
Mobil milik William sudah berada di halaman rumahnya. Dokter tampan itu membuka pintu mobil pada bagian sisi dimana tempat istrinya duduk.
William mengangkat tubuh Zinnia menuju kamarnya.
Melati dan Salma ikut mengantar Zinnia pulang. Kebetulan sekali pagi ini jadwal Salma free.
Zinnia sudah berada di ranjang empuknya dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.
"Bunda dan Mommy temani istriku sebentar! aku mandi di lantai 4 hanya 10 menit," tutur William tersenyum sembari berjalan keluar dari kamar itu menuju lantai empat. Ia sungkan jika harus mandi di kamar mandi kamarnya jika ada mertua dan bundanya.
Melati duduk di samping putrinya. "Jangan terlalu kelelahan, Nak! kau masih perlu istirahat yang cukup," tutur Melati pada putrinya dan Zinnia mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.
Salma meletakkan beberapa vitamin di atas nakas dekat Zinnia. Vitamin itu untuk membantunya agar janin dalam rahim Zinnia sehat beserta ibunya juga.
"Kau minum vitamin ini dulu, Zi!" Salma memberikan vitamin itu pada Zinnia beserta airnya.
Tanpa pikir panjang, Zinnia segera meminum vitamin itu.
"Itu diminum dua kali sehari, rutin setiap hari jangan sampai lupa demi pertumbuhan janin dalam kandunganmu dan juga untukmu, Nak!"
"Iya, Bunda!"
William masuk berjalan menghampiri Zinnia dengan baju yang sudah rapi.
"Kau akan berangkat bekerja?" tanya Zinnia pada suaminya. "Iya, Sayang! kau dirumah dengan Mommy dulu ya?" William melihat ke arah mertuanya. "Mommy bisa kan hari ini menemani, Istriku?" tanya William pada mertuanya.
Melati hanya tersenyum. "Tentu saja, Nak! kebetulan Daddy kalian tak mencari, Mommy! jadi Mommy bisa menemani Zinnia di sini."
"Bunda jika tak ada pekerjaan, bisa menemani Zinnia juga," tawar William pada Salma.
"Bunda ada jadwal konsultasi dengan pasien siang ini, Will!"
"Kalau begitu Bunda berangkat denganku saja!"
"Baiklah!"
Zinnia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya pada William. Ibu hamil itu meminta William agar datang ke dalam pelukannya. Zinnia tak merasa sungkan di hadapan Melati dan Salma.
William mengerti maksud istrinya. Pria itu melangkah mendekati Zinnia dan memeluk istrinya erat. "Tumben tak merasa malu di depan Mommy dan Bunda meminta ingin di peluk begini?" tanya William tersenyum.
"Bukan aku yang ingin, Sayang! anak-anak kita yang ingin Daddy mereka berpamitan sebelum berangkat bekerja!"
William memundurkan sedikit wajahnya. Menatap wajah sang istri yang terlihat lebih menggemaskan dari hari biasanya.
"Kami akan tunggu di luar," tutur Melati. Salma dan Melati keluar dari kamar Zinnia untuk memberikan privasi pada mereka berdua.
"Kau ingin apa lagi selain di peluk olehku?" tanya William pada Zinnia.
Zinnia tersenyum manis. "Cium!" suara Zinnia manja bagai suara anak kecil.
William sungguh gemas pada istrinya. Pria itu menyentuh kedua pipi Zinnia dan ....
Cup cup
__ADS_1
Dua kecupan hangat mendarat pada bibir Zinnia.
"Sudah kan?" tanya William.
"Belum!" Zinnia segera menyahut.
"Kan tadi sudah di cium? apa lagi yang masih belum, Sayang?"
"Anak-anak kita! kau belum berpamitan pada mereka berdua," jelas Zinnia dan pada saat itu juga William menepuk jidatnya. "Kenapa aku lupa jika Baby twins kita minta di cium juga," ujar William sembari menundukkan tubuhnya mensejajarkan wajahnya dengan perut rata sang istri. "Daddy berangkat dulu ya, anak-anak! ingat! tidak boleh membuat Mommy sakit ya, Sayang! Daddy sayang kalian berdua!"
Cup cup
Dua kecupan mendarat pada perut rata Zinnia dan si empunya perut tersenyum geli.
William menegakkan kembali tubuhnya mendekati Zinnia.
Cup
Kecupan singkat mendarat pada kening desainer cantik tersebut. "Aku berangkat dulu ya, Sayang! ingat! jangan lupa makan siang dan makan buah juga," ucap William dan Zinnia mengacungkan jempolnya. "Siap, Bos!"
William tersenyum sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan saat di depan pintu, ia melihat mertuanya dan bundanya tengah berbincang. "Aku berangkat dulu, Mom!" William mencium punggung tangan Melati.
"Aku berangkat dulu ya, Mel?"
"Iya, Kak!"
William dan Salma mulai menuruni anak tangga, sedangkan Melati masuk ke dalam kamar putrinya.
Di dalam sebuah kamar dengan cahaya minim, hanya gelap yang dapat di lihat jika ada seseorang yang berani masuk ke dalam kamar itu.
Seorang wanita dengan rambut di kuncir kuda menatap ke layar TV.
Tayangan hari ini semuanya tentang kehamilan Zinnia. Entah darimana para media itu tahu jika Zinnia hamil.
"Hamil? hahaha! aku menyingkirkan tikus macam Marion saja bisa! kenapa kuman sekecil Zinnia susah sekali! kau benar-benar membuatku harus menggunakan cara ekstrim, Zinnia!"
Wanita berbibir tebal itu mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
"Aku butuh bantuanmu!"
"Bantuan apa, Bos!"
"Buatkan aku cairan bening, jika di lihat sekilas dengan mata telanjang cairan itu tak akan terdeteksi!"
"Untuk apa, Bos!"
"Kau tak perlu banyak bicara! kerjakan saja! aku akan melakukan pekerjaan ini sendiri, jika aku menyuruhmu lagi, yang ada hanya kegagalan yang aku terima!"
"Baik, Bos! tapi membuat barang seperti itu tak mudah, saya juga minta bayaran yang mahal."
"Kau kerjakan saja! berapapun akan aku bayar asalkan barang yang aku minta kau bisa membuatnya!"
"Siap, Bos!"
__ADS_1
"Bagus! aku serahkan padamu."
Tut tut tut tut tut
Marinka melempar ponselnya ke atas ranjang. "Sebentar lagi di dalam rahimmu tak akan bersemayam benih dari, Kak William! sebentar lagi, benih itu akan tiada untuk selamanya."
Marinka berjalan ke arah jendela kamarnya. Wanita itu saat ini tengah mengenakan gaun putih, nampak seperti gaun pengantin.
Marinka melihat ke arah beberapa bangunan yang menjulang tinggi di daerah apartemennya. "Habis gelap, terbitlah terang! peribahasa itu sangat cocok untukku! hahaha!"
Ponsel Sandra berbunyi, kebetulan sekali hari ini ia tengah bersama Marquez sedang berada di rumah Jenifer untuk proses penjahitan gaun yang akan di tampilkan satu dua Minggu lagi. Jadwal acara itu diundur karena beberapa pertimbangan dari pihak yang bersangkutan.
"Halo!"
" ... "
"Terimakasih untuk informasinya," tutur Sandra pada anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Marquez pada Sandra.
"Kita bicarakan di luar saja," pinta Sandra. "Nona Jenifer! saya langsung ke butik Nona Zinnia saja ya! di sana tidak ada yang menjaga selain para karyawan," pamit Sandra hanya sebagai alasan.
"Oke, San! hati-hati ya!"
Sandra berjalan dengan langkah yang cukup lebar dan Marquez sampai tak bisa mengikuti langkah Sandra yang sangat cepat.
"Kau bisa tidak jika melangkah santai tak perlu secepat itu! aku susah mengikuti langkah kakimu! kau memakai hells tapi langkahmu sangat cepat, awas saja nanti kau jatuh," ujar Marquez kesal.
Sandra tak perduli. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil Marquez.
Marquez sudah berada di dalam mobilnya dan sudah duduk di kursi kemudi. "Ada apa?" tanya Marquez.
Sandra menatap ke arah Marquez dengan tatapan cemas. "Nyawa Nona Zinnia dan anak-anaknya dalam bahaya!"
Wajah Marquez yang awalnya datar kini menegang bukan main. "Kau jangan bercanda dengan apa yang kau katakan, Nona Asisten!"
Sandra memejamkan matanya berusaha menahan rasa keterkejutannya yang sedari tadi tak dapat ia tahan. "Jika sudah menyangkut nyawa aku tak akan membual, Tuan Copaldi!"
"Siapa orang itu?" tanya Marquez dengan tatapan tajam.
"Marinka!"
Marquez memukul alat kemudinya dengan keras. "Apa sih mau wanita itu! kenapa dia masih bersikeras ingin memiliki pria yang tak pernah menaruh rasa padanya."
Marquez menatap ke arah Sandra. "Kau tahu darimana semua informasinya?" tanya Marquez ingin memastikan jika informasi yang di dapat Sandra akurat.
"Anak buahku memasang alat penyadap di apartemen, Marinka! wanita itu memesan sebuah cairan bening untuk menggugurkan kandungan, Nona Zinnia! aku tak tahu bagaimana cara cairan itu akan di gunakan olehnya, melewati makanan atau bagaimana aku tak tahu, yang jelas keamanan nyawa Nona dan anak-anaknya dalam bahaya," jelas Sandra.
"Kita harus berada di dekat, Zinnia! jika perempuan itu berani mendekati, Zinnia! dan rencana ini butuh kerjasama semua orang yang berada di sekitarnya, kecuali ibu hamil itu karena aku tak ingin dia stress hanya karena wanita ular seperti, Marinka!"
"Aku setuju! kerjasama orang rumah Nona juga sangat penting."
"Kita ke sana sekarang untuk memberitahu semua penghuni rumah itu," tutur Marquez mulai menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah William dan Zinnia.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.