Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 220 ( Season 2 )


__ADS_3

William dan Zinnia mengantar kepergian Marinka ke halaman depan.


"Aku pulang dulu ya, Kak!" Marinka sudah berada di dalam mobil dengan posisi kaca mobilnya terbuka melihat ke arah Zinnia dan William yang masih bergandengan tangan.


"Mereka berdua ini lengket sekali sih!"


"Iya, Rin! hati-hati ya!" William tersenyum pada Marinka dan Zinnia hanya melambaikan tangan dengan wajah penuh kemenangan.


"Di rumah orang hanya membuat suasana ricuh saja."


Mobil yang di kendarai Marinka berjalan keluar melewati gerbang rumah mewah William dan Zinnia.


Kedua pemilik rumah itu tersenyum melihat kepergian mobil Marinka.


"Apa kau sudah lega?" tanya Zinnia pada suaminya.


"Sangat lega dan aku sudah bisa mengendalikan rasa kebencian ini berkat dirimu, Sayang!" William menarik ujung hidung Zinnia lembut.


Wanita itu tersenyum lebar karena suaminya sudah keluar dari dunia yang penuh kesakitan yang teramat sangat.


"Apa Marion orang yang sangat penting bagimu dulu?" tanya Zinnia mengusap lembut pipi suaminya.


Dokter tampan itu tersenyum menatap setiap inci wajah Zinnia. "Ya! tapi itu dulu sebelum kau hadir dan membuat jantung ini berdetak lebih hebat lagi, melebihi debaran pada saat aku mencintainya," jelas William sembari membawa tangan Zinnia yang berada di pipinya ke arah dadanya.


"Sekarang hanya engkau yang bisa membuat jantung ini berdebar kencang," tutur William.


"Apa yang membuatnya penting bagimu?" tanya Zinnia lagi yang ingin mengenal suaminya lebih dalam lagi.


"Karena dia orang yang akan menjadi teman hidupku setelah mama dan papa meninggal, tapi sekarang istriku yang paling penting bagiku karena dia yang selalu ada untukku menjadi teman, pacar dan sekaligus orangtua yang baik bagiku," jelas William mengecup kening Zinnia.


Mata Zinnia terpejam menikmati ciuman pada keningnya. "Kau orang terpenting dalam hidupku, Sayang!" William menatap manik mata istrinya.


Zinnia tersenyum. "I love you," ujar Zinnia memeluk tubuh suaminya erat.


William mengusap lembut rambut panjang Zinnia. "Apa kau ingin kita berkencan?" tanya William pada istrinya.


Zinnia langsung melonggarkan pelukannya pada tubuh William. "Berkencan? apa kau yakin?" tanya balik Zinnia pada William dengan wajah yang penuh keraguan.


"Kita tak pernah berkencan kan? sebelum William junior tumbuh, aku ingin menikmati masa kebersamaan kita," tutur William.


Zinnia berpikir. Ia juga ingin memiliki kenangan manis dengan suaminya. "Aku setuju! tapi kapan kita akan mulai berkencan?" tanya Zinnia lagi.


"Besok pagi dan kencan kita bukan kencan seperti layaknya pasangan pada umumnya."


Wanita itu menatap ke arah William penuh tanda tanya.


"Kau pasti penasaran kan?" tanya William pada istrinya dan diangguki oleh Zinnia.


"Besok pagi kita akan melakukan hal itu karena selama dua hari ke depan aku akan cuti dan Daddy yang akan mengambil alih urusan rumah sakit untuk sementara waktu."

__ADS_1


Zinnia tersenyum senang. "Aku menunggu kejutan kencan yang tak biasa dari pasangan lainnya," tutur Zinnia pada suaminya.


"Kita masuk ke dalam aku ingin melanjutkan menanam benihku lagi," bisik William tepat di telinga istrinya.


Zinnia memukul lengan William. "Kau kira aku ini lahan! dasar Dokter mesum!"


Zinnia melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.


"Sayang! tunggu aku," teriak William pada Zinnia dan wanita itu tak memperdulikan teriakan suaminya.


Di dalam mobil, Marinka sedang memikirkan cara agar ia bisa menjauhkan William dan Zinnia.


Mobil Marinka menepi di pinggir jalanan yang cukup sepi. Wanita itu mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang namun, niatnya ia urungkan karena ada notifikasi di ponselnya mengenai kerjasama antara Zinnia dan Marquez.


Berita itu yang saat ini menjadi trending topik di sosial media.


Senyum Marinka terpancar saat ia memiliki ide apa yang akan ia perbuat agar William menjauh dari William.


"Tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada kau gadis ingusan!"


Marinka menghubungi seseorang.


"Halo, Nona!"


"Kau siapkan gedung untuk acara ulang tahunku dan Marion!"


"Apa anda yakin akan melakukan hal itu, Nona!"


"Baik, Nona!"


"Ingat! sewa satu gedung yang memiliki fasilitas lengkap."


"Baik, Nona!"


Panggilan di tutup oleh Marinka. Lagi-lagi senyum licik itu mengembang. "Lihat saja apa yang akan terjadi saat pesta ulang tahunku."


Di rumah keluarga Pattinson tepatnya di rumah Edward para tetua kembali berkumpul.


Istri mereka sibuk memasak di dapur untuk acara makan malam. Mereka akan mengundang Zinnia dan William.


Di teras halaman belakang, Edward dan Arnon tengah berbincang.


"Bagaimana rumah sakitmu?" tanya Arnon pada besannya.


"Seperti biasa, Ar! masih aman terkendali, tapi rumah sakit milik menantumu yang membuatku kesal," adu Edward pada Arnon.


"Kenapa memangnya? apa ada masalah?" tanya Arnon sembari memakan biskuit yang sudah disiapkan oleh Melati dan Salma.


"Dia memintaku mengambil alih rumah sakitnya untuk dua hari kedepan."

__ADS_1


"Ada masalah apa sampai William meminta kau mengambil alih rumah sakitnya sementara waktu?" tanya Arnon penasaran.


"Itu karena dia ingin kita lekas menjadi seorang kakek, Ar!"


Arnon yang menyesap tehnya tersedak karena perkataan Edward.


Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk


"Kau kenapa? apa kau tak ingin menjadi seorang kakek?" tanya Edward pada sahabatnya itu.


"Bukan begitu, Ed! aku ...."


"Kalian sedang membicarakan apa?" celetuk Melati membawa kue brownies kukus dengan topping kismis di atasnya.


Arnon melihat makanan kesukaannya itu dengan tatapan ingin menghabiskan semuanya dalam sekali makan.


"Kau memang istriku yang paling baik, Sayang!" Arnon langsung memakan brownies itu dan saat makanan yang terkenal manis itu masuk ke dalam mulut Arnon, wajah pria paruh baya itu berubah dari yang awalnya sangat antusias kini diam mengunyah browniesnya tanpa ekspresi.


Melati tersenyum karena ia tahu apa yang saat ini Arnon rasakan. "Kenapa, Sayang? apa kue buatan istrimu yang cantik ini tak enak?" tanya Melati pura-pura tak tahu.


"Kau tega," ujar Arnon dengan suara datar tanpa nada tanjakan sama sekali.


Melati tersenyum dan Edward melihat keduanya dengan tatapan tak mengerti. "Kalian berdua kenapa?" tanya Edward melihat ke arah Melati dan Arnon bergantian.


"Sekarang giliran kau, Pak Dokter!"


"Coba kau cicipi kue buatanku ini, Pak Dokter Besan! pasti rasanya membuat kau ketagihan ingin lagi dan lagi.


Arnon melihat ke arah Edward dengan tatapan datar. "Coba saja kau makan itu! pasti kau akan ...."


"Pasti kau akan ingin memakan semuanya karena itu brownies tersehat sepanjang masa," sambung Melati tersenyum simpul pada Arnon dan Edward.


"Aku yakin jika makanan buatan Melati enak, buktinya Arnon bertambah gemuk," ledek Edward mengambil satu buah brownies di tangannya.


Edward mencium wangi brownies itu sebelum ia memakannya. "Wanginya enak sekali! apalagi dengan topping kismis, pantas saja makanan ini menjadi makanan kesukaanmu, Ar!"


Edward menggigit brownies tersebut dan saat ia mencoba merasakannya, semua bayangan yang ada dalam ekspektasinya tak sesuai dengan kenyataan.


Rasa manis dan legitnya coklat tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Semua rasa itu hilang entah kemana.


"Bagaimana rasanya? enak?" tanya Melati pada Edward dan pria paruh baya itu menoleh ke arah Arnon dengan tatapan yang sama datarnya.


"Rasanya tak manis," ujar Edward dan Arnon bersamaan.


Melati tersenyum pada mereka berdua. "Aku dan Kak Salma memang sengaja tak memberikan terlalu banyak gula di resep kue ini untuk kalian berdua, karena usia kalian itu sudah tua! kami para istri tak ingin kalian berdua terkena diabetes jika memakan makanan yang manis-manis," jelas Melati pada keduanya.


"Kalian habiskan makanan itu! jika tidak, kamar akan di kunci dari dalam dan para suami menunggu di depan pintu," ancam Melati pada kedua mantan pria tampan beberapa tahun yang lalu.


Melati tersenyum bahagia karena bisa mengerjai Edward dan Arnon.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰


__ADS_2