
Kendaraan beroda empat yang di tumpangi Melati dan Arnon berhenti di sebuah pemakaman umum.
Gadis itu masih tertidur di pundak suaminya. Melati tak merasa terusik sama sekali meskipun mobil yang ia tumpangi sudah berhenti.
Arnon mencoba membangunkan istrinya. Pria itu mengusap lembut pipi Melati.
"Sayang! ayo bangun," ujar Arnon yang terus mengelus pipi Melati lembut.
Gadis itu mulai menggeliat sambil membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Saat penglihatannya sudah kembali normal, Melati menegakkan tubuhnya melihat ke sekeliling tempat dimana dirinya berada.
"Ini kan ...."
"Iya, Sayang! ini makam mama Marry, aku ingin mengunjungi makam beliau," sela Arnon yang memotong pembicaraan Melati.
Gadis itu langsung memeluk suaminya.
"Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, jika mama ada di dunia ini ... beliau pasti sangat senang memiliki menantu tampan sepertimu," ujar Melati tersenyum bahagia.
"Aku juga beruntung memiliki istri sepertimu, Sayang," balas Arnon mengeratkan pelukannya.
Melati semakin melebarkan senyumnya saat mendengar pernyataan Arnon yang begitu membuat hatinya tentram.
Arnon melepaskan pelukannya. "Ayo kita turun!"
Keduanya turun berjalan menuju makam Marry. Tak lupa pula, Arnon membawa satu ikat bunga mawar merah dan putih. Di sepanjang jalan menuju makam mertuanya, Arnon melewati makam lain yang berjejer di sepanjang jalan.
Saat Arno melihat sebuah makam yang bertuliskan "Marry Hermawan", Arnon menggenggam erat tangan Melati menuju makam tersebut.
Keduanya telah sampai dan duduk berjongkok di samping makam ibunda Melati.
Arnon duduk tepat di dekat nisan mertuanya. Pria itu menyentuh nisan Marry.
"Ma! perkenalkan, aku Arnon menantu mama! aku datang kemari ingin meminta izin padamu untuk menjaga putrimu Melati Putri Hadi seumur hidupku," ujar Arnon dengan tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Melati.
"Maafkan aku, ma! seharusnya aku dari awal tak menyakiti perasaan putrimu, tapi mulai sekarang aku berjanji akan selalu menjaganya dengan nyawaku sendiri," sambung Arnon lagi.
Melati meneteskan air matanya. Gadis itu sungguh terharu mendengar ucapan Arnon.
"Restuilah hubungan kami ini, ma! semoga kami bisa menjadi suami istri yang sakinah, mawadah, dan warohmah," batin Melati.
Hembusan angin seketika terasa oleh Arnon dan Melati. Mereka berdua tahu, mungkin Marry tak bisa mereka lihat, tapi keduanya yakin jika Marry bisa melihat mereka berdua.
Arnon menangkup kedua tangannya untuk berdoa kepada yang maha kuasa agar ibunda istrinya di tempatkan di sisi sang maha pencipta.
Melati juga menangkup kedua tangannya berdoa untuk sang ibu yang sudah tenang di alam sana.
Setelah selesai, Arnon meletakkan bunga mawar yang ia bawa di makam mertuanya.
"Kami pulang dulu, ma!" Arnon sekilas melihat ke arah Melati yang masih memejamkan matanya.
5 detik kemudian, mata itu kembali terbuka lebar.
"Kita pulang sekarang ya, Sayang!"
Melati tersenyum ke arah Arnon dan mengiyakannya ajakan suaminya.
Kedua sejoli itu mulai beranjak dari makam Marry berjalan menuju mobil untuk kembali ke rumah baru Hadi.
__ADS_1
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Arnon masih sibuk dengan ponselnya.
"Sayang! hari ini kita harus pulang ke rumah, karena besok aku ada pemotretan dan kau harus ikut," ucap Arnon.
Melati mengernyitkan dahinya. "Untuk apa aku harus ikut, Sayang? bukankah aku lebih baik di rumah saja," tolak Melati halus.
"Astaga! Apa kau lupa, kau itu sudah menjadi asisten pribadiku! jadi kau harus ikut," pinta Arnon dengan mata berbinar.
"Kan sudah ada Asisten Pram?"
"Dia itu bertugas untuk mengurus keperluanku yang tak berhubungan dengan diriku, dia itu mengurus semua yang berkaitan dengan pekerjaan saja," jelas Arnon.
"Jadi apa bedanya denganku? bukankah aku juga akan bekerja sebagai Asistenmu," sahut Melati yang tak ingin kalah cerdik dari Arnon.
"Ya beda lah, Sayang! kau itu yang akan mengurusku sepanjang hari baik itu di rumah atau di lokasi tempat aku bekerja dan kau harus ada di sampingku selama 24 jam," cetus Arnon dengan senyum simpulnya.
Melati ternganga mendengar ultimatum yang sudah di tetapkan oleh Arnon.
"Astaga! apa dia kira aku ini rumah sakit yang harus siap siaga selama 24 jam mengurusnya?" Melati menatap Arnon kesal.
"Tapi ...."
"Ssstttt, kau tak perlu banyak bicara! kau harus bersama denganku sepanjang waktu karena aku ingin selalu mencium wangi rambut ini." Mengendus aroma wangi rambut Melati sampai Arnon merasa ingin sekali tidur.
"Kenapa dia seperti anak kecil sih! jika kami memiliki anak dan dia masih tetap semanja ini, pasti wajahku akan cepat keriput karena stres mengurus bapaknya bukan mengurus anaknya." Melati bergidik ngeri membayangkan hal-hal aneh itu.
Arnon masih terus mengendus wangi rambut istrinya tanpa henti.
Setelah roda mobil yang di naiki Arnon cukup lama berputar di aspal, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Hadi.
Agnez sudah berada di ruang tamu dengan laptopnya yang bertengger di atas meja.
Agnez menatap Melati tajam saat gadis itu masuk ke dalam rumah dengan Arnon.
"Masuk rumah saja masih bergandengan tangan! apa kalian ingin menyeberang jalan." Mata Agnez tak hentinya menatap Melati dan Arnon.
Gadis itu berhenti tepat di depan ruang tamu. Begitu pula dengan Arnon yang ikut mengehentikan langkahnya.
"Ada apa, Sayang?" Arnon terlihat kebingungan.
"Itu kak Agnez sudah pulang, kita sapa dia dulu ya?"
"Kak ...."
"Wah, bagaimana acara konferensi pers kemarin? pasti puas ya sudah mempermalukan keluarga ini dengan pernikahan kontrakmu itu," sinis Anggi pada Melati.
Emosi Arnon mulai naik mendengar ucapan Anggi pada istrinya.
"Apa maksud, Mama?" tanya Melati.
"Apa kau memang bodoh atau pura-pura bodoh? coba kau lihat tayangan yang saat ini sedang viral di media, itu semua karena ulahmu," ucap Anggi lagi dengan nada meninggi.
Arnon mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah membumbu tinggi.
"Apa acara kemarin sudah tayang di televisi?" Melati mulai mengira-ngira.
"Masalah itu aku bisa ...."
__ADS_1
"Bisa apa? bisa mempermalukan keluarga kita hah! apa kau tahu? Agnez yang menjadi bulan-bulanan para haters kalian karena mereka menganggap keluarga ini hanya ingin mengeruk harta Arnon." Kemarahan Anggi mulai tak terkendali.
"Kau ini memang pembawa sial! aku yakin hubungan Arnon dan Clara kandas karena pengaruh sialmu itu," umpat Anggi dengan wajah merah padam.
Rahang Arnon mengeras sempurna. Pria itu sudah sampai pada batas kesabarannya.
"Cukup!" Arnon berteriak pada Anggi.
Semua mata yang berada di ruangan itu menatap ke arah Arnon yang sudah di penuhi oleh kabut amarah.
"Apa hak anda berteriak dan menghina istri saya?" tanya Arnon pada Anggi.
"Aku memiliki hak atas anak pembawa sial ini, aku yang merawatnya," sahut Anggi masih dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Tapi saya tak yakin anda merawat dia dengan baik," ujar Arnon yang mengeratkan genggamannya pada tangan Melati.
"Kau tak tahu apa-apa," ucap Anggi menatap tajam ke arah Arnon.
"Saya tahu semuanya! istri saya bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri, sedangkan uang yang seharusnya untuk biaya dia berkuliah, anda gunakan untuk bersenang-senang! apa itu yang anda katakan dengan merawatnya dengan baik?" Arnon tersenyum kecut.
Anggi diam seribu bahasa mendengar ucapan Arnon yang begitu detail mengetahui masa lalu Melati.
"Bocah ini, kenapa aku sampai meremehkannya? dia orang kaya yang bisa kapan saja mencari informasi tentang masa lalu melati, sial! lain kali harus lebih berhati-hati lagi."
"Kenapa anda diam?" tanya Arnon seakan menantang Anggi.
Tanpa menjawab pertanyaan Arnon, Anggi berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Agnez berpura-pura sibuk dengan laptopnya, padahal ia dari tadi sedang menonton aksi ibunya yang menghina Melati terang-terangan di hadapan Arnon.
"Mama ini tak waras apa ya? sudah tahu Arnon orang berpengaruh masih saja nekat," batin Agnez.
Arnon menarik tangan Melati menuju kamarnya, namun sebelum menaiki anak tangga, Arnon berteriak.
"Pelayan! bereskan semua baju saya dan Melati!" Arnon melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
Mereka berdua sudah berada di kamar. Melati masih menatap Arnon yang membelakanginya.
Arnon menghadap ke arah jendela untuk menetralkan amarahnya. Gadis itu melihat nafas Arnon yang masih naik turun tak beraturan.
Melati perlahan memeluk tubuh suaminya dari belakang. Menyalurkan rasa nyaman agar emosi pria itu cepat mereda.
"Jangan marah lagi, aku tak ingin kau seperti ini," tutur Melati mengeratkan pelukannya pada tubuh Arnon.
Pria itu mulai mengatur nafasnya agar cepat stabil. Arnon menyentuh tangan Melati yang bertengger di dadanya.
"Maafkan aku! aku tak bisa mengontrol emosiku, kau tak seharusnya melihat kemarahanku," jelas Arnon masih tetap menatap ke arah jendela.
Melati melepaskan pelukannya berjalan ke hadapan Arnon.
Gadis itu menatap wajah Arnon yang masih terlihat jelas sisa-sisa amarahnya.
Melati menyentuh kedua pipi suaminya lembut.
"Aku tak menyalahkanmu! kau seperti ini karena kau mencintai istrimu ini! jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri! kau tak salah? keadaan yang memaksamu untuk melakukan itu semua dan aku berterimakasih kepada suamiku karena telah melindungiku," jelas Melati memeluk Arnon.
Pria itu membalas pelukan istrinya erat. "Aku akan melindungimu, Sayang! mulai hari ini, tak ada seorangpun yang boleh menghinamu lagi," cetus Arnon membalas pelukan istrinya.
__ADS_1