
Pram dan Agnez masih saling tatap. Bunyi dering ponsel Agnez mengalihkan tatapannya. Ia mengambil ponselnya yang berada di saku blazer-nya.
"Halo, Mel!
"Maaf, Kak! aku tak bisa datang hari ini karena aku baru pulang dari rumah sakit."
"Rumah sakit? kau kenapa?"
"Aku hanya melakukan test urine dan USG, Kak!"
"Kau hamil?"
"Alhamdulillah, Kak! dan Kakak sebentar lagi akan menjadi, Bibi!"
"Syukurlah, Mel! aku ikut bahagia untuk itu."
"Baiklah! Kakak lanjutkan saja pekerjaannya, aku ingin istirahat dulu."
"Oke, Mel!"
Panggilan keduanya terputus. Tanpa Agnez sadari, ternyata pria yang berdiri di dekat pintu masuk masih menatapnya dengan senyum manisnya.
Pria itu berjalan mendekati Agnez yang masih tersenyum-senyum sendiri karena berita kehamilan Melati.
Pria itu sudah berada di depan Agnez hanya dua langkah saja sudah dapat dipastikan, jarak mereka pasti terkikis habis.
Agnez menatap ke arah depan dengan wajah terkejut. Ia tak menyangka jika Pram sudah berada di hadapannya.
Wanita itu berusaha mengontrol emosinya agar tubuhnya tak bergetar hebat.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Agnez yang berusaha bersikap profesional.
Pram tersenyum manis pada Agnez. "Apa kau bisa merangkai beberapa bunga untukku?" tanya Pram balik.
"Pasti dia ingin memberikan bunga itu pada, Istrinya."
"Bisa! bunga apa saja yang anda inginkan?" tanya Agnez lagi.
"Kau suka bunga apa?" tanya Pram pada Agnez.
Dahi Agnez mengkerut sempurna. Ia tak habis pikir dengan Asisten Arnon itu. Apa yang ada di otaknya sampai dia berani bertanya apa bunga kesukaannya.
"Sungguh pria gila! sudah memiliki istri, tapi masih saja genit dengan wanita lain."
"Itu tidak penting saya suka bunga apa! saya hanya ingin bertanya pada anda! bunga apa saja yang anda inginkan untuk anda berikan pada istri anda, Tuan Pram!"
"Hahahaha! apa kau cemburu, kucing galakku? astaga! sudah pasti dia cemburu karena dia masih mengira aku sudah menikah! huh, baiklah! aku akan mengikuti permainanmu."
"Istriku suka bunga mawar berwarna salmon," sahut Pram yang membuat mata Agnez melebar.
"Itu kan warna kesukaanku? hah, istrinya saja suka warna yang sama denganku! sudah pasti aku tak akan ada apa-apanya dibandingkan wanita itu."
__ADS_1
"Anda mau berapa tangkai?" tanya Agnez sembari mengambil bunga mawar berwarna salmon.
"Satu tangkai saja," sahut Pram yang menghentikan gerakan tangan Agnez mengambil beberapa tangkai bunga.
"Kenapa hanya satu? lebih banyak itu lebih baik, agar anda bisa mengekspresikan besarnya cinta anda padanya," jelas Agnez menatap Pram bingung.
"Tidak bagiku! satu saja sudah cukup menggambarkan betapa aku sangat mencintainya, ingin selalu memilikinya, ingin selalu mendekap tubuhnya, karena satu tangkai bunga menandakan jika hanya dia satu-satunya wanita di dunia ini yang berhasil membuat jiwa dinginku bergetar," jelas Pram menatap setiap inci wajah Agnez penuh puja.
"Baiklah, hentikan pembicaraanmu tentang wanita yang kau kagumi itu dan ini bunganya! kau tak perlu membayar jika hanya setangkai," ujar Agnez ketus.
"Mode kucing galakmu sudah bangkit rupanya! aku yang akan menjadikanmu jinak, Nyonya Pram!"
Pram menerima bunga yang Agnez berikan. Ia mencium bunga mawar itu dengan mata terpejam.
Agnez melihatnya dengan tatapan kesal, sedangkan Pram tersenyum menikmati aroma bunga yang di sukai Agnez.
"Aku akan tetap membayar setangkai bunga ini," ujar Pram.
"Tak perlu! ambil saja sebagai tanda hadiah dariku saat hari pernikahan kau dan istrimu karena aku tak mengucapkan selamat waktu itu."
Pram lagi-lagi dibuat tergelak dengan ocehan kecemburuan Agnez yang sungguh ingin ia mencubit pipi wanita itu.
"Jika kau tak mau aku membayar setangkai bunga ini, maka aku akan memberikannya padamu,"
"Aku tidak mau! itu kan bunga untuk, Istrimu! enak saja aku di beri barang bekas," celetuk Agnez yang sudah gerah dengan sikap Pram.
Pria itu melangkah mendekati Agnez yang masih berdiri di depan tumpukan bunga mawar berwarna salmon kesukaannya.
Pram mengambil setangkai bunga mawar itu. Mencium wangi bunga itu, kemudian memberikannya pada Agnez.
Agnez masih diam mematung tak menerima bunga pemberian Pram.
"Aku akan meletakkan bunga ini di mejamu beserta uangnya! jika kau tak mau menerima bunga dariku, kau bisa membuangnya," ujar Pram pada Agnez sembari melangkah pergi dari toko itu.
Saat sudah hampir sampai pada pintu keluar, Pram kembali menoleh ke arah Agnez. "Terimakasih untuk bunga ini, Nona! aku menyukainya."
Pram berjalan keluar diiringi senyum kemenangan karena sudah berhasil membuat kucing galaknya diam tak mengeong sedikitpun.
Agnez berjalan ke arah mejanya. Ia mengambil setangkai bunga mawar dan lima lembar uang berwarna merah.
"Apa maksud dari pria gila itu! apa di pikir aku ini perempuan sembarang! seenaknya saja memberikan aku bunga dengan statusnya yang sudah beristri."
Agnez hendak melempar bunga itu ke tempat sampah, namun niatnya ia urungkan karena tangannya terasa berat saat ia ingin melemparkannya.
"Huh, kasian sekali kau harus aku buang begitu saja! baiklah! kali ini aku akan menerima bunga ini, dan ... uang ini terlalu banyak hanya untuk membayar setangkai bunga."
Agnez meletakkan uang itu pada tempatnya. Ia kembali menyibukkan diri dengan bunga-bunganya, namun sebelum itu, Agnez meletakkan bunga pemberian Pram tepat di mejanya.
Wanita berambut pendek itu meletakkan bunga tersebut pada vas bunga yang berada di meja kerjanya.
Agnez mencium bunga mawar pemberian Pram, kemudian melangkah untuk merangkai beberapa bunga kembali.
__ADS_1
Melati dan Arnon sudah berada di rumah mereka. Arnon berjalan ke arah dapur, sementara Melati hanya mengekori langkah suaminya.
Pria itu mengambil teflon dan meletakkannya di atas kompor.
Arnon berjalan ke arah kulkas untuk mengambil dua buah telur.
Pria itu mengambil margarin dan meletakkannya pada teflon yang sudah ia ambil sebelumnya.
Melati hanya berdiri menyaksikan semua yang dilakukan suaminya. Termasuk melihat pria itu mondar mandir bagai setrika untuk mengambil bahan masakannya.
"Kau ingin masak apa, Dad?" tanya Melati pada suaminya.
"Aku ingin masak telur mata sapi setengah matang untuk anakku, Mom!"
"Apa kau yakin bisa?" tanya Melati yang terlihat ragu akan keahlian suaminya.
"Kau tunggu saja di meja makan, Sayang! sebentar lagi telur mata sapi setengah matang super spesial akan menggetarkan indera pengecapmu, Istriku!"
Melati menuruti saja perintah suaminya. Gadis itu berjalan ke arah meja makan dengan langkah cepat karena perutnya sedikit merasa tak enak.
Arnon melanjutkan proses memasaknya. Ia menghidupkan kompornya. Setelah teflon di rasa cukup panas dan margarin sudah meleleh sempurna, akhirnya dua buah telur mendarat di atas teflon tersebut meskipun berceceran di mana-mana.
Arnon memberikan taburan garam dan sedikit merica agar rasa telurnya lebih spesial.
Arnon berlagak macam chef profesional, namun ia tak cukup pandai untuk itu. Keahliannya memang berada di dunia akting, bukan memasak.
Karena api yang terlalu besar, akhirnya telur mata sapi spesialnya gosong setengah.
"Astaga! kenapa aku membuat makanan ini menjadi tak bisa di santap oleh, Istriku!"
Arnon hendak membuang telur tersebut, namun sentuhan tangan lembut menghentikan gerakan tangannya.
"Mau kau apakan telur itu, Dad?"
"Ini akan aku buang, Sayang! telur ini tak layak di makan," ujar Arnon pada Istrinya.
Melati mengambil alih telur buatan Arnon. Ia mengambil sendok dan memakan bagian telur yang masih layak untuk dimakan.
"Rasanya enak! tak buruk dan yang pasti, anakmu suka masakan, Daddy-nya!"
Arnon memeluk tubuh Melati erat dan hangat. "Terimakasih, Sayang! aku tahu jika telur itu tak sepenuhnya enak, aku tahu kau hanya ingin menyenangkan hatiku, tapi aku bangga padamu yang mau menghargai masakanku yang sangat amatir ini," jelas Arnon mencium puncak kepala Melati.
Gadis itu menengadahkan wajahnya menatap wajah Arnon yang juga tengah menundukkan wajahnya.
"Aku menerimamu apa adanya, termasuk menerima masakan yang kau buat meskipun ...."
Ucapan Melati terhenti saat bibir Arnon sudah membungkamnya dan membuatnya diam.
Arnon menggiring tubuh istrinya samping pada meja bar.
Pria itu mengangkat tubuh Melati agar duduk di atas meja bar tersebut.
__ADS_1
Melati mengalungkan tangannya sembari menarik-narik kecil rambut lebat suaminya. Bibir keduanya masih terus saling membalas satu sama lain.
Ciuman itu tak menuntut seperti biasanya. Keduanya melakukan dengan lembut dan saling menikmati karena mereka tahu jika untuk waktu satu bulan kedepan, tak ada kata saling memberikan nikmat di atas ranjang. Semua itu mereka lakukan untuk janin yang masih rentan di dalam rahim Melati.