Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 93


__ADS_3

Melati berada di dapur mempersiapkan makanan untuk makan malam. Gadis itu masih sibuk dengan beberapa bahan makanan yang harus di potong-potong.


Suara dering ponsel Melati yang berada di saku apronnya berbunyi.


"Halo!" Melati menjawab telepon tersebut dengan posisi bahunya mengapit benda pipih yang bertengger di telinganya.


"Ini Mama, Mel!"


Tangan Melati yang masih syik memotong sayur seketika terhenti karena mendengar siapa orang yang tengah menghubunginya saat ini.


"Mama Anggi?" tanya Melati yang masih tak yakin jika orang yang berbicara dengannya adalah Anggi.


"Iya, Mel! Mama ingin meminta maaf padamu perihal masalah kemarin malam."


"Iya, Ma! tidak apa-apa, aku sudah memaafkan, Mama!"


"Terimakasih ya, Mel! kamu memang anak yang baik."


"Iya, Ma!"


"Mama ingin mengundangmu makan malam sebagai tanda permintaan maaf, Mama! apa kau mau?" tanya Anggi dari seberang telepon Arnon.


"Aku minta izin dulu pada suamiku ya, Ma?"


"Kalau begitu, Mama harap nanti setelah kau meminta izin pada suamimu jawabannya adalah iya."


"Semoga saja ya, Ma!"


"Mama tutup dulu ya!"


Tut tut tut tut


Melati kembali meletakkan ponsel tersebut pada saku apronnya.


Gadis itu masih berpikir tentang ajakan ibu tirinya karena tak biasanya Anggi bersikap baik seperti itu.


"Kenapa dia baik sekali padaku? sampai mengajakku makan malam segala!"


Melati tak ingin terlalu memusingkan masalah itu. Ia lebih memilih melanjutkan menyiapkan menu untuk makan malam.


Setelah semua hidangan tersaji, Melati memanggil Arnon ke kamarnya.


Sementara mertua dan kedua adik ipar kembarnya itu, pelayan yang memanggil mereka semua.


Melati masuk ke dalam kamar melihat Arnon tengah berdiri di dekat jendela.


Melati memeluk suaminya dari belakang dengan hangat.


Arnon tersenyum manis karena ia hafal dengan wangi rambut dan tubuh istrinya.

__ADS_1


Perlahan Arnon memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah sang istri.


"Kenapa masih disini? sekarang sudah waktunya makan malam," ujar Melati menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arnon.


"Aku sengaja menunggu istriku yang menjemputku kemari," jelas Arnon sembari membalas pelukan hangat Melati padanya.


Melati menengadahkan wajahnya menatap Arnon dan pria itu merundukkan wajahnya menatap setiap inci keindahan yang ada pada wajah Melati.


"Kenapa kau manja sekali? biasanya kau langsung turun kebawah! huh, dasar bayi besar," ledek Melati dengan wajah cemberut yang di buat-buat.


"Manja pada istri sendiri tak salah, kan?" mendekatkan wajahnya pada wajah Melati.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Melati yang sedikit ragu-ragu.


Arnon menarik pinggang istrinya posesif. "Boleh, Sayang! kau ingin bertanya apa?"


"Mama Anggi ...."


"Jangan sebut nama wanita tak tahu diri itu di hadapanku," ujar Arnon dengan wajah sedikit emosi.


Melati mengalungkan tangannya pada leher jenjang Arnon.


Cup


Gadis itu mengecup bibir Arnon agar amarah suaminya mereda.


"Dengarkan aku dulu, Sayang!"


Sekuat apapun benteng kemarahan Arnon, gadis itu pasti bisa memporak-porandakan benteng yang sudah kokoh di buat oleh dirinya.


"Kenapa kau selalu membuatku lemah, Sayang! huh, lanjutkan apa yang ingin kau bicarakan," pinta Arnon mencium puncak kepala Melati.


Gadis itu tak langsung menyuarakan pembicaraan mereka yang sempat tertunda karena Arnon memotongnya.


Tangan gadis itu masih setia bertengger pada leher jenjang suaminya. Jari-jari indah Melati menelusuri tiap helai rambut Arnon membentuk lukisan abstrak dengan sensasi membuat si empunya rambut ingin sekali menerkam orang yang sengaja membangunkan api gairahnya.


"Mama Anggi mengajakku makan malam! apa kau mengizinkan aku?" tanya Melati dengan wajah berada pada dada bidang Arnon.


Pria itu tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia menyingkap rambut Melati. Tengkuk gadis itu terekspos indah dengan rambut kecil menghiasi menambah kesan seksi pada bagian sensitif istrinya.


"Kenapa kau diam? apa kau tak mengizinkan aku pergi?" tanya Melati yang masih menikmati pelukan hangat Arnon.


"Aku akan mengizinkanmu pergi, tapi dengan satu syarat," ucap Arnon.


"Baiklah! katakan apa syaratnya."


"Aku ingin memakanmu sekarang," bisik Arnon menggigit kecil daun telinga Melati.


Gelenyar api gairah mulai bangkit dalam diri Melati. Sentuhan Arnon mempu membangkitkan api gairah itu.

__ADS_1


Gadis itu menatap kedua manik mata Arnon. Begitupun dengan pria itu yang membalas tatapan intens istrinya.


Wajah keduanya perlahan mendekat. Jarak bibir keduanya hanya sebatas kertas tipis yang kapan saja siap menempel tanpa bisa di hitung.


Benar saja, bibir keduanya sudah mendarat pada landasan masing-masing.


Arnon menggerayangi pinggang Melati. Menciptakan sensasi nyaman, geli, dan nikmat tentunya.


Gerakan bibir Arnon mulai menjamah tiap bagian wajah istrinya, mengecup satu persatu agar rasa cintanya untuk Melati terlimpahkan secara sempurna.


Setelah puas dengan bagian wajah Melati, Arnon berpindah pada leher jenjang istrinya.


Wajah Arnon sudah bertengger pada ceruk leher Melati. Kecupan kecil menghiasi kenikmatan yang di buat oleh Arnon.


Desakan tubuh Arnon mulai tak terkendali. Pria itu menggendong istrinya menuju arah ranjang.


Arnon membaringkan tubuh Melati di atas kasur berukuran king size-nya.


Saat Melati sudah berada di bawah Arnon, gadis itu menahan dada suaminya yang hendak merapatkan dirinya.


"Tak enak jika di tunggu oleh yang lain!"


"Jika kau tak mau? maka ...."


Melati langsung membungkam mulut suaminya.


Arnon secara perlahan menerima rambu lalulintas berwarna hijau dari Melati yang artinya harud terus tancap gas jangan di beri kendor.


Pakaian keduanya entah sudah terbang kemana karena gairah yang menguasai mereka lebih memilih untuk cepat di salurkan dari pada memikirkan baju-baju yang sudah berterbangan entah kemana.


Suara penyatuan keduanya sungguh membuat siapapun yang mendengarkan ingin menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Melati dan Arnon.


Rambut Melati yang tertata rapi kini berantakan karena Arnon sungguh menggilai tubuh Melati yang membuatnya ketagihan.


Arnon terus melakukan aktivitasnya sampai pria itu merasa lelah tak bertenaga.


Makan malam yang seharusnya mereka lakukan, kini sudah tak berarti lagi.


Arnon menggempur Melati sampai puas saja sudah merasa kenyang, bahkan rasa lelah yang ia rasakan membuat sensasi kenikmatan tersendiri baginya.


Keesokan harinya Melati sengaja ingin datang lebih awal ke rumah ayahnya karena gadis itu mendapat kabar dari sang ibu tiri pagi-pagi sekali jika kakak tirinya sedang sakit.


Anggi ingin meminta bantuan pada Melati untuk menjaga Agnez karena dirinya ada kepentingan.


"Huh, semoga saja ini bukan akal-akalan, Mama!"


Melati sudah selesai menyiapkan sarapan pagi dengan Susan. Gadis itu kini tengah memasukkan beberapa pakaian untuk ia gunakan nanti malam saat makan malam bersama Anggi.


Gadis itu menatap ke arah meja yang ada di kamarnya. Senyum manis terukir indah pada bibir Melati kala ia melihat roti dengan selai coklat berbentuk hati. Terselip kertas pada bagian bawah piring dengan catatan kecil untuk suami tercintanya.

__ADS_1


Melati beralih menatap suaminya yang masih terlelap tidur. Melati enggan untuk membangunkan pria itu karena ia tahu jika Arnon pasti lelah dengan percintaannya semalam yang begitu menguras tenaga.


__ADS_2