Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 149 ( Season 2 )


__ADS_3

Keesokan harinya di bandara, seorang gadis cantik dengan setelan baju kasual turun dari pesawat.


Di lengan kirinya tergantung tas dan outer berwarna putih, karena baju yang ia kenakan turtleneck sebahu berwarna putih dan loose pant berwarna army.


Kacamata masa kini bertengger di kedua matanya dengan sorot mata tajam dan wajah dinginnya.


Setiap helai rambutnya terbawa angin saat ia melangkah keluar dari bandara menuju mobil yang sudah menjemputnya.


Koper yang ia bawa sudah berada di dalam bagasi mobil. Koper itu telah di letakkan terlebih dulu oleh supirnya dan supir itu masih mengambil satu koper lagi yang masih ada di dalam.


Saat langkah kaki Zinnia sudah hampir sampai ke arah mobil yang menjemputnya, tiba-tiba seorang pria tinggi, putih dan tampan tentunya berlari sangat kencang dengan pandangan yang tak tertuju ke arah depan.


Pria itu terfokus ke arah kanan kirinya seperti sedang mencari seseorang sampai ia tak sadar jika Zinnia berada di depannya dan ....


"Awwww!"


Rintihan suara desainer cantik itu terdengar di telinga pria tersebut yang tak lain adalah William.


Zinnia terjatuh tepat berada di bawah William. Siku gadis itu terasa nyeri. Ia merasa sepertinya siku mulus yang sudah ia rawat dengan lulur mahal itu harus lecet kali ini.


Pandangan keduanya bertemu dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat.


Zinnia dan William saling memandang satu sama lain. Mereka berdua tak mengenali wajah lawannya karena sudah 14 tahun mereka tak bertemu.


Siku Zinnia semakin terasa nyeri sampai ia merintih kembali, "Awwww!"


William langsung tersadar dan bangun dari atas tubuh Zinnia yang terjatuh karena ulahnya.


Zinnia bangun dengan posisi duduk sedangkan William berjongkok.


"Apa kau tak apa-apa, Nona?" tanya William sambil menatap ke arah Zinnia cemas.


Gadis itu tak menghiraukan pertanyaan William, ia terfokus melihat luka pada sikunya.


William mengikuti arah penglihatan gadis yang ia tabrak tadi. Seperti 14 tahun yang lalu, pria tampan itu langsung merogoh saku celananya mengambil plester kemudian menempelkan pada luka di siku Zinnia.


Gadis itu menatap ke arah William yang terfokus menutupi lukanya dengan plester.


*"Siapa pria ini? kenapa aku merasa sangat familiar dengan wajahnya?"


Zinnia terus menatap wajah William sampai pria itu selesai menutup luka pada sikunya.


"Maafkan aku, Nona! tadi aku tak melihat ke arah depan dengan benar," sesal William pada gadis yang telah ia tabrak sampai mengalami luka di bagian sikunya.

__ADS_1


Mata pria itu tak sengaja melihat ke arah jam tangan Zinnia. "Ah, maaf! aku harus pergi sekarang! ada hal penting yang harus aku selesaikan," ujar William pada Zinnia.


Pria itu berlari masuk ke dalam bandara dengan wajah yang sangat cemas dan kebingungan.


Zinnia menoleh ke arah William yang berlari dengan sangat kencang.


Gadis itu menatap sikunya yang tertempel plester. Saat itu juga ia teringat dengan William. Pria yang pernah menolongnya juga saat telapak tangannya lecet.


Zinnia kembali menatap punggung pria yang menolongnya tadi.


Pria yang tampan, tinggi, putih, hidung mancung, mata indah dan badan atletis, sosok yang sangat sempurna dan idaman para wanita.


Semua itu yang ada dalam benak Zinnia saat menjabarkan keindahan pada diri orang yang membuatnya terjatuh, namun orang itu pula yang menolongnya.


Senyum manis terukir dari bibir indah nan seksi itu.


Supir yang keluar dari dalam bandara langsung berlari menuju ke arah Zinnia.


"Nona kenapa? apa Nona tak apa-apa?" tanya supir itu membantu Zinnia berdiri.


"Saya tidak apa-apa, Pak! apa kopernya sudah di bawa semua?" tanya Zinnia sambil merapikan bajunya.


"Sudah, Nona! ini koper yang terakhir," ujar supir itu.


Zinnia langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk di kursi penumpang.


Kenapa Zinnia tak pulang menggunakan jet pribadi? karena Arnon tak mengizinkan putrinya menjadi pribadi yang manja, ia ingin Zinnia berbaur dengan masyarakat. Agar Zinnia paham bagaimana rasa hidup menjadi orang biasa yang naik transportasi udara pada umumnya tanpa menggunakan transportasi pribadi.


Hampir satu jam kendaraan yang dinaiki Zinnia memecah jalanan sampai ia tiba di sebuah halaman rumah yang sangat ia rindukan.


Gadis itu turun dengan senyum penuh antusias.


Ia mencari keberadaan keluarganya, namun kepala pelayan Miranda yang muncul di hadapannya. "Selamat datang, Nona muda," ujar Miranda pada Zinnia.


"Iya, Kepala Pelayan Miranda! Mommy dan Daddy kemana?" tanya Zinnia.


"Tuan dan Nyonya ada di halaman belakang, Nona!"


"Baiklah, terimakasih!" Zinnia langsung berjalan menuju ke arah halaman belakang untuk menemui kedua orangtuanya.


Langkah Zinnia semakin dekat dengan halaman belakang. Ia sengaja berjalan semakin melambat karena dirinya ingin memberikan kejutan pada Melati dan Arnon.


Gadis itu hendak mengejutkan kedua orangtuanya yang sedang duduk berdua di halaman belakang. "Mom ...."

__ADS_1


Kata-katanya terhenti saat ia melihat sang ayah tengah mengecup pipi ibunya.


Tatapan Zinnia langsung berubah ingin menggoda mereka. "Mom, Dad! apa yang kalian lakukan? apa kalian tidak rindu padaku," goda Zinnia sambil menaik turunkan alisnya meledek ibu dan ayahnya.


Melati langsung memukul lengan kekar suaminya. "Aku sudah bilang padamu, jangan menciumku di tempat terbuka," ujar ibu dua anak itu yang nampak kesal pada suaminya.


"Maaf, Sayang!" Arnon menangkupkan kedua tangannya di dada meminta maaf pada sang istri.


"Lain kali jangan nakal, Dad! aku langsung ke kamar saja ya! selamat bersenang-senang Mom, Dad!"


Zinnia langsung berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai 3. Senyum gadis cantik itu terus mengembang saat ia berhasil meledek ayahnya.


William masih terus mengedarkan pandangannya pada tiap sudut bandara itu.


Wajahnya nampak mulai frustrasi karena orang yang ia cari tak ditemukannya.


Pria jangkung itu mengusap wajahnya kasar. "Kemana kau, Marion! kenapa kau melakukan ini padaku, kenapa?"


William sungguh muak dengan keadaan yang menimpanya saat ini.


Pernikahannya sudah tinggal dua hari lagi, tapi calon istrinya kabur entah kemana. Ia tak tahu apa yang membuat Marion kabur tiba-tiba seperti ini.


Hatinya sungguh hancur karena wanita yang ia cintai harus meninggalkannya di saat hari pernikahan mereka sudah tinggal menghitung hari.


Tubuh William terasa sangat lemas sampai ia hampir jatuh. Beruntung Asisten pribadinya langsung menangkap tubuhnya yang sudah hampir jatuh ke lantai.


"Astaga, Tuan! apa anda baik-baik saja?" tanya Asisten William yang bernama John.


"Bawa aku ke mobil! kepalaku pusing," pinta William pada John.


Tanpa bertanya lagi, pria bertubuh kekar itu membawa Tuannya ke arah mobil yang berada di luar bandara.


John membantu William masuk ke dalam mobil. Setelah William sudah cukup nyaman dengan posisinya, John ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Sebelum mobil itu melaju keluar dari area bandara, William masih sempat mengumpulkan tenaganya untuk bertanya pada John, "Apa ada kabar tentangnya?" tanya William yang menanyakan tentang keberadaan Marion.


"Nona Marion sudah terbang 15 menit yang lalu ke Canada, dari informasi yang saya dapatkan, dia saat ini sedang bersama seorang pengusaha asal Canada, Tuan!"


William mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku-buku tangannya terlihat jelas jika ia sedang sangat emosi mendengar sang pujaan hati keluar Negeri bersama pria lain.


"Selidiki siapa pria itu," titah William pada John.


"Anak buah saya sedang mencari tahu tentang itu, Tuan!"

__ADS_1


"Bagus! kau memang bisa di andalkan! kita ke rumah sakit sekarang! aku ingin beristirahat di ruanganku saja," tutur William menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata terpejam.


MESKIPUN SUDAH CRAZY UPDATE, JANGAN LUPA TEKAN JEMPOL DAN KOMENTARNYA DI TIAP BAB BIAR AUTHOR TAMBAHAN SEMANGAT 😘


__ADS_2