Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 160 ( Season 2 )


__ADS_3

Pria itu memeluk tubuh Zinnia dari belakang dengan kepala sudah berada pada bagian tengkuk Istrinya dan tangannya sudah melingkar indah pada bagian perut Zinnia.


"Kau sedang masak apa?" tanya William dengan nada manja.


Zinnia terkejut dengan kelakuan aneh dari suaminya sampai spatula yang ia gunakan untuk memasak terjatuh.


Gadis itu berbalik menghadap ke arah William. "Apa yang kau la ...."


Belum juga Zinnia menyuarakan rasa protesnya pada William, pria itu tiba-tiba langsung mengecup pipinya, membungkamnya agar tak banyak bicara.


Cup


"Akan aku jelaskan di kamar nanti," bisik William dengan wajah yang masih dekat dengan telinga sang istri.


Zinnia menegang. Ini sudah berapa kali pria mesum itu menciumnya tanpa izin.


Tatapan mereka saling bertemu. "Kau sedang masak apa?" tanya William lagi mengulangi pertanyaannya dengan kedua tangan bertumpu pada bagian atas kabinet dapur.


Zinnia masih tak ingin menjawab pertanyaan William. Ia masih dalam keadaan proses loading karena pria itu secara tiba-tiba bersikap mesra padanya.


"Apa kau tak melihat jika aku memasak," sahut Zinnia kesal.


"Masak apa?" tanya William lagi.


"Apa kau tak bisa mencium wangi masakanku? hah, kau pasti hanya mencari kesempatan dalam kesempitan kan menciumku?"


William langsung mematikan kompor, kemudian mengangkat tubuh istrinya ala bridal style ke kamar yang berada di lantai paling atas dan aman dari para alat penguntit itu.


Saat keluar dari dapur, William melihat para pelayannya berada di dekat pintu masuk dapur. "Kalian lanjutkan masakan, Nyonya!" William memberikan komando pada para pelayannya.


Zinnia masih diam tak berontak karena ia tak ingin para pelayan tahu bagaimana rusuhnya ia dan William jika sudah cekcok tak jelas.


Saat sudah berada di lantai dua, kaki William hendak menaiki anak tangga lantai tiga, namun Zinnia memulai pemberontakannya. "Lepaskan aku," pinta Zinnia.


"Tidak!"


"Aku bilang lepaskan aku, Pria mesum!"


William mengehentikan langkahnya. Ia tersenyum simpul pada Zinnia. "Jika kau tetap ingin lepas dari gendonganku, akan aku lempar kau ke bawah! mau?" tanya William dengan nada tanpa kebohongan.


Zinnia diam. Ia melihat ke arah bawah, seketika telapak tangannya langsung berkeringat dingin karena ia sangat takut akan ketinggian.


"Ti-tidak," sahut Zinnia terbata-bata.


"Jika kau tak ingin aku lempar, lingkarkan tanganmu pada leherku," pinta William.

__ADS_1


Hati gadis itu rasanya ingin mengumpat pada suami mesumnya itu. Ia ingin sekali meremukkan wajah yang berlagak tanpa dosa itu.


Secara perlahan dan ragu-ragu tangan Zinnia mulai merayap ke atas dada bidang suaminya. Matanya terpejam karena ia tak ingin melihat wajah William yang pasti akan tersenyum penuh kemenangan.


Benar saja, bibir hot Dokter itu langsung tersungging senyum kemenangan. "Aku akan menjelaskannya saat kita sudah sampai di atas," bisik William dengan kaki yang melangkah ke arah kamarnya.


Setelah berada di depan pintu, William menurunkan Istrinya secara perlahan. Pria itu membuka handel pintu kamarnya kemudian masuk, sedangkan Zinnia dengan mata terpejam membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya.


Tanpa pikir panjang, Zinni langsung masuk ke dalam kamar mengikuti suaminya.


William sudah menunggu Istrinya di atas tempat tidur dengan posisi duduk di tengah-tengah kasur.


"Kemari," panggil William sambil menepuk kasur tepat di sebelahnya.


Zinnia menggeleng. " Tidak mau!"


"Kau ingin tahu atau tidak kenapa aku memelukmu saat kau berada di dapur?"


Zinnia memutar kedua bola matanya muak.


"Halah! ini pasti hanya tipu muslihat, si pria mesum ini! ia pasti ingin mengerjaiku."


"Kemari," pinta William lagi.


"Cepat katakan apa yang ingin kau jelaskan padaku," ujar Zinnia dengan nada ketus.


"Dengarkan baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi," jelas William agar si gadis cerewet itu tak banyak berkomentar atau bertanya.


"Hem," sahut Zinnia acuh.


"Di rumah ini semua ruangan dan sudut rumah ada kamera pengintai dan kita tak bisa menampakkan ketidak akuran antara aku dan kau! aku tak ingin membuat Bunda kecewa, jadi aku harus bersandiwara seakan-akan aku bersikap baik padamu dan berusaha untuk mencintaimu! meskipun itu tak mungkin," celetuk William membuat mata Zi melotot. "Hah, aku tak yakin jika kau tak akan jatuh cinta pada pesonaku," ujar Zinnia penuh rasa percaya diri yang tinggi.


William hanya tersenyum remeh menanggapi ucapan Istrinya. "Kau jangan mimpi, Nona!"


Jiwa Zinni merasa tertantang dengan ucapan suaminya. "Bagaimana jika aku bisa membuatmu benar-benar tertarik padamu?" tanya Zinnia mendekatkan diri pada suaminya.


William balik menggoda Zinnia dengan cara ia juga ikut mendekatkan dirinya pada sang istri. "Itu tak akan mungkin," sahut William yakin.


"Berikan aku waktu 2 Minggu untuk membuatmu tertarik padaku," pinta Zinnia membuat tatapan mata William menatap dalam kedua netra Istrinya.


"Lakukan saja jika kau mau, tapi yang jelas jangan menyesal jika aku tak tertarik padamu," tutur William tersenyum remeh pada Zinnia.


"Tapi jika aku bisa membuatmu tertarik padaku, kau harus mendapat hukuman dariku," ujar Zinnia penuh keyakinan.


William mulai berpikir akan tawaran Zinnia. Ia masih menimang-nimang tawaran Istrinya.

__ADS_1


"Kau tak mungkin tertarik padanya dengan waktu hanya dua Minggu, Will! kau jatuh cinta pada Marion saja butuh waktu dua tahun."


Dengan wajah penuh keyakinan ia menjawab tawaran Zinnia, "Baiklah aku mau! tapi jika aku tak tertarik padamu, kau harus menjadi pelayan pribadiku! kau harus bersedia aku perintahkan apa saja tanpa penolakan! bagiamana? deal?" tanya William mengulurkan tangannya tanda sepakat.


Zinnia masih berpikir. Ia sebenarnya tak terlalu yakin jika William bisa dengan mudah tertarik padanya dalam waktu dua Minggu, mengingat pria itu memiliki sifat tipikal manusia kutub.


Namun Zinnia kembali meyakinkan dirinya, jika ia pasti bisa membuat William si pria dingin akan tertarik padanya, bahkan bertekuk lutut di hadapannya, karena ia menjadi incaran para kaum Adam saat masih kuliah.


Sebenarnya sampai sekarang ia juga masih menjadi incaran para anak pengusaha rekan Arnon.


"Oke, aku terima! jadi kita deal?" tanya Zinnia menjabat tangan suaminya.


"Deal," sahut William yakin tanpa ragu.


"Ingat jika kau yang kalah! kau harus menjadi pelayanku tanpa penolakan jika aku memintamu melakukan apapun," ingat Zinnia pada suaminya.


"Oke," sahut William dengan nada santai.


"Jadi mulai sekarang kita harus bisa bersandiwara saat kamera menyebalkan itu mengintai kita berdua," tutur William memastikan kembali agar Istrinya ingat.


"Baik, aku juga tak ingin membuat kedua orangtuaku tahu jika kita berdua selalu tak sependapat," celetuk Zinnia sekenanya.


"Bagus, kau memang gadis yang baik! sekarang kita turun ke bawah karena perutku sudah lapar," tutur William menarik tangan Istrinya.


Zinnia menatap William tajam. "Kenapa menyentuh tanganku? ini kan masih di dalam kamar?"


"Agar sandiwara kita lebih totalitas," sahut William tanpa pikir panjang.


Keduanya sudah berada di depan pintu kamar mereka. Zinnia ingat jika terhitung hari ini, ia mempunyai misi untuk membuat suaminya tertarik padanya.


Gadis itu mulai memulai aksinya saat mereka berdua hendak menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


Zinnia menghadap ke arah William mengalungkan tangannya pada leher suaminya. "Hari ini terhitung hari pertama misiku membuatmu tertarik padaku," tutur Zinnia tersenyum manis pada William.


Pria itu menatap aneh istrinya. "Kau tak demam kan?" tanya William sambil menyentuh kening Zinnia.


Gadis itu tersenyum kemudian mengecup pipi suaminya.


Cup


"Morning kiss," ujar Zinnia kemudian berlari menuruni anak tangga lantai empat.


William mematung kemudian ia kembali menetralkan perasaannya kembali.


"Dia hanya ingin membuatmu tertarik, Will! kau jangan terkecoh," gumamnya sambil menuruni tiap anak tangga menuju lantai dasar.

__ADS_1


__ADS_2