
Mata orang yang masuk kedalam rumah itu masih melihat kearah Arnon dan Melati dengan raut wajah terkejut.
"Yang duduk disamping Arnon itu benar Melati kan?" tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Agnez.
"Kakak sudah pulang? ini kan masih belum jam pulang kerja kak?" tanya Melati.
Agnez segera tersadar dari lamunannya.
"Iya,hari ini aku pulang lebih awal," jawab Agnez dengan senyum kakunya.
"Selamat datang adik ipar," sapa Agnez pada Arnon.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Arnon yang ada hanya senyuman saja untuk membalas sapaan kakak iparnya.
"Sial,dia tak menjawab sapaanku," umpat Agnez yang merasa kesal dengan sikap Arnon.
"Sayang kau sudah pulang?" tanya Anggi pada putrinya.
"Iya Ma," jawab Agnez.
Anggi meletakkan beberapa camilan untuk Arnon dan Melati.
"Aku ke kamar dulu ya Ma,adik ipar," pamit Agnez berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa kacamata Melati di buka? jika terus begini,Arnon pasti akan jatuh cinta padanya," gerutu Agnez dalam perjalanan menuju kamarnya.
"Dimakan dulu camilannya,maaf ya,Nak Arnon! hanya makanan kecil seperti ini yang kami punya," tutur Anggi tersenyum kearah Arnon.
"Tidak apa-apa Ma," jawab Arnon kemudian menatap kearah Melati.
Pria itu mengambil camilan yang disediakan dan memberikannya pada sang istri.
"Aaaaaaaaa! buka mulutmu ... Sayang," pinta Arnon dengan senyum manisnya.
Melati membuka mulutnya menerima makanan dari sang suami.
"Pasti kau ingin mengelabuhi Mama Anggi kan?" sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Anggi menatap kedua pasangan muda itu dengan tatapan tak suka.
"Heh,kalian selalu saja bermesraan dihadapanku,benar-benar mereka ini," kesal Anggi sambil mengepalkan tangannya untuk menahan emosi yang sedari tadi ingin ia keluarkan.
"Oh iya Ma? kami kemari ingin mengajak kalian semua pindah kerumah yang baru," tutur Melati pada ibu tirinya.
Wajah Anggi yang semula bagai benang kusut,kini kembali segar saat mendengar ucapan Melati,wajah kusut itu sudah kegirangan.
"Apa maksud kamu rumah dari mertuamu itu?" tanya Anggi memastikan lagi.
Melati menganggukkan kepalanya sambil tersenyum namun lebih tepatnya senyum terpaksa.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu,Mama akan bersiap dan membawa barang-barang kita." Tersenyum kegirangan sambil berjalan kearah kamarnya.
"Aku harap setelah ini,mama Anggi tak mengganggu hidupku lagi," doa Melati agar Anggi tak selalu membuat hidupnya selalu dalam kesulitan.
Arnon tersenyum kecut menatap kepergian ibu mertuanya.
"Sangat terlihat sekali jika orang seperti itu isi kepalanya hanya harta dan harta," ucap Arnon mengambil cangkir yang berisi teh hangat dan meminumnya perlahan.
"Hussss! nanti di dengar mama Anggi baru tahu rasa kau." Menyenggol lengan suaminya.
"Biar saja! lagipula perkataanku benar kan?," Sambil menyilangkan kakinya.
Melati malas berdebat dengan suaminya,ia lebih memilih diam tak menjawab.
Anggi mengetuk pintu kamar putrinya.
Tok tok tok
"Agnez buka pintunya," teriak Anggi sambil menggedor-gedor pintu kamar Agnez.
Ceklek
"Apa sih Ma? berisik sekali," kesal Agnez pada ibunya.
"Kau tak usah kesal begitu, sekarang cepat kemasi semua barang-barangmu,kita akan pindah kerumah baru," ujar Anggi sambil tersenyum bahagia sekali.
"Mama tak sedang bercanda kan?" tanya Agnez memastikan ucapan sang ibu.
"Melati lagi,Melati lagi." Agnez menutup pintu kamarnya dengan wajah kesal.
Gadis itu tengah menunggu ibu tirinyanya selesai berkemas.
Melati mengambil satu toples camilan kemudian meletakkannya tepat di atas pahanya.
Ia memakan sedikit demi sedikit camilan itu.
Sebelum dimakan oleh Melati isinya masih menggunung namun sekarang isinya sudah tinggal separuh toples.
Gadis itu melirik kearah Arnon yang sedang sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Pasti sedang sibuk chatting dengan Clara!" mengerucutkan bibirnya sambil mengambil cemilan di dalam toples dan memasukkan kedalam mulutnya dengan kasar.
Waktu telah menunjukkan jam 4 sore dimana jadwal jam pulang ayah Melati.
Arnon sedari tadi sedang asik bermain game TTS,karena melihat waktu pada ponselnya sudah menunjukkan pukul 4 sore,pria itu menghentikan permainannya.
Saat menoleh kearah samping kirinya,Arnon tersenyum manis.
"Dasar kau gadis hibernasi! kau benar-benar seperti beruang kutub," gumam Arnon terus menatap kearah istrinya yang tertidur pulas dengan toples yang masih ada di atas pangkuannya.
__ADS_1
Arnon perlahan mengambil toples tersebut dan meletakkannya diatas meja.
Pria itu menyelipkan rambut Melati yang menghalangi wajah cantik istrinya.
Melati menggerakkan kepalanya merasa terganggu dengan sentuhan tangan Arnon.
Pria itu sempat kaget,namun ia mengusap kepala Melati lembut membuat sensasi ketenangan pada sang istri.
Arnon perlahan meletakkan kepalanya sendiri di sandaran sofa.
Pria itu tetap asyik mengusap kepala istrinya sambil memandangi wajah Melati yang tengah tertidur pulas.
Perlahan mata Arnon terasa berat,pria itu ingin sekali terus menatap wajah Melati yang damai seperti ini,namun matanya tak dapat diajak kompromi lebih lama lagi.
Mata Arnon perlahan mulai meredup dan tertutup rapat karena rasa kantuk sudah menghampirinya.
Mereka berdua tertidur di sofa dengan posisi tangan Arnon berada di kepala istrinya.
Agnez dan Anggi keluar menuju ruang tamu,namun kedua mulut wanita itu ternganga hebat.
"Ini serius Ma?" tanya Agnez pada ibunya.
"Mama juga tak yakin Nez," jawab Anggi yang masih terdiam mematung bahkan tas jinjing yang ia bawa terjatuh ke lantai melihat pemandangan di ruang tamunya.
Agnez menepuk kedua pipinya berkali-kali.
PUKK PUKK PUKK
"Sakit Ma,pipiku sakit," ujar Agnez yang sudah memastikan jika apa yang ia lihat itu nyata.
"Ini tak mungkin! Arnon itu sangat mencintai Clara Ma? ini pasti sandiwara mereka berdua saja," sangkal Agnez yang masih tak terima dengan kenyataan.
Kakak tiri Melati itu masih tidak tahu dengan kejadian di bandara tadi siang karena memang masih belum di tayangkan di acara TV manapun.Semua stasiun TV sudah sepakat akan menayangkannya secara serentak.
"Kita tunggu di depan saja Nez,nanti papa akan pulang." Anggi berjalan kearah teras.
Agnez melangkahkan kakinya mengekori sang ibu sambil menampakkan raut wajah kesalnya.
"Kau ini kenapa Nez?" tanya Anggi yang sudah duduk di kursi.
"Aku tak suka melihat Melati bersama Arnon Ma! kenapa nasibnya sangat beruntung sekali," jelas Agnez yang mendaratkan bokongnya di atas kursi dengan kasar.
"Bukannya kau sendiri yang bilang,jangan berurusan dengan keluarga Gafin jika kau tak ingin merasa terusik." Menatap putrinya sambil tersenyum remeh.
"Kenapa Melati harus memiliki mertua orang berpengaruh sih Ma? aku juga ingin seperti dia," ucap Agnez yang sudah tak dapat menahan gejolak di hatinya.
"Jika kau ingin seperti Melati,kau harus menikah," ujar Anggi.
Tak ada jawaban dari Agnez,gadis itu hanya memasang raut wajah kesalnya.
__ADS_1
"Mama kira mencari pria seperti Arnon gampang apa? jika saja memang ada pria seperti dia belum tentu pria itu mau padaku ... Eh,apa yang aku katakan ini! kenapa aku merendahkan diriku? tentu saja pria itu pasti mau padaku karena aku lebih cantik dari pada Melati." Menyemangati dirinya sendiri.