Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 288 ( Season 2 )


__ADS_3

Kini usia kehamilan Zinnia sudah menginjak enam bulan.


Desainer cantik itu sekarang sudah resmi tak pergi ke butik lagi.


Semua urusan butik diserahkan pada Sandra, sementara Marquez berada di Negaranya untuk sementara waktu mengurus beberapa pekerjaan disana. Sandra dan Marquez harus LDR karena tuntutan profesi yang mengharuskan mereka berdua seperti itu.


Hari ini adalah jadwal Zinnia memeriksakan kandungannya. Kebetulan hari ini jadwal William kosong dan ia bisa menemani istrinya untuk memeriksa kondisi kedua anak kembar mereka.


Sebenarnya William setiap bulannya juga menemani Zinnia memeriksakan kandungannya dan Dokter kandungan yang dipercaya oleh William untuk menangani kedua calon anaknya adalah sang Bunda.


Hari ini merupakan hari sangat penting, lebih penting dari hari biasanya Zinnia memeriksakan kandungannya.


Hari ini adalah hari dimana Zinnia dan William akan mengetahui jenis kelamin dan keadaan si kembar di dalam sana.


"Semuanya sudah siap?" tanya William pada sang istri dan Zinnia menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Zinnia dan William berjalan ke arah halaman depan menuju arah mobil yang sudah menunggu mereka berdua.


Zinnia terlihat lebih sulit berjalan dengan perut yang lebih besar dari orang hamil pada umumnya karena bayi yang berada dalam rahimnya bukan hanya satu, melainkan dua sekaligus.


William dengan lembut merengkuh tubuh istrinya. "Pelan-pelan saja! Bunda pasti mengerti dengan kondisimu saat ini," tutur William pada istrinya.


William membukakan pintu mobil untuk Zinnia. Setelah Zinnia sudah masuk ke dalam, William baru masuk ke mobil itu melewati sisi yang berseberangan dengan istrinya.


Roda mobil yang ditumpangi oleh William sudah berputar mengikuti alur si pengemudi.


Mobil mewah itu berjalan menelusuri jalanan beraspal yang langsung tertuju pada rumah sakit milik William.


Saat berada di dalam mobil, Zinnia tak henti-hentinya mengusap lembut perut buncitnya. "Sebentar lagi Mommy dan Daddy akan tahu seperti apa kalian berdua," gumam Zinnia menundukkan kepalanya menatap ke arah perutnya.


William melihat ke arah Zinnia sembari berkata, "Kuharap mereka mirip denganmu, Sayang! jika mereka berdua mirip denganku, aku takut para lawan jenis mereka tak sanggup melihat kearifan lokal yang sangat menggoda iman," celetuk William pada Zinnia.


Ibu hamil itu menoleh ke arah Suaminya. "Aku tahu kau tampan dan aku memang jelek," rajuk Zinnia masih terus mengelus perut buncitnya.


William tersenyum karena ia memang suka memancing emosi Zinnia yang akhir-akhir ini di goda sedikit saja langsung meluap bagai gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panas dinginnya.


"Aku hanya bercanda, Sayang! jika kau jelek, mana mungkin aku mau padamu," goda William lagi.


Zinnia hanya menatap William acuh. Desainer cantik itu masih tetap mengelus perutnya sampai pada saat ....


Duk


Zinnia diam sejenak untuk menormalkan keterkejutannya. "Ini ...."


Zinnia tak melanjutkan ucapannya karena ia mendapatkan tendangan lanjutan dari si kembar.


Duk

__ADS_1


"Sayang! coba kau sentuh perut bagian sini!" Zinnia menarik paksa tangan Suaminya agar menyentuh perut bagian kirinya.


"Ada apa?" tanya William cemas.


"Diam saja! kau tak perlu banyak bicara! kau hanya perlu diam dan rasakan gerakan pada telapak tanganmu," pinta Zinnia dan William melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya.


Saat William dan Zinnia tengah fokus dengan perut buncit itu, tiba-tiba tendangan bebas dari si kembar kembali di cetak.


Duk Duk


Kali ini bukan hanya sekali saja, melainkan dua kali berturut-turut dan William bertukar pandangan dengan Zinnia. "Ini ... ini anakku?" tanya William terkejut setengah mati.


Zinnia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


William tersenyum dengan kepala yang ia sejajarkan dengan perut Zinnia. "Apa kalian berdua tahu, jika Daddy sedang menyentuh perut, Mommy?" tanya William pada kedua calon anaknya yang masih berada di dalam rahim sang istri.


Mata William mulai berkaca-kaca karena sebentar lagi rumahnya akan dipenuhi oleh suara tangis bayinya dan Zinnia.


"Daddy mencintai kalian bertiga, Sayang!" William menengadahkan wajahnya menatap ke arah Zinnia. "Bertiga sudah termasuk denganmu, Mom!" William tersenyum ke arah istrinya.


Zinnia membalas senyuman manis suami dokternya. "Aku juga mencintai kalian bertiga," balas Zinnia menangkup wajah William dan ....


Cup


Kecupan hangat mendarat pada kening William.


Setelah kecupan penuh kasih sayang itu ia berikan pada suaminya, William kembali menatap ke arah perut Zinnia. "Sehat selalu di dalam sana ya, Sayang!"


Cup cup


Dua kecupan hangat mendarat pada perut buncit Zinnia.


William meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri menghadap ke arah dimana kedua bayinya berada.


Zinnia mengusap lembut rambut lebat suaminya.


Tak terasa sudah beberapa waktu berlalu, kini mobil mewah Zinnia dan William sudah berhenti di halaman parkir rumah sakit milik suaminya.


William turun lebih dulu, sementara Zinnia menunggu suaminya yang akan membawanya ke ruang kandungan.


William dan Zinnia sudah berada di depan lift menuju ruang kandungan dan Bunda dari Suaminya sudah menunggu mereka berdua disana.


Setelah denting lift berbunyi, pintu lift itu terbuka dan sepasang suami istri tersebut keluar menuju arah ruang kandungan.


Zinnia dan William terus berjalan melangkahkan kaki mereka ke arah pintu bertuliskan "RUANG KANDUNGAN".


William membuka pintu ruangan tersebut dan Salma sudah menunggu disana bersama Edward.

__ADS_1


William dan Zinnia langsung masuk ke dalam. "Daddy dan Bunda pasti sedang pacaran!" William menggoda mereka berdua dan Zinnia mencubit perut Suaminya.


"Sakit, Sayang! tak perlu malu pada Daddy dan Bunda! mereka berdua memang sedang pacaran, iya kan, Bunda?" tanya William dan Salma hanya tersenyum menanggapi celotehan putranya.


"Zinnia langsung berbaring saja ya, Nak! Bunda ingin segera melihat calon cucu Bunda!" Wajah Salma terlihat sangat antusias sekali.


Zinnia melakukan apa yang diperintahkan oleh mertuanya, sementara William masih berada tepat di samping Edward. "Daddy sebentar lagi akan menjadi kakek-kakek yang dikenal memiliki gigi ompong," bisik William pada Edward.


"Jangan banyak bicara, Will! cepat bantuan istrimu," kesal Edward pada William.


William hanya tersenyum sembari secepat kilat memapah tubuh istrinya agar berbaring dengan aman.


Salma mulai menuangkan gel pada permukaan perut buncit menantunya. Perlahan probe yang berada di tangan Salma mulai menyentuh permukaan kulit perut Zinnia.


Dokter kandungan itu melihat ke arah monitor untuk melihat keberadaan calon cucu kembarnya.


"Kalian semuanya fokus pada layar monitor itu!" Salma memperingati semua orang yang berada di dalam ruangannya.


Di layar monitor itu terlihat dua bayi yang memejamkan matanya dengan kaki terlipat karena ruang rahim Zinnia akan semakin sempit setiap bulannya. Mereka berdua akan terus tumbuh besar sampai keduanya sudah siap melihat indahnya dunia.


"Ini anak kalian! mereka berdua sehat dan kita akan melihat jenis kelaminnya."


Salma mencari jenis kelamin cucu pertamanya. "Jenis kelamin bayi yang ini laki-laki," tutur Salma menggerakkan probe itu pada bagian wajah cucunya yang berjenis kelamin laki-laki.


William dan Zinnia terlihat sangat senang sekali karena salah satu anak kembar mereka sudah diketahui jenis kelaminnya.


Salma kembali menggerakkan probe itu ke arah bayi Zinnia yang lainnya dan Salma tersenyum manis kala ia melihat jenis kelamin dari bayi kedua William dan Zinnia. "Bayi yang ini berjenis kelamin perempuan dan kalian berdua akan mendapatkan anak laki-laki dan perempuan sekaligus," tutur Salma tersenyum pada William dan Zinnia.


Edward yang berada di sofa ruangan itu ikut bahagia untuk William dan Zinnia.


Mata Zinnia menatap lekat ke arah monitor itu. Kedua mata Zinnia mulai menggenang.


William terharu sampai air matanya tak sadar sudah menetes mengenai tangan istrinya yang ia genggam erat.


Zinnia menoleh ke arah Suaminya karena ia merasakan ada tetesan air yang mengalir pada tangannya.


"Sayang!" Zinnia memanggil suaminya.


William menoleh ke arah Zinnia. "Kita sebentar lagi akan segera menjadi orangtua, Sayang!" William mendekatkan wajahnya pada perut polos Zinnia yang hanya sebagian saja yang terlihat.


Perlahan William mengecup perut buncit sang istri dengan tetesan air mata yang tak dapat ia tahan lagi. "Daddy mencintai kalian, Sayang!"


Semua mata yang menyaksikan keharuan itu ikut berkaca-kaca.


"Semoga hidup keluargamu dan Zinnia selalu dilimpahkan kebahagiaan, Will!


Edward hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keponakannya yang sebentar lagi tak akan merasa sendiri lagi karena kedua anak kembarnya beserta Zinnia akan menemani keponakannya.

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2