Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 166 ( Season 2 )


__ADS_3

Zinnia mulai menggerakkan bibirnya dengan gerakan yang terbilang teramat sangat amatir karena gadis itu sungguh tak tahu apa-apa dalam masalah berciuman. Ia hanya melihat dalam adegan film atau drama yang pernah di tontonnya.


William masih diam mematung dengan kedua mata yang masih senantiasa terbuka lebar karena pria itu masih syok.


William tak menyangka jika istrinya berani melakukan ini padanya.


Gerakan bibir Zinnia sungguh sangat kaku sampai bibir pria itu sempat tergigit dan saat itu pula William tersadar dari rasa keterkejutannya.


William ingin sekali tersenyum, namun ia tahan karena takut menganggu aktivitas Zinnia yang menurutnya masih dalam tahap belajar.


Karena gerakan bibir gadis itu semakin tak beraturan membuat William mendorong sedikit bibirnya agar terlepas dari bibir Istrinya.


Mata Zinnia masih terpejam dengan napas yang naik turun tak beraturan.


Perlahan mata gadis itu terbuka menatap ke arah suaminya yang kini tengah memandang ke arahnya sambil tersenyum simpul.


"Apa ini ciuman pertamamu?" tanya William dengan tangan yang berada di pinggang Istrinya memeluk tubuh Zinnia begitu erat karena takut jika gadis itu terjatuh dalam posisi yang masih tetap bergelantungan dalam gendongannya.


Sebenarnya itu juga ciuman utama William, namun pria itu tak ingin Zinnia mengetahuinya.


Wajah Zinnia memerah. Gadis itu sangat malu karena ketahuan jika ini merupakan ciuman pertamanya.


Zinnia sudah memperkirakan jika pria itu tahu karena ciumannya pasti terasa sangat kaku dan tak bisa membuat William terhanyut oleh belaian bibirnya.


"Itu bukan urusanmu, Pria mesum!"


Wajah Zinnia tertunduk ke bawah karena ia tak ingin William tahu jika dirinya saat ini sungguh merasa sangat malu pada suaminya.


William hanya tersenyum karena ia sudah tahu dari cara Zinnia menciumnya tak ada kelihaian sama sekali pada bibir milik Istrinya.


"Jadi aku pria pertama yang mendapatkan bibirmu itu?" tanya William lagi yang membuat mata Zinnia menatapnya dengan bidikan mata tajam.


"Kau cerewet sekali, Pria mesum!"


"Kau atau aku yang mesum? siapa tadi yang mencoba menciumku dengan ciuman pertamanya yang sangat amatir itu," ledek William terkekeh.


Zinnia menari kecil rambut suaminya karena akses kedua tangannya sangat leluasa untuk menjambak rambut William, namun gadis itu hanya menarik kecil saja.


William meringis kesakitan. "Kenapa kau menarik rambutku?" tanya William kesal.

__ADS_1


"Kau sendiri yang mencari gara-gara padaku, Pria mesum!"


"Memang benar kan? jika ciumanmu tadi sangat amatir," cecar William lagi yang membangkitkan amarah Zinnia.


Gadis itu bergerak minta ingin turun dari gendongan suaminya, namun William malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Zinnia.


"Mau apa kau, Gadis cerewet! apa kau mau kabur karena tak bisa menciumku dengan benar," ledek William lagi.


"Ya! aku ingin kabur darimu! dan kau juga benar jika itu ciuman pertamaku dan ciuman itu juga sangat amatir, karena aku tak tahu apa-apa tentang yang namanya berciuman! apa kau puas dengan penjelasan yang aku lontarkan padamu," teriak Zinnia yang memukul bahu William cukup keras sampai pria itu melepaskan pelukannya pada pinggang sang istri.


Zinnia menatap kesal ke arah suaminya, kemudian hendak melangkah pergi dari taman itu, namun suara bariton William mengentikan niatnya. "Mau kemana kau?" tanya William menggoda Istrinya lagi.


"Bukan urusanmu! yang jelas aku akan mencari seorang guru private! untuk mengajariku cara berciuman yang benar," tutur Zinnia sekenanya dengan posisi gadis itu masih membelakangi suaminya.


Deg deg deg


Jantung William tiba-tiba saja bereaksi saat mendengar ucapan Zinnia.


Pria itu mencoba menenangkan dirinya agar tak terpancing oleh perkataan istrinya yang ia yakini hanya sebuah perkataan sesaat saja.


"Mana ada guru private yang mengajari orang berciuman! dasar aneh!"


Pria itu membayangkan jika sang istri hanya di sentuh tangannya saja dirinya merasa tak rela dan kepalanya seakan mendidih saat ia membayangkan hal yang lebih dari sekedar berpegang tangan saja.


"Tidak bisa! pasti semua lelaki mau menjadi guru private, Zinnia! kucing mana yang akan menolak jika diberi satu ekor ikan salmon utuh."


"Kau tidak boleh kemana-mana!" William kembali menyuarakan apa yang ada dalam otaknya agar Zinnia tak melanjutkan niatnya.


"Itu bukan urusanmu, Pak Dokter! kau tunggu aku di rumah saja! besok aku akan pulang dan membuatmu menikmati ciumanku yang sudah handal ini," tolak Zinnia melangkahkan kakinya dan William kembali berteriak sekencang-kencangnya membuat tubuh Zinnia kaku mematung seketika, "Berhenti, Zi!"


Gadis itu sempat takut akan teriakan suaminya, namun ia memberanikan diri bertekad menaklukkan William secepat mungkin.


Zinnia kembali melangkah kakinya dan pada saat yang bersamaan, William dengan wajah dinginnya juga ikut melangkah mengejar sang Istri.


Pria itu berjalan dengan langkah yang sangat lebar untuk mengejar Zinnia.


Saat William sudah berada tepat di belakang istrinya, pria itu menarik tangan Zinnia sampai tubuh gadis itu berada dalam dekapan William.


Tangan William melingkar erat pada pinggang sang Istri begitu pula dengan tangan Zinnia yang sudah bertumpu pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zinnia dengan nada kesal.


"Aku tak mengizinkan kau pergi, Zi!"


"Biarkan aku pergi dan aku akan membuktikan padamu jika aku juga bisa membuatmu menikmati ciumanku," bujuk Zinnia agar suaminya mau membiarkannya pergi.


"Tidak akan pernah, Zi! kau tak boleh kemana-mana! aku yang akan mengajarimu cara berciuman yang benar," tutur William menatap mata gadis itu dalam dan penuh keyakinan.


"Tapi ...."


"Taka ada kata tapi! kau harus mengikuti semua apa yang aku perintahkan."


"Aku tidak mau! aku akan belajar pada orang lain saja! kau pasti akan memarahiku jika aku tak cepat bisa belajar," tutur Zinnia menengadahkan wajahnya menatap kedua manik mata suaminya.


Pria itu tersenyum menempelkan keningnya pada kening sang istri.


"Aku janji tak akan marah padamu jika kau tak cepat belajar! aku akan terus mengajarimu sampai kau mahir, Zi! tapi kau harus janji padaku, kau tak boleh meminta bantuan hal seperti ini pada pria lain selain aku! apa kau mengerti?" tanya William pada Zinnia.


"Kenapa harus dia yang mengajariku? tapi tak apa sih! dengan begitu aku juga bisa belajar dan dia juga akan cepat takluk padaku."


"Baiklah! jadi kau mulai hari ini yang akan menjadi guru privateku."


"Kau juga harus tahu satu hal, Zi! aku hanya ingin sekedar mengingatkan padamu! jangan sampai kau jatuh cinta padaku karena kita pasti akan sering melakukan adegan itu," goda William mulai menyatukan ujung hidungnya dengan hidung sang istri.


Zinnia melingkarkan tangannya pada leher suaminya sambil tersenyum.


"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu! kau yang pasti lebih dulu bertekuk lutut padaku, Aiden William Pattinson!"


Zinnia berinisiatif mendekatkan bibirnya terlebih dulu pada suaminya, namun sebelum bibir itu menempel sempurna, William kembali bersuara, "Aku akan mengajarimu saat ini juga dan kau harus mengikuti apa yang aku lakukan."


William menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. Pria itu perlahan menggerakkan bibirnya ke atas dan bawah dengan gerakan lembut dan sangat pelan agar Zinnia bisa mengikuti apa yang telah ia lakukan.


William menghentikan gerakannya. Ia memberikan isyarat agar Zinnia melakukan apa yang sudah tadi ia ajarkan.


Gadis itu tanggap akan maksud sang suami. Ia mulai mengikuti apa yang dilakukan William.


Kini ciuman Zinnia mulai meningkat satu tingkat saja meskipun masih kurang mahir, namu sudah lebih baik dari sebelumnya.


William ikut terhanyut dengan permainan Zinnia sampai pria itu tak tahan ikut membalas ciuman istrinya.

__ADS_1


Hanya pergerakan biasa saja tanpa ada pertukaran saliva, karena William akan mengajarkannya pada sang istri secara bertahap.


__ADS_2