
Agnez dan Pram sudah berada di meja makan yang sama. Mereka memakan soup dari hasil kebun mini Melati.
Tak ada percakapan apapun. Hanya suara denting sendok dan mangkuk yang terdengar saling beradu.
Keduanya asyik menikmati makanan masing-masing, sampai pada titik jenuh, Agnez pun membuka pembicaraan terlebih dulu.
Wanita itu memang tak bisa diam. Ia lebih aktif dalam urusan apapun. Ceplas-ceplos itulah Agnez.
"Hei! kenapa kau hanya menunduk saja? apa kau tak ingin berbicara sesuatu padaku?" tanya Agnez sembari menyantap soup buatannya.
"Kita sedang makan! tak perlu banyak bicara," sahut Pram yang masih tak melihat ke arah Agnez.
"Buktinya kau menjawab pertanyaanku kan?"
Pram menatap Agnez dengan wajah datar dan sorot matanya tajam.
"Aisshhhh! kau ini ya! bisa tidak kau tak perlu serius seperti itu? hah, sungguh pria kaku," ujar Agnez pada Pram.
Pram menghentikan kegiatan makanya. Ia meletakkan sendok menatap Agnez penuh sorotan mematikan.
"Kau bisa diam tidak? kau ini cerewet sekali ya? habiskan makananmu dan kita harus cepat pulang karena aku ada pertemuan penting hari ini," jelas Pram yang melanjutkan lagi kegiatan makanya.
Agnez hanya bersikap masa bodoh dengan celotehan Pram. "Aku yang memakai daster tapi dia yang seperti ibu-ibu berdaster! huh, dasar pria bermulut ...."
"Bermulut apa? bermulut pedas atau nyinyir?" Pram menyanggah ucapan Agnez.
Wanita itu tak menjawab. Ia tersenyum riang, sedetik kemudian berubah cemberut menatap Pram yang sangat menyebalkan baginya.
Keduanya kembali melanjutkan acara makanan. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua selesai.
Pram masih berada di meja makan menikmati jus tomat yang di buat oleh Agnez, sedangkan wanita itu masih mencuci piring dan gelas kotor.
Saat sedang membilas gelas, tiba-tiba gelas yang masih penuh busa di bilas dan cipratannya mengenai mata Agnez.
Sontak Agnez meletakkan gelasnya dan mengucek mata kanannya dengan tangan yang masih penuh dengan busa.
"Aaaaaaaa!"
Pram yang sedang menyeruput jus tomatnya sampai hampir tersedak karena teriakan Agnez yang memekakkan telinga.
"Ada apa sih! kenapa dia selalu membuat orang heboh saja," gerutu Pram berjalan ke arah dapur.
Saat sudah sampai di undakan dapur, ia melihat Agnez dengan menyipitkan sebelah matanya.
Pram mengehentikan langkahnya tepat di undakan dapur. "Hei! kenapa kau berteriak?"
"Mataku perih, Pram! tadi mataku terkena cipratan air untuk membilas gelas kotor itu dan aku lupa jika tanganku masih penuh dengan busa, tanpa sadar aku mengucek mataku dengan tangan ini." Agnez menunjukkan tangannya yang masih penuh busa.
Pram berdecak kesal. Pria itu berjalan ke arah Agnez untuk membantu membilas tangannya.
Pram membilas tangan Agnez, sedangkan wanita itu masih diam dengan mata terpejam untuk meredam rasa perih di matanya.
"Sudah selesai, sekarang kau bilas matamu," pinta Pram sembari menyandarkan pinggangnya pada table top di dapur itu.
Agnez menuruti semua perintah Pram. Ia membilas matanya dengan air yang mengalir.
__ADS_1
Setelah selesai, wanita itu mencoba membuka matanya, namun masih terasa perih.
"Pram! mataku masih perih, aku harus bagaimana?" tanya Agnez yang masih memejamkan kedua matanya.
Pria itu mendekati Agnez. Tubuh keduanya sungguh mulai semakin dekat.
Pram menyentuh wajah Agnez dengan kedua tangan kekarnya.
"Kau jangan salah paham! aku bukan ingin mencari kesempatan dalam kesempitan, ini murni aku ingin membantumu" jelas Pram yang tak ingin Agnez salah paham.
"Iya aku tahu! cepat lihat mataku, mungkin ada sesuatu yang masuk ke di dalam sana,"
Pram mengusap lembut mata kanan Agnez menggunakan ibu jarinya. Ia membuka sedikit mata wanita itu dan tak menemukan benda asing yang masuk ke dalam matanya.
Tangan Agnez sudah berada di pinggang Pram. Mencengkram erat baju yang di gunakan oleh Asisten Arnon tersebut.
Pram merasakan apa yang di lakukan oleh kedua tangan Agnez. Pria itu menatap tiap bentuk wajah kakak tiri Melati. Mulai dari alis, bulu mata, hidung, dan yang terakhir adalah bibirnya.
Agnez kali ini tak terpoles oleh riasan wajah, hanya bibirnya yang masih dipoles oleh lip balm beraroma mint.
Agnez membuka matanya perlahan karena Pram sama sekali tak ada pergerakan. Saat kedua matanya terbuka sempurna, ia melihat wajah tegas dan rupawan sudah berada di depan matanya dengan kedua tangan Pram yang menangkup wajahnya.
Agnez menatap kedua mata Asisten Arnon itu dalam.
Mata pria itu menatap lekat bibir Agnez, kemudian berganti menatap kedua manik mata Kakak tiri Melati.
Tatapan mata keduanya bertemu. Dada mereka mulai berdetak saling bersahutan.
Deg deg deg
Entah keberanian dari mana, ibu jari Pram turun menyentuh bibir Agnez yang lembut dan kenyal bagai jelly.
Pria itu terus memandangi wajah Agnez sampai saat wajahnya mulai mendekat.
Klontang
Meongggg
Panci tempat untuk memasak soup tadi terjatuh karena seekor kucing naik ke atas table top dan tak sengaja menjatuhkan panci yang sudah di cuci bersih.
Keduanya spontan menjauhkan diri dan membuat jarak sejauh mungkin.
Wajah mereka sudah memerah dengan atmosfer yang mengelilingi keduanya di penuhi kecanggungan luar biasa.
"Kita langsung pulang! aku sudah di tunggu oleh, Bos!"
Pram berjalan ke arah pintu keluar menuju mobilnya, sedangkan Agnez mulai salah tingkah. Bukan langsung membilas cucian piring kotornya, melainkan menghidupkan kran membasuh wajahnya yang mulai memanas.
"Tidak! ini hanya perasaan biasa saja."
Agnez terus membasuh wajahnya. Sampai pada akhirnya ia melanjutkan kembali membilas gelas dan piring kotornya.
Di rumah keluarga Gafin. Arnon dan Melati tengah menuruni anak tangga dengan baju yang pastinya fashionable.
Melati terlihat sangat cantik dengan balutan baju berwarna hitam polos yang di padukan dengan rok di atas mata kaki dengan warna senada.
__ADS_1
Tak lupa gadis itu juga memakai overcoat berwarna abu muda dengan boots berwarna senada.
Rambutnya di curly dengan hiasan bandana berwarna abu lengkap dengan tas jinjing berwarna hitam yang bergelantungan indah di tangannya.
Arnon tersenyum melihat ke arah istrinya yang sangat cantik dengan balutan baju karya ibunya sendiri.
Melati membalas tatapan mata suaminya yang menatapnya dengan tatapan memuja.
Melati menatap kagum ke arah Arnon. Pria itu mengenakan baju turtleneck berwarna abu tua dengan setelah celana jeans berwarna dark blue.
Tak lupa overcoat berwarna abu tua yang menambah kesan gagah menghiasi tubuh tegapnya.
Rambut yang sengaja di buat model acak, namun bukan terlihat jelek, melainkan ketampanan Arnon sungguh semakin terpancar. Sepatu boots dengan warna senada dengan overcoat yang pria itu kenakan.
Sungguh para pelayan yang melihat kedua pasangan itu merasa tak salah jika keduanya di jadikan ikon couple terbaik.
Saat berjalan tangan keduanya saling menggenggam satu sama lain, membuat siapa saja yang melihat kemesraan mereka pasti iri.
Arnon dan Melati sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju ke tempat pertemuan film baru Arnon.
Pria itu tengah menghubungi seseorang.
"Ya, Tuan!"
"Ada dimana kau sekarang?" tanya Arnon dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya.
"Saya sudah ada di jalan mengantar, Kakak Ipar anda."
"Setelah kau mengantarnya, kau langsung ke tempat acara pertemuan."
"Baik, Tuan! tapi saya harus ganti baju dulu."
"Kenapa memang dengan bajumu?" tanya Arnon yang ingin tahu.
"Eeeeeeee ... baju saya kotor, Tuan!"
"Wah, kau sudah mulai berani main kotor-kotoran dengan, Kakak ipar ya? hahahaha."
"Ini tak seperti apa yang anda pikirkan, Tuan! saya hanya ...."
"Sudahlah, Pram! kau ingin kotor-kotoran atau main kuda-kudaan juga terserah padamu, yang jelas kau harus tepat waktu datang ke tempat pertemuan itu ... jangan lupa, kembalikan wanita di sampingmu dalam keadaan utuh! jangan sampai kekurangan satu apapun."
Tut tut tut tut
Sambungan telepon diakhiri oleh Arnon. Pria itu masih tersenyum sendiri dan semua itu tak luput dari pandangan Melati.
"Kau kenapa?" tanya Melati menatap wajah Arnon.
"Tak apa-apa, Sayang! sepertinya Pram mengalami hari yang sulit hari ini!"
"Maksudmu?" tanya Melati yang tak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"Saat waktunya tiba, kau akan mengerti, Sayang!"
Arnon mencium kening istrinya cukup lama, sampai supir yang berada di depannya tersenyum melihat tuannya harmonis seperti ini.
__ADS_1