
Zinnia dan William sudah berada di rumah sakit tepatnya di depan ruang rawat inap VVIP karena kepala Sandra cukup keras mengalami benturan pada undakan teras rumahnya jadi asisten Zinnia itu masih belum sadarkan diri.
Zinnia melihat ke arah jendela ruangan Sandra, di sana sudah ada Marquez yang menggenggam tangan Sandra erat sembari mengusap lembut tangan yang masih terkulai lemas.
Melihat perhatian Marquez pada Sandra meyakinkan Zinnia jika pria itu benar-benar mencintai asistennya.
William merangkul tubuh Zinnia. "Sandra akan baik-baik saja, Sayang! kau tak perlu cemas," ujar William menenangkan istrinya.
Dokter pria yang sudah cukup berumur berjalan ke arah ruangan Sandra.
Saat sudah berhadapan dengan William, dokter bername tag Yoga itu memberikan hormat pada William.
"Bagaimana keadaan Sandra, Dokter Yoga?" tanya William pada salah satu Dokter yang termasuk Dokter senior di rumah sakitnya.
"Keadaan Nona Sandra saat ini masih belum ada perkembangan, dia masih belum sadarkan diri, beruntung tak ada gumpalan darah pada bagian kepalanya, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan! kita semua hanya menunggu Nona Sandra sadar dan saya tak bisa memastikannya, Dokter William!"
"Saya mengerti, Dokter Yoga! terimakasih karena telah memberikan yang terbaik untuk, Sandra!"
Dokter Yoga tersenyum pada William dan Zinnia. "Itu sudah sumpah saya sebagai Dokter."
"Saya ke dalam dulu untuk memeriksa keadaan, Nona Sandra!"
"Silahkan, Dok!" William mempersilahkan Dokter itu masuk ke dalam.
Zinnia memeluk suaminya erat menyalurkan rasa campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena tak ada hal yang serius pada asistennya namun, sedih karena Sandra masih belum tahu kapan ia akan sadar.
"Aku kasihan pada, Marquez! dia pasti menjadi orang yang paling terpuruk saat ini," tutur Zinnia melihat ke arah William.
Dokter bedah itu mengusap puncak kepala istrinya mengecup kening Zinnia memberikan semangat. "Kau tenang saja, Sayang! Marquez adalah orang yang kuat, aku yakin itu."
Zinnia mengangguk sembari menatap ke arah jendela kamar inap Sandra dimana wanita itu tengah di periksa oleh Dokter.
Dokter Yoga mulai memeriksa keadaan Sandra dan Marquez terus menggenggam tangan wanita itu. Setelah selesai, Dokter Yoga melihat ke arah infus yang menggantung dan cairan infus itu masih tinggal setengah jadi belum waktunya di ganti.
"Bagaimana keadaanya, Dok?" tanya Marquez cemas.
Dokter Yoga tersenyum pada Marquez. "Anda tenang saja, Tuan! Istri anda tak kenapa-napa, kondisinya perlahan mulai pulih, karena benturan yang terlalu keras jadi Nona Sandra sedikit syok. Kita tunggu sampai istri anda sadar," jelas Yoga pada Marquez.
Wajah Marquez bersemu merah saat ia di sangka suami dari Sandra dan jantungnya juga meronta ingin melompat lebih dari biasanya.
__ADS_1
"Perasaan apa ini? kenapa perasaan ini sama seperti saat aku bertemu dengan, Zinnia? apa aku sudah mulai tertarik padanya?"
Marquez kembali menormalkan pikiran dan hatinya. Ia menatap ke arah Yoga. "Tidak ada masalah serius dengan kepalanya kan, Dok?" tanya Marquez lagi agar hatinya benar-benar tenang.
"Hanya pendarahan biasa saja, Tuan! tapi semuanya sudah stabil kembali dan tak ada gumpalan darah di kepalanya jadi semuanya aman," jelas Yoga pada Marquez.
Desainer tampan itu tersenyum lega. "Terimakasih, Dok!"
"Sudah tugas saya, Tuan! terus do'akan istri anda dan terus ajak dia berkomunikasi seperti biasanya itu akan lebih membantu untuk ia merespon dan cepat sadar! kasih sayang orang-orang terdekat sangat di butuhkan untuk proses kesembuhannya," saran Dokter Yoga pada Marquez.
"Baik, Dokter!"
Dokternya yoga melangkah keluar dari ruangan Sandra di rawat. Kini hanya tinggal Sandra dan Marquez.
"Semoga kau benar-benar merasakan keberadaanku! kau harus cepat bangun karena aku rindu akan celotehanmu yang selalu ingin aku goda terus menerus. Aku tak tahu ada apa denganku! saat ini aku hanya ingin menjagamu sampai kau sadar, jadi aku mohon buka matamu, Sandra!"
Marquez meletakkan tangan Sandra yang berada dalam genggamannya ke arah ke keningnya.
Tanpa disadari oleh Marquez, jari tangan sebelah kiri Sandra bergerak namun, hanya dua kali gerakan saja.
Nina Kakak Sandra tiba di rumah sakit karena Nina memang tak segera di beritahu oleh Zinnia. Ia takut kakak dari asistennya itu syok.
Zinnia menyentuh tangan Nina lembut. "Dia tak apa-apa, Kak Nina! tapi Sandra masih belum sadar tapi kondisinya sudah mulai berangsur pulih," jelas Zinnia dan raut wajah Nina yang awalnya cemas kini berubah lega.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Nina pada Zinnia dan ibu hamil itu menganggukkan kepalanya.
"Sayang! kau telepon Marquez agar dia keluar sebentar," pinta Zinnia dan William mengangguk.
Benda pipih kini sudah bertengger di telinga William.
"Ada apa?"
"Keluar sekarang! calon kakak iparmu sudah menunggu di depan kamar inap, Sandra!"
"Kakak ipar siapa yang kau maksud?"
"Kakaknya Sandra lah! kau kira siapa?"
Marquez tiba-tiba diam sejenak dengan suara helaan napas yang terdengar oleh William.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan keluar!"
Tak menunggu waktu lama, Marquez keluar dari ruang inap Sandra.
"Kakak masuk saja," pinta Zinnia pada Nina.
Nina masih diam menatap ke arah pria yang baru saja keluar dari ruangan adiknya di rawat.
"Siapa pria ini? kenapa keluar dari kamar adikku? apa mungkin dia ... ah, sudahlah!"
"Ayo masuk, Kak! Zinnia membuyarkan lamunan Nina. Kakak dari Sandra itu kemudian masuk ke dalam kamar rawat adiknya.
"Itu kakaknya, Sandra?" tanya Marquez pada Zinnia.
"Iya! dia kak Nina!"
"Kau belum makan malam kan? lebih baik kau makan dulu! mumpung ada kak Nina yang menjaga," ujar Zinnia pada Marquez.
"Tapi aku tak lapar," tolak Marquez sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar inap Sandra.
William dan Zinnia saling tatap. Mereka berdua tersenyum simpul sembari menatap ke arah Marquez yang tengah menatap balik keduanya.
"Ada apa kalian tersenyum begitu sambil menatapku?" tanya Marquez dengan raut wajah penuh curiga.
"Kalau masih hangat-hangatnya memang tak merasakan lapar yang ada perut terasa kenyang," goda William pada Marquez.
"Kau benar, Sayang! kalau perlu tak makan setahunpun tak apa asalkan bersama dengan pujaan hati," sambung Zinnia menimpali.
Pukulan pada lengan William mendarat. Marquez sudah malu karena di ledek oleh sepasang suami istri konyol yang berada di hadapannya ini.
"Yang ada aku tewas jika tak makan setahun!"
"Aku akan makan," pamit Marquez yang hendak melangkah pergi namun, suara Zinnia lagi-lagi membuatnya mengurungkan niatnya, "Melihat wajah Sandra pasti terasa kenyang, Marq! jadi kau tak perlu makan untuk beberapa hari kedepan dan bisa menghemat uangmu yang sudah menggunung itu."
Marquez menoleh ke arah Zinnia dengan wajah konyolnya. "Dasar ibu hamil yang sangat cerewet!"
Marquez segera melangkah pergi keluar untuk mencari makan.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.
__ADS_1