
Perut buncit Melati dalam hitungan detik sudah pasti akan mendarat di lantai rumah mewah itu, namun dengan sigap, Pram menahan tubuh Melati sampai kepala Asisten Arnon tersebut tak sengaja mengenai pinggiran meja.
"Apa anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Pram pada Melati.
Melati hanya menganggukkan kepalanya karena syok akan kejadian tadi.
Arnon langsung mengambil alih tubuh istrinya. Pria itu mendekap tubuh Melati erat.
"Kau tak apa-apa? apa ada yang sakit? perutmu bagaimana?" tanya Arnon yang menghujani istrinya dengan berbagai pertanyaan karena cemas dengan kondisi Melati.
"Aku tidak apa-apa, Sayang! kau tak perlu cemas! anak kita baik-baik saja."
"Kenapa kau ceroboh sekali! kau sedang mengandung, kau tak boleh bertindak seperti tadi! itu bisa membahayakan kau dan bayi kita, Sayang!"
Susan dan Agnez beserta pelayan mendekat ke arah Arnon dan Melati.
Melati memeluk erat tubuh Arnon. "Maafkan aku! seharusnya aku tak melakukan hal seperti tadi, seharusnya aku lebih mengutamakan keselamatan anak kita," sesalnya diiringi air mata yang menetes dari kedua pelupuk matanya.
"Sayang! maafkan aku, jangan menangis! kasihan anak kita yang berada dalam perutmu, dia pasti juga ikut merasakan kesedihan yang kau rasakan," bujuk Arnon sembari mengelus lembut punggung istrinya.
"Sudahlah, Nak! ini bukan salahmu! ini murni kecelakaan kecil yang tak di sengaja," tutur Susan menenangkan Melati.
"Iya, Mel! itu hanya kecelakaan yang tak di sengaja! kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, lagipula anakmu baik-baik saja kan?" Agnez juga ikut menenangkan Melati.
Susan tak sengaja melihat ke arah Pram yang tengah memegangi pelipisnya. "Apa kau baik-baik saja, Pram?" tanya Susan.
Semua mata tertuju ke arah Pram, tak terkecuali Agnez yang langsung berjalan ke arah pria itu. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Agnez cemas.
Pram menoleh ke arah Agnez. "Aku tak apa-apa! kau tak perlu cemas seperti itu, Nona!"
Susan dan Arnon melihat kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu.Mereka tersenyum bahagia karena Pram akhirnya menemukan pendamping yang cocok untuk dirinya.
"Kita bawa Melati ke kamar dulu, Ar!" Susan hendak membantu memapah menantunya.
"Tidak, Mom! aku ingin makan kue cucur gula merahku dulu," tolak Melati dengan suara rengekannya.
Sontak semua orang tertawa karena Melati masih saja ingat dengan kue cucurnya.
"Kita duduk dulu ya? Kakak Ipar masih mengurus calon suaminya," ujar Arnon sekenanya.
Semua orang terkejut mendengar perkataan Arnon. Tak terkecuali Melati. "Maksudmu, Asisten Pram?" tanya Melati bingung dengan wajah yang masih sedikit merengut.
__ADS_1
"Iya, Sayang! siapa lagi jika bukan dia? jadi, kita istirahat di kamar dulu ya? nanti setelah Pram selesai di obati, kita akan membuat kue cucur hangat yang kau inginkan."
"Janji?"
"Janji, Sayang! kita ke kamar dulu ya?"
Melati menganggukkan kepalanya. Arnon tersenyum lega pada Melati, karena sang istri mau di bujuk untuk beristirahat di kamar terlebih dulu.
Arnon menggendong Melati manaiki anak tangga menuju lantai atas, sedangkan yang lain kembali ke aktivitas masing-masing.
"kau tunggu disini! aku akan mengambil kotak P3K dulu," tutur Agnez yang melihat pelipis Pram sedikit berdarah, namun tak terlalu parah.
Di ruang tamu itu hanya ada Pram dan Hadi. Keduanya diam tanpa ada yang membuka suara terlebih dulu.
"Apa kau sungguh serius dengan putriku?" tanya Hadi yang sudah bosan dengan keheningan antara dirinya dan Asisten Arnon tersebut.
Jantung Pram berdegup kencang saat menerima pertanyaan langsung dari calon mertuanya. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. "Saya sungguh serius dengan Putri anda, Pak!" sahut Pram mantap.
"Apa kau siap jika harus menikah saat ini juga?" tanya Hadi lagi.
Jantung Pram kembali meronta-ronta ingin keluar dari sarangnya saat Hadi mengajukan pertanyaan yang kedua padanya.
"Saya siap! sekarang juga saya siap, Pak!"
"Apanya yang siap, Asisten Pram?" tanya Agnez berjalan ke arah Pram sambil membawa kotak P3K di tangannya.
"Aku siap menikahimu sekarang juga," sahut Pram.
Agnez duduk tepat di samping Pram. Wanita itu membuka kotak obatnya, mengambil obat merah meneteskannya pada kassa. Ia juga memotong plester perekat.
Sebelum Agnez menempelkan kassa itu, ia lebih dulu membersihkan luka Pram dengan alkohol agar steril. Setelah proses pembersihan selesai, Agnez menempelkan kassa pada luka Pram dan merekatkannya dengan plester yang telah ia potong tadi.
"Sudah selesai! satu lagi! jika kau ingin menikah denganku? tunggu sampai lukamu itu sembuh, Asisten Pram! karena aku tak mau suamiku memakai perban seperti itu! nanti aku disangka istri yang suka menyiksa suami," ledek Agnez pada Pram.
Pria itu terdiam dengan bibir yang tertarik sempurna membentuk senyuman.
"Jadi kapan kau akan melamar, Putriku?" tanya Hadi lagi.
"Secepatnya, Pak! saya akan segera melamar Putri anda," sahut Pram.
Semua keluarga sudah berkumpul di halaman belakang dekat dengan taman milik Susan.
__ADS_1
Di sana sudah ada kompor dan peralatan lainnya untuk menggoreng kue cucur.
Semua pelayan juga sudah berada di sana tengah menggelar tikar untuk acara makan kue cucur bersama-sama.
Melati berada dekat dengan Agnez karena Kakaknya itu yang akan mencontohkan pada para pelayan cara menggoreng jajanan tradisional tersebut.
Agnez mulai mencontohkan bagaimana cara membuat jajanan tradisional itu.
Hasil gorengan Agnez sungguh terlihat menggugah selera Melati. Tanpa pikir panjang, wanita berbadan dua itu langsung mengambil sebuah piring dan meletakkan kue cucurnya di atas piringnya.
Melati berjalan, kemudian duduk di tikar yang sudah tergelar rapi.
Arnon mendekat ke arah istrinya. Pria itu duduk tepat di samping Melati. "Jangan langsung di makan, Sayang! itu baru di angkat dari penggorengan, masih panas," tutur Arnon sembari membantu meniup kue cucur Melati yang asapnya masih mengepul karena dalam keadaan panas.
"Iya, Sayang! aku tahu! aku juga tak ingin lidahku terbakar karena kue cucur ini," sahut Melati yang mulai merobek kue cucur itu menjadi dua bagian.
"Sayang! hati-hati! itu masih panas! tanganmu bisa melepuh," ujar Arnon mengambil tangan Istrinya kemudian meniupnya agar tangan Melati tak merasa panas.
"Kau tak perlu berlebihan seperti itu! ini tak panas kok!"
"Tidak boleh! biar aku saja yang meniupnya untukmu," pinta Arnon yang mengambil alih tugas Melati.
Arnon meniup kue cucur itu. Setelah dirasa cukup hangat. Ia memberikannya pada sang istri.
"Aaaaaaaak! buka mulutmu," pinta Arnon dengan menyodorkan kue cucur di tangannya.
Melati tersenyum manis pada Arnon. Ia membuka mulutnya dan melahap kue yang sangat ia inginkan sampai menangis karena tak ada yang bisa membuatnya.
"Bagaimana? sudah pas hangatnya?" tanya Arnon sembari meniup kuenya kembali.
"Sudah pas! kau memang suami dan Daddy idaman, Sayang!"
Arnon tersenyum manis pada istrinya. "Kau sungguh nakal," sahut Arnon yang menyuapi kembali Melati dengan kue cucur itu.
Melati mengerlingkan sebelah matanya. "Aku mencintaimu, Sayang!"
Cup
Arnon mengecup kening Melati. "Aku juga mencintaimu, Istriku!"
Semua orang yang ada di rumah itu juga ikut menyantap kue cucur bersama-sama. Hari ini adalah hari makan kue cucur sepuasnya.
__ADS_1