Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 57


__ADS_3

Semua sudah selesai makan malam.Agnez dan ibunya kembali kedalam kamar mereka.


Melati masih sibuk membersihkan meja makan, sedangkan Arnon kembali lagi ke ruang tamu.


Hadi mendekat kearah putrinya yang sedang mengambil piring kotor.


"Nak! hari ini kau terakhir cuti kan?" tanya Hadi pada putrinya.


Melati menghentikan pekerjaannya menatap kearah sang ayah.


"Aku baru ingat Pa." Sambil menepuk jidatnya pelan.


"Kau ingin tetap bekerja atau berhenti?" tanya Hadi lagi.


"Tetap bekerja lah Pa! lagi pula aku dirumah juga tak ada pekerjaan dan semua urusan rumah juga sudah ada pelayan yang mengurus! jadi untuk apa aku berhenti bekerja?" mengambil gelas kotor meletakkan di atas nampan.


"Terserah kau saja,Nak! tapi kau harus bicarakan hal ini pada suamimu." Menepuk lembut pundak Melati dan berjalan kearah kamarnya.


Hadi mengehentikan langkahnya saat melihat sebuah lukisan tepat di dinding luar kamarnya.Ia berbalik menatap kearah Melati.


"Foto yang ada di ruang tamu sepertinya Papa lupa membawanya karena tadi terburu-buru kemari," ucap Hadi membalikkan badannya berjalan masuk kedalam kamar.


Melati mengerti maksud sang ayah.


"Mbak!" Melati memanggil pelayannya.


"Iya,Nona!"


"Tolong bersihkan ini semua," pinta Melati.


"Baik,Nona!"


Melatih berjalan cukup kencang ke ruang tamu dimana suaminya sedang asyik dengan laptop yang bertengger di atas pahanya.


Gadis itu mendekat kearah Arnon.


"Boleh minta tolong sesuatu?" tanya Melati dengan wajah gelisah.


"Apa," jawab Arnon yang masih menatap layar laptopnya.


"Eeeeee ...."


"Jika ingin meminta bantuan bilang saja jangan setengah-setengah," celetuk Arnon.


"Boleh tidak meminta bantuan asisten Pram mengambil foto yang ada di ruang tamu?" tanya Melati lagi.


"Kapan?" Arnon balik bertanya pada istrinya.


"Kalau besok aku harus berangkat kerja? sekarang saja deh," pikir Melati.


"Sekarang bisa?"


"Kenapa tidak besok saja? ini kan sudah malam." Melirik Melati dengan tatapan datarnya.


"Besok aku sudah mulai masuk kerja," jawab Melati lagi.


"What? bekerja? istri seorang aktor sepertiku masih harus bekerja? lelucon macam apa ini!" pertanyaan mulai menumpuk di kepala Arnon.


"Kenapa dengan pria ini?" tanya Melati yang merasa bingung dengan suaminya.


"Tidak boleh!"


"Tidak boleh untuk apa?" wajah Melati semakin terlihat kebingungan.


"Kau tak boleh bekerja lagi dan kau harus berhenti bekerja," ujar Arnon tegas.

__ADS_1


"Kenapa aku harus berhenti bekerja?"


"Karena kau istriku," jawab Arnon yang mengeluarkan hak patennya sebagai suami.


Deg deg deg


Jantung Melati berdebar kencang mendengar pengakuan dari Arnon.


"Perasaan apa ini? kenapa jantungku ...."


Bukan hanya jantung Melati yang berdebar,jantung Arnon juga juga berdebar.


Deg deg deg


"Apa yang aku ucapkan? dan jantung ini ...."


"Ta-tapi jika aku tak bekerja,a-aku tak ada penghasilan setiap harinya," cetus Melati menatap kesal pada sang suami.


"Astaga! suamimu ini kaya Melati? kenapa kau polos sekali sih!" Arnon memijat kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Aku yang akan memberikanmu uang setiap harinya."


"Tapi aku tidak mau," jawab Melati dengan cepat.


Arnon harus memutar otak agar istrinya itu mau menerima uang darinya.


"Baiklah! kau jadi asistenku saat di lokasi syuting,bagaimana?" tanya Arnon menawarkan kesempatan langka yang sangat ingin di dapatkan oleh semua kaum hawa.


"Tapi ... bagaimana kata orang nanti jika ...."


"Kau tak perlu banyak tanya,semua itu urusanku dan kau hanya tinggal mengikuti semua instruksi dariku," jelas Arnon yang kembali melanjutkan mangutak-atik laptopnya.


"Baiklah! tapi fotonya di ambil sekarang ya? besok aku harus ke restoran untuk memberikan surat pengunduran diriku," bujuk Melati.


"Tapi ...."


"Tidurlah sekarang atau kau tak ku gaji sama sekali," ancam Arnon.


Melati memasang raut wajah kesalnya.


Ia berjalan menuju lantai atas sambil menghentakkan kakinya cukup keras ke lantai.


Arnon melirik Melati yang berjalan terlihat lucu baginya.


"Dasar pemarah!" Arnon menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Arnon gila,Arnon tak waras ... aku kesal padamu," gerutunya dalam perjalanan menuju lantai kamarnya.


Sayup-sayup suara Melati terdengar oleh Arnon karena volume suara istrinya cukup keras.


Pria itu menyeringai licik meletakkan laptop yang sudah dalam keadaan mati di atas meja.


Arnon berjalan mengekori Melati yang sudah masuk ke kamar.


Arnon tak langsung membuka pintu kamar itu,ia menempelkan telinganya pada pintu kamarnya.


"Kenapa sih orang itu selalu membuatku kesal! awas saja jika dia ada disini,aku akan memukulnya sampai dia pingsan tak sadarkan diri," gerutu Melati yang masih belum selesai sedari tadi.


Arnon tersenyum sambil membuka pintu menatap Melati yang mana gadis itu juga menoleh kearahnya.


Melati ternyata sedang ingin membuka baju yang ia kenakan,namun saat melihat Arnon ia mengurungkan niatnya.


"Mau apa kau?" tanya Melati sedikit ketakutan.


"Katanya kau ingin memukulku sampai pingsan! ayo pukul sekarang aku sudah siap menerima pukulanmu," pinta Arnon berjalan melangkah kearah istrinya.

__ADS_1


"Mati aku! dia mendengar semua ucapanku tadi." Berjalan mundur menghindari Arnon yang semakin dekat dengannya.


Karena Melati sudah tahu jika ia tak bisa mundur lagi,gadis itu berinisiatif naik keatas tempat tidur dan berlari menuju sisi ranjang sebelahnya.


"Kenapa kau lari,Nona! bukankah kau ingin memukulku sampai pingsan?" naik keatas ranjang hendak mendekati Melati namun gadis itu lebih dulu kabur.


"Mau kemana kau,Nona Melati! oh,aku tahu! kau ingin bermain kejar-kejaran rupanya ya." Berlari mengejar Melati dan gadis itu juga berlari menghindar dari kejaran suaminya.


Keduanya masih terus berlari menghindar dan mengejar,itu yang mereka lakukan sampai pada saat Melati naik keatas kasur dan Arnon langsung menarik perut istrinya dan menjatuhkan tubuh Melati ke atas kasur empuknya.


"Pukul aku," pinta Arnon yang berada tepat di atas Melati dan gadis itu sudah berada di bawah tubuh suaminya.


"Si-siapa yang mengatakan jika aku akan memukulmu?" tanya Melati pura-pura tak tahu.


"Jadi kau tak berniat ingin memukulku sampai pingsan?" tanya Arnon mendekatkan wajahnya ke wajah cantik sang istri.


Melati hanya menanggapi pertanyaan suaminya dengan anggukan kepala.


"Biar aku saja yang akan membuatmu pingsan malam ini," bisik Arnon tepat di telinga Melati.


Hembusan nafas hangat menjalari telinga bahkan sampai leher Melati.


Arnon mengabsen tiap bagian wajah istrinya menggunakan kedua mata indahnya itu.


Melati juga tengah menatap kedua mata Arnon.


"Apa kau siap untuk tak bisa berjalan besok pagi?," tanya Arnon sambil menyentuh rambut Melati.


Wajah Melati sudah mulai panik dan badannya sedikit mulai bergetar.


"Apa maksud dari perkataan pria aneh ini? jangan bilang jika dia ...."


"A-apa y-yang kau ma-maksud? a-aku t-tak mengerti," jawab Melati dengan suara yang sudah tergagap-gagap.


Arnon tersenyum dengan tangan yang masih mengusap rambut halus istrinya.


"Aku hanya ingin menggodanya,kenapa dia bereaksi dengan sangat serius sekali." Terus tersenyum melihat wajah salah tingkah sang istri.


"Tidurlah! besok aku akan mengantarmu ke restoran dan ... selamat malam," ucap Arnon yang masih menatap wajah istrinya.


Arnon semakin mendekatkan wajahnya dan Melati secara spontan menutup kedua mata indahnya.


Pria itu secara lembut mencium kening istrinya dengan durasi waktu cukup lama.


Cup


Arnon perlahan melepas ciumannya dan menatap kedua mata Melati yang masih terpejam.


Melati membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit namun pasti.


Mata keduanya bertemu dan saling tatap satu sama lain.


"Semoga mimpi indah," ucap Arnon menjauhkan badannya dari Melati dan berbaring membelakangi istrinya.


Deg deg deg


Jantung Melati lagi-lagi berdebar sangat hebat.


"Astaga! apa yang Arnon lakukan tadi dan aku ... kenapa aku sangat menikmati ciumannya? jantung ini ... wahai jantung yang baik,berhentilah membuat aku merasakan tendangan di dada," pikirnya yang mulai menjalar kemana-mana.


Berbeda dengan Arnon,pria itu masih tersenyum-senyum sendiri mengingat semua hal konyol yang baru saja ia lakukan dengan Melati.


"Ini semua memang konyol tapi entah mengapa aku suka melakukan hal itu." Masih terus tersenyum.


Keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing yang ditemani oleh keheningan malam.

__ADS_1


__ADS_2