Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 130


__ADS_3

Agnez mengusap tangan Melati lembut agar adiknya merasa lebih rileks lagi. Ia tahu jika Melati saat ini tengah dilanda kecemasan pada suaminya karena pria itu pergi begitu saja tanpa pamit.


Tiba-tiba mobil Pram berhenti bersama dengan mobil-mobil lainnya. Tepat dugaan Pram, jika jalan yang ia ambil pasti akan macet total.


"Huh, syukurlah macet! jadi Tuan muda bisa memuluskan rencananya."


"Sudah aku katakan, rute ini pasti macet total! dasar ...."


"Kau bisa diam tidak! jika kau tak bisa diam, aku akan menci ...."


Pram seketika menghentikan ucapannya karena ia sadar ada Melati di dalam mobilnya.


"Dasar bodoh kau, Pram! disini ada, Nona muda! kau kira dia itu patung," batin Pram.


Melati melirik Pram dengan senyuman simpulnya. "Kau akan melakukan apa, Kakak Ipar? apa kau akan menghukum, Kak Agnez?" tanya Melati yang sebenarnya lebih tepat meledek bukan bertanya.


"Bukan begitu, Nona! saya tadi salah bicara saja," kilah Pram sambil berpura-pura melihat ke arah depan untuk memastikan kemacetan.


Melati tersenyum, tatapan wanita itu beralih pada Kakaknya dengan wajah Agnez yang sudah merah karena malu.


"Kakak kenapa?" tanya Melati yang ingin berganti meledek Agnez.


"Aku tak apa-apa, Mel! udaranya panas sekali! huh, bisa kau naikkan lagi suhu AC nya," pinta Agnez pada Pram.


"Ini sudah dingin, Nona! apa kau ingin membuat Nona muda terserang hipotermia karena AC-nya terlalu dingin? dia sedang hamil."


Agnez lagi-lagi memajukan bibirnya karena Pram selalu membuatnya kesal.


"Hahahaha! kalian ini, seperti film kartun kesukaanku saat kecil," tutur Melati.


Kendaraan mulai bergerak sedikit demi sedikit ke depan. Pram juga ikut melajukan mobilnya sedikit demi sedikit.


Karena terlalu lama berada di jalanan, mata Melati mulai mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.


Sungguh ibu hamil itu sudah tak tahan lagi menahan rasa kantuknya. Ia mulai memejamkan matanya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya kendaraan yang dikemudikan oleh Pram melaju dengan normal tanpa hambatan.


Pria dengan rahang kokoh itu memilih rute yang berlawanan dengan arah rumah keluarga Gafin.


Agnez sangat memperhatikan jalanan. Ia kembali mengerutkan dahinya. "Kau ini mabuk atau sudah hilang ingatan? ini bukan jalan menuju rumah keluarga Gafin, Pram! apa kau ingin menculikku dan Melati?"

__ADS_1


"Kau ini selain galak, ternyata juga cerewet ya! kau diam saja, aku tak mungkin menculik calon tunanganku sendiri," jelas Pram yang menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah super mewah 3 lantai.


Agnez kembali di buat merasa aneh dengan tingkah Pram.


"Ini rumah siapa? kenapa kau membawa kami kemari?" tanya Agnez yang sudah mengeluarkan tanduk bantengnya.


Tak ada jawaban dari Pram. Pria itu lebih memilih keluar dari dalam mobilnya.


Gerbang rumah mewah lantai tiga itu terbuka. Seorang pria tampan dengan setelan kemeja putih, membuatnya terlihat bagai pangeran Negeri dongeng, keluar melewati gerbang rumah tersebut.


Pria itu adalah Arnon. Ia berjalan ke arah mobil Pram yang terparkir tepat di depan pintu gerbang rumah barunya.


Agnez menatap kedatangan Arnon dengan wajah kebingungan.


"Kenapa dia bisa berada di sini? bukankah dia sedang marah pada, Melati?" semua pertanyaan itu mulai berputar-putar di kepala Agnez.


Pintu mobil pada sisi tempat Melati duduk terbuka, Arnon mengangkat tubuh Melati. Sebelum Arnon membawa Melati keluar, ia mengucapkan sesuatu terlebih dulu pada Agnez. "Terimakasih ya, Kakak Ipar! karena telah menjaga, Istriku!"


Arnon mengangkat tubuh Melati keluar dari mobil Pram. Aktor tampan itu membawa istrinya memasuki gerbang rumah mewah tersebut.


Agnez langsung keluar dari mobil Pram. Ia hendak mengejar Melati yang di bawa oleh Arnon.


Tangan kokoh menghentikan niatnya. Agnez melihat tangan yang menggenggam pergelangan tangannya erat. "Kenapa kau menghalangiku?"


"Arnon sedang marah pada, Melati! aku takut dia kenapa-napa, Pram!"


Pria berwajah datar itu membawa Agnez ke dalam pelukannya. "Kau tenang saja! Tuan muda tak akan membuat anak dan istrinya dalam bahaya," tutur Pram mendekap tubuh Agnez hangat.


Wanita berambut pendek itu membalas pelukan Pram. "Tapi Arnon sedang dalam keadaan marah pada, Melati! aku takut dia bertindak nekat."


Pram mengusap lembut rambut calon tunangannya. "Dia tak marah pada, Istrinya! dia hanya bersandiwara saja untuk memberikan kejutan rumah ini pada, Nona muda!"


Agnez menatap kedua mata Pram. "Jadi rumah ini, rumah baru mereka berdua?" tanya Agnez.


"Iya! dan rumah ini juga atas nama, Nona!" Pram menjelaskan pada calon tunangannya.


Agnez tersenyum pada Pram. "Melati sungguh beruntung bisa memiliki suami seperti, Arnon!"


"Dan kau juga beruntung memiliki calon suami sepertiku," celatuk Pram yang mendekatkan wajahnya pada wajah Agnez.


Wajah keduanya semakin dekat. Saat bibir mereka sudah hampir menyatu, suara seseorang mengejutkan keduanya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Pram! Tuan muda memerintahkan agar anda cepat masuk ke dalam," ujar pria dengan setelan baju warna hitam dan berdasi.


Pram terlihat geram pada pengawal itu, namun ia berusaha menahannya. "Baiklah! aku akan segera masuk!"


Agnez tertawa kecil karena Pram gagal menciumnya. "Sabar! jika kita sudah menikah, aku akan memberikan semuanya padamu," tutur Agnez mengecup pipi Pram sekilas.


Cup


Pria datar itu tersenyum manis pada calon tunangannya. "Dan aku juga akan memberikanmu hadiah yang tak kalah indahnya dari rumah ini, saat kita sudah menikah! hadiah itu bahkan lebih nikmat dari apapun," bisik Pram tepat di telinga Agnez.


Pram menggandeng tangan Agnez masuk ke dalam rumah baru Melati dan Arnon, dengan senyum yang tak pernah pudar dari keduanya.


Agnez melihat rumah megah yang terpampang di depan matanya.


Rumah dengan desain klasik dengan cat warna salmon dan orange yang mendominasi.


Di halaman depan terdapat taman mini yang di tanami berbagai macam-macam bunga. Pohon bonsai yang berjajar rapi di samping kanan kiri jalan masuk menuju teras rumah itu.


Tampilan rumah bagian depannya sudah sebagus itu. Agnez semakin penasaran dengan tampilan bagian dalamnya.


Sebelum Agnez masuk ke dalam rumah itu, ia melihat ke atas saat kedua kakinya berpijak pada teras rumah Melati.


Wajah Agnez menengadah ke atas, melihat dua balkon yang ada di rumah megah tersebut.


Balkon pertama ada di lantai dua, sedangkan balkon kedua ada di lantai tiga.


Di setiap balkon di hiasi tanaman yang menjuntai ke bawah dan terlihat begitu indah.


"Ayo masuk! kau sedang melihat apa?" tanya Pram yang juga ikut melihat ke arah tatapan mata Agnez.


Pria itu tersenyum saat mengetahui apa yang di lihat oleh calon tunangannya. "Apa kau suka dengan tanaman yang menggantung itu?" tanya Pram pada Agnez.


"Iya! sangat indah dan pas jika di letakkan di rumah dengan desain klasik seperti ini," sahut Agnez menatap ke arah Pram.


"Ayo kita masuk! kau pasti akan takjub dengan desain bagian dalamnya," ajak Pram.


Agnez mengikuti langkah Pram yang masuk ke dalam rumah Arnon dan Melati.


Saat Agnez sudah melewati ambang pintu, ia bisa melihat begitu indahnya rumah adiknya itu.


"Rumah ini di desain langsung oleh, Tuan muda! ia ingin menyalurkan rasa cinta dan kasihnya pada, Nona! dan rumah inilah hasilnya."

__ADS_1


Agnez di buat iri dengan cinta Arnon yang begitu besar pada Melati.


Agnez ingin kisah cintanya juga sama dengan kisah cinta sang adik.


__ADS_2