
Kali ini adalah pertandingan ronde kedua. Pertandingan makan spaghetti satu mangkuk besar.
Peserta yang paling sedikit menyisakan spaghetti, dia adalah pemenangnya, tak lupa chemistry masih tetap berlaku.
Priiiiit
Suara tiupan peluit di bunyikan kembali oleh panitia dan semua peserta mulai memakan spaghetti mereka.
William masih diam tak melakukan pergerakan apapun. Pria itu melihat ke arah istrinya yang fokus memakan spaghettinya.
Karena Zinnia tak merasa William memakan makanan barat itu, Zinnia mulai menatap ke arah suaminya yang ternyata sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa tak makan? apa kau kenyang?" tanya Zinnia sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
William tersenyum melihat bibir Zinnia yang berantakan oleh saus dimana-mana.
"Aku akan memakannya, Sayang!"
Zinnia tersenyum saja tanpa memikirkan hal yang aneh-aneh. Gadis itu sungguh memiliki pikiran yang sangat positif thinking namun, saat Zinnia mulai mengambil spaghettinya, William juga mengambil spaghetti tersebut.
Dokter tampan itu sengaja mengambil spaghetti yang mie-nya terhubung dengan milik istrinya. Saat keduanya sudah sama-sama melahapnya, Zinnia terkejut karena mie yang ia makan tersambung dengan mie yang berada di mulut suaminya.
Gadis itu diam karena terkejut, sementara William terus memakan mie yang terhubung dengan bibir istrinya.
"Akhirnya, jackpot juga!"
Pria itu terus memakan mie tersebut sampai kepala William yang awalnya tak bergerak kini mulai mendekat ke arah wajah Zinnia karena pria itu tak ingin sambungan mie itu terputus. Bisa-bisa usahanya sia-sia ingin menggoda istrinya.
Tubuh William juga ikut bergerak condong ke depan. Bibir Zinnia tak bergerak sama sekali.
Sampai pada saat jarak bibir keduanya sudah tinggal 1 senti dan ....
Hap
William memakan mie itu sembari melahap bibir kenyal Zinnia.
William langsung menjauh dari istrinya. Badan pria itu mulai duduk kembali di kursi tempatnya semula.
Zinnia mengunyah dengan gerakan cepat dan menelannya.
"Kau ... aissssh! apa yang kau lakukan? apa kau tak malu pada mereka semua," tutur Zinnia melihat ke arah para panitia yang tersenyum-senyum sendiri melihat kemesraan William dan Zinnia.
"Untuk apa malu! ini bagian dari chemistry kan?"
"Sudahlah jangan banyak bicara, ayo habiskan ini semua!" Zinnia langsung melahap spaghetti itu kembali dan William juga ikut melahap makanan itu.
__ADS_1
Satu menit berlalu dan bunyi peluit kembali terdengar.
Priiiiit
Semua peserta menghentikan kegiatan makannya. Zinnia langsung mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan mulutnya namun, William menahan gerakan tangannya.
Pria itu mengambil alih tisu yang ada di tangan Zinnia.
Dengan gerakan lembut, tangan William terlihat sangat terlatih membersihkan bibir istrinya.
Gadis itu hanya diam tanpa menolak bantuan dari William.
Setelah selesai, William hendak membersihkan mulutnya sendiri namun, Zinnia menahan tangan suaminya.
"Tadi kau yang membantuku, sekarang aku yang akan membantumu," tutur Zinnia mengambil beberapa lembar tisu lagi.
Gadis itu mulai membersihkan mulut suaminya. "Kau makan sangat rapi sekali ya? Tak seperti aku yang berbekas dimana-mana sausnya," ujar Zinnia sambil terus membersihkan mulut suaminya.
William tersenyum dan Zinnia menghentikan gerakan tangannya saat ia melihat lelakinya tersenyum. "Kenapa kau tersenyum begitu? apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Zinnia pada suaminya.
"Kau berkata padaku jika aku makan lebih rapi daripada kau yang makan suasnya kemana-mana." William mendekati telinga istrinya. "Jika aku memakanmu, pasti tempat tidur kita juga akan kocar-kacir, Sayang! karena aku tak bisa menjamin kau akan tidur saat malam itu tiba," bisik William pada Zinnia.
Gadis itu langsung menempelkan kepalanya di atas meja tempat ia makan tadi.
"Aku tak apa-apa!"
"Aku sedang membayangkan apa yang terjadi padaku jika malam yang kau sebut itu akan sungguh terjadi, bisa-bisa aku tak bangun seharian karena ulahmu."
Zinnia mulai memikirkan film yang pernah ia baca di laptop suaminya.
"Jangan bilang jika dia tak akan membuatku tidur karena terinspirasi dari peran, Cristian! aduh, kenapa aku jadi tak tenang begini."
Zinnia sedikit mengintip ke arah William yang sedang menatapnya juga.
Pria itu mengedipkan sebelah matanya menatap sang istri.
Zinnia segera membuang pandangannya pada arah lain.
"Apa sih! kenapa terus menggodaku seperti itu! apa dia mungkin sedang sakit mata?"
Zinnia mencoba memastikan kembali. Gadis itu menatap ke arah William lagi dan pria itu kembali mengedipkan sebelah matanya.
Zinnia memalingkan pandangannya. Ia tak ingin William terus menggodanya.
"Jika saja bukan di tempat umum, aku ingin sekali mencongkel matanya yang berlagak merayu itu!"
__ADS_1
Zinnia kembali menegakkan posisi duduknya dan ia mengambil air kemudian meminumkan.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya William lagi.
"Aku sudah gila karena kau membicarakan masalah malam pertama dan itu membuatku takut."
"Aku tak apa-apa," sahut Zinnia yang sebenarnya marah pada William karena ingin membuatnya tak tidur saat malam penyatuan mereka tiba.
Saat ini pengumuman untuk pemenang lomba tahap kedua. "Pemenang tahap kedua adalah ... Dokter Yoga dan Ibu Rahma!"
Zinnia melihat ke arah mangkuknya, ternyata spaghetti miliknya masih banyak.
"Tak apa-apa! yang penting kita berdua sudah berusaha," tutur William menyemangati Zinnia.
"Berusaha apanya! yang ada kau membuatku jadi diam beberapa detik karena ulahmu itu," sindir Zinnia pada William.
Pria itu yang awalnya duduk di kursi kini berdiri mendekati istrinya dan berjongkok tepat di depan Zinnia.
William menyentuh tangan Zinnia, menggenggam tangan desainer cantik itu erat.
William menatap wajah Zinnia dan gadis itu juga tengah membalas tatapan matanya namun, dengan wajah cemberut.
"Jangan marah padaku! aku sudah berusaha keras untuk memakan spaghetti itu agar kita bisa menang, tapi perutku sudah tak muat, Sayang!"
Zinnia melihat ketulusan dalam mata William. Gadis itu tak tega membiarkan suaminya harus berlama-lama duduk dengan posisi berjongkok seperti itu.
"Aku tak marah padamu, aku hanya kesal saja kau tak serius," jelas Zinnia.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf, Sayang!"
William terus mengecup tangan istrinya tanpa henti sampai senyum gadis itu terbit. "Bagaimana aku bisa marah padamu, jika kau selalu melimpahkan aku kasih sayang yang tiada henti seperti saat ini."
"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, Istriku!"
Zinnia mengusap lembut pipi suaminya. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"
William langsung memeluk perut Zinnia bagai anak kecil yang minta di manja dan semua orang hanya bisa tersenyum sambil menutup mata mereka dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan begini, Sayang! aku malu," ucap Zinnia pada William namun, pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
Edward melihat semua momen romantis itu nampak begitu bahagia. "Akhirnya, kau menemukan wanita yang bisa membuatmu sifat aslimu yang super manja itu kembali, Will!"
Edward kali ini bisa lega karena misinya berjalan lancar. "Semoga saja malam ini cucuku bisa segera di proses."
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰
__ADS_1