Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 110


__ADS_3

Setelah bergelut dengan pikirannya yang meratapi nasib percintaannya, akhirnya taksi online yang di pesan oleh Agnez tiba.


Agnez langsung masuk masuk ke dalam taksi tersebut. Ia menatap ke arah pinggir jalan.


Suara ibu Pram yang meminta putranya agar pria itu cepat menikah dan memberikan cucu padanya selalu terngiang di telinganya.


Hatinya bagai di tampar tiada henti saat semua kejadian tadi mulai berputar tanpa ia minta dalam otaknya.


Tangannya tak sengaja menyenggol paper bag yang berisi selimut Pram yang tak sengaja ia bawa.


Air mata Agnez lagi-lagi menetes membayangkan orang yang ia cintai akan menjadi milik orang lain.


Agnez menutup wajahnya dengan kedua tangan yang mulai penuh dengan bekas air mata saat menunggu taksi datang.


Ponsel Agnez berbunyi. Teman kantornya menelpon dirinya.


"Halo," sahut Agnez.


"Apa kau masih butuh pekerjaan?"


"Apa ada lowongan pekerjaan untukku?" tanya Agnez mencoba bersuara senormal mungkin.


"Iya ada, Nez! tapi bukan di Indonesia."


"Terus dimana?" tanya Agnez lagi.


"Di Belanda! kau tahu sendiri bukan, jika negara itu penghasil bunga terbesar di dunia saat menjelang hari Valentine."


"Aku bekerja apa di sana?" tanya Agnez yang bingung dengan arah pembicaraan temannya itu.


"Aku dengar kau sempat menjual bunga, jadi kebetulan ada lowongan menjadi penjaga toko bunga di sana! lumayan lah gajinya, daripada kau hanya tetap disini."


Agnez mulai berpikir, mungkin ini jalan dari yang kuasa agar memantapkan hatinya untuk melupakan Pram.


"Baiklah! nanti aku akan membuat surat lamarannya," ujar Agnez dengan suara tak terlalu bersemangat.


"Hehehe, maaf ya, Nez! aku sudah dari jauh-jauh hari mengirimkan lamaran pada toko itu, aku tak sengaja menemukan file surat lamaranmu yang dulu terselip di laptopku."


"Astaga! jadi aku di terima atau tidak?"


"Di terima, Nez! dua hari lagi kau bisa berangkat! semua biaya di tanggung oleh pemilik toko itu, jadi kau hanya tinggal bekerja saja."


"Terimakasih! aku akan segera berkemas."


Panggilan diakhiri oleh keduanya. Agnez meletakkan kembali ponselnya pada tas jinjing yang ia bawa.


Agnez menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang. Kepalanya pusing. Ia bingung harus pergi ke Belanda atau tidak.


Hatinya tak ingin jauh dari Pram, namun pria itu tak mencintainya, bahkan Pram akan menikah dalam waktu dekat ini.


"Aku harus tetap pergi ke Belanda! mungkin ini jawaban dari doaku agar hati ini cepat membaik," gumam Agnez yang sudah mantap dengan pilihannya.


Taksi yang di tumpangi Agnez sudah sampai di depan pintu gerbang rumahnya.


Kakak tiri Melati itu turun dari taksi dengan paper bag yang masih ia pegang erat-erat.


Agnez melangkah masuk ke rumahnya. Saat sudah berada di dalam kamarnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Sungguh pagi ini sangat menguras emosinya.


Agnez meringkuk bagai bayi kesepian. Ia berusaha untuk tak memikirkan Pram lagi, namun otak dan hatinya tak mengikuti apa yang ia mau.


Agnez hanya berguling ke kanan dan kiri karena matanya tak ingin terpejam.


Karena tak kunjung bisa tidur, akhirnya ia lebih memilih mengeluarkan semua bajunya untuk ia masukkan ke dalam koper.


Saat semua bajunya sudah ia keluarkan, Agnez berkacak pinggang karena baju yang dapat ia pakai hanya beberapa saja, sedangkan yang lain semuanya baju seksi.


Agnez meletakkan semua baju pas body itu ke dalam sebuah kantong kresek besar. Ia akan menyimpannya di dalam gudang.


Baju yang menurutnya masih layak pakai, ia masukkan ke dalam ransel.


Yang awalnya ingin membawa koper, ia urungkan karena bajunya hanya beberapa saja.


Jika ia nanti sudah gajian, ia akan membeli baju di sana.


Semua perlengkapan yang sekiranya di butuhkan di tempat barunya sudah tertata rapi dalam ransel yang cukup besar tersebut.


Agnez meletakkan ransel itu di dalam lemarinya.


Saat hendak tidur, ia melihat paper bag yang berisi selimut Pram.


Ia menyentuh selimut itu. "Aku harus segera mengembalikan selimut ini."


Ide gila terlintas dalam pikiran Agnez. Ia mengutak-atik ponselnya.


Untung saja Melati mengirimkan alamat lengkap Pram beserta nomor ponselnya.


Ia menghubungi nomor Pram. 4 kali ia menghubungi Asisten Arnon itu, namun tak kunjung di angkat oleh pria datar tersebut.


Agnez mencoba untuk yang terakhir kalinya, jika panggilan yang kelima ini masih belum di jawab, maka rencananya akan ia urungkan.


"Halo!"


Satu kata itu membuat senyum Agnez tersungging sempurna.


"Ini aku, Agnez!"


"Ada apa?"


Nada bicara Pram langsung berubah drastis. Agnez tersenyum kecut mendapati kenyataan yang lagi-lagi tak berpihak padanya.

__ADS_1


Agnez mencoba setegar mungkin. Ia ingin membuat kenangan perpisahan dengan Pram sebelum dirinya berangkat ke Belanda besok lusa.


"Apa aku boleh meminta bantuan padamu?" tanya Agnez yang sedikit ragu.


"Bantuan apa?"


"Bisa kau bisa menemaniku mencari hadiah untuk, Papa?"


"Kau bisa cari sendiri kan? kenapa harus mengajakku? apa kau tak malu mengajak pria duluan."


Hati Agnez kembali terasa nyeri mendengar perkataan pedas dari mulut Pram.


"Aku tidak tahu jika berhubungan dengan kemeja dan kau pria, kau pasti lebih tahu bukan?"


"Kau ini ... sungguh merepotkan! jam berapa?"


"Apa besok kau ada waktu luang?"


"Besok aku free!"


"Baiklah! besok jam 9 kau jemput aku," ujar Agnez.


"Apa? jemput? kau kira aku ini supirmu?"


"Sekali saja! setelah itu aku tak akan merepotkanmu lagi."


"Aku akan pergi jauh dari hidupmu, agar kau bahagia dengan wanita yang sepadan denganmu."


"Huh, baiklah!"


Tut tut tut tut


Suara panggilan diakhir oleh Pram secara sepihak.


Di rumah keluarga Gafin, Melati dan Arnon berada di ruang belajar.


Pria itu tidur di pangkuan istrinya. Keduanya berada dalam satu sofa panjang yang sama.


Melati mengusap-usap rambut Arnon, sementara suaminya tengah asyik membaca naskah.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Melati pada suaminya.


"Tanyakan saja, Sayang!"


"Kenapa Pram belum juga menikah?" tanya Melati dengan rasa ingin tahu yang tinggi.


"Karena dia tak laku," sahut Arnon sekenanya.


Arnon mendapat cubitan manja pada perutnya. "Kau ini! aku serius."


"Sakit, Sayang!"


"Pasti ada alasan kenapa dia sampai tak laku kan? dia itu tampan, gagah, dan berkarisma, kurang apa lagi coba?"


"Bukan begitu, aku hanya menjelaskan padamu saja," kilah Melati.


Arnon mendudukkan dirinya. Ia merapatkan diri pada Melati.


"Jika aku menceritakannya padamu ... kau harus membayarku! bagaimana? deal?"


Melati memutar bola matanya jengah. Ia sudah tahu apa maksud suaminya.


"Baiklah! kau bisa meminta sepuasmu, Sayang!"


Senyum Arnon merekah kala ia mendengar ucapan istrinya yang memberikan lampu hijau padanya.


Arnon mengangkat tubuh Melati. Meletakkan gadis itu tepat di atas pangkuannya.


"Dulu Asistenku itu sempat berpacaran dengan seorang wanita cantik, seksi, dan terkenal di dunia hiburan, namun kisah cintanya tak berjalan lama, karena wanita itu hanya memanfaatkan koneksi Pram yang sangat luas mengenal semua orang dalam di industri hiburan tanah air! wanita itu meninggalkan, Pram! saat dirinya sudah go internasional, namun setelah 2 tahun kemudian, wanita itu di temukan meninggal di sebuah apartemennya dan di duga telah di bunuh oleh orang suruhan istri sah dari selingkuhannya."


"Jadi dia juga pernah pacaran?" tanya Melati yang masih tak percaya.


"Iya, tapi semenjak kejadian itu ... Pram mulai jijik dengan wanita yang mengumbar tubuhnya, karena ia mengira jika mereka ingin menggoda mata pria yang haus akan hingar bingar kenikmatan sesaat dan semua itu juga karena pengaruh masalalu percintaannya yang kelam."


"Bagaimana jika misi kita mendekatkan Pram dan kak Agnez gagal," ujar Melati yang mulai tak percaya diri menyatukan keduanya.


"Aku yakin! Pram pasti bisa jatuh cinta pada, Kakak Ipar! karena Pram sebelumnya tak pernah menatap seorang wanita seperti ia menatap, Agnez! setelah pria datar itu putus dari mantan pacarnya," jelas Arnon pada sang istri.


"Benarkah?" tanya Melati lagi.


"Sungguh, Sayang! dan sekarang kita sudah cukup membahas, Pram! kita harus membahas bagaimana bibit unggulku bisa segera tumbuh di rahimmu," tutur Arnon menatap bibir Melati penuh kilatan gairah yang tak dapat ia tahan lagi.


Gadis itu membusungkan dadanya. Sengaja menempelkan pada dada bidang Arnon yang terasa begitu kekar.


Pria itu menelusuri pinggang Melati. Menggerakkan setiap jarinya. Menciptakan sensasi nikmat bagi si empunya pinggang.


Arnon menarik tubuh Melati agar lebih menempel lagi pada tubuhnya.


"Apa kau sudah siap melayani suamimu?" tanya Arnon menatap lekat kedua mata Melati.


"Aku akan selalu siap kapan saja," sahut Melati menghembuskan napasnya tepat di bibir Arnon.


"Apa kau juga siap jika kita melakukannya dimana saja?" tanya Arnon masih berusaha menahan gairah yang mulai merangkak naik menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Aku siap kapan saja, Sayang! asalkan ada selembar kain yang bisa menutupi tubuh ini saat proses penyatuan kita," jelas Melati.


Cup


Arnon mengecup bibir istrinya sekilas, kemudian pria itu beranjak keluar dari ruang belajarnya.


Beberapa detik kemudian, Arnon sudah kembali membawa selimut tebal ke dalam ruang belajarnya.

__ADS_1


Pria itu mengunci pintu ruangan tersebut, agar orang lain tak dapat mengganggunya.


Melati masih bingung, kenapa suaminya membawa selimut ke ruangan itu.


Secepat kilat otaknya bekerja dan mengerti maksud dari suaminya sampai repot-repot membawa selimut setebal itu.


Arnon melempar selimutnya ke sofa secara sembarangan.


Ia mendekati istrinya yang masih duduk di sofa dengan santai.


"Apa kau sudah siap, Sayang?"


Melati melangkah mendekati suaminya yang berjarak beberapa langkah darinya.


Gadis itu menyentuh dada bidang Arnon dan lekukan otot pada dadanya terasa sangat nyata di telapak tangan Melati, meskipun dada bidang itu masih terbungkus kemeja putih.


"Menurutmu? apa aku masih belum terlihat siap?" tanya balik Melati pada suaminya.


"Menurutku, kau sudah sangat siap Sayang! bahkan kau juga sudah menunjukkan sisi nakalmu, Istriku!"


"Nakal pada suami sendiri bukankah akan membuatku mendapat pahala kerena telah berhasil membuatnya bahagia," ujar Melati semakin menjinjitkan kakinya dan ....


Cup


Kecupan Melati memulai permainan panas mereka.


Arnon mengangkat tubuh istrinya ke arah meja belajarnya dan mendudukkan Melati pada meja tersebut.


Melati mengalungkan tangannya pada leher Arnon. Gadis itu menarik manja rambut suaminya agar gelenyar aneh semakin membumbung tinggi dalam diri Arnon.


Keduanya saling membalas kecupan satu sama lain. Yang awalnya hanya lembut dan manis, kini mulai bertambah menuntut dan panas.


"Apa aku boleh melakukan di sini?" tanya Arnon meminta persetujuan Melati.


"Makasudmu ... di meja ini?" tanya Melati balik.


Arnon tersenyum sembari mengusap bibir istrinya lembut.


"Aku merasa tak nyaman jika di sini," tolak Melati halus yang memang dirinya takut jatuh, karena ia tahu bagaimana Arnon saat hilang kendali dalam menggempur dirinya.


Pria itu mengangkat tubuh Melati. Membaringkannya di atas sofa panjang yang cukup lebar.


Arnon membuka kemejanya. Membuangnya ke sembarang tempat.


Arnon menundukkan tubuhnya. Menindih tubuh Melati yang sudah siap menyerahkan dirinya untuk sang suami.


"Nampaknya, kita akan melewatkan makan malam hari ini, Sayang! apa kau tak keberatan?" tanya Arnon.


"Demi menumbuhkan bibit unggulmu di rahimku, aku rela, Sayang!"


Arnon tersenyum simpul. Pria itu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan tubuh Melati.


Hanya kepala yang terlihat. Entah apa yang dilakukan keduanya sampai bergerak-gerak tak beraturan, namun sedetik kemudian, semua benang yang menutupi tubuh mereka, terlihat melayang entah kemana.


Setelah pakaian itu melayang, yang terdengar di ruangan itu hanya napas yang saling bersahutan karena tenaga mereka di gunakan untuk menyenangkan pasangan masing-masing.


Olahraga sore sampai jam 1 satu malam terus di rasakan oleh keduanya. Mereka tak perduli dengan makan malam.


Karena dengan saling memadu kasih saja mereka sudah merasa kenyang.


Matahari mulai naik. Melati dan suaminya masih berada dalam satu selimut yang sama.


Keduanya masih terbaring di atas sofa dengan posisi Arnon di bawah dan Melati tidur di atasnya dengan posisi telungkup.


Arnon membuka sedikit kelopak matanya. Pria itu melihat kepala seorang gadis tengah menempel pada dadanya.


Hembusan napas halus mengenai permukaan kulitnya yang masih polos tanpa sehelai pakaian.


Hanya selimut tebal yang melingkari tubuh mereka berdua.


Arnon tersenyum sembari mengusap lembut pipi Melati.


Gadis itu nampak terlihat kelelahan. Arnon semakin tak tega membangunkannya.


Aktor tampan tersebut memilih memejamkan matanya kembali. Ia juga masih mengantuk karena pertempuran mereka yang sangat menguras tenaga.


Agnez telah bersiap dengan rambut tergerai indah, makeup yang natural, dan dress selutut berwarna merah.


Agnez menunggu Pram datang menjemputnya. Tak menunggu waktu lama. Suara klakson mobil terdengar di telinga Agnez.


Wanita itu langsung keluar dari dalam rumahnya. Mengunci pintu rumah itu dan berjalan ke arah mobil Pram.


Agnez duduk di kursi samping kemudi.


Wanita itu terus mengumbar senyumannya. Ia ingin hari ini menjadi hari perpisahan yang manis antara dirinya dan Pram.


Pram melajukan mobilnya ke arah butik ternama. Pria itu tak bersuara sedikitpun meskipun ada Agnez di sampingnya.


Agnez tahu, ini semua pasti akan ia alami. Dirinya tak ingin memikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang, bagaimana membuat hari ini terasa begitu indah karena setelah hari ini berakhir, maka hari esok, rasa cinta Agnez untuk Pram harus juga bisa berakhir.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Agnez basa-basi.


"Jika jam segini belum sarapan, aku bisa mati kelaparan," jawab Pram dingin.


"Kau bisa tidak? sehari saja berbicara lembut padaku," pinta Agnez lembut pada Asisten Arnon itu.


"Cara bicaraku memang begini! jika kau ingin mendengarku berkata lembut padamu, itu hanya mimpi."


Agnez hanya tersenyum menanggapi ucapan Pram padanya.


Hati Agnez lagi-lagi terasa perih bagai luka yang di siram larutan asam.

__ADS_1


"Heh, aku jadi semakin yakin! jika kau tak mungkin jatuh cinta padaku, meskipun aku sampai berdarah-darah memohon agar kau mau mencoba mencintaiku."


Agnez tak berani bertanya atau berlagak akrab pada Pram. Ia tak ingin merasakan hatinya kembali sakit mendengar ucapan pedas Pram padanya.


__ADS_2