
Hari ini Melati melakukan aktivitas seperti biasa. Gadis itu berada di taman belakang merawat bunga yang ia tanam beberapa Minggu yang lalu.
Sedangkan Arnon masih sibuk mempersiapkan malam pertamanya nanti bersama Melati.
Arnon mengajak para pelayan untuk bekerja sama dengannya agar rencana yang ia susun berjalan lancar.
Melati berada di taman sampai jam 11 siang. Di taman itu ada tempat berteduh di bawah pohon. Gadis itu duduk di bawah pohon sambil menikmati semilir angin yang membuat tubuhnya merasa sejuk.
Saat jam menunjukkan pukul 12 siang, Melati kembali ke rumah untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Melati memutuskan untuk beristirahat karena badannya sudah lelah setengah hari berada di taman mertuanya.
Arnon masih sibuk bersama para anak buahnya. Pram yang bertanggung jawab penuh mengurus semuanya.
Para pelayan juga sibuk membantu dan melakukan apa saja yang sudah di perintahkan oleh Arnon untuk menambah kesan romantis saat proses penyatuan pertama pasangan muda itu.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Suara pintu kamar Arnon dan Melati terbuka.
Pram dan Arnon meminta para anak buah mereka dan para pelayan agar kembali ke posisi masing-masing supaya Melati tak curiga.
Gadis itu turun menuju lantai bawah karena perutnya sudah terasa lapar.
Anehnya, Melati sudah mencium wangi masakan yang enak sekali dari arah ruang makan.
Gadis itu menuju meja makan dan melihat hidangan yang menggugah selera sudah tertata rapi di sana.
"Tumben sekali sudah ada makanan jam segini? apa ada acara ya?" Melati bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu duduk di meja makan langsung menyantap hidangan yang sudah siap.
Arnon sudah berada di jalan menuju suatu tempat. Ia ingin Melati malam ini menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Melati berada di jalan sekitar rumahnya bersama dengan kepala pelayan Mirna yang bertugas menahan Nona mudanya agar tetap berada di luar sampai Arnon memberi kode padanya untuk kembali ke rumah.
Mereka berdua di kawal oleh pengawal berjas hitam dengan tubuh tegap dan berotot tentunya.
"Kepala pelayan Mirna! untuk apa kita kemari?" tanya Melati dengan wajah kebingungan.
"Sebentar lagi kata orang-orang akan ada hujan es, Nona!" Mirna berbohong pada Nona mudanya.
"Benarkah?" tanya Melati melihat ke atas langit.
__ADS_1
"Iya, Nona!" jawab Mirna.
Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, namun tak ada tanda-tanda hujan es itu akan turun.
"Kita sudah satu jam di sini, apa hujan es nya di tunda ya?" tanya Melati.
"Eeeeeeee."
Tiba-tiba suara ponsel kepala pelayan Mirna berbunyi.
"Ya, Tuan muda?"
"Cepat kembali," titah Arnon dari seberang ponsel Mirna.
"Baik, Tuan muda!"
Mirna kembali meletakkan ponselnya pada saku costume maidnya.
"Nona! Tuan muda meminta kita agar cepat kembali ke rumah," jelas Mirna pada Melati.
Melati mengangguk kemudian berjalan menuju ke arah rumahnya.
Gadis itu berjalan ke arah pos satpam.
"Pak! kenapa rumah gelap seperti itu?" tanya Melati.
"Masih ada masalah dengan listriknya, Nona! sebentar lagi akan kembali normal," jelas satpam tersebut pada Melati yang juga ikut berbohong demi melancarkan rencana Tuan mudanya.
"Mari kita masuk ke dalam, Nona!"
Melati mengikuti semua ucapan Mirna. Saat sudah berada di depan pintu, Mirna meminta Melati agar masuk terlebih dulu ke dalam.
"Nona! sebaiknya masuk lebih dulu ke dalam, saya masih ada urusan dengan Pak satpam," tutur Mirna pada Melati dan di angguki oleh gadis itu.
Mirna berjalan ke arah pos satpam dengan senyumnya. Sedangkan Melati membuka handel pintu.
Ketika pintu sudah terbuka lebar, Melati di buat terkesima melihat keindahan yang ada dalam rumahnya.
Suasana rumah itu memang gelap, namun cahaya lilin menyinari setiap langkahnya.
Melati berjalan melewati jalan yang terbuat dari susunan lilin kecil membuat suasana begitu romantis.
__ADS_1
Kelopak bunga mawar menghiasi tiap lantai yang ia pijak dengan lilin kecil di samping kanan kirinya.
Hal romantis itu terus di suguhkan padanya sampai pada tangga lantai dua. Keromantisan yang di siapkan oleh Arnon semakin bertambah.
Di setiap kanan kiri anak tangga sudah ada lilin kecil yang bertengger dengan kelopak bunga yang bertebaran pada tiap anak tangganya.
Pegangan tangga di hiasi oleh bunga mawar putih dengan wanginya yang langsung menusuk indera penciuman Melati.
Wajah Melati terlihat begitu bahagia karena Arnon benar-benar membuatnya bahagia malam ini.
Kaki jenjang Melati menapaki tiap anak tangga menuju lantai atas. Tangan Melati tak henti-hentinya menyentuh tiap bunga mawar putih yang menghiasi pegangan tangga.
Saat sudah berada di anak tangga terakhir, Melati sengaja mengambil satu bunga mawar putih dan membawanya ke arah kamar.
Saat melihat jalan menuju kamarnya, Melati kembali di buat takjub karena jalan yang yang akan ia lewati bukan hanya ada barisan lilin atau kelopak bunga yang bertebaran pada jalan yang akan ia lewati, melainkan potretnya dan Arnon juga akan mengiringi setiap langkahnya menuju kamar yang akan menjadi saksi penyatuan cinta mereka berdua.
Melati mengamati tiap potret dirinya dan Arnon yang berjejer rapi. Setiap baris di sela-selanya terdapat lilin agar pantulan cahaya lilin itu tepat menerangi potret mereka berdua.
Entah dari kapan pria itu mulai mempersiapkan semuanya. Fotonya saat berdansa dengan Arnon kemarin malam juga sudah tertata rapi di setiap jalan yang Melati lewati.
Dari mulai gambar pengungkapan perasaan mereka di acara konferensi pers, saat berada di rumah pohon, saat Arnon memotong bawang di dapur, dan momen romantis lainnya sudah terkemas sangat apik memanjakan mata orang yang melihatnya.
Setelah mata Melati di manjakan oleh potretnya dengan sang suami, kini gadis cantik dengan kulit eksotis itu sudah berada tepat di depan pintu kamarnya.
Di depan pintu kamar itu sudah ada kotak berukuran sedang tengah menunggunya dengan sepucuk surat berbentuk hati yang sudah berada di atas kotak tersebut.
Melati tersenyum kemudian berjongkok mengambil surat yang pastinya di tujukan untuknya.
Gadis itu membuka surat tersebut dan membacanya.
Masuklah ke dalam. Kenakan baju yang ada di dalam kotak ini. Aku akan menunggumu.
Melati membuka kotaknya dan melihat apa isi dari kotak tersebut.
Sebuah baju tidur berenda lengkap dengan outer dengan bahan yang senada untuk menutupi iner yang terlihat terbuka karena inernya berbentuk dress di atas lutut.
Melati tersenyum sambil menutup kembali kotaknya dan berdiri membuka handel pintu kamarnya.
Saat pintu kamar terbuka, gadis itu langsung menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang kotak pemberian Arnon.
Melati masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis itu berpikir apa yang ia lihat adalah mimpi karena semua yang ada di depan matanya sungguh seperti cerita pada sebuah film yang pernah ia tonton.
__ADS_1