Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 282 ( Season 2 )


__ADS_3

SPESIAL PART LEBIH PANJANG


Kini Marquez dan Sandra memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


Sandra tak bisa meninggalkan kakaknya terlalu lama. Ia masih memiliki tanggungan kedua keponakannya Jina dan Jihan.


Sandra dan Marquez sudah berada di jet pribadi milik suaminya.


Marquez sengaja bekerja sama dengan William dan Zinnia untuk mempersiapkan kamar malam pertama dirinya dan Sandra karena sudah beberapa hari belakangan ini setelah meninggalnya Niken membuat mood Marquez hancur.


"Apa kau lelah?" tanya Marquez pada istrinya yang tengah sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Tidak! aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," tutur Sandra pada suaminya.


"Kau berhenti berkerja saja," pinta Marquez membuat jari-jari tangan Sandra yang sedari tadi sibuk menggulir layar ponselnya terhenti.


Asisten cantik itu menatap ke arah suaminya. "Apa yang kau katakan?" tanya Sandra ingin memastikan jika telinganya salah dengar.


"Lebih baik kau berhenti bekerja saja! aku sanggup membiayai keluargamu, Sayang!"


Sandra menatap suaminya datar. "Saat ini bukan hanya menyangkut masalah kau sanggup atau tidak menafkahi keluargaku, tapi kau harus mengerti kondisi Nona Zinnia yang masih hamil muda! apa kau tak kasihan melihat ibu hamil harus kerepotan sendiri karena ditelantarkan oleh asistennya yang memilih pensiun dari tugasnya setelah ia menikah dengan pria kaya raya?" Sandra mulai berceloteh ria pada Marquez yang lebih dulu membangkitkan jiwa kicau burungnya bangkit.


Marquez menepuk jidatnya karena ia lupa jika Zinnia tengah hamil. "Maafkan aku! aku lupa jika Zinnia tengah hamil dan dia juga mendapatkan dua bayi sekaligus," ujar Marquez pada istrinya.


Sandra hanya bisa geleng-geleng kepala karena suaminya ini sudah memiliki riwayat penyakit pikun sejak dini.


Marquez mendekatkan duduknya ke arah sang istri. "Apa kau tak ingin memiliki anak?" tanya Marquez yang sudah berada tepat di samping Sandra dengan deru napas pria itu sudah dapat Sandra rasakan.


Sandra menoleh ke arah Marquez dan tatapan keduanya sudah menyatu. "Aku sangat menginginkannya, tapi bukan sekarang! karena pekerjaanku masih menumpuk, Sayang! jadi tunggu Nona Zinnia melahirkan dulu ya?" Sandra mencoba membujuk suaminya.


Marquez merengut kesal karena Sandra menolak keinginannya yang menginginkan anak secepat mungkin. "Kau jahat," rajuk Marquez memunggungi istrinya.


Sandra mengintip wajah Marquez namun, pria itu semakin menyembunyikan wajahnya agar Sandra tak bisa melihatnya.


Sandra mencolek bahu Marquez. "Marah ya?" tanya Sandra dengan suara meledek.


"Tidak!"


"Halah! dasar pria cupu! hanya begitu saja sudah marah! bagaimana nanti jika sudah memiliki anak dan aku tak boleh tidur denganmu selamat berbulan-bulan," goda Sandra dan Marquez menoleh ke arah sang istri. "Mana mungkin! kau pasti berbohong kan?" tanya Marquez yang tak ingin dibohongi oleh istrinya.


"Sayang! aku ini sudah dua kali melihat anak kecil tumbuh dari mulai ia bayi merah sampai Jina dan Jihan sudah sebesar itu! aku tahu karakter anak-anak seperti apa jika keinginan mereka tak di turuti, apalagi masalah orang tuanya, beh! jangan dianggap enteng, bisa-bisa mereka menangis tujuh hari, tujuh malam tak mau berhenti," bual Sandra yang membuat mulut Marquez menganga.


Sandra ingin sekali tertawa dalam hatinya.


"Menganga saja terus sampai hujan turun!"


Marquez masih tetap dalam posisi mulut menganga karena terkejut dengan perkataan istrinya.


"Tutup mulutmu, Sayang! nanti lalat Amerika yang ikut bertransmigrasi ke Indonesia masuk ke dalam mulutmu," ledek Sandra.


Marquez segera merapatkan bibirnya. Ia menatap ke arah Sandra penuh intimidasi. "Kau pasti berbohong kan? ayo jujur," desak Marquez menunjuk ke arah istrinya.


Sandra hanya bisa berakting sebaik mungkin. "Untuk apa aku berbohong padamu! jika kau tak percaya, kau bisa menanyakannya secara langsung pada Kak Nina saat kita sudah sampai nanti."


Sandra berkata seperti itu agar Marquez percaya padanya.


"Hihihi! rasakan kau, Tuan Copaldi! suruh siapa kau menganggu istrimu yang sedang bekerja ini! hah, rasakan akibatnya! pusing tujuh turunan kan!"


Sandra masih menatap ke arah wajah suaminya yang sepertinya sudah masuk ke dalam perangkapnya.


Marquez meletakkan telunjuknya pada keningnya yang sudah berkerut memikirkan perkataan sang istri.


"Jika aku memiliki anak sekarang juga, maka waktu bermesraan dengan Sandra akan lebih cepat, tapi jika aku memilih menunda lebih dulu, maka waktu berduaan dengannya akan lebih panjang ... tapi jika memang sudah di percaya untuk menjadi orangtua aku juga tak menolak."

__ADS_1


Marquez tersenyum simpul sembari menoleh ke arah istrinya. "Aku setuju untuk menunda memiliki anak," tutur Marquez pada Sandra dan sang istri mengacungkan jempolnya pada Marquez.


"Jangan senang dulu, Nyonya Copaldi! aku memiliki syarat untuk kesepakatan ini," ujar Marquez.


Sandra menoleh ke arah suaminya. "Kesepakatan apa?" tanya Sandra penuh selidik karena ia bisa merasakan jika suaminya ini tengah merencanakan sesuatu.


"Kau tak boleh memakai alat kontrasepsi apapun," sahut Marquez tersenyum penuh kemenangan.


Wajah Sandra yang saat ini di buat terheran-heran oleh pernyataan suaminya.


"Kau memang pria yang pintar rupanya! jika kesepakatannya seperti yang kau mau, itu sama saja kau membohongiku karena semua kesepakatan ini hanya bualan saja, Sayang!"


"Aku tak membual, Sayang! aku sudah pasrah kita menunda memiliki momongan kan?"


Sandra memutar bola matanya jengah. "Tapi jika aku mengikuti semua kemauanmu, aku akan tetap hamil jika tak menggunakan obat kontrasepsi apapun," celoteh Sandra.


"Jadi ...."


"Jadi kita harus menundanya sampai Nona Zinnia melahirkan bayi kembarnya dah aku akan menggunakan obat kontrasepsi! jika kau tak mau, maka tak ada jatah!"


Sandra kembali fokus pada layar ponselnya untuk mengurus beberapa laporan keuangan yang sudah dikirim oleh karyawan butik Zinnia.


Marquez masih memikirkan ucapan sang istri yang tak akan memberikannya jatah jika ia tak mengizinkan Sandra menggunakan obat kontrasepsi.


"Jika aku masih tetap pada pendirianku, maka burung kakak tua ini akan melajang sepanjang masa!"


Marquez akhirnya menghela napas panjangnya. "Baiklah! kau aku izinkan menggunakan obat kontrasepsi, tapi jatah wajib setiap malam! cuti paling sedikit seminggu satu kali dan satu hari 5 ronde," jelas Marquez penuh rasa percaya diri yang tinggi jika Sandra akan mengikuti semua keinginannya.


Sandra meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menghadap ke arah Marquez membenarkan posisinya agar nyaman saat berbicara dengan Marquez.


"Aku setuju dengan semua permintaanmu itu, Sayang! tapi kau harus tetap janji akan melakukan semua itu padaku tanpa absen seharipun,! ingat ya, Sayang! aku datang bulan kurang lebih dalam satu bulan itu seminggu dan untuk 5 ronde pehari, apa kau tak ingin tambah lagi menjadi 10 ronde sehari biar sekalian saja kau masuk rumah sakit karena lututmu bergetar tak bisa diam dan kau akan menjadi bahan tertawaan oleh para petugas medis karena kau terlalu buas di ranjang," cecar Sandra menaik turunkan alisnya pada Marquez.


Pria itu bergidik ngeri mendengar penjelasan istrinya. Sandra bukan menyetujui permintaannya, tapi dia mengancamnya secara tak langsung.


Marquez tersenyum kikuk mencoba membuat suasana mencair kembali. "Maaf, Sayang! aku lupa jika kau datang bulan dan ... untuk sehari lima ronde itu aku batalkan karena aku tak ingin berjalan bagai kakek-kakek yang sudah tak kuat berjalan karena lututku bergetar dan menjadi pembicaraan khalayak umum," sesal Marquez.


Sandra tersenyum karena ia berhasil menundukkan banteng yang tadi tengah mengamuk minta jatah berlebihan.


"Baiklah! kita bahas masalah itu nanti karena aku ingin tidur, tubuhku lelah," ujar Sandra pada suaminya yang memang kini keduanya berada di dalam kamar jet pribadi milik Marquez.


Di sebuah kamar hotel, William dan Zinnia tengah sibuk mendekorasi kamar pengantin yang akan di tempati oleh Marquez malam ini.


Pasangan suami istri itu begitu kompak bekerjasama untuk malam penjebolan gawang Sandra oleh Marquez.


"Kenapa dia tak meminta jasa orang untuk mendekorasi kamar ini? kenapa harus meminta bantuanmu," gerutu Zinnia kesal dengan Marquez karena menganggu hari liburnya bersama sang suami karena Zinnia juga ingin bermesraan menikmati kebersamaan bersama suaminya di rumah atau hanya ingin sekedar berjalan-jalan di taman atau di jalan sembari bergandengan tangan ala pasangan pada sebuah drama romantis.


William yang sibuk menata lilin di kamar itu menoleh ke arah istrinya. William tersenyum karena istrinya menggerutu sembari melempar kelopak bunga mawar sembarangan ke lantai karena waktu berduaannya bersama sang suami di ganggu oleh permintaan Marquez.


William mendekati Zinnia memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan dagu yang sudah bertumpu pada pundak ibu dari anak-anaknya itu. "Kenapa sih?" tanya William berpura-pura tak tahu, padahal ia sudah mendengar semua gerutuan istrinya.


"Kesal!" Zinnia menjawab pertanyaan suaminya penuh kekesalan luar biasa.


Cup


William mengecup pipi Zinnia dan si empunya pipi masih asyik menabur kelopak bunga mawar di lantai kamar hotel itu.


"Sayang! jangan kesal lagi ya!" William mencoba membujuk istrinya.


Zinnia tak menjawab apapun. Ia fokus melempar kelopak bunga itu ke lantai kamar hotel Marquez.


William bergerak berpindah tempat ke hadapan sang istri.


William mengangkat dagu Zinnia agar tatapan mata istrinya bisa bertemu dengan kedua manik matanya. "Jangan terlalu kesal! kasihan anak kita," ujar William pada Zinnia.

__ADS_1


Ibu hamil itu mengehela napas. Tatapan mata Zinnia turun ke arah perutnya yang sudah berjalan masuk angka 3 bulan. "Maafkan Mommy ya, Sayang! Mommy terlalu kesal dengan, Uncle Marquez! jadi kalian berdua jangan sampai mirip dengannya ya," ujar Zinnia mengusap perutnya yang masih rata.


William tersenyum karena sang istri akhirnya mau mendengarkannya. "Manis sekali sih istriku ini," goda William sedikit membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang sudah bertumpu pada kedua lututnya.


Zinnia menatap ke arah sang suami. "Apa perlu aku buatkan kopi tanpa gula?" tanya Zinnia pada William.


"Kopi?" tanya William dengan mata yang mulai menyipit karena tak mengerti maksud dari perkataan sang istrinya.


"Iya! aku akan membuatkanmu kopi tanpa gula karena istrimu ini sudah manis, jadi kopi itu pasti akan terasa manis juga jika suamiku yang paling tampan ini meminumnya dihadapanku," jelas Zinnia menangkup wajah William.


Pria itu tersenyum manis pada istrinya. "Pasti aku akan langsung menyemburkan kopi itu, Sayang!"


Zinnia tersenyum sembari mencubit manja ujung hidung William. "Lain kali tak usah berlagak menggombal di hadapanku karena aku bukan tipe wanita yang dirayu sedikit saja langsung meleleh, Sayang!"


William menegakkan tubuhnya mendekati Zinnia, memperdekat jarak tubuh mereka sampai tubuh keduanya menempel sempurna. "Sungguh kau tak akan meleleh jika aku merayumu?" tanya William dengan tangan kanan menyentuh bibir Zinnia dan tangan kirinya melingkar posesif pada pinggang sang istri.


Zinnia hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Wajah William mulai mendekati wajah sang istri. Terpaan napas hangat William mengenai permukaan wajah Zinnia. "Aku merindukanmu, Sayang! sangat merindukanmu!" William sengaja berbisik untuk menggoda istrinya. Ia tak ada niatan untuk melakukan hal lebih jauh dari itu namun, respon Zinnia berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan.


Zinnia melingkarkan kedua tangannya di leher William. Ujung hidung keduanya sudah saling bersentuhan satu sama lain. "Aku lebih merindukanmu, Sayang! apa kau percaya dengan kekuatan hormon ibu hamil?" tanya Zinnia pada suaminya sembari terus memainkan ujung hidungnya dengan ujung hidung William.


"Apa Zinnia menginginkannya?"


Tanpa pikir panjang, desainer cantik itu menempel bibirnya pada bibir William.


Zinnia melahap apa saja yang ada di dalamnya dan mengobrak-abrik bagai orang yang kelaparan tak pernah diberi jatah.


Zinnia menggiring tubuh William ke arah ranjang kamar hotel itu. Tangan William melingkar erat pada pinggang sang istri.


Saat Zinnia sudah merasa kaki William menyentuh bibir ranjang, Zinnia melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh suaminya tepat ke arah tengah ranjang itu.


William menatap tak menyangka jika Zinnia berinisiatif kali ini. Tatapan mata Zinnia sudah di penuhi akan kabut gairah ingin melahap suaminya. "Jangan coba-coba bermain denganku, Sayang!"


Zinnia merangkak naik. Kini ia sudah berada di atas menduduki tubuh suaminya. "Mau di lanjut?" tanya Zinnia yang memang sengaja menggoda William.


William masih menatap sang istri mulai dari wajah sampai kaki Zinnia dengan pose yang membuatnya ingin menggarap Zinnia seharian tanpa ampun, tapi William masih takut terjadi sesuatu terhadap kedua calon anaknya.


Dokter tampan itu memejamkan matanya dengan tangan yang terlentang pasrah. "Aku sangat menginginkannya, Sayang! tapi aku tak ingin anak-anakku kenapa-napa," tutur William yang masih memejamkan matanya.


Zinnia merundukkan tubuhnya sampai bagian dadanya menyentuh dada William. "Sebagai gantinya kau boleh menciumku sampai puas," bisik Zinnia pada suaminya.


Ibu hamil itu menjauhkan sedikit wajahnya. Mata Zinnia dan William kembali bertemu.


William menyentuh wajah sang istri, menyelipkan anak rambut yang menyembul keluar pada bagian belakang telinga Zinnia. "Kau sangat cantik sekali, Sayang! aku sangat mencintaimu," tutur William mendekatkan wajahnya pada wajah Zinnia.


William menyatukan bibirnya memakan benda kenyal milik sang istri yang membuatnya candu sampai tubuh William berasa melayang.


Tangan William yang sudah melingkar di pinggang Zinnia bergerak sendiri ingin mengangkat dress selutut yang dikenakan oleh istrinya namun, Zinnia menahan tangan suaminya. Ciuman mereka terlepas dengan mata saling tatap. "Cukup sampai disini saja, Sayang! setelah janin kita sudah cukup kuat, kau boleh mengunjunginya kapanpun kau mau," tutur Zinnia mengecup kening William lembut.


Zinnia beringsut dari atas tubuh suaminya. Ia membenarkan dress selututnya yang sudah berantakan. Beruntungnya dress itu masih melekat pada tubuhnya.


William bangun dengan posisi terduduk dan tersenyum mengingat apa yang mereka lakukan tadi.


Zinnia bingung dengan sikap suaminya. "Kau kenapa, Sayang?" tanya Zinnia sembari membenarkan posisi lengan bajunya yang sudah naik sebelah.


"Aku tak bisa membayangkan jika kita benar-benar melakukannya tadi karena kamar ini bukan akan menjadi malam pertama bagi, Marquez dan Sandra! tapi akan menjadi malam kedua kita karena dekorasi kamar ini mengingatkan aku akan malam pertama kita berdua," sergah William sembari menghampiri istrinya.


William memeluk tubuh Zinnia erat. "Aku mencintaimu, Sayang!"


Zinnia membalas pelukan suaminya. "Aku juga mencintaimu, Sayang!"


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.

__ADS_1


__ADS_2