Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 145


__ADS_3

Hari ini tepat dua hari sebelum tanggal perkiraan Melati melahirkan, namun bagian bawah perut istri Arnon itu sudah mulai sakit tapi masih tak terlalu sering.


Arnon selama seminggu yang lalu tak pergi kemana-mana karena ia tahu perkiraan hari lahir putrinya semakin dekat, jadi dia memutuskan untuk di rumah saja seperti orang yang sedang mendapat hukuman tak boleh keluar rumah.


Arnon ingin menjadi suami yang siaga untuk istri dan calon anaknya.


Melati memasak seperti biasanya hari ini, ia juga tadi pagi jam setengah enam berjalan kaki di temani Miranda keliling sekitar rumahnya.


Berjalan kaki saat pagi hari memang sudah menjadi kebiasaan rutin saat usia kehamilan Melati sudah menginjak 8 bulan karena ia ingin kuat dan lancar saat proses persalinannya tiba.


Melati juga melakukan pekerjaannya seperti biasa setiap hari. Menyiapkan sarapan untuk Arnon, menyiapkan baju suaminya dan menyiram bunganya.


Semua aktivitas ringan ia lakukan tanpa terkecuali.


Sejak saat tadi pagi, bagian bawah perutnya sudah sedikit sakit, namun durasinya tak lama.


Melati mencoba berjalan mondar-mandir keluar masuk halaman belakang dan kembali lagi ke dalam rumahnya.


Miranda melihat Melati nampak curiga karena tak biasanya wanita hamil itu mondar-mandir seperti sekarang ini.


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Miranda khawatir.


"Aku baik-baik saja, Kepala Pelayan Miranda! kau tak perlu cemaskan aku," ujar Melati.


Arnon masih berada di dalam kamarnya. Ia saat ini tengah sibuk dengan laptopnya. Arnon saat ini berusaha membuka usaha baru tanpa sepengetahuan Melati.


Ia harus mempersiapkan kemungkinan besar jika dirinya suatu saat nanti tak laku lagi di dunia hiburan karena usianya pasti akan menua dan akan banyak artis pendatang baru yang lebih fresh darinya kelak.


Arnon tengah proses membuka mall di setiap kota di Indonesia. Uang dari hasilnya bekerja selama bertahun-tahun ia kumpulkan untuk masa depannya.


Saat ini uang itu akan sangat berguna baginya untuk menjadi modal usaha membangun mall besar di tiap kota di negara ini.


Melati semakin intens mondar-mandir keluar masuk rumahnya ke halaman belakang.


Miranda semakin cemas dengan keadaan Melati yang terlihat seperti sedang menahan sakit.


"Apa perut anda sudah mulai kontraksi, Nyonya?" tanya Miranda dengan raut wajah cemas.


"Sebenarnya sudah dari tadi padi saat kita berdua jalan-jalan pagi, tapi tadi tak sesakit saat ini," ujar Melati yang mulai memegangi perut bagian bawahnya.


"Sepertinya anda sudah mulai pembukaan, Nyonya!"


"Apa benar?" tanya Melati.


"Iya, Nyonya! sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang! saya akan memanggil, Tuan!"


"Tidak perlu sekarang! aku masih kuat, lagipula air ketubannya masih belum pecah kan? rasa sakitnya juga masih belum terlalu sering."


"Tapi, Nyonya! ...."

__ADS_1


"Tak apa! nanti aku akan kerumah sakit jika aku sudah tak tahan dengan rasa sakitnya," jelas Melati tersenyum ke arah Miranda dan kepala pelayan rumahnya itu mengangguk.


Arnon yang sedang sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba teringat dengan Melati. Ia ingin sekali bertemu dengan Istrinya.


"Ada apa denganku? biasanya aku tak merasa serindu ini dengannya," gumam Arnon langsung beranjak dari ruang belajarnya.


Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin. Meskipun Arnon tak tahu keadaan Melati tapi hati mereka tetap terhubung. Ditambah lagi batin antara calon anak mereka.


Arnon mencari keberadaan Melati saat ia sudah berada di lantai dasar. Ia melihat Miranda tengah berdiri menatap ke arah halaman belakang.


"Kepala pelayan Miranda! apa kau melihat, Istriku? tanya Arnon sambil mencari keberadaan Melati.


"Nyonya ada di halaman belakang, Tuan!"


Arnon melangkah ke arah halaman belakang. Ia melihat istrinya sedang berada di pinggir kolam ikan.


"Sayang! apa yang kau lakukan disini?" tanya Arnon.


Melati menoleh ke arah suami. "Aku sedang melihat ikan-ikan itu, mereka nampak sangat suka berenang."


Melati masih menahan rasa sakit pada bagian perut bawahnya yang sudah semakin sering dan durasi sakitnya juga lebih lama dari biasanya.


Arnon masih belum sadar dengan keadaan Istrinya, karena Melati memunggunginya.


Tiba-tiba wanita itu sedikit membungkukkan tubuhnya dengan tangan kanan menyentuh bagian perut bawahnya.


"Tak apa-apa, Sayang! perutku hanya sakit."


Melati masih menahan rasa sakitnya sampai ia sudah tak kuat menahannya.


"Awwww!"


Melati merintih kesakitan. Ia sudah tak kuat terus menahan rasa sakitnya.


"Kita kerumah sakit sekarang!"


Arnon langsung menggendong dan membawa Istrinya ke halaman depan.


"Kepala pelayan Miranda! ambil tas yang berada dalam kamar putriku dan bawa ke mobil," titah Arnon.


"Baik, Tuan!"


Miranda langsung bergegas menuju lantai tiga untuk mengambil tas yang di maksud Arnon, sementara pria itu berjalan ke arah mobilnya.


Ia dan Melati masuk ke dalam mobil, kemudian satu menit berikutnya, Miranda juga ikut masuk ke dalam mobil.


"Kau tak perlu ikut, kau urus keamanan rumah saja," pinta Arnon


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Miranda langsung turun dari mobil dan mobil tersebut langsung melaju menuju rumah sakit milik Edward.


Arnon menghubungi Pram. "Tolong beritahu semua keluarga jika Melati berada di rumah sakit."


"Baik, Tuan!"


Selang beberapa menit, akhirnya Arnon dan Melati tiba di rumah sakit.


Wanita itu langsung masuk ke ruang instalasi gawat darurat. Perawat membawa sebuah brankar untuk Melati.


Melati sebenarnya takut jika harus di bawa menggunakan itu. Ia merasa seakan dirinya sakit parah.


Arnon mengerti ketakutan istrinya. "Aku bersamamu, Sayang!" menggenggam tangan Melati erat.


Melati akhirnya mau naik ke atas brankar tersebut. Ia langsung di bawa menuju ruang bersalin.


Saat roda brankar berjalan ke arah ruang bersalin. Tangan Melati dan Arnon masih tetap menyatu tanpa ada yang ingin melepaskannya.


Melati dan Arnon masuk ke ruang bersalin. Kebetulan hari itu hanya Melati saja yang melahirkan.


Dari pintu masuk, Salma muncul dengan senyum mengambang. "Bagaimana keadaannya, Mel?" tanya Salma.


Dokter cantik itu sekarang sudah tak canggung dengan Melati karena itu memang permintaan Melati agar Salma tak memanggilnya Nyonya atau ibu.


"Perut bagian bawahku sakit, Kak!"


Salma mengambil sebuah kain putih menutupi bagian perut Melati sampai kakinya.


Salma membuka celana yang digunakan Melati untuk mempermudahnya mengecek wanita itu sudah pembukaan berapa.


"Buka kakinya lebar ya? tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan, ingat! jangan tegang," pandu Salma sembari memasang sarung tangan steril.


Arnon yang berada di samping Melati ikut dag dig dug karena ia takut Istrinya kenapa-napa.


Salma mulai menelusupkan tangannya pada bagian kedua kakinya Melati yang sudah tertutup kain putih.


Dokter kandungan itu mulai memastikan Melati sudah pembukaan berapa.


Setelah selesai, sarung tangan itu ia buang ke tempat sampah dan menatap ke arah Melati.


"Pembukaannya masih 7, jadi kurang 3 lagi," jelas Salma pada Melati.


"Saya sarankan pada ayah sang bayi untuk menemani istri anda di sini sampai proses persalinan selesai," ujar Salma pada Arnon.


"Pasti, Dok! saya akan menemani istri saya," tutur Arnon menggenggam erat tangan Melati.


Salma keluar dari ruangan itu. Ia akan kembali satu jam lagi untuk mengecek pembukaan Melati.


Wajah Melati sedikit berkeringat. Ia merasa perut bagian bawahnya semakin sakit dan intensitas rasa sakit itu terus saja menjadi lebih sering.

__ADS_1


__ADS_2