
Zinnia dan William sudah berada di hotel tempat keduanya menginap.
Zinnia keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan William yang juga ikut keluar dari dalam mobil yang bertugas melayaninya selama ia berada di negara tersebut.
Zinnia melihat William dengan wajah kebingungan. "Kenapa kau juga ikut turun?" tanya Zinnia dengan wajah curiga.
"Karena aku juga menginap di sini," sahut William.
"Kau bercanda kan? kau tak menjadi penguntit selama aku ada di sini kan?" tanya Zinnia dengan rasa curiganya yang bertambah menjadi dua kali lipat.
"Aku tak pernah menjadi penguntit istri sendiri! aku hanya mengikuti dimana istriku menginap," jelas William tanpa rasa bersalah.
Zinnia mulai berkacak pinggang menatap William dengan sorot mata tajam. " Jangan bilang jika kau juga berada di kamar yang dekat dengan kamarku."
William tersenyum manis pada sang istri. "Sayang sekali, kenyataannya semua dugaanmu itu benar dan kau mendapatkan nilai 100 dariku," ujar William sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Zinnia.
Desainer cantik dengan gaun maroonnya seketika menganga karena ia tak menyangka jika William bisa melakukan hal itu semua padanya.
"Aku kira kau tak akan melakukan hal sejauh ini, ternyata kau juga pria normal ya?"
William dua langkah mendekati istrinya dan Zinnia satu langkah mundur menjauhi suaminya.
"Jika aku sudah suka dengan seorang perempuan, maka perempuan itu harus menjadi milikku seutuhnya," tutur William menyentuh bibirnya Zinnia.
"Kenapa pria ini mesum sekali? apa dia juga melakukan hal ini pada mantan calon istrinya itu?"
Zinnia menyingkirkan tangan William yang menyentuh bibirnya. "Apa kau juga melakukan hal ini pada wanita itu?" tanya Zinnia dengan suara sedikit berteriak pada William.
Dokter tampan itu hanya menanggapi teriakan istrinya dengan senyuman.
"Akhirnya kau mulai terpancing dengan ucapanku! aku akan terus membuatmu kesal sampai rasa cemburu itu benar-benar datang untukku, Zi!"
"Kenapa jika aku melakukan hal itu padanya?" tanya balik William.
Wajah Zinnia nampak kesal sampai gadis itu pergi meninggalkan William dengan wajah yang terlihat sangat marah pada suaminya.
William mengejar Zinnia yang sudah berada di depan pintu lift.
Kini posisi keduanya sejajar sambil menunggu pintu lift terbuka.
William melirik Zinnia yang masih dengan wajah cemberut tanpa ingin melihat ke arahnya.
"Apa kau marah?" tanya William mencoba membuka pembicaraan terlebih dulu.
Tak ada sahutan dari mulut Zinnia, yang ada hanya keheningan sampai pintu lift berdenting dan terbuka.
Orang yang berada di lift itu keluar dan Zinnia masuk di ikuti oleh William.
__ADS_1
Pintu lift tertutup hanya ada Zinnia dan suaminya di dalam sana.
"Zi!"
Tak ada sahutan dari Zinnia. Gadis itu diam tanpa suara bagai orang bisu.
"Zi!"
William mencoba memanggil istrinya kembali namun, tak ada jawaban dari mulut Zinnia.
Kesabaran William kali ini sudah mencapai batasnya. Pria itu memutar tubuh Zinnia agar menghadap ke arahnya.
"Kau ini kenapa? jawab aku, Zi! kau marah kan?"
Zinnia menghela nafas panjang. "Sudah tahu aku marah dan kau masih bertanya," ujar Zinnia dengan nada santainya.
"Kenapa kau marah?" tanya William yang ingin memancing istrinya agar gadis itu mau jujur padanya.
"Tidak apa-apa," sahut Zinnia kembali menghadap ke arah pintu lift.
William tersenyum. Ia masih memiliki segudang cara agar Zinnia mau jujur padanya.
"Oh, tidak apa-apa ya! aku jadi ingat saat menyentuh bibir, Marion! bibirnya ...."
Zinnia menatap ke arah William dengan tatapan tajam, setajam celurit.
William ingin sekali bersorak gembira karena Zinnia memang sedang kesal padanya.
"Aku saja tak tahu bagaimana bibir wanita jahat itu! aku sekali saja tak pernah mencium atau menyentuh dengan tanganku! kami hanya berpegang tangan selama berpacaran karena wanita itu yang tak ingin aku menyentuhnya."
William memeluk tubuh Zinnia yang masih dengan suasana hati mendidih.
Pria itu mengusap rambut panjang sang istri. Mencium puncak kepala Zinnia penuh cinta.
"Kau tak perlu marah padaku, Sayang! karena aku tak pernah sedikitpun menyentuh bibir wanita itu meskipun dengan tanganku ini," jelas William tulus.
Zinnia masih diam mendengarkan detak jantung suaminya, karena posisi kepalanya saat ini berada tepat di dada bidang William.
Wajah Zinnia menengadah menatap wajah suaminya dan William juga menundukkan wajahnya menatap wajah sang istri yang masih meminta penjelasan padanya.
"Aku tak berbohong padamu, Zi! aku serius!"
"Tapi itu tak mungkin! kalian sama-sama saling mencintai satu sama lain kan?"
William tak menjawab pertanyaan istrinya karena pintu lift sudah terbuka.
Pria itu melepaskan pelukannya pada tubuh Zinnia. Segera tangan William menarik pergelangan tangan Zinnia menuju ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Pria mesum!"
Zinnia melihat ke arah sekelilingnya dan satu langkah lagi adalah kamarnya namun, pria itu membawanya ke pintu kamar tepat di depan kamarnya.
"Ini kamar siapa?" tanya Zinnia pada William.
"Ini kamarku, Sayang!"
William langsung membawa Zinnia masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa pria itu mengunci pintu kamar tersebut.
"Kenapa kau membawaku kemari, Pria mesum?" tanya Zinnia yang duduk di atas kasur suaminya.
Pria itu membuka jasnya dan menggulung kedua lengan kemejanya sampai batas siku.
Pria itu mulai mendekati istrinya dan duduk tepat di samping Zinnia.
"Aku akan menjelaskan pertanyaanmu tadi saat di dalam lift."
William membuka kacamatanya meletakkan kacamata itu di atas tempat tidurnya.
Zinnia tak menatap wajah suaminya. Gadis itu melihat lurus ke arah depan.
"Meskipun kami sudah kenal cukup lama dan di tambah kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sampai akhirnya kami memutuskan untuk menikah, selama itu jika di hitung kami berdua saling mengenal sudah lima tahun lamanya namun, entah mengapa wanita itu pergi jauh tanpa kabar dua hari menjelang haru pernikahan yang sudah kami sepekati bersama. Seharusnya aku dari awal sudah mengerti dengan sikap janggalnya yang tak pernah mau aku cium! kami hanya berpegang tangan saja tak lebih dari itu dan ternyata dia sudah memiliki pria di dalam hatinya."
Suara tarikan nafas William terdengar oleh Zinnia. Gadis itu menatap ke arah suaminya yang menatap lurus ke depan.
"Aku baru sadar jika selama lima tahun ini hanya aku yang mencintainya seorang diri tanpa ada balasan perasaan yang sama darinya! huh, aku sangat menyedihkan ya?"
William menoleh ke arah istrinya yang tepat berada di sampingnya.
Mata keduanya bertemu. Zinnia melihat mata William yang di penuhi kabut kesedihan luar biasa.
Pria itu beralih menatap lurus ke arah depan kembali.
"Semoga saja perjuanganku untuk mendapatkan cintamu tak sia-sia, aku akan terus berusaha membuatmu membalas perasaanku ini namun, jika suatu saat aku sudah lelah dengan perjuangan ini, aku akan melepaskanmu! ... aku tak ingin berharap terlalu jauh, aku ingin kau mendapatkan pria yang tepat untukmu dan aku juga berharap agar perasaanku padamu juga ikut musnah," tutur William dengan wajah penuh kesedihan yang teramat sangat.
Hati Zinnia ikut sakit mendengar ucapan suaminya. Ia tak ingin William menyerah membuatnya yakin jika pria ini benar-benar mencintai dirinya.
Gadis itu berdiri berjalan mendekati William.
Zinnia sudah berdiri tepat di depan suaminya.
Zinnia berdiri di tengah-tengah antara kedua kaki suaminya.
Gadis itu memeluk William, meletakkan kepala lelaki itu tepat di perut ratanya.
Zinnia mengusap lembut rambut William. Zinnia ingin membuat suaminya merasa lebih tenang dalam pelukannya.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰