
Seorang pria dengan jas berwarna cream turun dari jet pribadinya menapakkan kaki di negara dimana calon nyonya Copaldi sudah ia tetapkan dalam hati.
Pria berkacamata hitam dengan hidung mancung yang terselip pada bagian tengah kacamatanya berjalan menebar aura ketampanan seorang bintang khas wajah kebarat-baratan.
Hari ini adalah hari yang menentukan nasib percintaannya untuk yang kedua kalinya karena ia akan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya pada sang pujaan hati.
Senja yang perlahan mulai menebarkan keindahannya mengiringi tiap langkah Marquez menuju arah mobilnya yang sudah siap mengantarkan dirinya ke tempat tujuan.
Kini Marquez sudah berada di didalam mobilnya dengan ponsel yang sudah bertengger di telinganya.
"Halo!"
"Kau dimana?"
"Untuk apa kau menanyakan keberadaanku?"
"Katakan saja kau dimana? aku sangat merindukanmu!"
"Di butik."
"Jam berapa kau akan pulang?"
"Jam 7 malam."
"Terimakasih untuk informasinya, Cantik!"
"Dasar gombal!"
Tut tut tut tut tut
Panggilan diakhiri oleh Sandra lebih dulu.
Marquez tersenyum menatap ke arah layar ponselnya. Pria itu mengecup benda pipih tersebut.
Cup
"Tunggu kejutan yang akan aku berikan padamu nanti malam, Sandra!"
Senyum tampan tak pernah luntur dari bibir indah Marquez selama perjalanan menuju arah toko bunga.
Kini mobil itu sudah terparkir di sebuah halaman parkir toko bunga ternama.
Marquez turun dari mobilnya, sementara sopirnya menunggu di mobil.
Saat berjalan memasuki toko bunga tersebut, di sepanjang jalan, tatapan para wanita yang kenal akan wajah desainer tampan itu menatapnya dengan tatapan puja, bahkan ada yang sampai mengigit bibirnya membayangkan jika mereka bersanding dengan seorang pria tampan, mapan, dan kaya raya.
Marquez hanya menatap lurus ke depan tanpa ingin melirik kanan kirinya dimana para wanita menatapnya dengan tatapan ingin masuk ke dalam pelukan pria tampan dan terkenal seperti Marquez.
Kini Marquez sudah berada di dalam toko bunga. Ia melihat-lihat bunga yang sangat indah di dalam toko itu.
Gerakan mata Marquez terhenti pada bunga mawar berwarna merah pekat. Senyum pria tampan itu terbit kala sebuah sketsa wajah seorang wanita terlukis dalam benaknya.
"Kenapa aku mencintaimu sampai seperti ini, San? apa yang spesial dari dirimu sampai hati dan pikiranku tak pernah berhenti untuk selalu merasakan rindu dan memikirkanmu," gumam Marquez mengambil satu tangkai bunga mawar berwarna merah pekat tersebut.
Marquez menghirup aroma bunga yang sangat wangi. "Bunga ini sangat cocok untukmu," gumam Marquez lagi.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan toko bunga itu.
"Tolong buatkan satu buket bunga mawar merah ini," tunjuk Marquez pada pelayan wanita itu.
"Baik, sembari menunggu, anda bisa melihat-lihat mungkin ada bunga lain yang menarik perhatian anda," tutur pelayan wanita itu dengan ramah.
Marquez mengangguk dan tersenyum manis pada pelayan tersebut.
Sementara di dalam butik, Sandra masih asyik menggenggam ponselnya sembari memikirkan telepon dari Marquez tadi.
"Kenapa dia menghubungiku?"
Sandra masih diam membayangkan dan memikirkan apa yang kiranya membuat si desainer tampan itu menghubungi dirinya.
Karena terlena akan lamunannya membuat Sandra tak sadar jika Zinnia dan William sudah berada di butik itu.
"Sandra!" Zinnia memanggil asisten pribadinya namun, Sandra masih asyik dengan lamunannya.
William dan Zinnia saling tatap. Mereka berdua tersenyum simpul sembari beradu telapak tangan alias tos.
__ADS_1
Zinnia menghitung dengan mulutnya yang hanya menggunakan isyarat saja tanpa bersuara.
Satu
Dua
Tiga
"MARQUEZ!"
Keduanya berteriak membuat para pegawai dan pelanggan butik itu terkejut.
Si empunya nama tersadar dari lamunannya dan langsung dengan posisi berdiri tegap bagai pasukan pengibar bendera.
"Sandra!" panggil Zinnia lagi ingin memastikan jika kesadaran asistennya sudah kembali normal.
"Iya, Nona!"
Zinnia mengelus dadanya lega. Ia takut Sandra sudah tak waras karena lama di tinggal oleh Marquez.
"Syukurlah kau masih sadar, San! aku kira tubuhmu di sini, tapi jiwamu berada bersama Marquez," ledek Zinnia melangkahkan kakinya menuju arah halaman belakang butiknya.
William mengikuti langkah istrinya, sementara Sandra memejamkan matanya merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya melamun di saat jam kerja.
"Dasar kau bodoh sekali, Sandra! kenapa kau memikirkan pria aneh itu! dia saja belum tentu memikirkanmu," rutuknya dengan bibir mencebik kesal.
Kini jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sandra sudah waktunya pulang karena sudah ada Zinnia dan William di butik.
Asisten cantik itu masuk ke dalam mobilnya menekan pedal gasnya secara perlahan dan melaju keluar dari gerbang butik Zinnia untuk pulang.
William dan Zinnia berada di taman belakang tengah memandangi bintang-bintang di langit yang berkelip bagai lampu malam tanpa harus menggunakan aliran listrik.
Keduanya dalam posisi Zinnia berada di depan, sedangkan William berada di belakang memeluk tubuh istrinya dengan kain penghangat yang terbuat dari sutra.
Mereka berdua tersenyum menatap ke atas langit yang terbentuk begitu luasnya sampai tak bisa mereka ukur.
"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya William pada istrinya sembari mengecup lembut rambut panjang Zinnia yang beraroma macha.
"Dua-duanya," sahut Zinnia masih terus memandang langit dengan taburan bintangnya.
"Karena jika sudah ada anak laki-laki dan perempuan! kau tak ada alasan lagi untuk memintaku mengandung kembali, Sayang!" Zinnia menoleh ke arah suaminya.
William menundukkan sedikit wajahnya agar dapat memandang wajah sang istri.
"Tapi aku masih ingin memiliki anak 8 lagi," goda William tersenyum manis pada sang istri.
"Kau saja yang hamil sendiri kalau begitu!"
William merangkul tubuh istrinya mencium leher dan rambut Zinnia. William gemas dengan istrinya yang semakin hari semakin membuatnya bertambah cinta. "I love you, My Wife!" William kembali mendaratkan kecupannya pada puncak kepala istrinya.
Zinnia menggerakkan kepalanya karena rasa geli yang mendominasi. "Aku juga mencintaimu, Sayang!" Zinnia menatap wajah William dan akhirnya kecupan manja mendarat pada bibir Dokter bedah itu.
Sandra sudah berada di rumahnya. Wanita itu berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan diri.
Tanpa diketahui oleh Sandra, seorang pria tampan dengan buket bunga mawar merah di tangannya tengah berada di perjalanan menuju rumahnya.
Tak butuh waktu lama untuk mobil Marquez sampai di tempat tujuan. Kini kaki pria tampan tersebut sudah menapaki pekarangan rumah Sandra.
Beruntung ada satpam, jadi ia tak perlu bersusah payah menggedor-gedor atau bahkan harus memanjat pagar rumah Sandra.
Marquez sudah berada di teras rumah calon wanitanya namun, ia belum juga berani menyentuh bel rumah calon kekasih nyatanya itu.
Marquez bagai orang yang belum pernah bertemu dengan wanita. Pria ini sudah malang melintang di dunia fashion, tapi nyalinya kali ini benar-benar menciut kala ia membayangkan Sandra dan Nina yang membuka pintu itu.
Tangan Marquez mulai basah dan dingin. "Tuhan! kenapa ini lebih berat dari penilaian lomba fashion antar desainer dunia," gumam Marquez yang duduk berjongkok menetralkan perasaan yang masih tak bisa menekan bel rumah Sandra.
Marquez segera berdiri dan mengatur napasnya. Pria itu terus melakukan hal itu sampai dirinya merasa siap.
"Semangat, Marquez! kau pasti bisa!"
Marquez membenarkan jasnya dan menghirup wangi bunga mawar yang ada di tangannya. "Semoga dia suka dengan bunga ini," gumamnya sembari tangan kanannya terulur pada bel rumah Sandra.
Ting tong
Masih belum ada yang berniat membukakan pintu untuk Marquez.
__ADS_1
Ting tong
Masih belum ada juga yang membukakan pintu untuknya.
"Kenapa aku kali ini benar-benar diuji untuk mengungkapkan perasaan ini!"
Ting tong
Lagi-lagi Marquez membunyikan bel rumah Sandra dan ....
Ceklek
Suara pintu terbuka. Bukan sosok wanita yang ia harapkan, melainkan seorang anak kecil berumur sekitar 8 tahunan.
Wajah Marquez terkejut melihat anak perempuan itu. "Ada perlu dengan siapa, Paman?" tanya anak perempuan yang cantiknya sama seperti Sandra.
"Kenapa wajah anak ini mirip sekali dengan, Sandra! jangan-jangan anak ini anak ...."
"Paman! ada perlu dengan siapa?" tanya anak perempuan itu lagi.
"Eee ... Sandra ada?" tanya Marquez pada anak perempuan itu.
"Oh, mami!"
Tubuh Marquez membeku bagai di celupkan ke dalam air es yang suhunya di atas rata-rata.
"Jadi anak ini benar anak, Sandra?"
"Dia mamimu?" tanya Marquez memastikan mungkin yang ia dengar salah atau kupingnya mendadak rusak.
"Iya, dia mamiku, Paman! silahkan masuk! mami ada di dalam sedang mandi," tutur anak perempuan cantik itu.
Mendengar penjelasan anak perempuan yang Marquez anggap anak Sandra, tubuh desainer tampan itu seakan ingin ambruk di tempat itu juga namun, ia mencoba menahannya.
"Ayo masuk, Paman!"
"Tidak perlu, Paman masih ada rapat penting," elak Marquez segera pergi dari rumah itu.
Wajah anak perempuan itu kebingungan. "Kenapa dengan paman itu? aneh sekali."
Nina dan Sandra keluar menghampiri Jihan yang merupakan keponakan dari Sandra, anak Nina. "Siapa, Jihan?" tanya Sandra dengan handuk masih melilit rambutnya.
"Tadi ada seorang Paman mencari, Mami! tapi saat aku bilang Mami masih mandi, dia mengatakan ada rapat penting," jelas Jihan pada keduanya.
"Paman?" tanya Sandra bingung.
"Iya, Mi! dia tampan membawa bunga yang jumlahnya banyak sekali," jelas Jihan kembali.
Sandra segera berlari menuju ke arah kamarnya untuk melihat rekaman cctv rumahnya.
Saat sudah berada di kamarnya, Sandra segera melihat rekaman ulang siapa yang datang mencarinya.
Wajah Sandra terkejut karena Marquez yang mencarinya dengan sebuket bunga mawar di tangannya. Ia melihat bagaimana kegugupan pria itu saat hendak membunyikan bel rumahnya.
Sandra segera menyambar ponselnya menghubungi seseorang.
"Cari tahu keberadaan, Tuan Copaldi saat ini," pinta Sandra pada anak buahnya.
"Baik, Nona!"
Sandra segera berganti baju dengan baju yang sedikit tebal karena ia akan mengejar pria itu.
Setelah Sandra selesai berganti baju, ponselnya berdering.
"Halo!"
"Tuan Copaldi menuju arah danau di dekat rumah anda, Nona!"
"Terimakasih!"
Sandra segera menutup teleponnya. Ia berlari menuju arah lantai dasar.
"Sandra! makan dulu," pinta Nina pada adiknya.
"Tak sempat, Kak! keburu kabur buruannya," sergah Sandra sekenanya.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.