
Ponsel Zinnia berdenting tanda sebuah pesan masuk.
Gadis itu langsung melihat ke arah ponselnya. Wajah Zinnia terlihat sangat bercahaya karena nomor ponsel suaminya sudah ia ketahui.
Zinnia langsung membuat nama kontak suaminya dengan nama "Suami mesumku".
Gadis itu memberi embel-embel suami karena ia takut jika seseorang melihat nama kontak suaminya saat orang lain tak sengaja membacanya.
Gadis itu berjaga-jaga terlebih dulu. Zinnia lebih memilih menyediakan payung sebelum hujan.
Gadis itu langsung menghubungi William.
"Halo!"
Zinnia sengaja bergeser lebih dekat dengan meja resepsionis rumah sakit itu agar para pegawainya tahu jika dirinya tak membual seperti para wanita yang menggilai suaminya.
"Jemput aku!"
"Zinnia?"
"Iya ini aku, SAYANG!"
"Kau ada dimana?"
"Aku ada di dekat meja resepsionis!"
"Baiklah! kau tunggu disana."
William langsung memutus panggilan dari istrinya.
Zinnia menunggu suaminya. Beberapa menit kemudian akhirnya William muncul dari balik pintu lift.
"Zi ...."
Ucapan pria itu terhenti karena ia lupa, jika saat ini dirinya berada di rumah sakit bukan di rumah.
William tersenyum manis pada sang istri.
"Sayang!"
Panggilan yang belum pernah ia ucapkan pada wanita manapun termasuk Marion, karena ia saat masih berhubungan dengan mantan calon istrinya itu, ia biasa memanggil dengan sebutan "Baby".
Zinnia menoleh ke arah suara bariton yang menggaungkan namanya namanya dengan nama panggilan kesayangan. Ia melihat sesosok pria tinggi, putih, tampan, dan senyum yang manis tengah melangkah ke arahnya.
Pria itu saat ini tampil sangat berbeda dengan dokter konsulen yang di kenakannya dan kacamata yang bertengger di kedua matanya membuat pria itu berjuta-juta kali lipat sangat tampan.
"Tuhan! apa seperti ini wujud malaikat di surga? ... Zinnia! apa yang kau lamunkan! bangun, Zi! bangun!"
Gadis itu membalas senyuman suaminya sambil melangkah mendekati William.
Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan dan orang-orang yang sedang berlalulalang di rumah sakit itu, termasuk para resepsionis yang tadi meragukan Zinnia.
Zinnia sudah berhadapan dengan suaminya. "Aku membawa bekal makan siangmu, Sayang!"
Semua orang yang mendengar kata sayang dari mulut Zinnia terkejut sekaligus patah hati masal bagi para kaum hawa yang mengagumi Hot Dokter itu.
__ADS_1
"Kita keruanganku sekarang," pinta William menarik tangan istrinya ke arah lift yang tadi ia gunakan untuk turun ke bawah menjemput istrinya.
Saat sudah berada di dalam lift, William melepas genggaman tangannya pada pergelangan tangan sang istri.
"Kenapa di lepas? apa kau hanya berakting di depan sana?" tanya Zinnia menatap ke arah William dan pria itu menatap lurus ke depan.
"Ya!"
Zinnia sedikit kecewa karena pria itu belum masuk dalam jeratannya. "Padahal aku kira kau sudah mulai menyukaiku! ternyata kau masih belum ada perasaan apapun padaku!"
"Sudah aku katakan padamu, kan! jangan terlalu percaya diri, karena aku ini bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta," cecar William dengan senyum simpulnya.
"Aku juga sudah pernah mengatakan padamu, jika aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, kan?"
"Terserah kau saja!"
William tetap menatap lurus ke depan. Pria itu sungguh mulai bersikap dingin lagi pada istrinya.
"Kenapa dia mulai cuek lagi padaku? tidak bisa! aku harus menarik perhatiannya."
Zinnia menarik tangan William agar menatap ke arahnya. Dan pria itu menatapnya. "Ada apa, Zi!"
"Bukan, Zi! tapi Sayang,' ujar Zinnia mengingatkan suaminya.
"Ini di dalam lift, bukan di luar!"
Zinnia memberikan kotak bekal milik suaminya. "Pegang ini," pinta Zinnia dan William menuruti permintaan istrinya.
"Ruanganmu di lantai berapa?" tanya Zinnia penasaran.
Zinnia melihat angka di lantai mana dia berada sekarang. Angka menunjukkan angka 11. Zinnia menjinjitkan sedikit kakinya karena ia menggunakan hells dengan tinggi 6 cm.
Gadis itu menyentuh pipi suaminya dan menempelkan bibirnya pada benda kenyal milik William.
"Sebentar lagi pintu lift akan terbuka," batin Zinnia.
Ting
Bunyi denting pintu lift terbuka. Para dokter yang ruangannya berada di lantai 12 hendak turun ke bawah di buat terbelalak melihat adegan ciuman secara langsung pemilik rumah sakit itu.
William diam mematung. Seperti biasa, pria itu terlihat sangat terkejut dengan tindakan Zinnia yang tiba-tiba menciumnya.
Kelima dokter itu tak berani mengganggu aktivitas intim pengantin baru yang baru menikah dua hari yang lalu.
Zinnia melepas ciumannya. Gadis itu mengusap lembut pipi suaminya. "Suatu hari nanti, kau yang akan sering memberikan hadiah ini padaku," tuturnya tersenyum manis pada William.
Mata pria itu tak sengaja melihat ke arah pintu lift dan disana sudah ada lima dokter yang menunggu dirinya dan Zinnia keluar dari lift tersebut.
William langsung menarik tangan istrinya membawa gadis nakal itu ke dalam ruangannya.
Kelima Dokter tadi melihat Zinnia dan William hanya bisa tersenyum. Kebetulan dokter-dokter itu pria semua.
Kelimanya masuk ke dalam lift bersama-sama.
"Sepertinya istri, Dokter William sangat ganas ya?" tanya salah satu dokter muda berkacamata tebal.
__ADS_1
"Sepertinya begitu! dia tadi sampai berjinjit menggapai bibir suaminya," sahut dokter lainnya.
"Aku jadi ingin menikah dengan gadis yang benar-benar mencintaiku seperti istri, Dokter William! pasti aku akan dilimpahkan kasih sayang dan pelayanan yang baik setiap malamnya!"
"Maklumi saja! mereka kan masih pengantin baru, wangi bunga melati masih sangat pekat diantara mereka berdua," celetuk dokter berkacamata tebal.
"Husss! kau ini ada-ada saja! jika perkataanmu di dengar oleh, Dokter William! habis kau," ujar dokter lainnya.
William dan Zinnia sudah berada di dalam ruangan Hot Dokter tersebut.
"Apa yang kau lakukan, Zi! aku malu sekali dilihat oleh dokter lainnya," tutur William frustrasi.
"Kenapa harus malu! aku kan sudah sah menjadi istrimu," bantah Zinnia yang merasa jika dirinya benar.
"Kau bisa kan melakukannya di ruanganku tanpa harus di dalam lift?
Zinnia tersenyum menatap suaminya.
"Jadi kau ingin kita melakukan disini?" tanya Zinnia.
Gadis itu yang awalnya berjarak beberapa langkah dari William, kini Zinnia mendekati suaminya yang menyandarkan bokongnya pada meja kebesarannya.
Kotak bekal yang masih berada di tangan William kini di ambil alih oleh Zinnia dan desainer cantik itu meletakkannya tepat di meja yang menjadi tumpuan tubuh suaminya.
Zinnia menyentuh dokter konsulen milik suaminya. Ia meraba bagian dada William dan tangan itu mulai turun tepat di bagian tulang rusuk suaminya.
"Apa kau tahu jika aku bagian dari tulang rusukmu?" tanya Zinnia pada William.
Rahang pria itu mulai mengeras menahan sesuatu yang ingin di puaskan dari dalam dirinya.
"Aku tidak tahu!"
Zinnia tersenyum manis menanggapi sahutan dingin dari William.
"Aku akan menunjukkan padamu, jika aku bagian dari tulang rusukmu, Pria mesum! jika kau tahan dengan apa yang aku lakukan, mungkin tulang rusukmu bukan aku, tapi jika kau tak tahan dan meminta ampun padaku, kau tahu sendiri kan jawabannya?"
Alis Zinnia sudah naik turun menggoda suaminya.
"Aku tak ingin memainkan permainan konyol itu, Zi!"
"Itu bukan konyol, Will! itu taktik untuk membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Zinnia blak-blakan.
Tanpa ragu Zinnia menggelitiki William sekuat tenaga.
Awalnya pria itu tak merespon atau bergerak, namun karena Zinnia semakin gencar menggerayangi tubuhnya, akhirnya tawa William menggema.
Zinnia terus menggelitiki suaminya tanpa ampun sampai pria itu memohon ampun padanya, "Ampun, Zi! kau yang menang! tolong lepaskan aku!"
Zinnia menjauh dari suaminya dengan senyum penuh kemenangan. Gadis itu hendak berjalan ke arah sofa yang berada di ruangan itu, namun saat Zinnia sudah berbalik, tiba-tiba tubuhnya di tarik menempel pada tubuh William.
"Apa ...."
"Sssstt! ini balasan untukmu karena kau sudah membuatku hampir terkencing di celana, Sayang!" William berbisik pada telinga istrinya.
"Kali ini aku bukan berstatus menjadi suamimu, tetapi menjadi guru private mu, murid nakalku."
__ADS_1
William menarik tengkuk Zinnia menempelkan benda kenyal miliknya pada milik sang istri.