
Di dapur rumah keluarga Gafin, seorang wanita paruh baya dengan gaya stylish ala ibu-ibu sosialita tengah sibuk memasak makanan dan cake untuk anak dan menantunya.
Wanita itu adalah Susan. Ia tiba di rumah jam satu dini hari.
Saat melihat isi rumah sudah terdekorasi dengan indahnya, wanita paruh baya itu mengerti jika sang putra sudah meminta jatah pada menantunya.
Bahkan saat pagi menjelang, kedua pasangan muda itu masih belum keluar dari kamar mereka.
Susan berinisiatif untuk membuat makanan dan beberapa macam cake sebagai tanda perayaan hari dimana Arnon dan Melati bersatu menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.
Semua pelayan sibuk di dapur mengerjakan tugas mereka masing-masing yang sudah di perintahkan oleh Susan.
Ibu Arnon itu memang selalu turun tangan sendiri jika sudah menyangkut perayaan besar karena ia ingin ikut andil membuat masakan yang memanjakan lidah para penikmat masakannya.
Susan memang bukan tipe orang yang hanya berdiam diri saja melihat para pelayan bekerja. Jika ada waktu, ia akan ikut terjun langsung ke dapur. Karena Susan seorang desainer, jadi hari-harinya di sibukkan dengan urusan mendesain pakaian.
Jika semua orang di rumah itu tengah sibuk dengan urusan dapur, berbeda dengan sepasang suami istri yang masih ada di dalam kamar mereka dengan peluh yang masih membasahi tubuh keduanya.
Arnon berbaring di samping Melati. Pria itu masih dengan nafas terengah-engah karena dirinya lah yang terus berkerja, sedangkan sang istri hanya menerima karena Melati masih malu untuk mengambil alih kendali saat permainan panas mereka berlangsung.
Melati tidur dengan posisi telungkup dengan tetesan keringat yang membasahi punggung polosnya.
Keduanya masih berada dalam satu selimut yang sama.
Melati menatap ke arah Arnon dan pria itupun tengah menatap ke arahnya.
Senyum keduanya terpancar indah. Arnon bergeser mendekat ke arah Melati.
Pria itu mencium kening istrinya lama. "Terimakasih, Sayang!"
Melati menyentuh pipi Arnon lembut. "Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu dan juga sudah menjadi hakmu, Sayang!"
Arnon sungguh beruntung memiliki istri seperti Melati. Gadis itu memang terkesan cuek di luar, namun jika mengenalnya cukup dalam, gadis itu sungguh berhati malaikat.
Arnon membayangkan kehidupan istrinya saat Melati masih hidup bersama keluarga tirinya.
Hati Arnon bagai di tusuk jarum beratus-ratus jumlahnya. Ia benar-benar tak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Melati.
Arnon mencium punggung polos Melati.
"Ayo kita mandi dulu," ajak Arnon pada sang istri.
Melati mengubah posisinya tidur terlentang kemudian bangun dan beringsut ke bibir ranjang.
Gadis itu masih sibuk dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Saat kedua kakinya hendak melangkah, daerah intimnya kembali terasa perih, bahkan lebih perih dari sebelumnya.
Melati meringis menahan rasa sakit.
Arnon bergerak mendekati sang istri yang tiba-tiba saja berhenti melangkah.
"Sayang! apa kau tak apa-apa?" tanya Arnon yang sudah memakai celana boxer-nya.
"Daerah kewanitaanku terasa perih," adu Melati pada Arnon.
Pria itu tergelak dengan apa yang di tuturkan oleh istrinya. Arnon tak habis pikir, kenapa bisa ada wanita sepolos Melati.
"Coba kau lihat bercak darah di sprei itu," pinta Arnon yang langsung di ikuti oleh kedua mata Melati.
Gadis itu terkejut melihat ada bercak darah pada sprei tempat mereka semalam sampai tadi pagi menghabiskan waktu bercinta.
"Apa aku datang bulan lagi? tapi aku kan baru dua hari yang lalu selesai menstruasi?"
Wajah Melati mulai kebingungan karena ia tak biasanya setelah dua hari selesai menstruasi tiba-tiba datang bulan kembali.
Arnon memeluk tubuh Melati mengecup puncak kepala istrinya.
"Itu bercak darah seorang perawan, Sayang! terimakasih karena kau telah menjaga mahkota itu untukku," ujar Arnon mengeratkan pelukannya.
Melati membalas pelukan hangat Arnon.
Gadis itu selalu merasa nyaman berada di dekapan suaminya.
Arnon mengecup-ngecup kecil puncak kepala Melati. Pria itu gemas sekali dengan istrinya.
"Semoga Arnon atau Melati junior bisa cepat tumbuh di dalam rahimmu, Sayang!"
Gadis itu mengangguk dengan posisi kepalanya berada pada dada bidang Arnon yang masih bertelanjang dada.
"Sekarang kita mandi dulu, setelah itu kita turun ke bawah untuk makan," ucap Arnon mengangkat tubuh Melati membawanya ke arah kamar mandi.
Saat sudah berada di ambang pintu, Melati menepuk pundak suaminya. Sontak Arnon menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Arnon menatap wajah Melati.
"Turunkan aku," pinta gadis itu.
"Untuk apa kau meminta turun di sini? aku juga akan ikut mandi bersamamu," jelas Arnon.
__ADS_1
Melati menggeleng kepalanya tanda menolak permintaan Arnon.
Dahi pria itu mengkerut sempurna. "Kenapa?" tanya Arnon bingung.
"Aku ingin mandi sendiri, setelah itu baru kau," ujar Melati.
"Tidak mau! aku ingin kita mandi bersama," tolak Arnon mentah-mentah.
"Aku harus mencari cara agar kita tak mandi bersama," pikir Melati.
"Sayang! izinkan aku sekali ini saja mandi terlebih dulu, aku tahu apa yang akan terjadi jika kita tetap mandi bersama! aku ingin beristirahat terlebih dulu, tenagaku sudah habis," bujuk Melati dengan nada manja sambil memainkan jari telunjuknya pada dada bidang Arnon.
Pria itu mengembuskan napas panjang. "Baiklah! kali ini aku akan melepaskanmu, istriku! tapi untuk acara mandi selanjutnya ... kau pasti aku makan sampai puas."
"Terimakasih, Suamiku!" Melati mencium pipi Arnon.
Arnon menurunkan tubuh Melati secara perlahan agar istrinya tak merasakan sakit pada bagian sensitifnya.
Melati melangkah secara pelan menuju kamar mandi. Saat pintu itu sudah tertutup dari dalam, tiba-tiba pintu tersebut terbuka kembali dengan sebuah tangan keluar dari balik pintu meletakkan selimut tebal yang di gunakan oleh Melati.
Arnon tergelak melihat tingkah konyol istrinya. "Untuk apa kau masih malu-malu, Sayang! aku sudah melihat semua lekuk tubuhmu, bahkan sampai hal yang paling sensitif dari tubuhmu, istriku!"
Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi karena Melati saat ini tengah menikmati sensasi berendam dalam bathtub dengan aroma terapi lavender.
"Badanku sakit semua! Arnon benar-benar membuatku remuk dalam waktu semalam, ditambah lagi tadi pagi ... ah, pria itu benar-benar tangguh," gumam Melati yang masih menenggelamkan seluruh badannya ke dalam bathtub kecuali kepala.
Gadis itu menikmati aroma terapi dari dalam bathtub dengan kedua tangan sambil memainkan busa yang menutupi lekuk tubuh indahnya.
Arnon menunggu di sofa kamarnya sambil mengutak-atik laptop yang bertengger di meja.
Email masuk dari Asisten Pram. Arnon segera membuka dan melihat apa isi dari email yang dikirim oleh orang kepercayaannya.
Rahang Arnon mengeras, tangannya mulai mengepal keras dengan kedua mata penuh kilatan tajam.
"Sudah kuduga! pria itu bukan hanya senior bagi Melati, tapi senior merangkap menjadi orang yang menyukai istriku."
Arnon semakin harus waspada saat wanitanya berdekatan dengan pria penuh tipu daya seperti Erick. Arnon bisa membaca gerak-gerik rivalnya yang ingin mendekati Melati.
"Kau pikir sedang berurusan dengan siapa, bocah!"
"Siapa yang kau sebut bocah?" tanya Melati yang tiba-tiba duduk di samping Arnon dengan rambut yang masih tergulung oleh handuk.
"Oh, Pram yang aku sebut bocah, Sayang! dia tak bisa menyelesaikan masalah kecil," jelas Arnon yang berbohong pada Melati.
Gadis itu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Arnon padanya.
"Mandikan," pinta Arnon merengek manja.
"Kau itu bukan bayi, Sayang! cepat mandi sendiri sana!"
"Tidak mau! aku maunya di mandikan oleh istriku," rajuk Arnon dengan wajah di buat cemberut.
"Baiklah! aku akan memandikan bayi besarku ini, tapi untuk nanti malam tak ada ja ...."
"Aku mandi sendiri, Sayang! aku mencintaimu, istriku!"
Arnon berlari kecil menuju arah kamar mandi kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
Melati tersenyum geli melihat tingkah kekanakan Arnon, padahal umur pria itu sudah hampir menginjak kepala tiga.
"Ternyata umur tidak menentukan kedewasaan seseorang, hahahaha!"
Tawa Melati pecah mengingat suaminya seperti anak kecil saja.
Beberapa menit kemudian, Arnon keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dengan handuk hanya melilit bagian pinggangnya.
Pria itu melihat ke arah Melati yang masih asyik bersolek di depan meja riasnya.
Arnon mendekati sang istri mengecup puncak kepala rambut Melati yang menjadi candunya.
"Apa kita bisa ke bawah sekarang?" tanya Arnon menempelkan perut kotak-kotaknya pada kepala Melati.
Melati menatap pantulan Arnon di cermin. "Apa kau hanya akan memakai handuk yang melilit di pinggangmu itu?" tanya Melati balik.
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya menuju walk in kloset untuk mengambil baju yang akan di kenakan oleh suaminya.
Tak butuh waktu lama untuk Melati mengambil baju Arnon. Gadis itu sudah kembali dengan kaos lengan pendek dan celana selutut.
Arnon tanpa ragu memakai baju yang sudah diambilkan oleh istrinya, bahkan pria itu mengenakan di hadapan Melati.
Gadis itu kini sudah mulai terbiasa dengan sifat Arnon yang sudah blak-blakan di hadapannya.
Melati lebih memilih mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Setelah mereka berdua selesai bersiap, keduanya turun menuju lantai dasar.
Saat kaki Melati menapaki tiap anak tangga, indera penciumannya menangkap aroma kue yang sangat enak.
__ADS_1
Gadis itu berjalan lebih cepat dari Arnon menuruni tiap anak tangga.
Melati berlari kecil menuju arah dapur. Saat sudah berada di dapur, Melati terkejut melihat mertuanya ternyata sudah kembali dari luar negeri.
"Mommy!"
Susan menoleh ke arah Melati dan tersenyum manis ke arah menantunya itu.
"Sayang! kau sudah bangun?" tanya Susan yang masih sibuk dengan beberapa adonan cake-nya.
"Maaf, Mom! aku kesiangan bangunnya," sesal Melati yang tak enak hati pada mertuanya.
Dia dan Arnon di atas sedang enak-enak, sedangkan mertuanya di bawah sibuk membuat cake. sungguh Melati merasa sangat bersalah.
"Hei, kenapa dengan raut wajahmu, Nak? Mommy tak marah padamu! Mommy juga pernah muda dan Mommy juga sama sepertimu saat malam pertama, Mommy juga bangun kesiangan," jelas Susan sambil tersenyum meledek.
Wajah Melati seketika memerah mendengar ucapan mertuanya.
"Astaga! apa Mommy tahu jika aku dan Arnon ...."
"Apa yang Mommy katakan? aku tidak melakukan apa-apa kok!"
Melati berjalan ke arah tempat penyimpanan apron dan memakainya untuk membantu Susan membuat cake.
"Benarkah? kalian tak melakukan apa-apa?" tanya Susan memastikan.
"Benar, Mommy!" Arnon menjawab pertanyaan Susan yang di tujukan pada Melati.
"Wah, putra Mommy sudah bangun juga rupanya ya? jika kalian tak melakukan apa-apa? kenapa bisa kompak begini bangun kesiangan?" tanya Susan lagi yang pura-pura tak tahu mengikuti permainan anak dan menantunya.
"Kelelahan," sahut keduanya bersamaan.
Melati dan Arnon saling tatap.
"Wah, kenapa bisa kelelahan? memang apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Susan lagi sambil memasukkan adonan cake-nya ke dalam oven.
"Ah, terserah, Mommy lah! aku lapar!"
Arnon mendekati Melati dan menarik tangan istrinya menuju meja makan.
"Aku masih ingin membantu, Mommy!"
"Nanti saja! kau harus makan dulu, Sayang!"
Susan merasa geli mendengar putranya memanggil Melati dengan sebutan sayang.
"Kau makan saja dulu, Melati! nanti baru bantu Mommy!" Susan sedikit berteriak agar Melati mendengar ucapannya.
"Dasar, Arnon! Mommy tahu, kau pasti akan jatuh cinta pada Melati, bahkan bertekuk lutut pada istrimu itu, Nak!" Susan bergumam sambil melanjutkan pekerjaannya.
Arnon dan Melati sudah berada di meja makan. Di ruangan itu sudah tersedia berbagai menu makanan yang sehat dan bergizi tentunya.
Keduanya bingung, kenapa menu makanan kali ini sangat beragam?
Melati dan Arnon menyantap makanan yang memang di sediakan untuk mereka berdua karena Susan tahu, tenaga pasangan muda yang masih baru merasakan nikmatnya malam pertama pasti tenaga mereka akan terkuras habis akibat pertarungan sengit keduanya.
Setelah beberapa menit mereka makan, akhirnya acara menambah tenaga itu sudah selesai dan Melati membawa semua gelas dan piring kotor ke dapur.
Arnon menyusul istrinya ke dapur. Di sana Melati sedang sibuk mencuci piring, sementara Susan pergi entah kemana, namun cake yang di oven oleh Susan masih ada yang belum matang.
Arnon memeluk perut Melati dari belakang.
"Apa kau masih akan membantu, Mommy?" tanya Arnon dengan wajah sudah berada di ceruk leher istrinya.
"Hem," sahut Melati yang masih sibuk membilas cucian piringnya.
"Aku ingin selalu bersamamu, Sayang!" Arnon mulai ingin bermanja-manja dengan Melati.
"Sayang! aku harus membantu, Mommy! nanti malam saja ya?"
"Hihihi! masuk perangkap juga kelinci kecilku ini," batin Arnon.
"Janji?" tanya Arnon.
"Janji," jawab Melati.
Senyum Arnon terukir manis, semanis gula tanpa pemanis buatan tentunya.
"Baiklah! aku akan ke ruang belajar dan aku akan menagih janjimu nanti malam," bisik Arnon yang tiba-tiba mengecup tengkuk Melati.
Tubuh gadis itu menegang saat bagian dari tubuhnya kembali di sentuh oleh bibir Arnon.
Pria itu pergi dengan senyuman yang tak memudar dari bibirnya, sementara Melati menetralkan nafasnya karena jantungnya berdegup kencang menerima kecupan kecil dari Arnon.
"kenapa dia selalu menggodaku seperti ini?"
Melati kembali melanjutkan membilas piring kotor, kemudian setelah semua peralatan makannya sudah selesai di cuci. Melati mengecek sisa cake yang masih berada dalam oven, sudah matang atau belum.
__ADS_1
Gadis itu begitu cekatan dalam urusan dapur karena mengingat masa lalu Melati memang lebih banyak mengurus keperluan keluarganya. Seperti memasak, menyapu, dan lainnya.