
Agnez dan Pram sudah berada di depan butik ternama. Keduanya berjalan memasuki butik tersebut.
Saat sudah berada di dalam, mereka di sambut oleh para pegawai butik.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya!"
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai wanita yang berpostur tubuh tinggi semampai.
"Saya ingin mencari kemeja, Mbak!" Agnez membuka suaranya.
"Untuk suami anda ini, Nyonya?" tanya pelayan itu lagi.
Agnez dan Pram saling bertukar tatapan.
"Dia bukan suami saya! saya masih lajang dan dia ... sudah punya calon istri," jelas Agnez.
Pram mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Agnez yang seakan mengetahui statusnya saat ini.
Pram tak memperdulikan ucapan Agnez. Ia melihat beberapa kemeja yang cocok untuk Hadi.
Agnez mengikuti Pram dan meninggalkan pelayan yang tadi mengintrogasi dirinya.
Agnez ikut melihat beberapa kemeja yang tertata rapi.
Pram mengambil satu kemeja dan memberikannya pada Agnez.
"Kau bungkus yang itu!"
"Kau yakin ini bagus?" tanya Agnez yang masih ingin memastikan.
"Jika kau tak percaya dengan seleraku, tak usah meminta bantuan padaku."
Agnez merenggut kesal mendengar ucapan Pram. Ia langsung menuju meja kasir untuk membayar kemejanya.
Setelah selesai membayar, Agnez mencari keberadaan Pram, namun pria itu tak kunjung ia temukan.
"Kemana dia?" Agnez mulai mencari ke segala sudut butik tersebut, namun keberadaan Pram tak kunjung ia temukan.
"Maaf, Nona! apa anda mencari pria yang bersama anda tadi?" tanya seorang pelayan butik itu.
"Iya, Mbak! dia kemana ya?"
"Tuan itu sudah keluar lebih dulu sebelum anda selesai membayar kemeja itu di kasir."
Agnez menoleh ke arah mobil Pram yang terparkir di depan butik.
Pria itu tengah menyandarkan tubuhnya pada mobilnya dan Agnez bisa melihat semua itu dengan jelas karena bagian luar butik tersebut di kelilingi kaca transparan tembus pandang.
Agnez langsung berjalan ke arah luar menghampiri Pram yang tengah menunggunya.
"Maaf! kau harus menunggu lama," ujar Agnez dengan raut wajah menyesal.
__ADS_1
"Sudah selesai kan?" tanya Pram pada Agnez.
"Makasudmu?"
"Kau sudah selesai kan? mencari kemeja untuk ayahmu?" tanya Pram yang mengulang kembali pertanyaannya agar Agnez mengerti.
"Iya!"
"Kita kembali sekarang," ajak Pram pada Agnez sembari masuk ke dalam mobilnya.
Agnez mengikuti Pram masuk kedalam mobil dan duduk di kursi tepat di samping Pram.
Keduanya memasang seat belt masing-masing. Sebelum Pram menekan pedal gasnya, Agnez mengutarakan keinginannya.
"Bisa kita mampir ke pasar yang menjual berbagai macam aksesoris?" tanya Agnez yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
"Untuk apa?" tanya Pram.
"Aku ingin membeli sesuatu di sana! sebentar saja ya?"
"Huh, baiklah!"
Agnez tersenyum bahagia, sedangkan Pram langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat yang di maksud Agnez karena jarak dari butik menuju pasar tersebut cukup dekat.
Mobil Pram sampai di pasar pernak pernik yang di maksud Agnez tadi.
Agnez memilih dengan penuh antusias.
Pram mendekati Agnez yang sedang asyik melihat beberapa gelang karet yang sangat lucu.
"Untuk apa kau ingin membeli gelang karet itu?" tanya Pram sembari mengambil gelang karet berwarna kuning dari tangan Agnez.
"Untuk tanda persahabatan kita," sahut Agnez sekenanya dengan mata yang masih fokus melihat beberapa gelang untuk ia beli.
"Gelang ini bagus warnanya," ujar Pram memberikan kembali gelang karet berwarna kuning yang ia ambil dari tangan Agnez.
Agnez melihat gelang yang Pram berikan padanya. "Sungguh kau suka yang ini?" tanya Agnez dengan mata penuh binar.
Pram hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Agnez.
"Baiklah! saya ambil dua gelang karet ini untuk 2 orang ya, Mbak! satunya untuk saya dan yang satu lagi untuk dia," ujar Agnez menunjuk ke arah Pram.
Pedagang wanita itu memberikan 2 gelang karet couple berwarna kuning dengan ukuran berbeda.
"Ini untukmu," ujar Agnez memberikan gelang yang berukuran lebih besar pada Pram.
Gelang milik Agnez sudah melingkar di pergelangan tangannya. Ia melihat gelang tersebut dengan hati bahagia.
"Aku tak mau memakai gelang seperti itu!"
__ADS_1
Pram mengembalikan gelang dari Agnez. "Kenapa kau tak mau menerimanya? ini hanya gelang tanda persahabatan saja," tutur Agnez pada Asisten Arnon tersebut.
"Aku tak mau!"
Wajah Agnez menunduk. Ia ingin menangis, namun Agnez berusaha menahannya.
Wanita itu berjalan melewati Pram menuju ke arah lain.
"Mau kemana sih dia?" Pram mulai kesal dengan Agnez.
Pria itu mengikuti Agnez dari belakang sambil langkahnya terhenti saat melihat Agnez sudah berada di sebuah stand harum manis.
Wanita itu bagai anak kecil yang duduk di bawah pohon dekat sebuah taman karena pasar pernak pernik tersebut dekat dengan taman.
Agnez menikmati terpaan angin yang mengenai kulitnya sembari memakan harum manisnya dengan lahap dan tertawa kala melihat anak kecil yang tengah bermain gelembung udara.
Dada Pram tiba-tiba berdetak kencang saat melihat senyum kakak tiri Melati itu.
Kaki Pram seakan terhipnotis untuk melangkah mendekati Agnez yang sedang asyik dengan harum manis di tangannya.
Pria itu sudah berada dekat dengan Agnez. Ia duduk tepat di samping Agnez.
Wanita itu menoleh ke arah Pram yang menatapnya intens.
"Apa kau mau?" tanya Agnez sembari melahap harum manis ke dalam mulutnya.
Tak ada jawaban dari Pram. Pria itu terus menatap Agnez sampai bekas harum manis yang sebagian menempel di sudut bibir wanita itu.
Pram mengangkat tangannya hendak membersihkan bekas makanan itu, namun Agnez lebih dulu bangun.
"Aku ingin bermain bersama anak-anak itu di sana," ujar Agnez yang akan berlari menuju ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain gelembung udara.
Tangan Pram menahan pergelangan Agnez. "Ada sesuatu di sudut bibirmu."
Agnez spontan menyentuh sudut bibirnya dan membersihkan bekas harum manis yang masih menempel.
"Terimakasih!"
Agnez langsung manarik pergelangan tangannya yang masih ada di genggam Pram.
Wanita itu berlari menuju ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain gelembung udara.
Entah kenapa ada rasa tak rela membiarkan Agnez meninggalkan dirinya.
Pram memperhatikan Agnez yang tertawa gembira bercanda dengan anak-anak di taman sembari berlari-lari kecil.
Tanpa Pram sadari, senyumannya tersungging indah. Keakraban, kelincahan, dan canda Agnez bermain dengan anak-anak itu membuat hati kecil Pram ingin sekali bergabung dengan mereka.
Mungkin Tuhan mendengar doanya kali ini. Agnez melambaikan tangannya, memberikan isyarat agar Pram ikut bergabung dengannya.
Pria itu tak mau, namun seorang anak perempuan datang menghampirinya dirinya. "Paman! ayo kita bermain bersama."
__ADS_1