
"Jadi kalian mendapatkan informasi itu bukan dari sumber terpercaya? sudah berapa pasal yang akan menjerat kalian untuk aku bawa ke pengadilan? dan apa perlu aku harus mencari tahu dalang dibalik kejadian hari ini, agar kalian semua dan dalang pemberi informasi palsu itu bisa bertemu denganku di meja hijau," gertak William yang sudah geram dengan ulah Marinka.
Wajah para wartawan dan reporter itu sudah pucat pasi. Mereka semua takut dengan ancaman yang William lontarkan dari mulutnya.
Wajah wartawan itu tak beda jauh dengan wajah Marinka, dengan tangan yang sudah berkeringat dingin memenuhi telapak tangannya.
"Kak William tak boleh tahu jika aku yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini."
"Maafkan kami, Dokter William! seharusnya kami tak termakan oleh informasi abal-abal seperti itu dan kami mohon dengan segenap rasa hormat, jangan bawa masalah ini ke meja hijau kami akan menghapus semua rekaman kejadian tadi dan tak akan ada satupun yang akan tertinggal dalam kamera kami," tutur reporter pria yang tadi di tunjuk oleh William untuk berbicara.
"Huh, baiklah! aku maafkan kalian semua dan ingat! jangan pernah termakan oleh informasi yang tak benar seperti itu lagi," ujar William.
"Terimakasih, Dokter William! jika anda ingin mengusut tuntas kasus ini dan mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian malam ini, anda bisa mencari tahunya dan kami semua sangat mendukung anda," ujar reporter pria itu dan sukses membuat Marinka mundur satu langkah ke belakang.
"Jangan sampai kak William benar-benar mengusut tuntas masalah ini."
William tersenyum kecut pada Marinka. "Aku tak ingin tahu siapa yang membuat lelucon sekonyol ini! yang pasti orang itu sangat pengecut karena dia hanya berani main belakang, tak berani muncul secara langsung di hadapan kita semua," sindir William terus menatap Marinka yang juga menatap ke arahnya.
"Aku juga mendukungmu, Kak!" Marinka mulai membuka suaranya agar William tak curiga padanya.
"Benarkah? jika kau berkata seperti itu, aku akan sungguh mempertimbangkan hal itu, awalnya aku hanya ingin bercanda saja namun, karena kau juga mendukungku untuk mengusut tuntas kasus ini, maka aku dengan senang hati akan melaporkan biang kerok itu pada pihak berwajib," tutur William terus menatap Marinka tajam.
Tubuh Marinka bergetar karena langkah yang ia ambil salah. Marinka pikir dengan dirinya mendukung William akan menghilangkan rasa kecurigaan Dokter tampan itu padanya.
"Kenapa aku salah langkah lagi! aku menyetujui pendapatnya agar dia tak melaporkan masalah ini ke pihak berwajib."
"Jika kau tak ingin melaporkannya juga tak apa, Kak! lagipula mereka semua juga sudah minta maaf kan?" Marinka mencoba membujuk William kembali.
__ADS_1
"Ternyata kau tipe ular berbisa tingkat rendah ya, Marinka!"
"Tidak bisa, Rin! aku harus melaporkan kasus ini pada yang berwajib! bukan hanya pencemaran nama baik saja, tapi orang tak bertanggung jawab itu juga sudah mengganggu privasiku dengan, Zinnia!"
Wajah Marinka semakin tak beraturan karena ia sungguh sangat takut jika dirinya benar-benar akan masuk ke dalam penjara.
"Aku harus mencari cara agar masalah ini tak sampai masuk ke jalur hukum."
Zinnia yang masih duduk di sofa dengan jas suaminya sebagai penutup bagian tubuhnya yang terbuka, akhirnya berdiri menyentuh lengan kekar William. "Sudahlah, Sayang! lagipula mereka semua sudah tahu kan kebenarannya, jadi tak perlu di perpanjang lagi," bujuk Zinnia agar William tak benar-benar membawa kasus ini pada jalur hukum.
William menoleh ke arah istrinya. "Kenapa kau baik sekali pada orang yang mau berbuat jahat padamu?" tanya William menyentuh pipi istrinya.
Zinnia tersenyum sambil memejamkan matanya menikmati usapan lembut ibu jari William. "Perbuatan buruk tak selalu harus di balas dengan keburukan juga, kita berikan orang itu kesempatan untuk bertaubat! jika orang itu masih tetap jahat, biar Tuhan yang membalasnya dan kita tak tahu bagaimana cara yang kuasa membalas orang sepertinya, melewati kita atau nyawanya akan di cabut langsung olehnya," tutur Zinnia melirik Marinka dan raut wajah kembaran Marion itu sangat ketakutan kala Zinnia mengatakan pencabutan nyawa.
"Hm, rasakan kau Kutu loncat! jika kau tak bertaubat juga, berarti kau memang orang yang tak punya akan rasa takut mati dan azab."
"Terimakasih, Sayang! jangan menilai seseorang dari bungkusnya saja, lihat dulu isinya seperti apa, karena bungkus yang indah dan menarik belum tentu isinya juga sama, bisa jadi orang itu bermuka dua atau lebih parah dari itu," ujar Zinnia secara tak langsung menyindir Marinka.
"Kau tak perlu sampai melaporkan masalah ini pada pihak kepolisian, kau percaya padaku saja itu sudah lebih dari cukup bagiku," sambung Zinnia lagi.
William tersenyum memeluk istrinya erat. Pria itu menoleh ke arah para wartawan dan reporter yang masih berada di depan pintu private room. "Kalian semua bisa keluar dari ruangan ini karena aku akan menyelesaikan apa yang masih tertunda," pinta William pada semua orang termasuk Marinka.
Marinka bergegas pergi dari ruangan itu. Begitupula dengan para wartawan dan reporter.
Saat semua orang hendak melangkah pergi, Marquez dan Sandra berada di gerombolan para tamu dan para reporter yang hadir langsung menyerbu keduanya.
"Bagaimana mengenai perasaan anda yang sebenarnya terhadap, Nona Zinnia?" tanya salah satu reporter wanita pada Marquez.
__ADS_1
Desainer tampan itu diam tak menjawab. Ia tahu semua apa saja yang terjadi di dalam.
Marquez menarik napasnya panjang dan menghembuskan perlahan. "Itu dulu saat aku belum tahu Zinnia sudah menikah dengan pria yang sangat mencintainya," tutur Marquez tersenyum ramah pada semua wartawan dan reporter yang hadir.
"Jadi bagaimana perasaan anda sekarang pada, Nona Zinnia? apa anda masih mencintainya atau anda sudah memiliki seorang kekasih?" tanya reporter itu lagi.
Marquez masih diam tak menjawab pertanyaan awak media.
"Jika aku bilang masih mencintai, Zinnia! masalah ini akan semakin berlarut, jadi aku harus menggunakan pilihan kedua."
Marquez menoleh ke arah Sandra. Pria itu menatap wajah Sandra.
"Asisten Zinnia ini cukup cantik dan pastinya dia akan bisa di ajak bekerjasama untuk menghilangkan gosip antara aku dan Bosnya."
"Aku sudah memiliki wanita yang aku cintai saat ini," tutur Marquez pada para awak media.
"Siapa itu?" tanya para media pada Marquez.
Marquez kembali menatap ke arah Sandra.
"Kenapa pria ini menatapku seperti itu?"
Sandra merasa tak nyaman ditatap intens seperti itu oleh Marquez.
Marquez tiba-tiba menggenggam tangan Sandra dan si empunya tangan terkejut.
"Dia adalah orang yang aku cintai," tutur Marquez pada para media dan pernyataan desainer tampan itu sukses membuat mata Sandra terbelalak.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.