Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 248 ( Season 2 )


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Marinka mulai melaju ke arah rumah William, saat sudah berhenti di lampu merah, Marinka meraih sebuah botol kecil dari dalam tasnya. Senyum wanita berbibir tebal itu terukir penuh aura kelicikan yang teramat sangat terlihat. "Beberapa tetes saja sudah akan membuatnya meluncur," gumam Marinka.


Saat pandangan Marinka menatap ke arah lampu merah, lampu yang awalnya merah kini berganti hijau dan secepat kilat kaki yang menggunakan heels berukuran 6 Senti itu menginjak pedal gasnya melesat menyalip kendaraan yang berada di sampingnya.


Sementara di dalam mobil lain, dua manusia berbeda jenis tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Marquez sibuk bersenandung ria, sementara Sandra sibuk dengan ponselnya.


"Marinka sudah berada di lampu merah kedua menuju rumah, Nona Zinnia!" Sandra bersuara namun, maksud sebenarnya ia ingin memberitahu Marquez agar pria itu tak hanya bersenandung ria.


Marquez menghentikan senandungnya. "Kau berbicara padaku?" tanya Marquez pura-pura tak paham, padahal ia ingin menggoda Sandra.


Sandra akhirnya terpancing dengan godaan Marquez. Wanita itu melirik ke arah Marquez dengan alis yang sudah tinggi sebelah. "Jika aku tak berbicara padamu, aku berbicara pada siapa lagi! hanya kau dan sopir yang ada di sini selain aku," ketus Sandra segera memalingkannya wajahnya ke arah depan.


"Marah!"


"Tidak?"


"Siapa yang bertanya padamu," goda Marquez lagi.


Karena tangan Sandra sudah gatal meraung meminta tumbal, akhirnya asisten cantik itu menatap ke arah Marquez.


Satu cubitan mendarat pada perut Marquez cukup keras. "Aw!"


Cubitan kedua kembali mendarat pada perut desainer tampan itu. "Aw!"


Sampai saat jari-jari Sandra sudah membentuk capit untuk mencubit perut Marquez untuk ke tiga kalinya dan pria tampan itu berkata, "Jika kau mencubit aku lagi, berarti kau suka padaku," teriak Marquez dan jari-jari yang Sandra hendak melakukan tugasnya, tangan itu berhenti seketika dengan mata menyorot tajam ke arah Marquez. "Kau bisa lihat sendiri bukan! aku tak mencubitmu lagi," jelas Sandra kembali menegakkan tubuhnya seanggun mungkin.


"Hu! jika sudah diancam begitu baru berhenti," celetuk Marquez dan Sandra tak memperdulikan celotehan tak penting rekan kerja Bosnya.


Roda mobil milik Marquez berhenti di depan halaman rumah William.


Sandra dan Marquez turun dari mobil itu berjalan masuk ke arah pintu dengan ukiran yang indah.


Seperti biasa Asih menyambut kedatangan mereka berdua, "Tuan dan Nyonya ada di dalam, Nona dan Tuan!"


"Terimakasih, Kepala pelayan Asih!"


Sandra dan Marquez masuk menuju arah ruang tamu dan ternyata William dan Zinnia tengah menikmati teh dan biskuit.


"Wah, ada pasangan paling fenomenal seantero jagat raya rupanya," goda Zinnia pada Marquez dan Sandra.


Marquez hanya tersenyum menanggapi candaan Zinnia, sementara Sandra tetap dengan sikap profesionalnya..


Marquez dan Sandra duduk di sofa empuk rumah itu.


"Kebetulan sekali kalian kemari! Marinka akan kemari untuk menjelaskan perihal sesuatu yang pernah ia perbuat padaku," tutur Zinnia pada Sandra dan kekasih palsunya.


Sandra, Marquez, dan William saling bertukar pandangan. Mereka bertiga pura-pura tak tahu akan hal itu.


"Benarkah?" tanya Marquez pada Zinnia pura-pura tak tahu.


"Iya! pasti sebentar lagi juga akan sampai," ramal Zinnia dan dua detik setelah Zinnia berkata, suara benturan hells dengan keramik rumahnya mulai terdengar dari kejauhan.


Tak tak tak tak


Semua mata tertuju pada wanita dengan pakaian serba panjang mulai dari lengan panjang dan celana kulot panjang, namun lekuk tubuh bagian atas Marinka terlihat sangat molek bagai lontong sayur.


Tangan William mengepal erat. Ia ingin sekali menampar wajah wanita bersifat iblis itu.

__ADS_1


Sandra mencoba menahan emosi yang kini menguasainya, sementara Marquez hanya menatap Marinka datar tanpa ekspresi.


Berbeda dengan Zinnia yang menyambut hangat kedatangan Marinka karena tamu harus di hormati. "Selamat datang, Marinka!" Zinnia berdiri namun, William memberikan kode dengan matanya agar istrinya itu duduk di sofa saja.


Marinka melihat satu persatu orang yang berada di ruangan itu.


"Tiga orang yang harus aku waspadai hari ini."


"Silahkan duduk, Rin!" Zinnia mempersilahkan Marinka duduk.


Kembaran Marion itu duduk di sofa tunggal tepat di samping William.


Semua mata menatapnya jijik karena dengan tak tahu malunya dia duduk di samping William.


"Sungguh ular betina yang tak bisa di anggap remeh!"


Marquez hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan kaki yang sudah di lipat. Ia ingin melihat cara licik apa yang akan dilakukan untuk membuat Zinnia celaka.


"Maafkan aku telah membuat kalian merasa tak nyaman," tutur Marinka dengan wajah di buat senatural mungkin menyesali perbuatannya.


Zinnia melingkarkan tangannya pada lengan William.


"Apa lagi yang akan ia lakukan untuk merusak rumah tanggaku?"


Sandra terus memandangi Marinka ia tak ingin pengawasannya teledor sedikit saja karena Marinka adalah orang yang penuh dengan tipu muslihat.


"Tak apa, Rin! kami tak merasa terganggu, iya kan?" tanya Zinnia pada semuanya dan ketiga orang yang ada di sana kecuali Zinnia dan Marinka menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah! sebenarnya kedatanganku kemari untuk menjelaskan perihal masalah saat di acara ulang tahunku waktu itu! anak buahku yang mengundang mereka para wartawan dan reporter untuk meliput kalian berdua!"


Wajah Marinka menunduk namun, dalam hatinya ia tertawa gembira karena ini baru awal agar mangsanya mau memberikan sedikit ketertarikan pada umpan yang akan ia berikan.


Zinnia menghela napas panjang. "Aku sudah tahu semua itu, Rin! jadi kau tak perlu membahasnya kembali karena aku tak ingin mengungkit sesuatu yang sudah berlalu," jelas Zinnia pada kembaran Marion itu.


"Aku ingin minta maaf padamu secara langsung karena ulahku kau hampir malu di depan semua orang di dunia ini," sesal Marinka menangkup kedua tangannya memohon pada Zinnia.


Zinnia melihat ke arah suaminya dan William menganggukkan kepalanya tanda mempersilahkan istrinya untuk mengambil keputusannya.


"Aku memaafkanmu, Marinka! dan satu lagi ... tolong jangan usik rumah tanggaku atau, Suamiku!"


Marinka tersenyum tulus pada Zinnia dengan kepala mengangguk patuh.


"Itu hanya mimpi, Zinnia! sebenar lagi harta yang paling berharga bagimu akan segera lenyap."


"Terimakasih, Zi! karena kau telah mau memaafkan aku."


Sandra dan Marquez melihat ke arah Marinka namun, wanita licik itu masih belum terlihat gelagat mencurigakan.


"Kapan aktingnya ini akan selesai? aku yakin dia sudah mempersiapkan barang itu dalam tas atau sakunya? tapi kenapa aku tak melihat apapun di saku bajunya."


Marinka berdiri dari sofa yang ia duduki. "Aku permisi sekarang juga karena urusanku disini sudah selesai," pamit Marinka namun, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah William, Marinka berkata, "Boleh aku memelukmu, Zi?" tanya Marinka dan Zinnia nampak ragu mengiyakan permintaan Marinka.


"Sekali ini saja, Zi! setelah itu ia akan pergi."


Zinnia berjalan ke arah Marinka dan memeluk wanita berbibir tebal itu tulus. "Terimakasih karena kau telah memaafkan aku," tutur Marinka melepaskan pelukannya pada tubuh Zinnia.


"Aku ingin memberikan sesuatu padamu, tapi hadiah itu ada di dalam mobil, jadi kita ke depan bersama-sama," pinta Marinka membuat ketiga orang yang masih tetap dalam posisi duduk ternyamannya itu seketika curiga.


"Kau ikut saja, Sayang! aku akan menemanimu ke depan," tutur William pada istrinya.

__ADS_1


"Kita berdua juga ikut," celetuk Sandra.


Zinnia menoleh ke arah ketiganya sembari tersenyum pada mereka. "Aku percaya kalian sangat menyayangiku," tutur Zinnia melangkahkan kakinya menuju teras bersama Marinka diikuti oleh ketiga super Hero Zinnia.


Zinnia sudah berada di depan teras rumahnya. Ibu hamil itu menunggu Marinka mengambil hadiah untuknya.


Zinnia didampingi oleh ketiga super Hero-nya.


Marinka mendekati Zinnia dengan sebuah kado besar untuk di berikan pada Zinnia.


Saat melangkah melewati undakan teras rumah William yang cukup tinggi, hells Marinka tersangkut sampai ia harus jatuh tersungkur. "Aw!"


Beruntung kado berukuran besar itu masih ada di tangannya. Karena terhalang oleh kado tersebut, Marinka mengeluarkan sesuatu dari dalam saku yang ia desain berada di pahanya.


Satu tetes ....


Dua tetes ....


Tiga tetes ....


Empat tetes ....


Lima tetes ....


Lima tetes cairan bening yang tak dapat di lihat oleh mata telanjang membuat rencananya akan berjalan mulus.


"Siapkan mentalmu Zinniaku tersayang! satu kali injakan, BOOM!"


Marinka mencoba berdiri dengan gerakan susah payah. Ia berpindah dua langkah ke samping kanan agar senjatanya tak mengenai dirinya sendiri.


Marinka mulai menaiki tiap undakan teras itu dan memberikan kado berukuran besar tersebut pada Zinnia. "Ini untukmu dan calon bayimu, Zi! kau bisa langsung membukanya sekarang!"


Zinnia menerima kado itu dan membukanya sesuai dengan permintaan Marinka.


Saat kado tersebut sudah terbuka, ternyata di dalamnya berisi sebuah surat dengan tulisan huruf kapital.


ANAKMU AKAN GUGUR DAN SUAMIMU AKAN MENJADI MILIKKU


Zinnia terkejut dengan isi dari surat yang ada di dalam kado dari Marinka. Saat Zinnia melihat ke arah Marinka, hanya senyum manis yang ia dapat. "Aku bukan wanita yang pantang mundur, Zinnia!"


Marinka menuruni undakan teras itu agar Zinnia mengejarnya namun, Marinka tahu dimana ia meletakkan cairan tak terlihat tersebut.


Karena Zinnia terpancing emosi, ia hendak mengejar Marinka namun, di tahan oleh William.


"Tak perlu diperdulikan, Sayang!"


Sandra melihat ke arah lantai teras dan undakan namun, tak ada hal yang mencurigakan. Tiba-tiba semilir angin menerpa halaman rumah William, membuat dedaunan tanaman tinggi yang berada di depan rumah William berguguran dan sebagian mengenai cairan bening tak terlihat yang di teteskan oleh Marinka.


Sandra melihat satu daun itu mengambang di atas lantai undakan tepat dimana Marinka terjatuh tadi.


"Jangan-jangan itu cairan yang dimaksud oleh anak buahku! jika langsung jatuh ke teras tak akan mengambang."


Zinnia hendak melewati undakan itu namun, Sandra menghalangi langkah Bosnya dan tak dapat menyeimbangkan dirinya sampai hells Sandra menyentuh benda cair itu dan tubuh Sandra tergelincir terjatuh. Kepala Sandra mengenai bagian ujung undakan yang sedikit tajam dengan sangat keras.


BUGH


"SANDRA!" Marquez, Zinnia, dan William secara bersamaan berteriak.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.

__ADS_1


__ADS_2