Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 72


__ADS_3

Melati dan Arnon berada di balkon rumah pohon itu.Mereka berdua menikmati terpaan angin sore.


Langit mulai berwarna jingga menandakan jika hari akan berganti malam.


Hamparan bunga kini terlihat bagai lautan yang tengah mengelilingi kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta.Tangkai bunga mulai bergoyang terkena terpaan angin.


Arnon masih setia memeluk Melati dari belakang.Pria itu menyanggah dagunya pada kepala Melati karena tinggi mereka memang terpaut cukup jauh.


Keduanya masih asyik menikmati pemandangan yang sangat indah dengan wangi bunga Melati yang lebih dominan karena jarak bunga berwarna putih itu lebih dekat dengan mereka.


Melati mengeratkan pegangannya pada lengan Arnon yang kini melingkar di dada istrinya.


"Apa kau ke dinginan?" tanya Arnon meletakkan wajahnya pada ceruk leher Melati.


"Sedikit," sahut Melati singkat dengan tatapan yang masih terfokus pada ribuan bunga yang di siapkan oleh Arnon untuknya.


Arnon melepaskan jas hitam yang ia kenakan,kemudian menyelimuti tubuh istrinya dengan jas hitam itu.


"Apa sudah lebih hangat?" tanya Arnon sambil memeluk istrinya kembali dari belakang.


"Hangat ... bahkan sangat hangat," tutur Melati mengusap lembut tangan Arnon yang memeluknya erat.


Mereka berdua melihat matahari yang mulai terbenam sedikit demi sedikit.


"Indah sekali," gumam Melati di iringi senyumannya.


"Apa kau baru pertama kali melihat senja?" tanya Arnon.


Melati hanya menganggukkan kepalanya karena gadis itu selalu sibuk bekerja mencari uang untuk biaya kuliahnya.


"Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Melati sedikit menolehkan wajahnya ke arah Arnon yang masih tetap bertahan di ceruk lehernya.


"Tanyakan saja."


"Sejak kapan kau mempersiapkan kebun bunga ini untukku?" melihat bulu mata Arnon yang masih memejamkan matanya.


Pria itu membuka matanya menatap ke arah Melati yang juga sedang menatapnya.


"Apa kau benar-benar ingin tahu?" tanya Arnon memastikan.


"Hem."


"Cium aku dulu," pinta Arnon sambil memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam.


Melati tersenyum menanggapi permintaan suaminya.Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Arnon,namun secepat kilat bibir Melati mendarat pada kening suaminya.


Cup

__ADS_1


Arnon membuka matanya dengan raut wajah kecewa.


"Cepat katakan,butuh waktu berapa lama kau mempersiapkan kejutan ini untukku,Sayang!" melati menggoda Arnon dengan panggilan barunya.


"Aku minta di cium di bibir bukan di jidat,Sayang!" Arnon mulai merengek ala bayi besar.


"Arnon! kau ini seperti anak kecil saja,cepat katakan atau ...."


Arnon lebih memilih mengalah daripada harus berpuasa bicara dengan istrinya dan hal itu tak ingin Arnon alami karena ia tak ingin jauh dari Melati.


"Baiklah,aku mengalah dan akan menceritakan semuanya padamu." Mencium pipi Melati sekilas.


Arnon menegakkan kembali badannya seperti semula dengan posisi dagu berada di atas kepala istrinya.


"Sebenarnya tempat ini akan aku buat untuk tempat wisata karena aku terinspirasi dari seseorang dalam proses pembuatannya," jelas Arnon mengeratkan pelukannya.


"Berapa lama proses pembuatannya?"


"Kurang lebih tadi waktu di perjalanan menuju kemari," sahut Arnon.


Melati membalikkan badannya menghadap ke arah Arnon yang juga menatapnya.


"Tadi? apa kau sedang bercanda denganku?" tanya Melati yang tak yakin dengan penjelasan Arnon.


"Sayang! kau tahu kan,jika aku memiliki Om jin yang siap kapan saja mengerahkan seluruh anak buahnya agar tempat ini siap dalam waktu kurang dari 3 jam," pungkas Arnon menyentuh pipi Melati.


Arnon tersenyum melihat tingkah konyol Melati.


"Tapi ... bunga ini? kapan kau menanamnya? sepertinya sudah agak lama,mereka semua terlihat sangat terawat sekali."


"Mereka tertanam di sini sekitar 2 Minggu yang lalu,tepatnya saat kau menanam bunga di taman rumah," jelas Arnon lagi.


"Jadi kau ...."


"Iya,Sayang! kau adalah inspirasiku dalam pembuatan kebun ini!"


Melati di buat bahagia bukan main oleh ucapan Arnon.Ia memeluk suaminya erat.


"Terimakasih,Sayang!" Melati tersenyum bahagia.


Melati kembali menatap Arnon,nampaknya masih ada sesuatu yang ingin gadis itu tanyakan.


"Jika semua bunga ini sudah di tanam 2 Minggu yang lalu? jadi apa yang di lakukan oleh asisten Pram saat kita berdua menuju kemari?"


"Rumah pohon ini."


"Tapi ... mana mungkin dalam waktu beberapa jam rumah pohon sebagus ini sudah jadi?" Melati masih tak percaya.

__ADS_1


"Kau tak perlu memikirkannya! semua itu urusan Pram dan anak buahnya,yang penting sekarang rumah pohon kita sudah jadi."


Melati merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia bisa memiliki suami yang sangat mencintainya sampai seperti ini.


Melati kembali memeluk Arnon dan pria itu juga membalas pelukan istrinya.


"Terimakasih,Sayang! aku bisa merasakan rasanya di cintai seseorang selain cinta papa padaku," tutur Melati yang terdengar seperti hendak menangis.


"Aku akan selalu melimpahkan cinta ini padamu, bahkan melebihi cinta papa untukmu,Sayang!"


Mencium puncak kepala Melati lama. "Terimakasih,Sayang! Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintai," balas Arnon.


"Apa kau tahu kenapa aku lebih banyak menanam bunga Melati di sekeliling rumah pohon kita daripada bunga yang lain?" tanya Arnon masih tetap memeluk Melati erat.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.


"Karena nama bunga itu sama seperti nama istriku," tutur Arnon dengan senyum tampannya.


Melati tersenyum mendengar ucapan suaminya.


Hari mulai semakin gelap,pertanda malam akan segera datang.Arnon menjentikkan jarinya dan seketika rumah pohon itu bersinar di terangi lampu berwarna-warni.


Melati menoleh ke arah pembatas balkon yang sudah terhiasi oleh lampu kelap-kelip.


Di beberapa bagian sudut kebun juga terdapat lampu besar untuk menerangi bunga yang nampak sangat indah itu.


Melati menatap lekat wajah suaminya yang tersenyum ke arahnya.


Tatapan mereka berdua saling beradu dan tanpa sadar wajah Arnon sudah mendekati bibir manis Melati.


Cup


Bibir keduanya menempel sempurna.Arnon menggiring langkah Melati menuju ranjang yang sudah ada di rumah pohon mereka.


Saat kaki Melati sudah menyentuh bibir ranjang,Arnon menjatuhkan tubuh istrinya ke atas kasur dengan bibir yang masih tetap menyatu.


Arnon melepas ciumannya menatap wajah Melati yang terlihat lebih cantik terkena cahaya lampu.


"Apa aku boleh ...."


"Aku belum siap! aku ... masih ingin kita mengenal satu sama lain," tolak Melati halus yang mengerti maksud Arnon.


Pria itu tersenyum dan mengerti maksud istrinya.Arnon harus meyakinkan Melati lagi agar gadis itu benar-benar tahu jika dirinya bersungguh-sungguh ingin membina rumah tangga yang sesungguhnya dengan Melati.


"Aku paham! kita akan memulai hubungan ini dari awal! besok kita akan berkencan layaknya pasangan yang baru berpacaran,apa kau setuju?" tanya Arnon.

__ADS_1


Melati menganggukkan kepalanya tanda setuju.Mereka berdua berbaring saling berhadapan menikmati suasana romantis dan aroma wangi dari berbagai jenis bunga yang mengelilingi keduanya.


__ADS_2