
Sudah 3 hari berlalu, Sandra sudah boleh pulang satu hari yang lalu karena kondisinya memang sudah sebenar-benar stabil, sementara Marquez hampir tak pernah menjenguk kondisi wanita yang kini mulai perlahan terukir dalam hatinya.
Marquez harus kembali ke Amerika untuk mengurus pekerjaan di sana. Sandra tahu akan hal itu dari Zinnia.
Zinnia setiap haru datang menjenguk asistennya. Dia saat ini tak bisa terlalu lama di butik karena kondisi kehamilannya membuatnya lebih sering merasa mual.
Sandra saat ini berada di rumahnya. Besok dia sudah mulai bekerja kembali karena kondisinya sudah mulai prima.
Sandra mengutak-atik ponselnya. Menggulir layar ponsel itu ke atas dan ke bawah untuk melihat akun media sosial milik Marquez.
Nampaknya pria itu selama kembali ke Amerika, tak ada satu postinganpun di aku media sosialnya. "Apa dia sedang sibuk ya? ... eh, aku ini kenapa sih! bukankah itu urusan dia, ingin pulang atau ingin mencari jo ...."
Sandra menyentuh dadanya yang terasa ngilu. "Kenapa dada ini harus bereaksi saat aku ingin mengucapkan kata jo ...."
Sandra yang tengah dalam posisi berbaring di atas ranjangnya melempar ponselnya ke tempat tidur.
Asisten pribadi Zinnia itu memejamkan matanya dan bayangan wajah Marquez lagi-lagi terlukis dalam benaknya.
"Pergi! kenapa kau selalu berkeliaran di dalam otakku pria aneh! pergi! pergi!"
Sandra berteriak meminta agar bayangan wajah Marquez tak menghampiri kepalanya.
"Siapa yang kau suruh pergi?" tanya Nina pada adiknya.
Sandra terkejut segera menegakkan tubuhnya menjadi duduk. "A-aku hanya mengingat dialog drama yang aku tonton tadi, Kak!" Sandra mulai berkilah dari kakaknya.
"Memang drama apa yang kau tonton sampai harus ada dialog berteriak-teriak bagai orang kesetanan seperti itu, San!" tanya Nina yang memang benar-benar penasaran akan drama yang di tonton adiknya.
"Apa aku tanyakan pada kakak saja ya? tentang perasaan ini yang selalu teringat dan ingin bertemu dengan si pria aneh dari Amerika itu."
Sandra masih menimang-nimang untuk melancarkan aksinya.
"Begini resiko orang polos seperti aku dan Nona Zinnia yang tak pernah tahu rasanya jatuh cinta seperti apa!"
"Drama percintaan, Kak! si wanita itu meminta bayangan seorang pria yang ada dalam pikirannya itu agar segera pergi, dia tak tahu kenapa terus memikirkan si pria itu," jelas Sandra yang sebenarnya memancing Nina untuk memberikan jawaban dari kisahnya sendiri.
"Orang bodoh juga tahu, San!"
Sandra diam mematung mencerna ucapan kakaknya. "Orang bodoh? maksud kakak?" tanya Sandra penasaran.
"Kenapa aku bisa lupa! jika kau masih polos tak pernah tahu yang namanya jantuh cinta! jika wanita itu selalu memikirkan seorang pria, maka wanita itu sudah jatuh cinta padanya," jelas Nina sembari meletakkan aroma terapi pada kamar adiknya.
"Jadi aku termasuk orang bodoh yang tak bisa sadar kalau aku sudah ...."
"Kenapa diam, San? jangan-jangan kau yang mengalami itu semua," goda Nina pada adiknya.
Wajah Sandra sudah memerah karena godaan kakaknya. "Apa sih, Kak! bercanda kakak itu tidak lucu," sangkal Sandra.
__ADS_1
Nina hanya tersenyum sembari keluar dari kamar Sandra.
Ponsel Sandra berbunyi dan nama si pemanggil tertera sangat jelas di ponselnya.
Jantung Sandra terpacu lebih cepat lagi. Ia tak tahu kenapa itu bisa terjadi, padahal orang yang menghubunginya berada jauh dengannya saat ini.
Telapak tangan Sandra saat ini mulai basah dan dingin. Asisten cantik itu memejamkan matanya dengan ponsel yang ia genggam erat di letakkan di dadanya. "Tenang, Sandra! dia hanya meneleponmu, bukan ingin menyatakan cinta, jadi buang jauh-jauh pemikiran yang tak mungkin itu." gumam Sandra yang langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo!"
"I miss you, My women!"
Jantung Sandra terpompa lebih cepat dari biasanya. Ia mengira jika Marquez hanya ingin menggodanya, padahal kenyataannya, pria itu memang mulai suka padanya.
"Kau jangan terus merancuniku dengan bualan tak pentingmu itu, Tuan Copaldi!"
"Sungguh aku tak berbohong, Nona Asisten!"
"Tak berbohong apa?"
"Aku merindukanmu!"
Mata Sandra terpejam dengan napas yang sudah naik turun karena ungkapan dari Marquez bagai alunan nada indah yang menyapu lembut telinga terus menusuk ke hati.
"Jangan main-main, Tuan Copaldi! jika kau benar-benar mencintaiku, baru tahu rasa kau," Sandra meledek Marquez dan terdengar tawa kecil dari seberang ponselnya.
"Aku memang sudah mencintaimu!"
"Karena aku merindukanmu, Sandra!"
"Kau ...."
"Sudah dulu ya! aku akan segera kembali ke Indonesia dan akan melamarmu."
Napas Sandra tercekat karena ucapan Marquez yang tiba-tiba saja membuat syaraf tubuhnya berhenti melakukan kinerjanya.
"Hei, apa yang kau ...."
Tut tut tut tut tut
Panggilan lebih dulu diakhiri oleh Marquez tanpa menunggu kalimat Sandra selesai diucapkan.
Sandra menatap layar ponselnya dengan tatapan kesal bukan main. "Dasar pria yang seenaknya sendiri! sudah tahu aku belum selesai berbicara sudah main mengakhiri panggilan saja!"
Sandra meletakkan ponselnya kemudian ia mengambil guling dan memukul ponsel itu dengan guling empuknya dari saking kesalnya Sandra pada Marquez.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Zinnia dan William sudah berbaring di atas ranjang empuknya.
__ADS_1
William memeluk tubuh istrinya erat. Zinnia sudah berada di tempat ternyamannya saat ini.
"Aku merindukanmu, Sayang!" William mengecup puncak kepala istrinya.
Zinnia mendongak menatap ke arah William. "Bukankah kita sudah bertemu setiap hari?" tanya Zinnia yang memang tak paham akan maksud suaminya.
"Kenapa kau tak paham juga maksudku, Sayang! William junior ingin sekali bertemu dengan milikmu."
"Apa kau tak paham maksudku?" tanya balik William masih dengan posisi yang sama.
"Aku mengerti maksudmu, Sayang! kita memang sudah bertemu setiap hari bukan? dan sekarang kita juga sudah bertemu," jelas Zinnia dengan kata-kata polosnya.
William memejamkan matanya menahan sesuatu yang sungguh ingin di puaskan oleh Zinnia. Tanpa pikir panjang, William mengarahkan tangan Zinnia menyentuh sesuatu yang sudah menonjol pada bagian bawahnya. William sengaja langsung to the poin karena ia tak ingin banyak bicara yang tak membuahkan hasil.
Tubuh Zinnia menegang. Ia baru sadar jika rindu yang di maksud suaminya itu adalah rindu akan semalam suntuk meronda dengannya.
Zinnia tersenyum memeluk erat tubuh suaminya. "Aku masih cemas akan kondisi kedua anak kita, Sayang! aku juga merindukanmu, tapi jika anak kita kenapa-napa, bagaimana?" tanya Zinnia mencoba membujuk William agar dia mau mengurungkan niatnya untuk dua sampai tiga bulan ke depan.
William menghela napas panjang. Zinnia bisa mengerti maksud dari helaan napas panjang suaminya.
"Kasihan juga dia jika tak di beri reward meskipun hanya ciuman untuk malam ini! tapi jika dia meminta ciuman satu malam suntuk, bibirku bisa-bisa bengkak seperti di bogem orang sekampung."
Zinnia mendekatkan bibirnya pada telinga William. "Aku akan memberikan ciuman selamat malam saja! apa kau mau, Sayang?" tanya Zinnia dengan suara berbisik.
Tubuh William mulai merespon hembusan napas hangat Zinnia. Mata pria itu memejam sembari membayangkan ciuman yang di maksud oleh istrinya.
"Daripada tak dapat apa-apa, lebih baik aku menerima reward ini."
"Tapi saat anak-anak kita sudah kuat di dalam sana, aku akan memakanmu sampai kau meneriakkan namaku berkali-kali, Sayang!" William membalas bisikan panas istrinya.
Tatapan mata keduanya sudah bertemu. William menyentuh pipi istrinya dan ....
Cup
Kecupan singkat mengawali ciuman panas yang menggairahkan namun, keduanya masih bisa menahan napsu yang sudah bergejolak.
Tangan William tak enak diam. Tangan kekar itu menyentuh bagian dada istrinya yang terasa semakin membesar seiring bertambahnya usia kehamilan Zinnia.
William melepaskan ciumannya. "Kenapa lebih besar dari biasanya?" tanya William pada Zinnia dan Ibu hamil itu sontak memukul lengan suaminya.
"Dasar, Pria mesum! namanya juga orang hamil! jelas saja membesar karena untuk memberikan kedua anak kita ASI," jelas Zinnia pada suaminya.
William segera menepuk jidatnya karena ia mendadak bodoh jika sudah asyik bermesraan dengan istrinya.
"Kenapa aku bisa lupa ya?"
Zinnia cekikikan mengacak-acak rambut suaminya yang lebat. Zinnia gemas dengan tingkah laku William. "Bukan lupa, tapi mendadak bod ...."
__ADS_1
William segera membungkam mulut istrinya dengan kenikmatan dari bibir kenyal miliknya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.