Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 79


__ADS_3

Keesokan harinya, Melati dan Arnon sudah berada di dalam mobil menuju lokasi pemotretan.


Mereka berdua nampak sangat bahagia karena bagi Arnon ini pengalaman pertamanya membawa seorang istri ke lokasi tempat ia bekerja, sedangkan Melati, ia sangat bahagia karena bisa melihat suaminya bekerja dan menemaninya sepanjang waktu tanpa harus cemas dengan para wanita cantik yang mengelilingi Arnon.


Satu jam menuju lokasi pemotretan yang berada di sebuah gedung dan akhirnya merekapun sampai ke tempat tujuan.


Arnon menggandeng tangan Melati menuju lokasi pemotretan yang berada di dalam ruangan.


Pria itu terus menggenggam tangan Melati tanpa ingin melepaskannya. Saat sudah berada di lokasi, semua kru langsung bersiap, sedangkan Melati menunggu suaminya di sofa yang berada di ruangan tersebut.


"Kau tunggu di sini saja, aku masih mau merapikan rambutku dulu dan bersiap," tutur Arnon membelai lembut pipi Melati.


Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan suaminya.


Sudah sekitar 30 menit Arnon bersiap, namun pria itu tak juga kunjung keluar dari ruang ganti.


Melati mulai merasa jenuh menunggu Arnon yang tak kunjung keluar.


Melati berinisiatif untuk melihat-lihat gedung itu.


Melati keluar dari ruangan tempat Arnon melakukan pemotretan. Ia menelusuri gedung tersebut sambil melihat-lihat setiap sudut ruangan.


Saat sedang asyik mengamati tiap sudut gedung itu, seseorang menabrak Melati cukup keras dari belakang.


BUKKKK


Melati jatuh tersungkur dengan kedua tangan dan lutut sedikit lecet.


"Awwww!"


Orang yang menabrak Melati membantu gadis itu bangun. "Maaf ya, Mbak! saya terburu-buru," jelasnya dengan wajah kebingungan.


"Tidak apa-apa ... kau kenapa?" tanya Melati melihat wajah wanita yang tadi menabraknya.


Wanita itu tiba-tiba saja ingin menangis di hadapan Melati.


"Saya bingung, Mbak! hari ini awal saya bekerja di sini, saya diminta untuk mencari model yang pas untuk pemotretan majalah couple romantis karena model wanitanya berhalangan hadir," jelas wanita itu.


Ide brilian terlintas di otak wanita yang menabrak Melati tadi saat ia menatap lekat wajah orang yang baru saja tak sengaja ia tabrak.


"Mbak bisa kan membantu saya? Mbak kan cantik, tinggi, dan memiliki tubuh langsing, pasti cocok untuk menggantikan model wanita kami."


"Maaf, saya tidak bisa, Mbak!" Melati menolak halus permintaan wanita tadi.


"Mana model wanitanya!" suara seorang fotografer terdengar oleh telinga wanita yang menabrak Melati.


"Saya mohon bantuan anda." Wanita itu langsung menarik tangan Melati menuju ruang pemotretan.


Melati terus berontak namun tangannya tetap di genggaman erat oleh orang yang tak ia kenal.


"Tolong lepaskan saya," pinta Melati yang terus berontak.


"Tolong bantu saya mencari sesuap nasi, Mbak," sahut wanita itu membuat pergerakan Melati terhenti seketika.


Melati paling tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Apalagi jika ia masih bisa membantu.


Melati mengikuti langkah wanita itu yang masuk ke dalam ruangan bernuansa super romantis.


Mata Melati di buat takjub melihat desain ruangan yang sangat pas bagi pasangan yang baru di mabuk cinta seperti dirinya dan Arnon.


Model pria majalah itu sudah bersiap menunggu model pengganti wanita yang tak bisa hadir.


Model pria itu tak sengaja melihat ke arah Melati.


"Melati?" dengan wajah kebingungan.


Pria itu mendekati Melati yang masih terus menatap takjub desain ruangan tersebut.


"Kau Melati kan?" tanya model pria itu.


Melati menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat siapa pemilik suara tersebut, gadis itu di buat terheran-heran.

__ADS_1


"Kau ... Kak Erick kan?" tanya Melati.


Pria yang bernama Erick itu tersenyum manis pada Melati.


"Ya,aku Erick! seniormu saat di kampus."


Keduanya saling tebar senyum karena mereka alumni dari almamater kampus yang sama.


"Bagaimana kabarmu, Kak?" tanya Melati.


"Aku baik-baik saja, kau bagaimana?" tanya balik Erick pada Melati.


"Aku juga baik, Kak!" Melati membalas pertanyaan Erick.


"Dan bertambah cantik tentunya," batin Erick.


Pria itu terus menatap wajah Melati yang dari dulu sudah membuatnya gila.


Pria bernama Erick ini senior Melati di kampus. Ia dulu sangat tergila-gila dengan kecantikan Melati meskipun gadis itu sudah memakai kacamata super tebal, namun bagi Erick Melati sangat memikat hatinya dan membuat dadanya terus bergetar hebat.


Pria itu tak berani mengungkapkan isi hatinya pada Melati karena alasan tertentu.


Erick tak tahu jika Melati telah berstatus menjadi istri dari aktor tampan Arnon Marvion Gafin. Erick tinggal di luar negeri selama 2 tahun terakhir ini. Ia menekuni dunia modeling setelah lulus dari kampusnya.


"Kau sedang apa di sini, Mel?" tanya Erick.


Belum sempat Melati menjawab, wanita yang meminta bantuan padanya menarik tangan gadis itu.


"Mau kemana ini, Mbak?" tanya Melati.


Erick menahan pergelangan tangan Melati saat gadis itu hendak di bawa ke ruang ganti.


"Mau dibawa kemana dia?" tanya Erick pada wanita yang ternyata seorang Asisten fotografer.


Wanita itu Asisten dadakan karena Asisten yang sesungguhnya cuti untuk dua jari ke depan.


"Maaf, Mas Erick! gadis ini yang akan menjadi pengganti sementara pasangan anda untuk pemotretan kali ini," ujar Asisten dadakan itu.


"Kau sangat cocok menggantikan model itu, Mel! lebih baik kau cepat bersiap," pinta Erick diiringi senyum manisnya.


"Tapi, Kak! aku masih ...."


Belum selesai Melati mengucapkan kata-katanya, suara pintu ruangan itu terdengar.


BRAKKK


Semua mata tertuju pada seseorang yang berada di ambang pintu dengan setelan baju yang tak perlu di ragukan lagi.


Pria itu menatap ke arah Melati. Gadis yang di tatapnya juga sedang menatap ke arahnya.


Melati melepaskan tangannya dari genggaman tangan Asisten dadakan tadi, kemudian berlari memeluk Arnon.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Arnon mengusap lembut rambut halus istrinya.


Melati menatap k arah Arnon. "Aku tak apa-apa, beruntung kau datang tepat waktu," ujar Melati kembali memeluk suaminya.


Mata Arnon menatap tajam fotografer yang sedang sibuk dengan kameranya.


"Hei, kau!" Arnon memanggil fotografer tersebut.


Namun pria itu tak kunjung merespon panggilan Arnon karena masih sibuk dengan kameranya.


Asisten dadakan tadi menghampiri bosnya.


"Bos! kau di panggil oleh pria di seberang sana." Sambil menunjuk ke arah Arnon yang sedang memeluk Melati.


Fotografer itu menatap ke arah Arnon dengan tatapan terkejut.


"Tuan Arnon, sedang apa anda di sini?" tanya fotografer tersebut.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu? kenapa istriku bisa ada di sini?" tanya Arnon dengan tatapan dingin sedingin es batu.

__ADS_1


Wajah semua orang yang ada di sana terkejut bukan main. Mereka tak memperhatikan Melati sedari tadi karena semua kru tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Jantung Erick mulai berdenyut kencang mendengar gadis yang ia cintai sudah dimiliki oleh pria lain.


"Maaf, Tuan Arnon! saya tidak tahu jika istri anda ada di sini," kilah fotografer tersebut yang memang benar-benar tidak tahu menahu dengan keberadaan Melati di ruangannya.


Wajah Asisten dadakan itu memucat seketika.


"Ma-maafkan saya, Tuan Arnon! saya tidak tahu jika itu istri anda," jelas Asisten dadakan tersebut.


"Maaf, Tuan Arnon! dia Asisten dadakan saya untuk dua hari kedepan, jadi dia kurang paham," bela fotografer tersebut agar masalah ini tak berkepanjangan.


Arnon hanya diam tak berkomentar apapun.


Erick berinisiatif menengahi perdebatan itu.


"Maaf sebelumnya, mungkin ini hanya salah paham saja," jelas Erick berlagak polos.


"Jadi bagaimana Melati? apa kau masih ingin terus melanjutkan pemotretan ini?" tanya Erick pada juniornya itu.


Melati melihat ke arah Erick dengan mata pria itu yang sudah berbinar.


"Sayang! apa boleh aku membantu seniorku itu?" tanya Melati pada suaminya.


Arnon sekilas melihat desain ruangan yang terlihat begitu romantis.


Pria itu menatap tajam ke arah fotografer yang saat ini juga sedang menelan ludahnya karena di tatap setajam itu oleh Arnon.


"Untuk apa pemotretanmu kali ini," tanya Arnon tanpa basa basi langsung to the poin.


"Untuk majalah couple pasangan romantis," sahut si fotografer.


"Siapa yang akan menjadi pasangannya?" tanya Arnon lagi.


"Aku!" Erick menjawab pertanyaan Arnon yang di tujukan pada sang fotografer.


Dahi Arnon mengkerut sempurna. Pria itu tak suka dengan pria yang pernah menjadi senior Melati.


Melati menyadari perubahan raut wajah Arnon.


"Aku ingin membantu wanita itu, Sayang!" Melati menunjuk Asisten dadakan yang berada di samping Bosnya.


Arnon menghela nafas kasar. Ia tahu maksud Melati baik, tapi ia juga tak ingin Melati dekat dengan pria lain.


Arnon mulai memutar otak agar Melati tetap bisa membantu wanita itu dan tak dekat dengan seniornya.


Senyum Arnon terukir indah. "Baiklah! kau boleh membantu dia, tapi kau tak boleh berpasangan dengan pria itu," tutur Arnon.


Erick mengepalkan tangannya dengan kuat. "Dasar pria pengganggu!" menatap Arnon tajam.


"Jika tak bersama, Kak Erick? siapa yang akan menjadi model prianya?" tanya Melati.


"Aku!" Arnon menjawab dengan suara lantang.


Semua kru yang ada di sana terkejut, namun sedetik kemudian tersenyum. Mereka semua sudah bisa membayangkan pundi-pundi uang yang akan berterbangan.


"Baiklah! Tuan Arnon dan istrinya yang akan menjadi model untuk majalah kali ini dan untukmu Erick? pembatalan kontrak akan aku ganti dua kali lipat," ucap fotografer tersebut.


Rahang Erick di buat mengeras bukan main.


"Masa bodoh dengan uang itu aku tak perduli! yang aku inginkan adalah Melati bisa berada di sampingku selama pemotretan berjalan."


"Baiklah! Jika memang itu keputusan anda, Pak! saya setuju," sahut Erick dengan senyum palsunya.


Arnon memeluk tubuh Melati erat sambil mencium puncak kepala istrinya.


Melati tersenyum dengan keputusan suaminya yang memang sudah sangat tepat.


Gadis itu menatap wajah Arnon. "Terimakasih, Sayang!"


"Iya, Sayang!" Arnon membalas ucapan istrinya.

__ADS_1


Erick muak melihat Arnon dan Melati bermesraan di hadapannya. Pria itu langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa pamit.


__ADS_2