
Zinnia beranjak dari tempat duduknya, wanita itu masuk ke dalam untuk mengambil satu kaleng soda lagi.
Zinnia kini sudah duduk dan berada di posisinya. "Minumanmu letakkan di samping! kau harus minum soda yang masih utuh, Sandra!" Zinnia memeberikan satu kaleng soda yang baru.
William menoleh ke arah istrinya. "Untuk apa itu, Sayang?" tanya William pada Zinnia.
Desainer cantik bermarga Gafin tersebut tersenyum simpul. "Kita akan melakukan permainan yang sangat menyenangkan," sahut Zinnia.
"Permainan apa?" tanya Marquez menyela.
"Siapa yang lebih cepat menghabiskan soda ini, maka dia yang menang dan yang kalah akan mendapatkan hukuman sesuai permintaan yang menang," jelas Zinnia menatap Marquez dan Sandra bergantian dengan tatapan mata tajam.
"Kenapa aku harus berurusan dengan orang-orang yang bergelimang harta seperti ini? aku lebih nyaman dengan profesi Asisten Nona Zinnia saja."
Marquez melihat ke arah Sandra yang terlihat sedikit ketakutan.
"Pasti Nona Asisten ini takut kalah!"
Marquez kembali menatap ke arah Zinnia. "Baiklah! aku setuju," ujar Marquez pada Zinnia dengan nada suara meyakinkan.
Zinnia tersenyum penuh kemenangan karena Marquez sudah masuk dalam tak tik jitunya untuk mengungkap mereka berdua ini benar-benar menjalin hubungan atau hanya berpura-pura.
"Akhirnya, kau masuk dalam perangkapku juga, Marquez!"
"Kalau begitu kita buka dulu minumannya," pinta Zinnia yang langsung membuka minumannya, kemudian diikuti oleh yang lain.
"Dalam hitungan ke tiga, kita langsung meminumnya ya! satu, dua, ... tiga!"
Mereka berempat meneguk minuman itu dengan cepat.
Tak
Suara kaleng di letakkan dengan cukup keras terdengar.
William orang pertama yang menyelesaikan misi dari istrinya.
Tak
Marquez orang kedua yang menyelesaikan misi dari Zinnia.
Tak
Dan Zinnia orang ketiga yang menyelesaikan misinya.
Sementara Sandra masih belum menghabiskan semua isi dalam kaleng soda yang kini berada di tangannya.
__ADS_1
"Hore! aku dan William menang! jadi hukuman harus tetap di jalankan."
Zinnia berpura-pura memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Sandra, padahal ia sudah merencanakan hukuman untuk Sandra sebelumnya.
"Hukum untuk Sandra adalah ...."
"Semoga Nona Zinnia tak mempersulitku."
"Sandra harus mencium Marquez di depan kita!" Zinnia tersenyum manis pada asistennya.
Spontan Sandra tersedak dengan penuturan Bosnya.
"Kenapa aku begitu kurang beruntung hari ini? sudah di jerat oleh kerjasama yang aneh oleh, Tuan Copaldi! sekarang Nona Zinnia juga mulai membuat keadaanku sulit."
Marquez melihat ke arah Sandra. Ia yakin jika wanita kaku yang berada di sampingnya tak mungkin bisa menciumnya di depan Zinnia dan William.
"Biar aku saja yang menciumnya, Zi!" Marquez berniat menolong Sandra.
William melihat ke arah istrinya. William sedikit mendekatkan tangannya pada tangan Zinnia dan memberikan kode agar Zinnia terus memancing Sandra untuk melakukan hukumannya.
"Sandra yang aku kenal bukan tipe wanita yang tak melakukan hal yang sudah menjadi tugasnya," tutur Zinnia agar Sandra mau melakukan hukuman dari Zinnia.
Sandra memejamkan matanya, kemudian ia menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Zinnia. "Saya akan melakukan hukuman itu, Nona!"
Zinnia dan William tersenyum karena rencana mereka berdua berhasil.
Sandra tersenyum manis pada pasangan pura-puranya itu. "Aku bisa, Sayang!"
Senyum Sandra yang begitu manis membuat Marquez merasa tenang.
"Sudah jangan banyak bicara! ayo cepat lakukan hukuman kalian," pinta Zinnia pada kedua pasangan baru itu.
Tangan Sandra mengepal erat dan semua itu tak luput dari tatapan Marquez.
"Pasti dia sangat tegang dengan situasi saat ini."
Sandra mendekatkan dirinya pada wajah Marquez. Wajah keduanya sudah semakin dekat dan sampai pada akhirnya ....
Cup
Kecupan singkat mendarat pada pipi desainer tampan itu.
Ekspresi wajah Marquez biasa saja, sementara wajah Sandra sudah memerah karena ini pertama kalinya ia mencium seorang pria. Dalam kamus hidupnya selama ini hanya bekerja dan bekerja, tak ada waktu untuk bersantai karena ia merupakan tulang punggung keluarganya.
"Kenapa hanya ciuman di pipi saja? yang kita mau ciuman di bibir, iya kan, Sayang?" tanya Zinnia pada suaminya.
__ADS_1
"Betul sekali itu," sahut William dengan mengacungkan jempolnya pada Sandra dan Marquez.
"Tapi tadi anda tidak mengatakan harus mencium dimana kan, Nona?"
"Nah, itu aku lupa, San! jadi kau ulangi lagi ya?"
Sandra sudah tak enak diam. Wanita itu bingung apa dia harus melakukan hal yang di perintahkan oleh Zinnia atau tidak.
"Tadi saja aku menahan napas saat akan mencium pipinya, bagaimana jika aku mencium bibirnya? bisa-bisa aku mati saat itu juga."
Marquez masih menghadap ke arah Sandra. Pria itu memutar otaknya agar bisa keluar dari situasi ini.
"Jika ciuman bibir ini tak dilakukan, makan Zinnia tak akan percaya dengan hubunganku dan Sandra."
"Biar aku saja yang menciummu," tutur Marquez membuat mata Sandra melebar. "Tidak perlu! aku bisa." tolak Sandra secara langsung.
Sandra mulai mendekati wajah Marquez namun ia kembali memundurkan wajahnya karena masih belum siap.
"Tuhan! kenapa aku harus berada di dalam situasi menyebalkan seperti ini."
Sandra kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Marquez, saat asisten Zinnia itu ingin memundurkan kembali wajahnya, tiba-tiba Marquez menarik tengkuk Sandra, membuat bibirnya menempel sempurna dengan bibir kekasih pura-puranya.
Mata Sandra terbelalak sempurna, sementara mata Marquez terpejam.
"Bibir ini kenapa terasa begitu lembut."
Ini ciuman pertama Marquez dan juga Sandra.
Desainer tampan itu terlena akan tekstur lembut bibir milik Sandra. Tanpa disadari oleh dirinya, bibir Marquez bergerak mengecup kecil bibir asisten Zinnia.
Karena Marquez merasa Sandra menahan napasnya, akhirnya ia melepaskan ciuman itu. "Kau harus bernapas! apa kau ingin mati karena salah saat berciuman?" tanya Marquez pada Sandra yang sudah menundukkan kepalanya menyentuh bibirnya.
William dan Zinnia percaya jika mereka berdua benar-benar pasangan kekasih.
"Baiklah! aku percaya pada kalian berdua," tutur Zinnia tersenyum puas.
Marquez melihat ke arah jam tangannya. "Ini sudah malam, Zi! aku harus mengantar Sandra pulang," ujar Marquez sembari beranjak dari duduknya, begitu pula dengan Sandra.
William dan Zinnia juga ikut berdiri. "Baiklah! hati-hati di jalan," tutur Zinnia dan pasangan baru itu bergegas pergi dari tempat yang terasa bagai penjara bagi mereka berdua.
Kini Sandra dan Marquez sudah berada di dalam mobil. Tak ada yang berani membuka suara terlebih dulu setelah insiden cium mencium tadi.
Sandra masih menyentuh bibirnya. Wanita itu tetap dalam posisi kepala menunduk kebawah.
"Sudah jangan di sentuh terus menerus bibirmu itu! nanti bisa bengkak seperti di sengat tawon," cecar Marquez membuat Sandra melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Dasar pria perhitungan yang tak tahu diri! sudah mengambil ciuman pertamaku, tapi masih banyak bicara!"
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.