Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 269 ( Season 2 )


__ADS_3

Mobil Marquez sudah menggulirkan rodanya di atas aspal. Roda itu terus berputar bukan menuju ke arah dimana jetnya berada, tapi mobil itu berputar haluan menuju arah rumah Zinnia.


Desainer tampan itu tahu jika Zinnia hari ini tak pergi ke butik karena hari Minggu butiknya tutup.


Mobil yang di naiki oleh Marquez berhenti di halaman rumah mewah milik William.


Desainer tampan itu turun dari dalam mobilnya berjalan ke arah pintu masuk rumah William dan Zinnia.


Pria itu disambut oleh Asih seperti biasanya.


"Zinnia ada?" tanya Marquez pada Asih.


"Ada, Tuan! Nyonya ada di taman belakang bersama dengan Tuan," jelas Asih dan Marquez segera berjalan menuju taman belakang rumah William dan Zinnia.


Marquez sebenarnya sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya namun, ia harus memberitahu semua masalah ini pada Zinnia dan William.


Langkah kaki Marquez yang awalnya melemah kini langkahnya kembali cepat.


Marquez mencari keberadaan Zinnia dan suaminya saat ia sudah berada di ambang pintu penghubung rumah William dan taman belakangnya.


Zinnia dan William ternyata tengah melihat kelinci yang yang sedang diberi makan oleh seorang pelayan.


"Zi!"


Suara Marquez membuat sepasang suami istri itu menoleh ke arah Marquez.


Zinnia dan William tersenyum karena Marquez datang ke rumahnya.


"Ada angin apa kau kemari?" tanya Zinnia pada Marquez dan pria itu sedikit tegang antara ia harus memberitahu Zinnia atau tidak.


"Jika aku memberitahunya, dia pasti akan mengamuk padaku! tapi jika aku tak memberitahunya, ia akan mengira aku pria brengsek, tak berpendirian, dan jahat karena telah menelentarkan Sandra begitu saja setelah aku sudah melamarnya."


Pikiran Marquez masih berkecamuk. Ia masih bimbang antara harus memberitahu Zinnia atau tidak.


Akhirnya Marquez membulatkan tekadnya untuk memberitahu Zinnia.


"Apa kita bisa bicara di dalam? karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian berdua," pinta Marquez pada Zinnia dan William.


Sepasang suami istri itu saling bertukar pandangan. Zinnia dan William merasa akan ada masalah serius yang akan Marquez ceritakan karena keduanya bisa melihat dari raut wajah Marquez yang sangat kebingungan.

__ADS_1


"Kita ke dalam!" William mengintruksikan untuk masuk ke dalam.


Ketiganya masuk ke dalam menuju arah ruang keluarga. Mereka tak di ruang tamu karena obrolan yang akan mereka bicarakan penting dan pastinya serius.


Zinnia duduk berdampingan dengan suaminya, sementara Marquez duduk tepat berhadapan dengan keduanya.


Wajah Marquez sebenarnya sudah mulai memucat karena ia mempersiapkan diri untuk mengutarakan niatnya serta menguatkan dirinya untuk mendapatkan umpatan dari mulut Zinnia.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Marq?" tanya Zinnia.


Marquez melihat ke arah Zinnia. Ia harus bisa mengutarakan maksudnya datang kemari.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kalian berdua! ini menyangkut hubunganku dan, Sandra!"


Zinnia tersenyum manis pada Marquez. "Apa kau akan mendiskusikan masalah tanggal pernikahan kalian?" tanya Zinnia dengan nada cukup antusias.


"Bukan!"


Wajah Zinnia yang awalnya berseri-seri bagai orang yang tengah kasmaran, seketika seperti terkena badai angin topan membuat senyumannya menghilang begitu saja.


William mulai merangkul bahu istrinya untuk mempersiapkan kemungkinan perang dunia ketiga akan dimulai.


Napas Zinnia sudah naik turun tak karuan. Ibu hamil itu mengendus bau-bau ketidak wajaran dari perkataan Marquez.


Marquez menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Aku akan kembali ke Amerika dan membatalkan pertunanganku dengan, Sandra!"


Kata-kata yang keluar dari mulut Marquez bagai sebuah tamparan keras bagi Zinnia.


Ibu hamil itu berdiri dengan tangan yang sudah mengepal dan Zinnia berjalan melangkah mendekati Marquez yang berada di seberangnya.


William masih diam tak melakukan apapun karena ia mengerti bagaimana perasaan Zinnia jika bagian dari keluarganya tersakiti.


Zinnia sudah berada di hadapan Marquez. Pria itu masih duduk dan kini Marquez perlahan mulai berdiri mensejajarkan diri dengan Zinnia. "Aku ...."


PLAKKKKK


Suara tamparan pada pipi Marquez terdengar sangat keras di ruang keluarga itu.


William berdiri hendak mendekati istrinya namun, gerakannya terhenti saat tangan Marquez memberikan kode agar William tak mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Tatapan mata Zinnia masih menatap Marquez dengan penuh amarah. "Apa kau gila! apa kau pria stres?" tanya Zinnia dengan nada tingginya.


"Bukan hanya itu saja! aku akan menikah dengan wanita lain."


Lagi-lagi perkataan Marquez bukan hanya sebuah tamparan bagi Zinnia tapi sebuah pukulan mematikan yang sekali pukul langsung masuk liang lahat.


Zinnia tersenyum simpul sembari mengangkat tangannya dan ....


PLAKKKK


Tamparan untuk yang kedua kalinya mendarat mulus di pipi Marquez yang pastinya dirawat dengan berbagai perawatan mahal.


"Kau sungguh pria tak tahu diri! kau pria kejam! kau jahat, Marquez! kau jahat!" Zinnia berteriak sekuat tenaga sembari memukul Marquez dengan gerakan brutal.


William segera turun tangan menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Zinnia erat.


"Lepaskan aku! aku ingin memberi pria gila ini pelajaran agar dia tak seenaknya mempermainkan perasaan wanita!" Zinnia masih dengan suara tingginya.


"Sayang! jangan berteriak seperti itu! kau sedang hamil!" William mencoba menenangkan istrinya namun, Zinnia tetap saja memberontak. "Aku ingin membuat pria stres ini sadar jika ia salah sudah berurusan dengan asistenku!"


Marquez yang sudah tak kuat dengan tuduhan Zinnia, balik berteriak, "Aku mempunyai alasan melakukan hal itu! aku tulus mencintainya, Zi!"


Zinnia hanya tersenyum remeh pada Marquez. "Alasanmu itu sudah bau tanah, Tuan Copaldi! kau seharusnya enyah saja dari dulu tak perlu kau datang ke negara ini jika kau hanya membawa kesakitan bagi, Sandra!" Zinnia sudah lepas kendali atas dirinya.


William masih memeluk istrinya agar Zinnia tak memukul Marquez lagi.


"Demi tuhan aku sangat mencintainya, Zi!"


Kata-kata Marquez membuat Zinnia bungkam karena pria itu sampai membawa nama Tuhan.


"Sayang! kita dengarkan saja penjelasan, Marquez! dia juga berhak membela dirinya karena aku yakin jika dia sangat mencintai, Sandra! pasti ada alasan dibalik pembatalan pertunangannya ini," jelas William agar sang istri tak naik darah karena itu bisa berpengaruh pada kandungannya.


Zinnia menarik napasnya panjang dan menghembuskan secara perlahan.


Ibu hamil itu duduk untuk menormalkan emosinya yang tengah bangkit karena ulah Marquez.


Marquez dan William juga ikut duduk. Zinnia menatap tajam ke arah desainer tampan rekannya itu. "Apa kau sudah mengatakannya pada, Sandra?" tanya Zinnia penuh intimidasi.


Marquez menelan ludahnya karena ia masih ragu untuk mendengarkan umpatan Zinnia lagi. "Tidak! karena aku tak berdaya mengatakan hal itu secara langsung padanya," sahut Marquez dengan raut wajah penuh kesedihan.

__ADS_1


Zinnia memejamkan matanya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Marquez saat ini.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2