
6 tahun kemudian
Zinnia tengah sibuk memasak di dapur karena hari ini adalah hari Minggu. Semua keluarganya berkumpul di rumah.
Zinnia sengaja memasak berbagai macam masakan untuk hari ini.
William masih berada di teras belakang rumah sembari menyesap tehnya didampingi dengan cemilan biskuit.
Sementara kedua anak kembarnya masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Hari Minggu adalah hari bebas bagi si kembar karena tak ada larangan apapun bagi mereka untuk melakukan aktivitas apa saja namun, Naru dan Nara masih memilih aktivitas yang menurut Zinnia dan William masuk dalam kategori belajar.
Naru berada di depan televisi menonton acara memasak atau yang berhubungan dengan makanan karena bocah kecil itu suka sekali membantu ibunya kala Zinnia memasak makanan yang terbilang cukup gampang seperti memasak sayur asam atau tempe goreng krispi.
Naru bahkan hapal jenis bumbu dapur mulai dari ketumbar, merica, lengkuas, jahe, kunyit dan kencur.
Zinnia juga bingung, kenapa anak laki-lakinya yang justru lebih suka memasak. Sebenarnya Nara juga suka membantunya namun, gadis kecil itu lebih suka jika ia bergelut dengan buku gambarnya dan kuas melukisnya.
Mungkin bakat yang Naru miliki adalah turunan bakat dari Grandma Melati dan Mommy Zinnia.
Berbeda dengan Nara yang saat ini berada di dalam ruangan yang khusus untuknya karena semenjak duduk di bangku taman kanak-kanak, Nara lebih suka menggambar dan semakin hari, gadis kecil itu semakin menunjukkan bakatnya.
Mungkin lagi bakat Nara diturunkan dari Zinnia yang sangat mahir dalam mendesain gambar busana yang akan ia rancang.
Setelah semua masakan Zinnia selesai, wanita yang masih tetap awet muda itu berjalan menghampiri suaminya yang berada di teras belakang rumah.
"Sayang! ayo kita makan dulu!" Zinnia megajak suaminya sembari berdiri di ambang pintu tanpa mendekati William.
Pria yang sudah sedikit menumbuhkan jambangnya itu menoleh ke arah sang istri dan meletakkan koran yang ia baca.
Dokter tampan itu tersenyum sembari menghampiri Zinnia. "Anak-anak sudah kau panggil?" tanya William pada Zinnia.
"Aku memanggilmu lebih dulu karena aku ingin meminta bantuan padamu agar kau memanggil anak-anak kita, Sayang!"
"Baiklah! aku akan memanggil mereka dan kau tunggu kami di meja makan!" William mengusap lembut kepala Zinnia.
Zinnia tersenyum sebelum ia berjalan meninggalkan suaminya ke arah meja makan.
William berjalan ke arah kamar anaknya yang berada di lantai dasar karena jika kamar si kembar berada di lantai atas, William khawatir takut terjadi sesuatu karena anak tangga dirumahnya berjumlah sangat banyak.
Tok tok tok
__ADS_1
William mengetuk pintu kamar Nara namun, tak ada sahutan dari dalam.
Akhirnya William membuka pintu itu karena ketukan yang ia buat tak direspon.
Saat pintunya sudah terbuka lebar, tak ada Nara di dalam sana. "Kemana dia?" tanya William pada dirinya sendiri.
William melihat ke arah ruangan tepat di sebelah kiri ruangan putrinya. "Pasti sedang sibuk melukis," tebak William mulai berjalan ke arah ruangan itu.
William kembali mengetuk pintu tersebut karena William mengajarkan kepada kedua anaknya untuk mengetuk pintu terlebih dulu jika ingin masuk ke ruangan seseorang.
Tok tok tok
William mengetuk pintu ruangan putrinya. Kali ini tak butuh waktu lama untuk daun pintu itu terbuka.
Ceklek
Saat pintu terbuka, seorang gadis cantik dengan rok tutu berwarna pink dan atasan berwarna senada mendongakkan kepalanya menatap ke arah sang ayah. "Ada apa, Dad?" tanya Nara pada ayahnya.
William tersenyum sembari berjongkok. "Waktunya makan siang, Sayang!"
Nara berlari ke dalam pelukan ayahnya. "Aku ingin di gendong oleh, Daddy!" Nara merengek pada ayahnya.
"Apapun untuk Tuan Putri akan Daddy lakukan," tutur William langsung menggendong putrinya yang nampak terlihat lebih mirip dengan Zinnia.
"Mommy!" Nara berteriak dari jarak cukup jauh memanggil ibunya.
Zinnia yang sibuk menuangkan air menoleh ke arah sumber suara sang putri dan putri kecilnya tersenyum padanya.
Zinnia menghentikan sejenak menuangkan air minumnya.
William berjalan ke arah sang istri. Dokter tampan yang sudah di tumbuhi sedikit jambang itu mendudukkan gadis kecilnya tepat di samping tempat duduk Zinnia. "Nara tunggu disini karena Daddy akan memanggil kakakmu," pinta William dan Nara mengangguk patuh.
William berjalan ke arah ruang TV karena ia tahu jika hari libur, Naru pasti berada di ruang TV.
Saat tiba di ruangan tersebut ternyata sang putra tengah asyik menonton seorang Chef memasak. "Naru! ayo makan siang dulu!" William berhenti tepat di samping sofa yang diduduki oleh putranya.
Naru melihat ke arah ayahnya. "Apa yang lain sudah berkumpul?" tanya Naru pada sang ayah.
"Sudah, Sayang! semuanya sudah menunggumu di meja makan," jelas William pada putranya.
"Tapi tinggal resep terakhir ini, Dad!" Naru memohon pada ayahnya agar boleh menonton tayangan pada televisi tersebut sampai akhir.
__ADS_1
William berjalan mendekati putranya. "Apa kau suka melihat orang memasak?" tanya William pada putranya.
Naru hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan ayahnya.
William tersenyum mengusap lembut rambut Naru. "Apa kau tak ingin menjadi seorang Dokter seperti, Daddy?" tanya William lagi.
"Yang aku tahu hanya seputar masalah memasak, Dad! aku tak mengerti tentang alat suntik atau stetoskop," tutur Naru polos pada sang ayah.
William terdiam sejenak. Ia masih memikirkan semua perkataan putranya.
"Sepertinya Naru tak mewarisi bakat dariku! tapi setidaknya dia harus menjadi pemegang semua rumah sakit milikku dan Jonathan pasti bisa membantu keponakannya mengelola semua rumah sakit milikku."
William merentangkan kedua tangannya. "Jika kau memang ingin menjadi seorang Chef handal, Daddy akan mendukungmu, Sayang!"
Naru tersenyum masuk ke dalam pelukan ayahnya. "Terima kasih, Dad!"
William mengangkat tubuh Naru membawanya ke arah meja makan dimana istri dan anak perempuannya tengah menunggu mereka berdua. Wajah Naru lebih mirip dengan William.
Si kembar terlahir bukan sebagai bayi indentik jadi seperti bukan saudara kembar sangat berbeda jauh.
Naru dan Nara memang masih berusia enam tahun namun, mereka lebih cerdas dari anak-anak seusianya.
Di Amerika tepatnya di kota New York, Sandra tengah menggendong anaknya yang masih berumur dua tahun. Putri kecilnya itu bernama Niken Copaldi.
Marquez dan Sandra sengaja memberikan nama anak pertama mereka Niken untuk menghormati cinta tulus wanita yang selama bertahun-tahun mencintai Marquez dalam diam sampai ajal menjemputnya.
Sandra dan Marquez saat ini tinggal di Amerika karena urusan Marquez di Negaranya yang tak bisa ditinggalkan.
Jonathan Pattinson yang tak lain anak dari Edward dan Salma sudah kembali ke Indonesia meneruskan rumah sakit milik sang ayah. Sementara Arya adik dari Zinnia juga sudah kembali ke Indonesia.
Ia saat ini menjadi pengusaha muda yang mengelola setiap mall besar di setiap kota di Indonesia milik Arnon.
Untuk ayah Melati, beliau saat ini sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai mandor, ia sudah dibiayai oleh Arnon dan Melati dan sudah disiapkan uang tabungan untuk hari tuanya nanti. Alasan Hadi tak membahas tentang istrinya yang berada di penjara karena ia sudah tahu dan mendengar berita kala itu dari tetangga lamanya, jika Anggi sudah masuk penjara dan Hadi tak ingin menanyakan hal itu pada kedua putrinya karena ia tak ingin menguak luka lama yang sudah perlahan mulai terkubur karena keserakahan Anggi sendiri yang membuat istri keduanya itu bisa dijebloskan ke penjara.
Arnon dan Melati saat ini pensiun dari pekerjaannya. Zinnia dan Arya meminta pada kedua orangtuanya untuk beristirahat menikmati masa tua mereka.
TAMAT
__ADS_1
LANJUT BACA KISAH NARU DENGAN JUDUL "Cinta Milik Naru". LANGSUNG KLIK FOTO AUTHOR AJA YA KAKAK READERS ATAU CARI AJA DI KOLOM PENCARIAN JUDULNYA. SUDAH TERBIT BISA LANGSUNG DIBACA 🥰 JANGAN LUPA VOTE LIKE DAN KOMENTARNYA, JADIKAN FAVORIT JUGA YA KAKAK😘
Terima kasih untuk para readers setia novel ini. Tanpa kalian author bukan apa-apa. Love you dan sun online dari author 💋💋💋💋💋💋