Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 125


__ADS_3

Arnon sudah selesai mengeringkan rambut Melati. Ia meletakkan kembali hair dryer pada tempatnya.


Setelah rambut Melati kering sempurna, Arnon mengambil sisir yang ada di atas meja rias.


Pria itu menyisir rambut istrinya dengan gerakan sangat lembut, bahkan Melati rasanya ingin tidur merasakan sensasi gerakan tangan Arnon yang begitu menenangkan.


"Sayang! kenapa kau pelan sekali menyisir rambutku?" tanya Melati menatap Arnon dari pantulan cermin.


"Karena aku tak ingin menyakitimu, Sayang!"


"Aku tak merasa tersakiti, meskipun kau menyisirnya lebih keras lagi! coba sisir lebih keras lagi! jika terus begini, aku bisa mengantuk," rengek Melati pada suaminya.


Arnon menghentikan gerakan tangannya untuk menyisir rambut Melati. Pria itu tersenyum pada istrinya lewat pantulan cermin.


Keduanya saling mengumbar senyum satu sama lain.


Arnon sedikit mengubah posisi kursi yang di duduki oleh Melati menghadap ke arahnya.


Pria itu berjongkok tepat di hadapan istrinya dengan posisi wajah menengadah menatap setiap inci bagian wajah Melati.


"Aku tak ingin membuatmu kesakitan, Sayang! apalagi kau sedang hamil, aku semakin tak tega membuatmu kesakitan," jelas Arnon pada Melati dengan kedua tangan menggenggam erat tangan istrinya.


"Aku beruntung sekali memiliki suami sepertimu," tutur Melati tersenyum dengan tangan membelai lembut pipi suaminya.


"Beruntung?" tanya Arnon.


"Ya, Sayang! aku sangat beruntung memilikimu, selain kau mencintaiku, kau juga sangat mengerti banyak tentang wanita! apa kau mempelajari semua itu?" tanya Melati.


"Bukan belajar, Sayang! tapi memang itu kewajiban yang harus aku lakukan, karena aku ingin membuat Istriku nyaman berada di sampingku," ujar Arnon sambil mengecup perut Melati.


Pria itu menempel telinganya pada perut sang istri. "Apa aku bisa mendengarkan suaranya?" tanya Arnon yang mulai berkonsentrasi mendengarkan suara sang bayi dalam perut Melati.


"Hahahaha! apa kau sedang bercanda? perutku kedap suara, Sayang! jadi kau tak bisa mendengarkan suara anak kita," goda Melati pada Arnon.


Arnon menatap Melati dengan senyumannya. "Sebentar lagi aku juga akan mendengar suara anak kita," ujar Arnon sembari berdiri dari posisi ia berjongkok.


"Sekarang kau ganti baju dulu!"


Arnon berjalan ke arah walk in kloset untuk mengambil baju yang pas di gunakan oleh istrinya.


Pria itu mencari baju yang bisa di pakai oleh Melati dengan perutnya yang sudah membesar. "Kenapa tak ada baju yang bisa di pakai oleh, Istriku?"


Arnon terus mencari baju yang pas untuk Melati. Yang ia temukan hanya daster berukuran super jumbo dengan model baju atasan dan bawahan.

__ADS_1


Arnon membolak-balik baju itu. "Terpaksa dia harus memakai baju ini, daripada dia memakai baju pas body yang sudah tak muat itu," gumam Arnon berjalan menghampiri Melati yang masih menunggunya di kursi meja rias


Arnon juga tak mengerti darimana asal daster berukuran jumbo itu. Kenapa baju sebesar itu bisa terselip di antara baju-baju istrinya.


"Kau pakai baju ini saja dulu ya? nanti pulang dari Dokter kandungan, kita langsung ke butik khusus baju ibu hamil," tutur Arnon.


Melati ingin sekali tertawa melihat baju yang suaminya bawa. Ia mau tak mau memang harus memakai baju itu, karena tak ada lagi baju yang muat untuk ia pakai.


Melati mengambil daster dari tangan suaminya. Ia berganti baju di tempat itu, sementara Arnon pura-pura menutup matanya, namun bagian sela-sela jarinya masih sangat terbuka lebar.


Setelah Melati selesai mengenakan daster atasan dan bawahnya, ia menoleh ke arah Arnon yang masih menutup matanya seperti tadi.


"Hahahaha!"


Tawa Melati sungguh tak dapat ia tahan lagi. Melati terus saja tertawa sampai ujung matanya mengeluarkan air mata.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Arnon mendekat ke arah istrinya.


"Apa kau sedang menutup mata karena aku berganti baju?" tanya Melati balik pada suaminya.


Arnon mengangguk patuh dengan senyum manisnya.


"Tapi sela-sela jarimu tetap terbuka lebar, seperti orang yang sedang mengintip orang mandi di sungai, Sayang!"


Arnon beralih ke arah samping perut Melati yang tak terlalu menonjol, pria itu memeluk tubuh istrinya hangat.


"Kenapa tak jadi memelukku dari depan?" tanya Melati yang sudah berada dalam dekapan suaminya.


"Karena aku tak dapat memeluk tubuhmu sedekat ini, Istriku! anak kita bisa kenapa-napa jika aku tetap memaksa," ujar Arnon.


"Kenapa baju ini bisa ada di lemarimu?" tanya Arnon sedikit melonggarkan pelukannya.


"Apa kau sungguh ingin tahu?" tanya Melati yang mulai menahan tawanya.


"Kenapa kau malah menahan tawa? apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Arnon mulai curiga dengan raut wajah istrinya.


"Sebentar ... hahahaha! aduh! perutku mulai sakit ... aku ingin terus tertawa," tutur Melati sambil memegangi perutnya yang ikut bergerak ke atas dan ke bawah karena ia tertawa tanpa henti.


"Sepertinya? ada yang aneh," ujar Arnon menatap Melati penuh curiga.


"Aku akan cerita, kau harus mendengarkannya."


Melati mengambil napas, kemudian membuang napasnya secara perlahan.

__ADS_1


"Sebenarnya baju ini aku beli saat kita liburan ke Bali, baju ini tertukar dengan baju yang ingin aku berikan padamu, waktu itu!"


"Jadi baju ini .... ah, aku tahu sekarang! kau tertawa karena baju ini yang ingin kau berikan padaku dan kau pasti membayangkan jika aku yang memakai baju ini?" tanya Arnon.


Tak ada jawaban dari mulut Melati yang ada hanya suara tawa menggelegar kala wanita berperut buncit itu membayangkan suaminya memakai baju yang ia kenakan sekarang.


Arnon hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak marah dengan pemikiran konyol yang timbul di benak istrinya.


Asalkan Melati bahagia dan tak stress. Ia rela sang istri membayangkan dirinya seperti apa saja, asalkan Melati dalam mood yang baik dan Arnon rela demi istrinya.


Melati menyambar tas jinjingnya, sementara Arnon menyisir rambutnya, kemudian berjalan menghampiri Melati. Tak lupa aktor tampan itu juga membawakan sang istri ikat rambut untuk persediaan, mungkin tiba-tiba wanitanya merasa gerah dengan rambut yang masih tergerai indah.


"Apa masih ada yang ingin kau bawa lagi?" tanya Arnon memastikan.


"Tak ada! karena semua apa yang aku butuhkan selalu bersamaku," ujar Melati sambil menggandeng tangan Arnon.


Keduanya saling tersenyum dengan langkah kaki keduanya perlahan menjauh dari kamar mereka.


Melati dan Arnon berjalan melewati anak tangga menuju lantai bawah. Keduanya berjalan menuju arah mobil.


Saat mobil mereka sudah melaju menuju rumah sakit milik Edward, ponsel Arnon berbunyi.


"Halo!"


"Kau ada dimana, Ar?"


"Aku sudah di jalan, Ed! ada apa?"


"Baiklah! akan aku tunggu di ruangan, Dokter Salma!"


"Halah! kau pasti hanya mencari kesempatan dalam kesempitan! jujur saja padaku, kau ingin mendekati, Dokter Salma, kan?"


"Awas saja kau nanti ya! dasar calon ayah stress!"


"Hahahaha! kau yang stress karena tak cepat menikah!"


"Terserah kau saja! aku akan menunggumu di ruangan, Dokter Salma!"


"Ingat! itu ruangan, Dokter! bukan ruangan untuk pendekatan, apalagi untuk ajang mencari jodoh."


Arnon langsung mematikan panggilan dari Edward. Ia senang sekali bisa membuat temannya itu kesal.


Melati hanya tersenyum mendengar pembicaraan suaminya dengan teman dokternya. Ia sudah biasa mendengar candaan yang sudah seperti makanan bagi telinganya saat Edward dan Arnon berkomunikasi. Baik itu secara langsung maupun lewat ponsel mereka.

__ADS_1


__ADS_2