
Melati dan Arnon sudah berada di dalam sebuah butik yang menjual baju ibu hamil.
Sebenarnya, Arnon bisa saja meminta Susan untuk membuatkan baju khusus untuk Melati. Karena ia tak ingin merepotkan ibunya, Arnon lebih memilih membeli saja.
Susan juga saat ini tengah sibuk merancang busana untuk di pamerkan di acara peragaan busana bergengsi di Amerika.
Arnon dan Melati mulai mencari baju yang cocok untuk istrinya.
Pria itu sudah memilih 20 potong baju dress dengan warna yang berbeda pula.
Arnon masih terus memilih baju yang sekiranya cocok untuk istrinya. Karena 20 baju saja tak cukup, mengingat Melati tak memiliki baju hamil sama sekali.
Berbelanja memang bukan hobi Melati, jadi meskipun dia sudah melihat-lihat baju di butik itu, Tak ada yang bisa membuat matanya benar-benar ingin memiliki salah satu dari baju yang harganya sudah tak perlu ditanyakan lagi.
"Semua baju ini, tolong bawa ke meja kasir," pinta Arnon pada dua pelayan yang berada di dekatnya.
Kedua pelayan itu langsung membawa 30 potong baju ibu hamil yang sudah Arnon pilih.
Melati melihat ke arah pelayan yang melewati dirinya. Tatapannya beralih pada sang suami yang juga menatapnya.
"Untuk siapa baju hamil sebanyak itu?" tanya Melati pada Arnon.
"Itu semua untukmu, Sayang! aku tak ingin melihat anakku sesak napas di dalam sana, jika kau masih memakai baju yang sudah tak muat itu," jelas Arnon menggandeng tangan Melati menuju arah kasir.
Saat sudah sampai di meja kasir, ternyata baju yang di pilih Arnon masih belum selesai di total karena bajunya masih tinggal separuh yang belum selesai.
"Baju itu terlalu banyak, Sayang! aku tak mungkin memakai semuanya," bisik Melati pada Arnon.
"Kau harus memakai semua itu, jika perlu sehari kau ganti baju 5 kali saja," sahut Arnon dengan suara yang juga setengah berbisik pada sang istri.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya semua baju sudah selesai di total.
Arnon memberikan black card pada kasir tersebut untuk membayar semua baju hamil istrinya. Tak sembarang orang yang bisa memiliki kartu platinum itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kartu tersebut.
Saat kasir tersebut menerima kartu berwarna hitam itu dari Arnon, kasir itu tercengang. Ia berpikir jika wanita yang berada di sampingnya sungguh wanita paling beruntung di Negeri ini, karena bisa menikah dengan aktor tampan yang juga tajir melintir seperti Arnon.
__ADS_1
Setelah selesai proses transaksi, kasir itu memberikan kembali kartu milik Arnon.
Pria itu memberi kode pada anak buahnya yang selalu setia menjaga keamanannya. Arnon menyuruh mereka agar membawa 4 paper bag ke mobil.
Arnon dan Melati sudah berada di dalam mobil dengan keempat rodanya sudah bergulir di tengah jalanan.
"Kita makan dulu, kau ingin makan apa, Sayang?" tanya Arnon sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Terserah kau saja, Sayang! yang penting aku kenyang," sahut Melati dengan cengiran kudanya.
"Baiklah! ke restoran jalan Semanggi ya, Pak!" ujar Arnon pada supir pribadinya.
"Baik, Tuan!"
Cukup lama mereka melintasi jalanan, akhirnya mobil yang di tumpangi Arnon dan istrinya berhenti di sebuah restoran seafood.
Mereka berdua turun dari mobil berjalan masuk ke dalam restoran seafood tersebut.
Melati dan Arnon sudah berada di sebuah meja sembari memilih menu yang akan mereka santap.
Seorang pelayan pria masih menunggu Melati dan Arnon memilih menu yang akan di pesan.
"Saya pesan gurame bakar madu, cumi balado, kepiting asam manis pedas, dan lopster kuah santan! minumnya, lemon tea! satu lagi, Mas! nasinya dua porsi ya!" Melati sudah memilih menunya yang membuat Arnon tercengang.
"Kau sungguh memesan itu semua, Sayang?" tanya Arnon masih tak yakin dengan apa yang ia dengar tadi, jika sang istri memesan semua makanan yang bisa di makan untuk porsi 4 orang.
"Iya, Sayang! air liur dalam mulutku rasanya keluar begitu derasnya saat melihat semua makanan itu," jelas Melati dengan wajah super antusias.
Arnon tersenyum mendengar penjelasan istrinya. "Kau harus menghabiskan semua makanan yang kau pesan ya?"
"Siap, Komandan! perintah anda akan saya laksanakan," sahut Melati dengan senyuman manisnya.
"Kau mau pesan apa?" tanya Melati pada suaminya.
"Astaga! aku sampai lupa! Saya pesan udang crispy saus pedas, ikan kakap kuah kuning, nasi satu porsi, dan minumannya jus jeruk! maaf ya, Mas! jadi menunggu lama," tutur Arnon pada pelayan pria itu.
__ADS_1
"Tak apa-apa, Tuan!"
Setelah pelayan beranjak dari meja Arnon dan Melati, mata ibu hamil itu tak sengaja melihat ke arah meja yang di tempati oleh dua orang yang ia kenal.
Melati mengucek matanya untuk memastikan jika ia tak salah lihat. Melati menepuk kecil tangan Arnon. "Sayang! coba kau lihat itu! sepertinya kita kenal dengan pelanggan yang duduk di sana," tunjuk Melati pada sepasang manusia beda jenis yang tengah tertawa bahagia.
Arnon mengikuti arah tangan Melati yang tertuju pada sebuah meja dengan penghuni sepasang manusia yang terlihat begitu bahagia.
Arnon tersenyum kecut saat ia tahu siapa kedua orang itu.
"Hah, pantas saja aku mengirim pesan padanya tak di baca, ternyata dia sedang berkencan rupanya! aku kira orang seperti dia tak butuh wanita di sampingnya, ternyata dia haus akan belaian juga," gumam Arnon tersenyum geli kala ia mendengar ucapannya sendiri yang membuatnya merasa ingin tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa yang kau katakan tadi? mereka sedang berkencan? kapan mereka berdua pacaran? kenapa aku tak tahu?" tanya Melati dengan pertanyaan yang menggunung untuk suaminya.
"Aku juga tak bisa memastikan mereka sejak kapan menjalin kasih, Sayang! bagaimana kalau kita ke sana saja, sambil menunggu pesanan datang," tutur Arnon pada Istrinya.
Melati mengangguk dengan gerakan mantap, dia juga ingin tahu kebenarannya.
Melati dan Arnon berjalan ke arah meja sepasang manusia yang sedang asyik berbincang diiringi gelak tawa kebahagiaan.
Saat keduanya sudah berada tepat di meja pasangan misterius itu, kedua tangan Melati berada di pinggang, sedangkan tangan Arnon sudah terlipat indah di kedua dadanya.
Pasangan misterius itu menoleh secara bersamaan ke arah Arnon dan Melati dengan wajah sama-sama tersenyum kikuk.
"Pantas saja pesanku tak kau baca! ternyata kau sedang asyik berkenan rupanya ya?" Arnon mulai membuka suaranya.
Melati tak bertanya apapun pada pihak wanita yang sedang duduk dengan tangan gemetar karena telah ketahuan berkencan tanpa ada orang yang tahu hubungannya dan sang kekasih.
Melati hanya tersenyum pada wanita itu. Dan wanita itu tahu arti senyuman Melati yang meminta penjelasan darinya.
Kedua pasangan misterius yang awalnya tentram aman dan damai saat baru datang ke restoran itu, kini mereka berdua cemas dengan tangan yang sama-sama gemetar setelah kedatangan Melati dan Arnon.
Kedua pasangan suami istri itu bagai gelombang tsunami yang menerjang apa saja yang ada di depan mereka.
Tatapan Melati dan Arnon bagai kilatan petir yang siap kapan saja menyambar apapun yang mereka tatap.
__ADS_1