Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 159 ( Season 2 )


__ADS_3

Keesokan paginya, matahari mulai memasuki celah gorden kamar dengan nuansa putih abu-abu itu.


Sepasang suami istri yang kemarin baru saja sah tengah menikmati empuknya kasur berukuran king size yang begitu nyaman menopang kedua tubuh mereka.


Keduanya baru pertama kali saling berbagi ranjang. Entah bagaimana guling keduanya kini sudah tak berada dalam pelukan mereka masing-masing.


Jarak mereka hanya sejengkal saja dengan posisi tubuh yang saling berhadapan. Deru nafas keduanya saling bersahutan.


Mata elang seorang pria tampan yang sedari tadi terpejam, kini mulai terbuka.


Pemandangan pertama pagi ini sangat berbeda dari hari-hari biasanya.


Biasanya pria itu setiap harinya saat membuka mata hanya bantal kosong yang tak berpenghuni menghiasi paginya saat William terbangun dari tidurnya.


Tapi sekarang berbeda, dia sudah memiliki seorang istri.


Bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir seksi membuat naluri lelakinya selalu meronta ingin menerkam begitu saja saat matanya melihat ke arah bibir sang istri.


Pria itu tersenyum sambil terus menatap Zinnia yang masih tertidur pulas. "Sebenarnya apa yang membuatku ingin sekali menyentuh benda kenyal ini," tutur William mengarahkan ibu jarinya ke arah bibir Zinnia.


Saat ibu jari itu sudah nenyentuh bibir sang istri, satu kata yang keluar dari bibir William, "Lembut."


Zinnia sepertinya sedikit terusik sampai gadis itu menggeliat kecil.


Ibu jari yang berada di bibir Istrinya langsung di tarik begitu saja dan William berpura-pura tidur.


Benar saja mata indah milik desainer cantik tersebut terbuka dan ia menangkap sosok pria tampan tengah berbaring tepat di depan matanya.


Zinnia masih menatap wajah suaminya tanpa henti. Gadis itu masih tak menyangka jika dirinya sudah menjadi seorang istri.


"Jika kau tidur seperti ini, rasanya duniaku begitu tentram, jika kau bangun ... huh, aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan," gumam Zinnia yang langsung bangun dari tidurnya.


Ia melihat ke arah jam yang terdapat di atas nakas masih menunjukkan pukul 5 pagi.


Gadis itu menggulung rambutnya sembarang kemudian berjalan ke arah kamar mandi, namun sebelum itu ia mengirim pesan pada Asistennya agar membawa semua barang-barang miliknya yang berada di rumah Arnon ke rumah barunya yang sekarang.


Setelah Zinnia sudah masuk ke dalam kamar mandi, William bangun mengintip ke arah kamar mandi. Ia mendengar bunyi air yang keluar dari shower.


Ternyata sang istri tak curiga jika ia sudah bangun dan pura-pura tidur. "Huh, selamat! untung saja dia tak sadar," gumamnya lega.


Pria itu bangun berjalan ke arah sofa menunggu Istrinya selesai mandi.


Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu pada kamarnya terdengar.


Tok tok tok

__ADS_1


William berjalan ke arah pintu tersebut dan membukanya.


"Ini barang-barang Nyonya, Tuan!"


Asih dan satu pelayan lainnya membawa dua koper besar. "Kau bawa saja ke dalam," pinta William pada keduanya.


Asih dan pelayan satunya lagi masuk ke dalam kamar Tuannya meletakkan semua koper milik sang Nyonya.


Setelah kedua pelayannya itu keluar, William menutup pintu kamarnya kembali. Ia berjalan ke arah koper milik istrinya.


William masih melihat dua koper besar itu dengan wajah penuh rasa penasaran. "Apa isi dari koper ini? kenapa harus membawa dua koper besar? apa dia membawa semua bajunya? huh, dia kira aku tak mampu membelikannya baju?"


"Apa yang kau lihat?" tanya Zinnia yang baru keluar dari arah dalam kamar mandi.


William terkejut segera menjauh dari koper istrinya. "Aku hanya penasaran saja dengan isinya," sahut William.


Zinnia langsung membuka kopernya. Ia mengambil dress dan satu set dalamannya.


William menutup matanya saat Zinnia mengambil benda yang bisa membuat pikirannya berfantasi liar.


Zinnia melihat ke arah suaminya. "Kenapa kau menutup mata?" tanya gadis itu.


"Aku tak ingin melihat kain yang kau ambil itu," sahut William dan Zinnia langsung melihat ke arah tangannya.


William langsung membuka matanya. Ia merasa di remehkan oleh Zinnia.


"Aku tak kenapa-napa, aku hanya mengharagaimu saja," elak William.


"Halah! kau sedang mengelak kan? jujur saja tak perlu banyak alasan," ledek Zinnia lagi.


"Aku tidak ...."


"Terserah kau saja! aku ingin ganti baju!" Zinnia berjalan ke arah walk in kloset, namun sebelum itu ia masih berbalik badan menatap ke arah suaminya. "Apa kau ingin menemaniku berganti baju?" tanya Zinnia menawarkan sembari menggoda suaminya.


Wajah William memerah seketika. Ia menatap Zinnia dengan tatapan membunuh. "Jika kau ingin memulai malam pertama kita sekarang, aku akan ikut denganmu dengan senang hati," tutur William yang membalas godaan sang istri.


Zinnia panik. Ia langsung menutup dadanya dengan baju yang ada pada genggaman tangannya.


"Padahal aku hanya ingin menggodanya, tapi kenapa aku yang malah terjebak begini! ini namanya senjata makan tuan."


"Ayolah gadis cerewet! aku tahu kau hanya ingin membuatku terlihat malu kan? tapi siasatmu tak cukup jitu, yang ada kau sendiri masuk dalam perangkap buatanmu."


"Kenapa diam! aku menerima dengan senang hati ajakanmu, Istriku," tutur William lagi sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang istri.


"Dasar pria mesum!" Zinnia langsung berlari menuju arah walk in kloset.

__ADS_1


Sementara William tersenyum manis, namun sedetik kemudian wajahnya memerah.Ia langsung bergegas ke kamar mandi.


"Ah, ini sudah dua kali aku mandi air dingin! kenapa pengaruh gadis itu sangat besar terhadap tubuhku!"


William kembali mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia ingin menghilangkan rasa panas yang menjalari tubuhnya sedari tadi saat Zinnia berani mengajaknya nenemani berganti baju.


Setelah selesai berganti baju, Zinnia berjalan menuruni tiap anak tangga yang berada di rumah itu.


Ia sudah berada di lantai dasar. Gadis itu berjalan ke arah dapur untuk memasak.


Saat sudah berada di dapur, Zinnia melihat para pelayan tengah sibuk memasak.


"Boleh aku membantu kalian?" tanya Zinnia pada para pelayan itu.


Kedua pelayan yang sedang memasak menoleh ke arah Nyonya mudanya. "Tidak perlu, Nyonya! biar kami saja yang memasak," tutur salah satu pelayan.


"Tak apa-apa, aku hanya ingin memasak untuk suamiku saja," bujuk Zinnia.


"Biarkan Nyonya memasak untuk, Tuan!" Asih menengahi argumen ketiganya.


Zinnia langsung berjalan ke arah pelayan yang sibuk menggoreng sesuatu. "Kalian sedang menggoreng apa?" tanya Zinnia.


"Kami sedang menggoreng ikan gurame, Nyonya! Tuan sangat suka dengan gurame saus asam manis."


"Kalau begitu biar aku yang membuat sausnya," tawar Zinnia langsung menuju ke arah tempat bahan-bahan yang diperlukan.


Beberapa menit kemudian, William turun kelantai dasar. Ia mengamati tiap sudut ruangan itu dan benar apa yang dikatakan oleh Edward, jika seluruh rumahnya sudah terdapat kamera pengawas.


"Daddy benar-benar kejam padaku! aku harus bersandiwara jika sudah keluar dari dalam kamar."


William berjalan ke arah dapur dimana aroma saus ikan ke sukaannya tercium sangat wangi.


"Kenapa wanginya sangat enak? biasanya wangi masakan para pelayan tak seenak ini?" tanya William bergumam sendiri


William berjalan ke arah dapur. Dia melihat seorang wanita dengan dress selutut menggunakan apron tengah memasak sesuatu.


Para pelayan sadar dengan kehadiran William, sementara Zinnia tak sadar akan kehadiran suaminya.


Pria itu mengisyaratkan agar para pelayan pergi dan mereka langsung menuruti semua perintah Tuannya.


"Kau harus terlihat menyayanginya, Will! ingat demi, Bunda! dia pasti akan melihat tayangan CCTV itu juga."


William menarik napasnya dalam kemudian berjalan mendekati Istrinya.


Pria itu memeluk tubuh Zinnia dari belakang dengan kepala sudah berada pada bagian tengkuk Istrinya dan tangannya sudah melingkar indah pada bagian perut Zinnia.

__ADS_1


__ADS_2