Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 277 ( Season 2 )


__ADS_3

Niken dan Marquez berada di ujung jalan yang berseberangan dengan keluarganya.


Niken melihat ke arah Marquez. "Boleh aku meminjam lenganmu hanya sebentar saja? aku janji tak akan lama, setelah acara ini sampai pada puncaknya, aku akan melepaskan lenganmu tak akan berani meminta hal seperti ini lagi," izin Niken dan Marquez menganggukkan kepalanya dengan pandangan lurus ke depan tanpa melihat ke arah Marquez.


Niken masih tetap menatap ke arah Marquez. Ia masih belum melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Marquez.


"Apa kau begitu benci dan begitu tak menginginkan pernikahan ini meskipun hanya berpura-pura bahagia di depan semua orang?"


Niken hanya bisa tersenyum menerima kenyataan yang ada. "Maaf karena telah lancang," ujar Niken sebelum tangan lemahnya melingkar indah di lengan Marquez.


Benturan Hells yang dikenakan oleh Niken cukup terdengar indah.


Niken dan Marquez berjalan beriringan bagai sepasang suami istri yang saling mencintai namun, hanya ada dalam khayalan Niken saja.


Keluarga yang menantikan keduanya masuk lebih dulu duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Kedua orangtua mereka duduk di kursi paling depan, diikuti oleh para saudara lainnya di belakangnya.


Niken dan Marquez sudah berada di ambang pintu gereja itu.


Saat Niken melihat ke depan mimbar dimana pendeta sudah menunggunya. Wanita itu memejamkan matanya dan tangan Marquez terlepas dari genggaman tangan Niken yang saat ini digantikan oleh sang ayah.


Marquez berjalan lebih dulu ke depan menunggu calon istrinya di depan mimbar bersama pendeta.


Mata Niken terbuka saat ia tahu jika sang ayah yang berada di sampingnya.


Niken melihat ke arah sang ayah dengan senyum manisnya. "Sebentar lagi putri Daddy akan menjadi seorang istri," tutur sang ayah setengah berbisik pada Niken.


"Dan itu tak akan pernah mungkin, Dad!"


Perlahan tapi pasti langkah kaki Niken semakin dekat dengan Marquez yang sudah menunggunya.


Semua keluarga yang hadir melihat ke arah mempelai wanita dan ayahnya.


Kini Niken sudah melewati para keluarganya yang akan menyaksikan pemberkatan dirinya dan Marquez. Lebih tepatnya pemberkatan pernikahan Marquez dan wanitanya.


Niken dan sang ayah sudah berada di hadapan Marquez dan ayah Niken menyerahkan putrinya pada Marquez. "Jaga putriku," tutur ayah Niken sembari memberikan tangan putrinya pada tangan Marquez dan desainer tampan itu menerima tangan Niken.


Semua keluarga yang hadir kembali duduk, begitu pula dengan ayah Niken.


Kini Marquez dan Niken sudah saling berhadapan, dengan pendeta berada di tengah-tengah diantara keduanya.


Tangan Niken masih berada dalam genggaman tangan Marquez dan wanita itu sangat bahagia karena ia bisa merasakan sentuhan lembut tangan Marquez padanya, meskipun hanya sebentar.

__ADS_1


"Pengantin pria! apakah kau bersedia menerima wanita ini, mencintainya, setia padanya, tidak perduli sakit, miskin, atau cacat, atau bahkan mati, apa kau bersedia?" tanya pendeta itu yang memulai acara pemberkatan pernikahan Marquez dan Niken.


Marquez melihat ke arah Niken yang nampak kebingungan karena mencari keberadaan seseorang di setiap deretan para keluarga yang hadir.


"Semoga saja dia cepat datang dan pengorbananku tak sia-sia."


Niken terus melihat ke arah pintu masuk gereja tersebut dan Zinnia beserta William dan seorang wanita yang nampak sangat cantik dengan gaun pernikahan yang ia rancang sendiri berjalan masuk ke dalam gereja tersebut.


Meskipun Zinnia dan Marquez tak memiliki agama yang sama, tapi mereka berprinsip jika perbedaan itu tak membuat jalan kesuksesan keduanya harus terhambat karena semua orang berhak dengan agama yang mereka pilih. Kita sebagai sesama manusia harus saling toleransi dan menghormati tiap agama yang ada di bumi ini.


Niken tersenyum melihat wajah Sandra yang sangat cantik. Dibalik senyuman manis seorang Niken, wanita itu mencengkram erat gaun pengantinnya. Ia mencoba menahan rasa sakit hatinya.


Niken merasa ini waktu terakhir bersama Marquez. Satu detik kau memberikannya pada orang lain, maka dia tak akan pernah bisa engkau gapai.


"Sudah waktunya kau menyerahkan sesuatu yang bukan milikmu, sudah saatnya kau merelakan dia bersama wanita yang dicintainya, Niken!"


Mempelai wanita berjalan dengan langkah terasa berat namun, Niken berusaha sekuat mungkin agar urusannya segera terselesaikan.


Semua mata orang yang menjadi saksi pemberkatan pernikahan Marquez dan Niken seketika dibuat melongo karena Niken meninggalkan calon suaminya sendirian di depan mimbar.


Marquez melihat ke arah langkah Niken berjalan dan ia mendapati sesosok wanita yang sangat ia rindukan.


Sandra mematung karena Niken berjalan ke arahnya, sementara Zinnia dan William diam berdiri dua langkah di depan Sandra.


Niken terus berjalan menahan rasa sakit di dadanya dengan cara mencengkram erat gaun pengantinnya.


"Ke-kenapa kau kemari?" tanya Sandra yang tak enak dengan tatapan semua orang tertuju padanya.


Niken menyentuh tangan Sandra. "Ini hari pernikahanmu dan Marquez! jadi aku akan menjemput pengantin wanitanya," jelas Niken masih dengan senyum tulus yang tak pernah luntur dari bibirnya.


Senyum itu boleh mengalihkan semua perhatian orang lain namun, mata William dan Zinnia tak lepas dari cengkeraman tangan kiri Niken pada gaunnya.


William dan Zinnia mengerti hati Niken saat ini.


"Tapi aku ...."


"Maafkan aku karena telah membuat cinta kalian harus terpisah seperti ini! tapi hari ini aku akan menebus dosaku agar kalian bisa bersatu," tutur Niken semakin mencengkram erat gaunnya.


Sandra melihat ke arah Zinnia dan William. Ia ingin meminta persetujuan Bosnya.


"Ikuti kata hatimu, Sandra!" Zinnia menyuarakan pendapatnya.


Niken masih menatap ke arah Sandra dan Asisten cantik itu mengangguk.

__ADS_1


Ribuan pisau, ribuan duri, ribuan panah yang menghujani hati Niken tak dapat ia tahan lagi sakit itu. Sudut mata Niken mulai berair dan wanita itu dengan tanggapnya berakting di depan Sandra agar Asisten pribadi Zinnia itu tak curiga padanya. "Terimakasih karena masih mau kembali dengan, Marquez!"


Niken menarik tangan Sandra berjalan ke arah Marquez yang kini tengah berdiri mematung menyaksikan kejutan yang dibuat oleh Niken.


Sekuat tenaga Niken terus melapangkan dadanya agar ia bisa menyelesaikan tugasnya hari ini juga.


"Teruskan, Niken! dia wanita yang diinginkan, Marquez!"


Kini Sandra sudah berhadapan dengan Marquez dan Niken berada tepat di samping Sandra.


Arah tatapan Marquez hanya tertuju pada Sandra.


Niken melihat tatapan pria itu penuh rindu akan pujaan hatinya sama seperti dirinya yang saat ini menatap Marquez penuh cinta.


Sandra lebih beruntung karena bisa mendapatkan perhatian Marquez, sementara Niken tidak sama sekali.


"Maafkan aku karena telah hadir diantara kalian berdua!"


Niken menatap ke arah pendeta. "Silahkan di lanjutkan pernikahan ini dengan mempelai wanita, Nona Sandra!"


Marquez melihat ke arah Niken secepat kilat. "Apa yang kau mau?" tanya Marquez dingin.


"Aku ingin kalian menikah dan maafkan aku telah membuat ikatan diantara kalian harus terpisah," sesal Niken dengan pandangan yang mulai kabur secara perlahan.


"Tuhan! jangan sekarang! masih ada satu hal yang belum aku selesaikan."


Niken tersenyum pada Marquez namun, ia tak bisa melihat wajah Marquez dengan benar karena pandangannya sudah mulai kabur.


"Selamat untuk kalian berdua," tutur Niken tulus.


"Bisa kita mulai acaranya?" tanya pendeta itu.


"Silahkan!" Niken menyahut.


Wanita yang sudah tak lama lagi akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya menyatukan tangan Marquez dan Sandra dan pendeta mulai memandu Marquez untuk mengucapkan janji suci pernikahan.


Niken sengaja memundurkan tubuhnya ke belakang saat acara pemberkatan dimulai. Ia tak ingin merasakan mati saat itu juga.


"Aku mencintaimu, Marquez! sangat mencintaimu!"


Niken memejamkan matanya dengan sebulir air mata yang jatuh membasahi pipinya dan secepat kilat wanita itu menghapus air matanya.


Kedua orang tua Niken berdiri menghampiri putrinya yang sudah berjalan keluar dari gereja itu.

__ADS_1


Mereka berdua tak tega dengan putrinya. Orangtua Niken diam tak melakukan apapun karena ia percaya pada sang putri jika keputusan yang diambilnya sudah dipikirkan secara matang-matang.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.


__ADS_2