Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 91


__ADS_3

Arnon sudah berada di ruang belajar. Pria itu duduk di kursi kebesarannya.


Arnon tak sendiri, ia bersama dengan Asisten Pram yang tengah membicarakan hal penting.


"Ada perlu apa anda memanggil saya kemari?" tanya Pram yang tak biasanya Arnon memanggilnya ke ruang belajar secara langsung, bahkan mendadak seperti ini.


"Aku ingin kau membuat Agnez keluar dari perusahaan tempat ia bekerja! agar wanita itu bisa belajar dari kesalahannya," titah Arnon pada Pram.


"Tapi, Tuan? apa tidak terlalu berlebihan membuat Kakak Ipar anda harus dikeluarkan dari pekerjaannya?"


"Itu balasan yang setimpal karena dia telah berani menampar wajah, Istriku! itu masih belum cukup bagiku jika wanita itu bukan bagian dari keluarga Melati."


"Baik, Tuan! perintah anda akan saya laksanakan."


"Tuhan! apa, Tuan Arnon! sudah menjadi budak cinta istrinya? belum pernah ia sampai turun tangan sendiri seperti ini menyuruhku secara langsung, biasanya dia hanya memerintahkan lewat ponsel."


Tok tok tok tok


Seorang gadis cantik dengan sebuah nampan di tangannya berjalan masuk mendekati sofa di ruang belajar Arnon.


Gadis itu meletakkan secangkir teh di meja. Setelah selesai, istri Arnon itu hendak melangkah keluar.


"Sayang!" Arnon memanggil istrinya.


Melati menoleh ke arah sumber suara tersebut. Wajah gadis itu nampak kebingungan.


"Ada apa?" tanya Melati pada suaminya.


"Kemarilah," pinta Arnon dengan jari telunjuk mengisyaratkan agar istrinya mendekat.


Melati tanpa ragu menuruti permintaan suaminya. Saat sudah sampai tepat di hadapan Arnon, Pria itu langsung menarik istrinya duduk di atas pangkuannya.


Gadis itu terkejut bukan main. "Kau ini ingin membuatku jatuh ya?"


Arnon hanya menanggapi pertanyaan istrinya dengan cengiran kudanya.


Pram sedari tadi menyaksikan kedua sejoli yang masih di mabuk cinta itu dengan tatapan heran.


"Mereka tak sadar atau memang aku di anggap pembasmi serangga yang suka menghisap darah itu?"


Melati hendak bangun dari pangkuan Arnon, namun pria itu malah memeluknya erat.


"Sayang! apa kau tak kasihan melihat, Asisten Pram sudah terdiam begitu," tutur Melati.


Arnon melihat ke arah Pram yang berada di hadapan mejanya.


"Hahahaha!"


Tawa Arnon menggelar melihat raut wajah Pram yang sudah bercampur aduk antara malu, kesal, dan masih banyak lagi


"Pram! aku sarankan kau segera menikah! apa mau tak ingin merasakan memeluk tubuh istrimu seperti ini?"


Arnon menggoda Pram yang wajahnya semakin memerah.


"Kedua pasangan ini sungguh memiliki mulut yang tak dapat di filter, bisa-bisanya menggodaku seperti ini! huh, sungguh ini derita jomblo tua sepertiku."


"Sudah, Sayang! jangan terus mengejek Asisten Pram seperti itu, kasihan dia," ujar Melati.


"Apa perlu aku yang mencarikanmu istri?" tanya Arnon yang sengaja membuat raut wajah Pram terkejut dengan kedua mata hampir keluar.


"Tidak perlu, Tuan muda," tolak Pram tanpa basa-basi.


"Hahahaha!"

__ADS_1


"Kau boleh keluar sekarang, Pram! aku masih ingin melakukan sesuatu dengan istriku," pinta Arnon.


Pram dengan senang hati berjalan keluar dari ruangan itu. Bagi Pram perintah Arnon merupakan cahaya menuju surga karena ia berada di ruangan Bosnya seperti sedang berada di ruangan untuk menyiksa para kaum jomblo akut sepertinya.


Saat kaki Pram sudah hampir sampai di ambang pintu, suara Arnon yang terdengar seperti raungan singa membuat tubuhnya kaku seketika.


"Apa lagi yang akan Tuan lakukan kali ini," batin Pram penuh dengan kecemasan.


"Berbalik," pinta Arnon pada Asistennya.


Dengan patuh, Pram berbalik menghadap ke arah Arnon dan Melati yang masih dengan posisi sama seperti tadi.


Cup


Arnon mencium pipi istrinya tepat saat Pram melihat ke arahnya.


"Apa kau tak ingin mengecup istrimu seperti itu?" dengan alis yang naik turun menggoda Pram tanpa henti.


Pram langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf, Tuan! saya harus pergi dulu untuk mengurus semua perintah anda tadi."


Pram langsung keluar dari ruangan Bosnya.


"Tuan muda sungguh membuat jiwa ini ingin cepat-cepat menikah saja," gerutu Pram sembari berjalan cepat.


Arnon masih tak ingin melepaskan pelukannya pada tubuh Melati.


"Sayang! lepaskan aku," pinta Melati.


"Aku masih ingin seperti ini," ujar Arnon manja.


"Sayang! ini di ruang belajar, bukan di kamar! cepat, lepaskan aku!"


"Tidak mau!"


Tak ada jawaban dari Arnon. Pria itu masih asyik dengan aroma rambut Melati.


Saat Arnon sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri, Melati tak sengaja melihat naskah yang ada di meja belajar suaminya.


Gadis itu meraih naskah tersebut dan membacanya dengan posisi wajah Arnon berada pada ceruk lehernya.


Melati membaca tiap kata yang tertulis pada lembar kertas putih dimana suaminya akan berperan menjadi pemeran utama pria.


Melati membaca semua nama artis yang ikut andil dalam film tersebut.


Ia melihat nama seorang artis wanita yang cantik dan wanita itu akan menjadi lawan main suaminya.


Melati melirik Arnon dengan tatapan membunuh.


Pria itu tak memperdulikan lirikan maut Melati. Arnon masih sibuk mengendus wangi rambut istrinya.


"Sayang! kau memakai shampoo apa sih? kenapa wanginya membuatku menggila seperti ini?" tanya Arnon.


"Hentikan! aku merasa geli, Sayang!"


Melati langsung menjauhkan wajah Arnon dari ceruk lehernya.


Gadis itu menempelkan naskah film terbaru Arnon tepat di wajah suaminya. Melati memperlihatkan lembaran naskah pada bagian pemainnya.


Arnon mengambil naskah tersebut kemudian beralih menatap ke arah istrinya.


"Kenapa kau melemparku dengan ini?" tanya Arnon kesal.

__ADS_1


"Kau menjadi pemeran utama prianya kan?" tanya Melati menatap tajam kedua mata suaminya.


"Hem."


Melati mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gadis itu merasa kesal karena suaminya pasti akan beradegan mesra dengan wanita lain.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Arnon menyentuh dagu Melati agar gadis itu menghadap ke arahnya.


"Tak apa-apa," jawab Melati ketus.


"Sayang!"


Arnon kembali memeluk tubuh istrinya agar kemarahan Melati mereda karena Arnon tahu jika istrinya saat ini tengah merajuk.


Melati masih tak merespon pelukan hangat Arnon yang sebenarnya sangat ia sukai.


"Katakan padaku ada apa?" tanya Arnon lagi.


"Siapa pemeran utama wanitanya?" tanya Melati masih dengan nada ketus bukan main.


Arnon mulai mengerti apa penyebab istrinya merajuk sampai pelukan hangatnya saja tak direspon oleh gadis dengan kulit eksotis itu.


"Apa kau cemburu?"


"Ti-tidak! aku hanya bertanya, bukan cemburu," kilah Melati yang ingin menutupi perasaannya cemburunya pada Arnon.


"Sayang! tatap mataku," pinta Arnon.


Mata gadis itu menatap lekat kedua manik mata suaminya.


"Wanita yang akan menjadi lawan mainku adalah Jesicca! dia memang cantik, kaya, modis, dan masih banyak lagi kelebihan pada dirinya," ujar Arnon yang mendapat tatapan sengit dari Melati.


Perlahan wajah Arnon mulai mendekat ke arah wajah istrinya. Kening mereka sudah menyatu. Hidung keduanya juga sudah saling menyentuh. Deru nafas keduanya juga saling bersahutan satu sama lain.


"Kau tak perlu takut aku akan tertarik pada wanita lain selain dirimu, mereka semua boleh memiliki kelebihan yang tak kau miliki, namun hanya satu yang tak mereka miliki."


"Mereka tak memiliki cinta dariku, karena seluruh hati ini hanya untukmu, istriku! ibu dari anak-anakku," jelas Arnon membuat senyum manis Melati mulai terlihat kembali.


Perlahan tapi pasti, bibir keduanya mulai menyatu dan mulai beradu satu sama lain.


Posisi Melati yang masih berada di atas pangkuan suaminya membuat pria itu dengan mudah menjangkau semua bagian tubuh istrinya.


Arnon menarik tali pada baju yang dipakai oleh Melati, namun sebelum bagian dadanya terlihat, gadis itu melepaskan ciuman mereka berdua.


"Ini ruangan belajarmu, Sayang!"


"Memangnya kenapa?" tanya Arnon menatap bibir merah cerry Melati.


"Nanti ada yang masuk," tolak Melati halus.


"Tak akan ada yang berani masuk kemari ... aku ... ingin melakukannya di sini," bisik Arnon sembari menghembuskan nafas hangatnya.


Melati langsung turun dari pangkuan suaminya berlari keluar dari ruangan itu.


Saat pintu sudah tertutup dari luar, tiba-tiba gadis itu kembali lagi.


"Tadi malam sudah puas, kan? jadi jatah siang ini tak ada, bleeee!"


Setelah selesai menggoda Arnon dengan menjulurkan lidahnya, Melati langsung keluar dari ruangan itu.


Arnon tergelak melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Aku sudah benar-benar candu dengannya," gumam Arnon sambil melihat ke arah sofa panjang yang berada di ruangan belajarnya.

__ADS_1


"Huh, sofanya di anggurin deh," ujar Arnon sambil tersenyum-senyum sendiri.


Pria itu kemudian melanjutkan mempelajari naskahnya kembali.


__ADS_2