Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 150 ( Season 2 )


__ADS_3

William berbaring di dalam kamar yang berada di rumah sakit pusat di Jakarta.


Rumah sakit itu merupakan rumah sakit pertama yang ia buat dari hasil keringatnya sendiri.


Kini William sudah mampu membuat 5 rumah sakitnya sendiri, sementara 10 lainnya, 9 berada di luar Negeri dan 1 di Indonesia yang merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Jadi total rumah sakit yang ia miliki saat ini ada 15 rumah sakit besar dalam pengawasannya.


William berusaha memejamkan matanya, namun rasa emosi lebih mendominasi dan itu membuatnya seketika bangun terduduk.


"Aku semakin tak bisa tidur berada di sini, lebih baik aku pulang saja kerumah."


William langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas nakas kamarnya.


Ia berjalan ke arah luar ruangannya menuju lantai paling dasar. William menaiki lift menuju lantai paling bawah rumah sakitnya.


Saat sudah sampai di lantai bawah, Dokter tampan dengan kemeja putih itu berjalan melewati koridor rumah sakit. Semua mata tertuju padanya.


Tatapan memuja, penuh cinta, dan kagum semua tertuju padanya. Dada bidang yang membuat semua wanita ingin sekali bersandar di atasnya. Aroma wangi maskulin bertebaran sepanjang jalan yang ia lewati, membuat indera penciuman para kaum hawa ingin terus mengendus dan mengendus sampai si pemilik wangi maskulin itu dapat mereka gapai dan mereka sentuh meskipun hanya bagian ujung kemejanya saja.


Pria tampan, mapan, tinggi, kulit putih. Semua itu cukup dikatakan sempurna bagi Dokter bername tag Aiden William Pattinson tersebut.


Kekurangan William saat ini hanya seorang pendamping hidup yang bersedia setia sampai mati berada di sampingnya.


Wajah pria itu terus menatap lurus ke arah depan. Ia terkenal sebagai Dokter paling hot di rumah sakit ini, karena badannya yang kekar dan wajahnya yang rupawan.


William tak pernah membalas tatapan memuja dari para wanita yang haus akan tatapan mata seksinya itu.


William lebih memilih bersikap dingin pada para kaum hawa tersebut dan itu juga berlaku pada semua bawahannya karena ia ingin bersikap profesional dalam bekerja. Ia tak ingin pandang bulu pada siapapun kecuali para pasiennya.


Jika dikalangan para bawahannya ia terkenal dengan sebutan hot Dokter, namun di kalangan para pasien yang pernah bertemu, berkonsultasi atau pernah di rawat, William terkenal dengan Dokter tampan yang sangat baik dan ramah.


William membuka pintu mobil Lamborghini berwarna kuningnya.


Lagi-lagi ia menjadi topik utama bagi para wanita yang hendak menjenguk kerabatnya di rumah sakit.


Para wanita itu berbisik sambil tersenyum menatap ke arah mobil yang sudah berjalan ke arah jalan raya.


William menekan pedal gasnya menuju ke arah rumah mewahnya sendiri.

__ADS_1


Pria itu sejak memegang kendali rumah sakit milik orangtuanya, ia memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumah 4 lantai peninggalan orangtuanya.


Mobil Dokter tampan itu sudah memasuki pekarangan rumahnya. Ia keluar dari mobilnya menuju ke arah pintu masuk rumah megahnya.


Di depan teras rumahnya, ternyata John sudah menunggunya dengan amplop coklat yang berada di tangannya.


William tahu apa isi dari amplop tersebut. Itu pasti hasil dari penyelidikannya tentang calon istrinya yang tiba-tiba kabur.


William berjalan mendekati Asistennya. "Apa itu hasilnya?"


"Iya, Tuan!" John memberikan amplop coklat tersebut pada Bosnya.


Tanpa menunggu lama, William langsung membuka amplop coklat tersebut dan melihat isinya.


Tangan William mulai mencengkram kuat kertas yang ia baca saat ini.


Tiga lembar kertas itu langsung ia remukkan sampai menjadi bola kertas.


Bola kertas itu ia lempar dan tepat mengenai tempat sampah yang berada dekat dengan halaman depan rumahnya.


"Kau boleh pulang, John!"


Kepala pelayan Asih menyambutnya, "Selamat datang, Tuan!"


Tak ada jawaban apapun, hanya anggukan yang Asih dapat dari Tuannya.


Asih tahu jika William saat ini sedang dalam kondisi hati yang tak baik, karena ia sejak kecil sudah bekerja di rumah itu dan merawat William.


Pria itu berjalan menaiki tangga menuju lantai empat karena kamarnya berada di lantai paling atas.


William langsung menjatuhkan badannya pada kasur empuk kamar yang bernuansa putih abu-abu.


Kata demi kata pada kertas yang sudah ia remukkan tadi kembali melintas dalam benaknya.


William tak menyangka jika pria yang saat ini lari dengan calon istrinya adalah pacar Marion sejak SMA dan mereka tetap menjalin hubungan pada saat ia dan wanita itu sudah berpacaran, bahkan sampai mau menikah pun mereka tetap bersama dan memilih untuk kabur bersama ke luar Negeri.


William memejamkan matanya merasakan kepalanya yang kini semakin berdenyut karena informasi yang ia dapat.

__ADS_1


Ponselnya tiba-tiba berdering.


"Ya, Halo!"


"Saya ada informasi penting lagi, Tuan!"


"Katakan saja!"


"Saya tak bisa menjelaskan melalui ponsel, anda silahkan cek email dari saya."


"Huh, baiklah."


William mematikan panggilan dari John dan berjalan ke arah laptop yang berada di meja, karena ruangan itu juga terdapat sofa panjang.


Dokter bedah tersebut mulai menghidupkan laptopnya. Ia menunggu sampai laptop itu menyala sempurna.


William langsung mengecek email dari John dan ia melihat semua informasi yang tak bisa di jelaskan oleh mulut Asistennya.


Marion hari ini sudah resmi menikah dengan pria itu. Wanita yang ia cintai kini sudah berada di Paris untuk bulan madu.


Bukannya menikah dengannya, Marion lebih memilih pria lain menjadi suaminya. Padahal dia tulus mencintai wanita itu sampai semua perawatan ibunya yang sakit keras ia gratiskan berobat di rumah sakit miliknya.


Sungguh semua kebaikan yang ia limpahkan pada Marion tak pernah terlihat di mata wanita itu, bahkan cintanya saja tak dihargai oleh mantan calon istrinya.


Ponsel yang sedari tadi tetap ia genggam tiba-tiba melayang begitu saja menghantam tembok dan pecah berkeping-keping, sama seperti hatinya yang sudah hancur sehancur-hancurnya.


Debu sudah menjadi serpihan terkecil, namun hatinya kini hancur melebihi debu itu.


William bingung. Ia harus bagaimana mengatakan semua ini pada Salma dan Edward. Belum lagi undangan sudah di sebar, gedung, dekorasi, dan catering juga sudah siap.


William kali ini benar-benar harus menahan malu karena kelakuan Marion wanita yang tak pernah mencintainya dan dirinya saat ini sungguh benci pada wanita itu yang bersenang-senang di atas penderitaannya.


William menutup laptopnya kasar. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk berendam.


Pria itu pikir, mungkin dengan cara berendam bisa melenturkan otot-ototnya yang tegang.


William mulai masuk ke dalam bathtub dengan aroma lavender yang menyeruak terendus ke dalam indra penciumannya.

__ADS_1


Pria itu memejamkan matanya agar pikirannya bisa lebih relaks dan melupakan semua tentang mantan calon istrinya yang tak pernah mencintai dirinya.


__ADS_2