
Edward melajukan mobilnya menuju ke arah rumah William. Wajah tampan yang sudah sedikit menua itu terpancar aura kemenangan luar biasa.
Mobilnya memasuki halaman rumah keponakannya. Edward kali ini harus bergerak cepat sebelum William kembali karena si pemilik rumah masih berada di rumahnya.
Ia sengaja keluar tanpa berpamitan pada Salma dan William.
Setelah mobilnya terparkir di halaman rumah megah keponakannya, beberapa orang telah menunggunya di depan teras.
Edward mendekat ke arah orang-orang itu. "Ayo kita masuk!"
Tanpa menunggu waktu lama, 5 orang yang di tugasnya oleh Edward untuk memasang CCTV di seluruh ruangan rumah William, kecuali kamar pria itu yang akan menjadi kamar pengantin besok malam.
"Aku harus melakukannya ini semua, karena aku sudah pernah belajar dari kisah pernikahan Melati dan Arnon yang harus pisah kamar karena hasil perjodohan," gumam Edward sambil mengamati para tukang CCTV itu.
Dari lantai atas sampai lantai paling dasar, semua tak luput dari CCTV untuk memantau gerak gerik William dan Zinnia.
Edward melakukan itu semua agar ia tak kecolongan. Pasalnya kedua manusia beda jenis itu tak pernah bertemu tapi langsung menikah, jadi Edward mengantisipasi saja kemungkinan terburuk agar tidak terjadi.
Setelah semuanya beres, Edward segera pergi dari rumah itu agar ia tak ketahuan oleh William. Ia sendiri nanti yang akan memberitahu keponakannya perihal keberadaan CCTV tersebut.
Sudah jam 12 malam, tapi Zinnia dan William tak bisa tidur. Mereka berdua yang berada di kamar masing-masing masih berguling ke kanan dan kiri.
Besok keduanya akan melepas masa lajangnya. Masa dimana keduanya akan berstatus menjadi suami dan istri.
Zinnia menutup wajahnya dengan selimut sampai seluruh tubuhnya tenggelam di dalam selimut tebal tersebut.
William menutup wajahnya dengan bantal agar rasa kantuk cepat menghampirinya.
Keesokan harinya.
Seorang pria tampan dengan setelan jas berwarna hitam tengah duduk sembari tangan kanannya menjabat tangan Arnon yang tak lain wali dari Zinnia.
Penghulu yang berada di samping Arnon memulai acara akad nikah yang dilaksanakan tepat jam 10 pagi WIB.
Mempelai wanita tak hadir pada acara akad nikah, hanya mempelai pria saja yang hadir.
"Bagaimana saudara, William? apa anda siap untuk memulai akad nikahnya?" tanya Bapak penghulu.
"Iya, Pak! saya siap." Dengan wajah yang masih sedikit gugup.
"Baik, silahkan jabat tangan wali dari mempelai wanita," pinta penghulu tersebut.
Tangan William sedikit bergetar saat ia mencoba menjabat tangan Arnon.
__ADS_1
"Santai saja, Nak! anggap saja tak ada orang yang melihatmu, hanya ada kita berdua," ujar Arnon memberi semangat pada William yang sebentar lagi akan menjadi menantu sahnya.
William menarik napas panjang, kemudian menghembuskan secara perlahan.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Arnon dan William mengangguk.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Zinnia Putri Marvion Gafin binti Arnon Marvion Gafin dengan seperangkat alat sholat dan cincin berlian di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Zinnia Putri Marvion Gafin binti Arnon Marvion Gafin dengan seperangkat alat sholat dan cincin berlian dibayar tunai."
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu pada para saksi yang terdiri dari kedua orangtua mempelai dan sanak saudara yang lain.
"Sah!"
"Sah!"
Penghulu membacakan doa setelah proses ijab qobul selesai dan kedua mempelai sudah dah menjadi suami istri.
Melati tersenyum sembari meneteskan air mata, begitu juga dengan Salma yang teringat akan kedua orangtua William.
Edward memeluk William erat. Pria yang di panggilnya Daddy oleh William menahan air matanya agar tak meluncur bebas dari begitu saja.
"Selamat ya, Will! kau sekarang sudah menjadi kepala rumah tangga dan kau harus menjaga istrimu dengan baik," ujar Edward.
Seorang wanita cantik dengan balutan gaun yang sangat indah berwarna putih tengah menghadap ke arah gedung pencakar langit yang berjejer di hadapannya.
Gaun yang di kenakan gadis itu mengembang sempurna dengan aksen bagian bawahnya membentuk kelopak bunga mawar putih yang sangat indah.
Saat gaun itu terbentang di atas lantai, terlihat begitu indah dan Zinnia yang berada di tengah-tengahnya bagai seorang putri yang tengah terkurung oleh kelopak bunga yang mengelilinginya.
Rambutnya di buat seindah mungkin karena hari ini hari yang paling di tunggu seluruh pasangan yang akan membangun rumah tangga bahagia mereka.
Riasan wajah tak terlalu menor. Zinnia ingin yang sedang-sedang saja karena gaun yang di buat oleh Susan sudah sangat mewah.
Zinnia berjalan secara perlahan ke arah cermin yang menampakkan dirinya dari arah atas sampai bawah.
Zinnia tersenyum melihat pantulan dirinya yang nampak cantik mengenakan gaun berwarna putih itu.
"Semoga rumah tanggaku juga bisa seindah gaun ini, meskipun aku tak tahu wujud suamiku seperti apa," gumamnya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Saat Zinnia melihat nama orang yang menghubunginya, bibir gadis itu tersenyum.
"Halo, Mom!"
__ADS_1
"Selamat ya, Sayang! kau sudah resmi menyandang status sebagai istri dari, William!"
Deg deg deg
Jantung Zinnia seketika terpacu begitu cepat saat ia tahu jika dirinya sudah tak lajang lagi.
"I-iya, Mom!"
"Kau harus menjadi istri yang penurut pada suami, lakukan kewajibanmu dengan baik ya, Nak! meskipun awal rumah tangga kalian tanpa cinta, tapi Mommy yakin suatu saat nanti, cinta itu akan bersemi!"
"Iya, Mom!"
"Menikah hanya sekali, Zi! kau pasti bisa melewatinya karena kau anak, Mommy!"
"Pastinya, Mom!"
"Apa kau sudah siap, Nak?"
"Sudah, Mom! semuanya sudah siap, tinggal menunggu Grandma menjemputku,"
"Baguslah, Sayang! mommy tutup dulu ya?"
"Iya, Mom!"
Panggilan di akhiri oleh Melati, sedangkan Zi kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kau harus bisa mempertahankan rumah tanggamu, Zi! ingat! menikah hanya sekali seumur hidup."
William sudah terbalut dengan texudo berwarna putih senada dengan gaun yang di pakai oleh Zinnia. Namun texudo William sedikit terkombinasi oleh warna gold.
Rambutnya sudah di style dengan apik. Jam tangan berwarna gold bertengger di pergelangan tangannya. Tak lupa dasi kupu-kupu berwarna kuning melingkar pada kerah kemejanya.
Pria itu menatap dirinya pada pantulan cermin. Melihat penampilan otot-ototnya yang terbentuk sempurna oleh pakaian itu.
Jika William berada di luar, sudah pasti ia akan menjadi santapan lezat berbagai jenis mata wanita yang ingin sekali menyentuh bagian tubuhnya.
Tak salah jika ia di juluki hot Dokter, karena tubuh pria itu memang bagus. Orang yang tak mengenalnya bisa salah mengira profesinya.
Ia terkadang di sangka artis jika sedang berjalan di sebuah tempat umum tanpa mengenakan seragam Dokter dan name tagnya.
Tapi ketampanan yang ia miliki membawakan berkah tersendiri, karena dari ketampanan wajah William membuat rumah sakitnya juga ikut terkenal.
Para pasien muda wanita yang betah berlama-lama di sana hanya demi melihat wajah tampannya itu.
__ADS_1
William masih terfokus menatap pantulan dirinya di cermin seraya berkata, "Awal yang baru dan kubur yang lama."