melihat ruang tamu dan ruangan lainnya karena Melati saat naik ke lantai tiga, wanita berbadan dua itu melihat ke arah bawah yang langsung memperlihatkan seluruh ruangan yang berada di bawahnya, kecuali ruang makan yang masih tersekat oleh tembok.
Arnon menurunkan Melati secara perlahan, karena ia takut Melati kenapa-napa.
Kali ini Melati benar-benar bisa cuci mata. Cuci mata dalam artian memanjakan mata dengan pemandangan yang sangat indah.
Arnon sungguh bisa membuat hatinya mekar berkali-kali dalam sehari. Pria itu biss membuat hatinya berwarna.
Taman belakang rumah mereka di desain menyerupai sebuah taman wisata dimana tumbuhan dan hewan ada di sana.
Arnon membuat sebuah kolam ikan berukuran besar. Di dalam kolam itu ada sekitar 100 ikan koi dewasa yang sangat besar dengan corak yang beragam.
Di tengah-tengah kolam itu terdapat jembatan penghubung ke ujung seberang yang di tumbuhi berbagai jenis bunga dan tempat duduk untuk bersantai.
"Apa kau ingin memberi mereka makan?" tanya Arnon memberikan sebungkus pakan ikan pada Melati.
Melati menerimanya dengan hati gembira. "Terimakasih!"
Istri dari aktor tampan setanah air itu mulai memberikan ikan-ikan besar itu makan.
Tak butuh waktu dua detik, sedetik kemudian, permukaan air sudah di penuhi dengan mulut ikan yang keluar masuk dalam air untuk berebut makanan mereka.
Melati ingin sekali menyentuh hewan air tersebut, namun ia geli dengan tubuh ikan yang terlihat licin. Selain itu, mahluk air tersebut tak enak diam jika sudah berada di genggamannya.
Arnon tertawa kecil melihat Melati seperti sedang merasa kegelian saat memberikan makan ikan-ikan besarnya.
Melati menatap ke arah Arnon yang berada di sampingnya. "Apa aku boleh melewati jembatan itu?" tanya Melati pada suaminya.
"Lewat saja, Sayang! jika kau lelah, kau bisa duduk di tempat itu," tunjuk Arnon pada kursi santai yang berada di seberang kolam ikannya.
Karena sudah mendapatkan izin dari Arnon, Melati tanpa ragu melintasi jembatan yang berada di tengah-tengah kolam ikan.
Senyum dari bibir Melati tak pernah hilang kala ia melihat ikan itu keluar masuk dari dalam air untuk berebut makanannya.
__ADS_1
Alas kaki Melati sudah menapaki rumput gajah mini yang tertanam dengan subur di halaman itu.
Melati tak langsung menginjak rumput tersebut. Ia melangkah melewati tiap petak batu berbentuk segi empat.
Melati terus berjalan hingga ia sampai di sebuah teras dengan kursi dan meja sudah tertata rapi. Tak lupa di atasnya sudah terdapat atap untuk bernaung dari panas dan hujan.
Melati mendudukan dirinya di kursi. Ia menghadap ke arah Arnon yang juga tengah melihat ke arahnya.
"Kemarilah! apa kau hanya ingin melihat aku duduk sendirian di sini?" suara Melati sedikit berteriak.
Arnon langsung berlari kecil menghampiri sang istri. Ia duduk tepat di samping Melati, merangkul bahu istrinya.
"Apa kau suka dengan halaman ini?" tanya Arnon sembari mengecup pipi istrinya.
"Sangat sangat sangat suka sekali," sahut Melati pada suaminya.
Saat keduanya sedang asyik bermesraan, tiba-tiba seorang wanita dengan wajah lebih tua sedikit dari pasangan itu menghampiri keduanya.
"Hari sudah mulai sore, Nyonya! tidak baik jika seorang ibu hamil berlama-lama di luar, anda bisa masuk angin," ujar wanita yang memakai pakaian seperti seorang Asisten itu.
Pria itu tahu jika sang istri saat ini tengah kebingungan karena di panggil Nyonya. "Dia, Kepala pelayan Miranda! dia anak tertua dari, Kepala Pelayan Mirna! dia yang akan mengurus semua tentang keperluan rumah," jelas Arnon
"Saya, Miranda!" sambil memberikan hormat pada keduanya.
"Ayo kita ke halaman depan! kumpulkan semua pelayan," pinta Arnon kemudian menuju ke halaman depan bersama dengan istrinya, diikuti oleh Miranda tepat di belakang Melati.
Melati dan Arnon beserta para pelayan sudah berkumpul di halaman depan.
Di sana sudah berbaris Miranda, pelayan rumah berjumlah 10 orang, supir 2 orang, satpam 2 orang, tukang kebun 2 orang, dan pengawal rumah 10 orang.
"Selamat sore semuanya! saya ingin memperkenalkan Nyonya rumah ini! perkenalkan ini istri saya, Melati! kami berdua mohon bantuan kalian untuk menjaga dan merawat rumah ini. Anggap saja rumah ini rumah kita dan di halaman paling belakang ada paviliun khusus untuk kalian semua! Di sana ada dua paviliun, paviliun para pelayan dan paviliun untuk para pria."
"Baik, Tuan!" mereka semua menjawab dengan serempak.
__ADS_1
"Kalian bisa kembali bekerja!"
Semuanya memberi hormat pada Arnon dan Melati, kemudian mereka kembali ke tugas masing-masing.
Setelah semuanya sudah benar-benar pergi, Melati menatap suaminya.
"Apa jumlah mereka tak terlalu banyak?" tanya Melati pada Arnon..
"Tentu saja tidak, Sayang! aku sudah memperhitungkannya dengan benar! mereka sudah punya tugas masing-masing karena rumah ini juga sangat besar, jadi aku harus mempekerjakan mereka semua agar kau tak lelah mengurus rumah ini seorang diri," jelas Arnon mengusap lembut puncak kepala Melati.
"Jadi, aku tak boleh memasak juga?" tanya Melati dengan raut wajah kesal.
"Kau boleh melakukan apapun di rumah ini, karena rumah ini atas nama dirimu, jadi kau berhak! tapi kau harus ingat! jangan terlalu lelah dan kau hanya boleh memasak saja! urusan membersihkan rumah, sudah ada pelayan yang mengurusnya."
"Tadi kau mangatakan aku bisa melakukan apa saja," protes Melati pada suaminya.
"Aku tarik ucapan itu! dan sekarang kita harus masuk ke dalam rumah, karena matahari sudah semakin turun."
"Apa besok aku boleh ke rumah, papa?" tanya Melati.
"Kita akan kesana besok! tadi pagi papa menghubungiku," tutur Arnon merangkul istrinya membawa wanita berbadan dua itu masuk ke dalam rumah baru mereka.
Di rumah Hadi sudah di rias sebagus mungkin untuk acara besok malam.
Agnez tengah sibuk mengusap masker pada wajahnya. Dia merawat wajahnya agar besok tampil secantik mungkin di hadapan mertua dan calon tunangannya.
"Semoga hari esok menjadi awal dari kebahagiaan hidupku dan Pram!"
Agnez kembali melanjutkan mengusap masker bengkuang tersebut pada wajahnya.
Berbeda dengan Pram yang mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia merasa gugup saat membayangkan dirinya menyematkan cincin pada jari manis Agnez.
"Tuhan! kenapa aku membayangkan saja sudah tak karuan begini! bagaimana saat besok acara berlangsung, pasti aku gemetar bukan main," gumam Pram yang menarik napasnya dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
"Santai, Pram! santai! kau pasti bisa," ujarnya menyemangati diri sendiri.
Tapi tetap saja, pria itu terus mondar-mandir bagai setrika arang yang terlihat tanpa lelah sedikitpun, karena dirinya merasa gugup.