Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 278 ( Season 2 )


__ADS_3

"I do!"


Saat dua kata itu keluar dari mulut Marquez dan Sandra. Mereka berdua sudah sah menjadi suami istri di mata hukum dan agamanya.


Marquez menyematkan cincin pernikahan di jari manis Sandra yang seharusnya cincin itu melingkar pada jari manis Niken. Dan begitu juga dengan Sandra yang menyematkan cincin pada jari manis Marquez.


"Pengantin pria bisa mencium pengantin wanita," ujar pendeta itu.


Marquez menatap ke arah Sandra yang juga tengah menatapnya. Entah mengapa bukan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, karena lagi-lagi bayangan wajah Niken yang berada di dalam pikirannya.


Marquez mendekatkan diri untuk menggapai bibir Sandra yang sudah sah menjadi istrinya.


Cup


Kecupan cukup lama mendarat pada bibir Sandra dan suara tepuk tangan para keluarga yang hadir menggema di gereja tersebut.


Marquez melepaskan kecupan bibir dari bibir Sandra. Desainer tampan itu masih belum sadar jika Niken sudah tak berada di tempat tersebut.


Marquez menoleh ke arah para barisan kursi yang di tempati oleh para saksi pemberkatan pernikahannya dengan Sandra namun, sosok wanita yang sedari tadi berputar dalam benaknya tak terlihat.


"Kemana, Niken?"


Mata Marquez menjelajahi seisi gereja itu namun, Niken tak ada di sudut manapun.


Sandra yang tahu akan kegundahan hati pria yang sudah sah menjadi suaminya menyentuh pergelangan tangan Marquez. "Kau pasti mencari, Niken?" tanya Sandra pada Marquez dan pria itu menatap ke arah istrinya tanpa menjawab apapun.


Sandra tersenyum pada Marquez. "Hubungi dia! tanpa dia, kita tak mungkin bersatu seperti saat ini! jasanya begitu besar bagi kita," jelas Sandra pada suaminya.


Marquez menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Sandra.


Acara pemberkatan sudah selesai dilakukan dan kini Sandra dan Marquez berada di dalam mobil menuju arah rumah Marquez, dimana nanti sore akan dilaksanakan pesta pernikahan mereka berdua yang seharusnya pesta pernikahan untuk Niken dan Marquez.


Marquez mencoba menghubungi nomor Niken namun, tak ada jawaban.


Marquez terus menghubungi nomor ponsel Niken namun, hanya suara operator yang menanggapinya.


"Mungkin dia masih beristirahat! hubungi nanti saja," tutur Sandra dan Marquez mengiyakan.


Wajah Marquez masih terlihat cemas, bingung bercampur aduk menjadi satu.

__ADS_1


"Ini hari yang kau inginkan, Marquez! kau harus bahagia jangan sampai Sandra merasa aneh karena sikapmu yang seperti ini! tapi ... bagaimana dengan keadaannya sekarang? aku pernah berada di posisinya, saat Zinnia menikah dengan pria lain dan rasanya ... riwayatku akan tamat saat itu juga."


Marquez cemas dengan keadaan Niken. Baik keadaan sakitnya atau hatinya yang pasti terasa sangat menusuk.


Di dalam mobil yang berbeda, William dan Zinnia tengah menatap lurus ke arah depan. "Niken wanita yang berhati malaikat! dia rela menahan rasa sakit saat dirinya mencoba membuat Sandra dan Marquez bersatu," cicit Zinnia masih menatap lurus ke depan tanpa melihat ke arah suaminya.


William menoleh ke arah sang istri. "Dia pasti menangis sepuasnya saat ini! aku bisa melihat bagaimana ia menahan air mata itu dan bagaimana Niken mencengkram erat gaunnya saat proses serah terima Marquez pada Sandra."


Zinnia membalas tatapan suaminya. "Semoga Tuhan bisa memberikan hal yang terbaik pada wanita sehebat, Niken! aku saja belum tentu bisa sekuat dia karena melepaskan cinta yang sudah lama tertanam tak semudah mencabut rumput liar di pinggir jalan," oceh Zinnia memeluk suaminya dari samping menyandarkan kepalanya pada bahu William. "Aminn!" William mengamini doa sang istri untuk Niken.


Zinnia menengadahkan wajahnya menatap ke arah William. "Aku tak ingin kehilanganmu! aku mencintaimu, Pak Dokter!"


William tersenyum mengecup kening Zinnia lembut. "Aku juga sangat mencintaimu, Istriku!"


Zinnia kembali memelukku erat tubuh suaminya dan William membalas merangkul tubuh sang istri.


Di dalam ruangan, Niken sudah melepaskan semua atribut pernikahannya.


Ia saat ini mengenakan baju tidur dan riasan di wajahnya juga sudah terhapus. Hanya menampilkan wajah pucat dan tirusnya serta mata sembab akibat air matanya yang tumpah sedari tadi.


Niken sudah menyiapkan sebuah kamera di depan kaca riasnya dengan gemerlap lighting di sekitar meja riasnya itu.


Niken bersiap untuk melakukan sesuatu di kamarnya.


Ia berjalan, tak duduk di kursi roda lagi. Ia ingin menikmati sisa-sisa hidupnya sebagai orang normal.


Ceklek


Niken membuka pintu kamarnya dan ternyata ibunya yang datang. "Ada apa, Mom?" tanya Niken pada sang ibu.


"Kau tak ingin pergi ke pesta pernikahan ... Marquez?" tanya sang ibu dengan suara ragu-ragu.


"Aku ingin istirahat saja, Mom! Mommy dan Daddy berdua saja, aku dirumah menunggu kalian pulang," tolak Niken.


"Baiklah! kau istirahat saja ya, Nak! jika ada sesuatu hal terjadi cepat hubungi kami."


Niken tersenyum pada kedua orangtuanya. "Siap, Bos! eh, tunggu dulu, Mom! aku ingin menitipkan sesuatu pada Marquez," ujar Niken berjalan ke arah meja riasnya. Saat Niken kembali, ia membawa sebuah kotak berukuran sedang untuk Marquez.


"Ini hadiah untuk, Marquez?" tanya sang ibu.

__ADS_1


"Iya, Mom! Mommy harus langsung memberikan padanya karena aku tak sempat membungkusnya," pesan Niken pada sang ibu.


Ibu Niken mengusap bahu putrinya. "Iya, Nak! kau istirahat saja dulu," pinta sang ibu yang berbalik berjalan menuruni anak tangga rumahnya dan tepat saat ibu Niken berbalik, setetes cairan berwarna merah menetes dari hidungnya.


Niken segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia tak ingin ibunya tahu dan cemas.


Niken segera mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah yang menetes dari hidungnya. "Kenapa harus seperti ini! kenapa aku harus sakit parah dan ...." Niken tak meneruskan ucapannya. Air mata wanita itu menetes membasahi wajahnya.


Marquez dan Sandra sudah berada di ruang pesta perayaan pernikahan mereka berdua.


Setelah pulang dari gereja, Marquez tak bisa tidur. Entah mengapa ia selalu memikirkan Niken.


"Semoga saja dia baik-baik saja!"


Sentuhan lembut tangan Sandra membuyarkan lamunan Marquez. "Kau kenapa?" tanya Sandra dan Marquez menebar senyum palsunya. "Aku hanya lelah saja karena tadi tak bisa beristirahat dengan cukup di rumah," elak Marquez pada istrinya.


"Nanti setelah acara ini selesai, kau langsung istirahat saja," saran Sandra dan Marquez mengiyakan.


Kedua orangtua Niken sudah sampai. Mereka berdua menyapa kedua orangtua Marquez.


Sandra tak sengaja melihat orangtua Niken. "Itu orangtua Niken kan?" tanya Sandra pada suaminya dan Marquez menoleh ke arah jari Sandra yang tertuju pada kedua orangtua Niken.


"Kemana dia? kenapa tak datang kemari?"


Marquez bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Niken tak ikut hadir.


Orangtua Niken berjalan menghampiri Marquez dan istrinya. "Selamat ya, Marq dan Sandra! semoga rumah tangga kalian selalu diberkati kebahagiaan yang melimpah," tutur ibu Niken memeluk Sandra dan ayah Niken memeluk Marquez.


"Niken kemana, Bi?" tanya Sandra pada ibu Niken.


"Niken sedang beristirahat di rumah! tadi sudah Bibi ajak tapi dia tidak mau! oh ya!" ibu Niken mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini ada titipan dari Niken untuk, Marquez!"


Ibu Niken memberikan hadiah yang dititipkan padanya oleh sang putri.


Marquez menerima hadiah itu. Kini hadiah tersebut sudah berada di tangan Marquez.


"Kenapa kotak hadiah ini tak dibungkus, apa Niken menginginkan agar aku langsung membukanya?"


"Kami tinggal dulu ya," pamit ibu Niken pada Marquez dan Sandra.

__ADS_1


Karena rasa penasaran yang mulai menyelimuti pikirannya, akhir desainer tampan itu membuka kota hadiah dari Niken dan saat Marquez membukanya, wajah Marquez terkejut.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2