Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 252 ( Season 2 )


__ADS_3

Permohonan sudah Marquez panjatkan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Desainer tampan itu menggenggam tangan Sandra erat dengan mata yang masih terpejam berharap do'anya benar-benar dikabulkan oleh yang maha kuasa.


Kejang pada tubuh Sandra bukannya berhenti tapi semakin menjadi.


Marquez membuka matanya dan sebulir air mata itu menetes mengenai tangan Sandra yang ada dalam genggamannya.


"Jangan tinggalkan aku," tutur Marquez mendekatkan dirinya pada wajah asisten Zinnia itu.


Cup


Kecupan cukup lama mendarat di kening Sandra sampai intensitas kejang pada tubuh Sandra perlahan berkurang.


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan kejadian yang benar-benar sebuah keajaiban.


Zinnia menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Jenifer menghampiri Zinnia mencoba menenangkan sahabatnya. "Dia sudah tak apa-apa, Zi! kau tenang ya!"


Marquez melihat tubuh Sandra yang sudah berhenti kejang. Air mata Marquez kembali turun mengenai pipi Sandra yang masih terlihat pucat. "Jangan membuatku ingin merasakan mati, San!" Marquez menundukkan kepalanya mencoba menahan air mata yang akan menetes kembali.


Zinnia dan Jenifer mengerti bagaimana hati Marquez saat ini. Ia pasti merasa sangat takut kehilangan Sandra.


Marquez mengangkat wajahnya menatap ke arah Zinnia dan Jenifer. "Aku ke kamar mandi sebentar."


Saat Marquez ingin melepaskan tangan Sandra dan melangkah ke arah kamar mandi, tangan Sandra menggenggam erat tangannya.


Pria itu melihat ke arah tangan Sandra yang tak ingin membiarkan dirinya pergi.


Dokter Yoga yang melihat kejadian itu segera memeriksa kondisi Sandra kembali.


"Ini sungguh keajaiban! karena kekuatan batin antara kalian berdua, meskipun Nona Sandra tak sadarkan diri namun, ikatan batin tak dapat di bohongi! kondisi Nona Sandra sudah semakin stabil."


Setelah Yoga menjelaskan kondisi Sandra pada semua orang yang ada di ruangan itu, kelopak mata Sandra yang beberapa hari belakangan ini tertutup rapat, kini mulai terbuka perlahan.


Tangan asisten Zinnia itu tetap mencengkram erat tangan Marquez. Kelopak mata itu masih terbuka dengan tatapan mata sayu.


Mata Sandra melihat ke arah tangannya, dimana tangan itu tengah menggenggam erat tangan Marquez.


Senyum Sandra terbit meskipun hanya sebentar saja. Wanita itu melihat ada bekas air mata pada mata Marquez. "Tersenyumlah, Tuan Copaldi! aku tak akan membiarkanmu hidup tenang setelah aku keluar dari tempat ini," tutur Sandra dengan suara lemah namun, suara lemah itu yang sangat ia rindukan.


Marquez tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Kau harus cepat sembuh karena aku merindukan sikap cuekmu itu," ujar Marquez mengecup tangan Sandra.


"Apa yang kau lakukan? jangan cium tanganku yang beberapa hari ini tak tersentuh sabun mandi," goda Sandra tersenyum lemah.


"Sssstt! biarkan saja! kau tak perlu banyak bicara! kau istirahat saja dulu," pinta Marquez pada Sandra.


Zinnia mendekati Sandra yang juga saat ini beralih menatapnya. "Terimakasih karena telah mengorbankan nyawamu untuk anak-anakku," tutur Zinnia dengan air mata yang hampir tumpah.


Sandra tersenyum sembari mengangguk lemah. "Sudah tugas saya, Nona!"

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih banyak, San! dan sekarang lebih baik kau istirahat dulu," pinta Zinnia.


"Benar, Nona Sandra! anda harus istirahat dulu agar kondisi anda semakin stabil lagi," pinta Dokter Yoga.


Malam telah tiba. Nina saat ini sudah berada di rumah sakit menjenguk adiknya. "Mau makan apa, San?" tanya Nina pada adiknya.


"Makan apa saja, Kak! asalkan jangan bubur saja, aku tak suka," jelas Sandra pada kakaknya.


Sandra melihat ke arah sofa namun, orang yang ia cari tak ada di sana.


"Kemana si pria aneh itu? kenapa masih belum kemari? eh, kenapa juga aku harus mengharapkan kehadirannya? mungkin dia sedang sibuk atau mencari pasangan cintanya."


Nina sudah keluar dari ruangan rawat inap untuk membelikan adiknya makanan.


Sandra diam sendirian di dalam kamar inapnya. Yang ada dalam benaknya adalah bayangan wajah Marquez saat menangis untuknya tadi siang.


"Sandra! lupakan! dia itu hanya cemas takut kau mati, bukan karena dia mencintaimu! astaga! kenapa aku berpikir terlalu jauh begini sih! kita berdua hanya bekerjasama, dia untuk menutupi rumornya dengan, Nona Zinnia! sementara aku untuk mendapatkan tambahan uang biaya kedua keponakanku," gumamnya dengan suara tak bersemangat.


Ceklek


Sandra menoleh ke arah pintu. Ia mengira jika yang datang adalah Nina, ternyata bukan. Sosok pria tampan, tinggi menatap ke arahnya dengan sebuah kotak bekal di tangannya.


Pria itu adalah pria yang beberapa menit lalu mengitari isi kepala Sandra. Siapa lagi jika bukan Marquez Copaldi.


"Kau?" Sandra memasang wajah sinis namun, hatinya terasa sangat bahagia bagai mendapatkan undian mobil Alphard keluaran terbaru.


Marquez menutup pintu ruangan itu perlahan berjalan menghampiri Sandra.


Sandra melihat ke arah makanan yang di bawa oleh Marquez. "Apa itu?" tanya Sandra terus menatap makanan yang di bawa oleh Marquez dengan wangi makanan yang sudah menyeruak masuk dalam hidungnya.


"Ini capcay dan nasi! aku yang membuatnya sendiri, jadi tolong dimakan ya, Nona Asisten!"


Sandra mencoba bangun menegakkan tubuhnya. "Aku mau makan sendiri saja!"


"Biar aku saja yang menyuapimu," pinta Marquez pada Sandra.


"Aku ingin makan sendiri!" wajah Sandra sudah ditekuk bagai kursi lipat.


Marquez memilih mengalah memberikan kotak bekal itu pada Sandra beserta sendoknya.


Sandra melihat makanan yang di buat oleh Marquez. "Kenapa dari penampilannya terlihat meragukan ya?"


"Jika tak tahu rasanya tidak akan mau memakannya, jadi rasakan dulu," ujar Marquez melipat kedua tangannya sembari menatap ke arah Sandra.


Sandra mulai menyendok capcay buatan Marquez, saat satu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, Sandra melebarkan matanya karena rasanya sangat enak.


Asisten cantik itu melihat ke arah Marquez. "Kau bisa masak?" tanya Sandra yang menyendok makanannya kembali dan melahapnya dengan rakus bagai orang tak pernah makan seminggu.


Marquez tersenyum melihat Sandra yang makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Pria itu mengambil selembar tisu untuk membersihkan sisa makanan yang menempel pada bibir Sandra.


Marquez berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk. Pria itu menyentuh pipi Sandra dan si empunya pipi terdiam karena gerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Marquez padanya.


"Mau apa pria ini? kenapa harus menyentuh pipiku seperti ini?"


Sebelum Marquez membersihkan sisa makanan pada bibir Sandra, desainer tampan itu masih melihat setiap inci wajah kekasih palsunya itu yang sebentar lagi akan menjadi kekasih sesungguhnya.


Mata keduanya saling pandang dan dengan gerakan perlahan tangan Marquez yang memegang tisu mulai terangkat membersihkan bibir Sandra yang belepotan.


Kini manik mata Marquez terfokus pada bibir Sandra yang tengah menjadi objek utamanya.


Sandra hanya bisa diam karena ia berpikir Marquez masih membersihkan sisa-sisa makanannya.


Tapi wajah Marquez semakin mendekat ke arah wajah Sandra dan membuat asisten Zinnia itu sedikit ketakutan. "A-apa yang kau ...."


Cup


Kecupan singkat mendarat pada bibir Sandra. "Lekas sembuh dan jangan sakit lagi," tutur Marquez segera kembali ke kursinya tempat ia duduk.


Ceklek


Suara pintu ruangan itu terbuka dan Nina masuk ke dalam kamar inap Sandra. "Loh! Sandra sudah makan?" tanya Nina melihat ke arah kotak bekal yang ada di pangkuan adiknya.


"Iya, Kak! dia yang membawanya," tunjuk Sandra pada Marquez.


Nina masih melihat ke arah Marquez.


"Bukankah ini pria yang waktu itu keluar dari ruangan ini?"


"Terimakasih ya, Dik! maaf sudah merepotkan," ujar Nina pada Marquez.


"Tidak apa-apa, Kak!" Marquez tersenyum kikuk karena ia merasa canggung dengan kehadiran Nina.


"Kenapa jadi gemetar begini berhadapan dengan calon kakak ipar ya? apa aku butuh piknik?"


Sandra tersenyum melihat lutut Marquez yang bergetar. Asisten cantik itu tahu jika Marquez tengah gugup karena kehadiran kakaknya.


"Dia siapa, San? kenapa kau tak memperkenalkan pada, kakak!"


"Dia itu rekan kerja Nona Zinnia, Kak! dia desainer kenamaan dunia, Marquez Copaldi!"


Nina hanya tersenyum kikuk. "Maaf ya, Dik Marquez! Kakak tidak tahu masalah dunia hiburan karena kakak sibuk mengurus rumah dan urusan lainnya."


"Tidak apa-apa, Kak!"


Sandra hanya tersenyum melihat raut wajah Marquez yang nampak kecewa karena kakaknya tak mengenali dirinya.


"Rasakan kau Pria aneh! pasti rasanya itu seperti terbang di angkasa dan tiba-tiba jatuh ke tanah karena kak Nina tak mengenalimu."

__ADS_1


"Begini sekali ya nasib seorang yang ingin mendekati seorang wanita! kakaknya saja tak tahu aku siapa! coba saja dia tahu aku siapa, pasti lebih gampang mendapatkan restu, jika sudah begini ... ah, kenapa aku jadi pesimis? jangan sampai cintaku hilang untuk yang kedua kalinya! jika kau masih belum mencintaiku, aku yang akan membuatmu mencintaiku, Sandra!"


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2